Chapter 2

2433 Kata
"Sorry, but i can't buy this MacBook." "Ayolah! Aku akan memberimu harga setengahnya, deh!" "Maaf, tapi kami sudah mengecek dan membobol akses MacBook itu danselalu gagal. MacBook itu diberi pass code khusus. Jadi, mana bisa kami menjualnya? Jika dibuka saja tidak bisa?" "Kau hanya perlu membayar seperempat dari harga yang kuminta saja kalau begitu, bagaimana?"tanya Sofia sambil menaik-turunkan kedua alisnya, mencoba bernegoisasi lagi dengan pemilik toko jual beli laptop bekas itu. Bayangkan, pagi-pagi buta tadi, Sofia sudah keluar hotel untuk mencari toko yang mau membeli laptop dalam genggamnya ini. Namun, apa daya, lima toko sudah ia datangi dan semua tidak ada yang mau membeli. Gembelbanget, kan? Pemilik toko itu menghela napas pasrah. Sudah dibilang, ia tidak mau membelinya, tapi tetap saja gadis di hadapannya itu ngotot agar ia mau membeli MacBook yang dibuka saja tidak bisa. “Maaf, tapi tidak bisa. Lebih baik kau mengembalikan MacBook itu ke pemiliknya, Nona. Terlalu berbahaya jika kau berani menjual barang-barang curian!" kata pegawai toko itu kepada Sofia. Sofia menganga ketika ia dibilang mencuri. Enak saja,ia bukannya mencuri, hanya membarter barang miliknya dengan isi koper yang entah milik siapa. Sofia akhirnya hanya bisa menghela napas sedih.Sudah berbagai cara ia lakukan, mulai dari merayu si pegawai wanita di depannya, memasang wajah imut nan memelas, lalu mencoba memuji pegawai itu—tapi tetap saja tidak mempan. Tanpa banyak kata lagi, Sofia langsung berbalik meninggalkan toko yang sudah ia recoki setelah setengah jam lamanya itu. Dua hari sudah ia berada di kota orang yang memiliki julukan 'The City that Never Sleeps'itu dan uangnya sudah benar-benar menipis saat ini. Sedari pagi,Sofia sudah berkeliling di sekitar hotelnya untuk menukar MacBook sialan itu dengan dollar. Namun, nahas, lima toko sudah ia datangi dan jawabannya tetap sama,"tidak bisa" atau bahkan "tidak mau". Mereka semua berkata bahwa laptop itu menggunakan aplikasi khusus yang memiliki tingkat kemanan tinggi dan sangat susah untuk mengotak-atik isinya.Untuk membukanya ada passcode khusus yang hanya pemiliknya tahu. Sofia menggeret kopernya lesu dengan mencangklong tas di punggungnya. Kakinya melangkah tak tentu arah di padatnya kota New York siang ini. Uangnya sudah habis tak bersisa, jikapun ada itu mungkin hanya cukup untuk 2 kali makan saja. Nasib apes bukan? Ia merasa pasti saat ini papi dan maminya sedang tertawa bahagia melihatnya menderita kelaparan. Bahkan, mungkin sahabat-sahabatnya di Surabaya pasti akan berucap,’Sokor! Apes, kon!isambil tertawa bak ibu peri jahat ketika melihatnya menjadi seorang gembel Amerika. Rasanya percuma,dua hari yang lalu ia berbahagia karena menemukan MacBook. Nyatanya, saat ini MacBook itu tidak bisa dijual, malah ia dikatai sebagai pencuri. Otak cerdik milik Sofia saat ini sedang meratapi nasib dengan begitu merananya. Di mana ia akan tinggal? Nanti, ia akan makan apa? Bagaimana dengan pakaiannya?Dan, masih banyak lagi. Otaknya yang cerdik dan pintar itu, saat ini benar-benar buntu. Ternyata, tidak selamanya otak pintar bisa berfungsi juga. Buktinya, saat ini otak Sofia yang terkenal sebagai mahasiswa pintar itu sedang lemot. * "Cadee, apa perusahaan milik William sudah menandatangani kontrak pembangunan mal yang berada di LA?"tanya Ed sambil mengotak-atik sesuatu di iPad-nya. "Sudah, Ed.Besok Tuan William akan meninjau lokasi pembangu—" Ucapan Cadee seketika terhenti, ketika sepasang mata hazelnya menemukan sesuatu yang sangat familier. Tepat beberapa meter dari mobilnya berjalan saat ini, matanyamenangkap sebuah koper berwarna abu-abu dengan stiker berbentuk p****t milik Ed. Oh, God! "Ed, Ed! Koper pantatmu!"teriak Cadee refleks sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang berjalan sendirian dengan lunglai di trotoar. Ed langsung menaikkan pandangan ke arah yang ditunjuk Cadee. Benar saja, koper pantatnya sedang diseret dan baju abu-abu yang Ed yakini merupakan miliknya itu sedang dipakai oleh seorang gadis berambut hitam dan berkulit putih khas Asia. "Stop! Stop!"Ed memukul pundak sang sopir. Sang sopir pun langsung menginjak rem dan memberhentikan mobilnya tepat disamping gadis yang sedang berjalan lunglai itu. Ed langsung turun dari mobill dan menghadang gadis yang tingginya hanya sedada Ed. "Kau, Gadis Pencuri Koper!"tuding Ed pada Sofia yang sedang menunduk lesu. Sofia yang mendengar teriakan didepannya pun mendongak.Ia menatap Ed bingung dan menoleh ke kanan, kemudian ke kiri. Tidak ada orang, batin Sofia. "Kau,Gadis Kecil!"ucap Ed dan menunjuk wajah Sofia. Sofia melongo dan menunjuk wajahnya sendiri."Me?" Sofia menjeda ucapannya, berusaha mencerna maksud dan tujuan pria berambut cokelat yang menghadang dirinya. Hingga matanya melirik koper yang ada di sebelahnya. "Ah, kau pasti pria pemilik koper berstiker p****t ini!" "Ya. Ayo, ikut aku! Akan kulaporkan kau ke polisi!"ucap Ed begitu saja dan mendorong tubuh Sofia masuk ke dalam mobilnya. Sofia yang kaget, sontak berteriak meminta pertolongan. "Help me, help me! Aku sedang diculik!" pekiknya di akhir kalimat. Namun, orang-orang malah tertawa dan menatap Sofia aneh. Tentu saja aneh, yang mendorong Sofia adalah seorang Edbert Cruz, siapa yang tidak kenal? Bahkan se-Amerika saja mengenal pria yang berjaya di usia mudanya itu. Sofia terus memberontak dan berteriak meminta tolong. Ed yang melihat hal memalukan itu, sontak membekap mulut Sofia dengan telapak tangannya dan mendorongnya ke kursi belakang mobil, hingga gadis itu terjungkal. "Aw!" Sofia meringis ketika kepalanya terbentur oleh pinggiran sandaran kursi sopir. Selepas masuk ke dalam mobil, Ed langsung ikut masuk dan menutup pintu mobilnya dengan keras. "Jalan!"perintah Ed pada sang sopir. Sang sopir pun langsung menuruti perintah sang tuan muda dan menjalankan mobilnya menuju kantor. "Berhenti,tolong! Tolong, aku diculik pria maniak seks!"teriak Sofia dari dalam mobil sambil menggedor-gedor pintu kaca mobil dengan keras. Mata Ed sontak memelotot mendengar pekikan gadis di sampingnya itu. Apa dia bilang? Maniak seks?! Dasar gadis gila! Mana mungkin aku seorang maniak seks. Aku hanya senang berkumpul bersama wanita-wanita. Tapi, sampai suara Sofia habis pun juga tidak akan ada orang yang menolong Sofia. Kaca mobilnya seluruhnya gelap dan kedap suara bagian dalamnya. Jadi, siapa bakal peduli? Ketika Sofia sudah lelah untuk berteriak, ia pun berhenti menyia-nyiakan suara emasnya dan menatap Ed yang sedang menahan tawanya ketika melihat Sofia menyerah. "Kau pemilik koper p****t itu?"tanya Sofia ketus. "Ehem." Ed berdeham untuk menghentikan tawa tersembunyinya. "Iya.Dan, kau,Gadis Kecil Pencuri Koper!"balas Ed sengit sambil menatap tajam Sofia yang ternyata malah balik menatapnya tajam. "Dan, kau,Pria engan Kondom Bergerigi!" Sang sopir tiba tiba terbatuk mendengar pernyataan frontal Sofia. Sementara itu, Cadee yang tiba-tiba berdeham, menahan tawa yang akan keluar. Baru kali ini ada orang yang seberani itu menantang seorang Edbert. Ed memelotot melihat sang sopir yang seolah-olah ingin tertawa,tapi tak berani dan Cadee yang menetralkan tawanya. Ed mengepalkan tangan sebal dan memejamkan mata menahan amarah yang ingin mencakar cakar wajah gadis songong di sebelahnya ini. "Kau pemilik boneka bebek gimbal!"balas Ed tak kalah sengit. Sofia menggeram ketika bebek peliharaannya yang ia rawat sepenuh hati melebihi kedelai malika itu, dikata ‘gimbal’. Enak saja dikata gimbal, ia hanya belum pernah dicuci! Dasar pria k*****t! "Dasar maniak seks!"teriak Sofia sebal, kemudian ia menggembungkan kedua pipi tembamnya. "Maniak seks?" Ed cengo, seolah-olah tidak percaya dengan ucapan gadis tak tahu malu di depannya ini. "Iya! Koper ber-stiker p****t, puluhan kondom bergerigi, majalah dewasa, baju-baju seksi yang menjijikkan! Kalau bukan maniak seks, lalu apa? Pemuja apem? Atau penggila s**********n?" Cadee sontak menatap Sofia dari spion depan. Gila, wanita itu sungguh menghampiri malaikat kematian! Ia berdecak kagum. "Turun!" Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi Ed berhenti tepat di pinggir gedung-gedung perkantoran. Sofia kemudian dilempar keluar mobil tanpa membawa apa-apa. Bahkan, ranselnya masih ada di dalam mobil pria laknat itu, beserta kopernya. "Dasar pria laknat! Maniak seks, gila! Aku sumpahi kau akan memuja-muja diriku nanti!"Bibir mungil Sofia terus mengucapkan sumpah serapah untuk Ed dengan sepatu yang sudah ia lemparkan ke kaca mobil, meskipun tak berefek apapun. Sofia berkacak pinggang.Ia meniup poninya ke atas, matanya menatap nyalang mobil Ed yang terus menjauh. "Lihat saja,akan kucari kau sekalipun berada di lubang semut!" * Disinilah Sofia sekarang, sebuah taman pusat kota New York. Mata Sofia sudah sembab setelah menangisi nasibnya yang sial, semenjak bertemu pria maniak seks itu. Ia menyelonjorkan di kursi taman. Sungguh, nasibnya lebih sial daripada nasib Nobita yang telat datang ke sekolahnya. Bagaimana tidak,handphone pun ia tidak membawa, apalagi uang? Dan, jujur saja, ia sekarang bingung harus berbuat apa. "Kok, cek uapes yo nasibku? Kampret, kampret!"gerutunyamedokkhas anak Surabaya. Mata Sofia menatap kosong segerombolan anak anak kecil yang bermain di ayunan. Hingga kedua bola mata hitam pekatnya tak sengaja menatap sebuah mobil yang baru saja ia kenali, melintasi pinggir taman dan berhenti di sebuah supermarket depan taman. Itu bukannya mobil ... aha! Tiba tiba sebuah ide terlintas dalam benak cerdik Sofia.Ia pun segera berlari ke arah mobil itu.Ketika sang sopir sudah keluar, Sofia langsung bersembunyi dibalik mobil, menunggu sang sopir hingga kembali. Lima menit kemudian sopir Ed kembali dengan membawa beberapa kantong plastik besar. Saat itulah, Sofia mencuri kesempatan untuk masuk ke dalam bagasi mobil Ed—pria pembawa sial dalam hidupnya. Sofia akan memberi tinta warna merah pada nama pria itu di hidupnya, sebagai sebuah peringatan bahwa mereka adalah m-u-s-u-h. Tak berapa lama kemudian, mobil pun berjalan meninggalkan supermarket. Sofia langsung menghela napas syukur. Lihat saja, ia akan menguyek-uyek pria sialan itu. Sofia kira, ia akan dibawa ke kantor pria berstiker p****t itu, tapi nyatanya salah. Mobil itu masih berjalan dan rasanya mobil ini sudah berjalan selama tiga menit dan belum berhenti. Bahkan, badan Sofia rasanya pegal-pegal kedua kakinya harus ditekuk lama seperti ini. Mobil kemudian berhenti dan Sofia bisa mendengar suara gerbang dibuka. Mobil pun berjalan lagi dan tak berapa lama kemudian mobil berhenti sepenuhnya. Sofia menajamkan pendengarannya, guna menebak-nebak keadaan sekitar. Hingga akhirnya, ia mendengar sang sopir keluar dari dalam mobil. Setelah dirasa aman Sofia segera keluar dari dalam bagasi dengan perlahan. Baru saja bagasi dibuka setengahnya, ia bisa melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik sedang memandanginya cengo dari jarak 2 meter di depannya. Entah ekspresi apa yang harus Sofia tunjukan saat ini. Kaget, sedih, bingung, senang, atau takut? Semua itu mendeskripsikan apa yang Sofia benar benar rasakan saat ini. Apalagi, wanita paruh baya itu tiba tiba berjalan mendekat ke arahnya. "Hei, why you're here?What's your name?" Tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman yang tersungging dengan hangat, membuat Sofia menghilangkan kemungkinan buruk yang terlintas di otaknya— seperti diculik, dipenjara, atau bahkan dijual ke rumah bordil? "Hm, aku Sofia. Maaf, aku juga tidak tahu kenapa bisa di dalam sini," jawab Sofia—yang ia yakin—tak masuk akal. Jelas-jelas, ia sengaja masuk ke dalam bagasi untuk menguntit si pemilik koper p****t. "Namaku Sharon. Ayo, keluar! Bagaimana kalau kita berbincang didalam? Supaya lebih nyaman. Dan kau terlihat seperti kebingungan, apa kau tersesat? Aku mungkin bisa menolongmu, dan sepertinya kau tidak membawa barang apapun, lagi pula, kau terlihat bukan asli dari Amerika." Sharon bertanya seperti itu karena tidak melihat sedikitpun gurat khas Amerika dari wajah cantik Sofia. Apalagi,aksennya tidak kentara seperti orang Amerika. Sofia sempat terdiam, menimbang keputusannya untuk masuk ke dalam mansion besar di depannya. Pasalnya, pikiran buruk terus berputar di otaknya. Apalagi, sejak kecil ia di doktrin untuk tidak mudah percaya pada orang asing. "Hey, ayo! Aku ingin berbincang denganmu. Tentang bagaimana kau bisa berada di dalam bagasi ini, mungkin?" Sharon merasa bahwa gadis bernama Sofia itu terlihat enggan menuruti ucapannya. Namun, Sharon berusaha memberikan senyuman manis kepada gadis itu. Siapa tau ia bisa menolongnya. Sofia pun menuruti ucapan wanita paruh baya bernama Sharon itu. Ia mengangkat penutup bagasi semakin, kemudian keluar. Ia terpana dengan keadaan sekitar yang terlihat sangat indah. Sebuah taman dengan air mancur di depannya. Bunga bunga bermekaran dan bangku taman, serta banyaknya kupu-kupu kuning yang berterbangan. Sharon menggandeng lengan Sofia dan menuntunnya masuk ke dalam mansion yang ternyata 10 kali lipat lebih luas dari rumahnya di Indonesia itu. "Ayo, masuk, ini kediaman Cruz. Aku nyonya disini." Sofia hanya menganga dan mengangguk-angguk. Cruz? Gue kayak pernah denger marga itu, batinnya mencoba mengingat. Tiba-tiba suara perut Sofia berbunyi. Sofia belum makan sedari pagi. Sharon kemudian memberhentikan langkahnya dan menatap ke arah Sofia yang saat ini sedang meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sharon hanya tertawa kecil melihat tingkah si gadis kecil—yang mungkin masih duduk di bangku SMA, entahlah. Yang jelas, dia sangat lucu. "Lapar? Ayo, kita kemeja makan,"ajak Sharon dan berbalik arah menuju ruang makan. Sofia lagi-lagi terpana melihat interior mewah mansion ini. Benar benar sultan sejati, batinnya. Ia tambah dibuat terpana ketika melihat ruang makan yang benar-benar bak ruang makan di kerajaan. Dengan meja dan kursi yang berjajar dengan rapi dan ada banyak makanan, buah-buahan, serta lilin di atasnya sebagai hiasan. "Gendeng, iki omah ta istana?!"batin Sofia terpana. Dan, Sharon dibuat tertawa geli dengan tingkah Sofia yang bertepuk tangan sambil melompat kecil. "You're so cute."Kemudian, Sharon menepuk pelan puncak kepala Sofia. Sejak dulu, ia ingin punya anak perempuan, tapi tak pernah terkabul. Semenjak melahirkan Ed, rahimnya diangkat karena terdeteksi ada tumor yang bisa membahayakan nyawanya, andaikan rahimnya tidak diangkat. "Makanlah hingga puas,Gadis Kecil." "Hua! Benar, boleh? Thankyou so much, Mrs. Cruz!" Selanjutnya, Sofia dengan tidak tahu malunya, malah berlari dan langsung duduk di kursi mewah itu.Kemudian mengambil semua makanan yang ada di meja, lalu memindahkannya ke atas piring ceper yang ada di depannya. Sharon dibuat geleng-geleng dengan tingkah lucu Sofia. Benar-benar mirip Ed ketika kelaparan. Hanya saja, Ed adalah orang yang tidak sabaran, absurd, dan aneh. Berbeda dengan Sofia yang terlihat malu-malu, sabar, dan murah senyum. Sembari menatap Sofia yang terllihat sangat lahap memakan makanannya, Sharon berusaha mengajak gadis itu mengobrol. "Okey, bisa jelaskan tentang dirimu dan asal mu lebih lengkap, Sofia?" tanya Sharon sambil menopang dagu. Sofia mendongak. Menatap Sharon denga pipi menggembung. Ia menelan dulu makanan yang ada di mulutnya, baru kemudian berbicara. "nama ku Sofia Amely Nausution. Asal dari jakarta, indonesia. Do you know jakarta?" Sharon mengerutkan alis sejenak, "ah, Bali? Right?" Sofia mengangguk, kemudian menggeleng. "aku tinggal di Jakarta. Ibu kotanya. Bali adalah salah satu pulau indah di Indonesia. Memang banyak warga negara asing yang lebih mengenal Indonesia dengan sebutan Bali. Mungkin karena mereka lebih sering berwisata ke Bali. Apa kau pernah kesana?" Sharon mengangguk. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, seolah sedang mengingat. "Mungkin sepuluh tahun yang lalu aku kesana. Lalu, bisa kau ceritakan, bagaimana bisa kau kesini dan kemudian berada di bagasi mobil kami?" Sofia sedikit menunduk lesu, ketika mendengar pertanyaan Sharon. "Aku dijodohkan oleh pria yang tidak aku kenal. Dan aku menolaknya, tapi papi ku memaksa untuk menikahkan ku dengan rekan bisnisnya. Dengan penuh tekad, aku kemudian kabur ke negara ini. Ya, meskipun sempat terjadi adegan kejar-kejaran dengan anak buah papiku yang mengetahui rencana kabur ku itu. Dan masalah aku bisa berada di bagasi mobil itu, aku sengaja masuk ke dalam sana. Ku kira mobil itu akan mengantar ku ke kantor dimana seorang pria bule gila bekerja. Ternyata, malah nyasar di mansion ini." Keluh Sofia dengan sedih. Sharon mengangguik. Ia kemudian mengelus puncak kepala Sofia. "Kalau kau mau, kau bisa tinggal sekaligus bekerja disini, Sofia!" Sofia mendongak, menatap Sharon penuh ketertarikan. "Sungguh?" Sharon mengangguk. Menyetujuinya. "Selamat datang di keluarga Cruz, Sofia!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN