Seina sudah menduga ini akan berlangsung lama! Tristan memang tidak lagi menyindirnya yang membuat batinnya tersentil untuk keluar dari rumah lelaki itu sekarang juga. Tapi aksi “diam dan dingin” lelaki itu justru semakin membuat suasana rumah mewah ini menjadi begitu beku dan panas sekaligus. Ia tahu, cepat atau lambat ia akan pergi. Dan hari ini ia berniat untuk pamit pada Tristan. Yah, Seina mengangguk samar seraya meremas kedua tangannya. Meyakini dirinya bahwa ia pasti bisa... “Tristan?” Lamunannya terputus begitu saja tatkala punggung tegap Tristan terlihat menghampiri pintu depan, sepertinya lelaki itu berniat keluar. Tidak, Seina perlu pamit sebelum bergegas pergi, dan Tristan tidak boleh pergi sebelum ia yang lebih dahulu keluar. Tristan menoleh. Batinnya, Seina mengatakan i

