Pagi hari yang masih dalam suasana membingungkan. Clara bangun dengan malas. Ya, seringnya, ketika ia menghadapi hari yang membuatnya bingung, gadis itu selalu malas bangun untuk beranjak ke kamar mandi. Clara hanya akan duduk dan menatap dinding kamarnya yang polos. Sepi, tapi memang itu sudah jadi suasana yang sudah biasa. Ia menatap sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya sejenak. Pikiran tentang tawaran Pak Kristo Wijaya. Namun, tak berhasil. Ia sudah menghabiskan waktu yang sangat sia-sia dengan hanya memandangi dinding kamarnya sendiri. Tanpa hasil. Kepalanya malah mulai menganalisis. Kristo Wijaya. Mendiang ayahnya, ibunya, adalah orang-orang yang menyukai politisi itu. Ah, rasanya hampir semua orang di negara tempat ia tinggal, dan mungkin entah sam

