Felicya menghampiri Darin dengan segala amarah yang menimpa pundaknya saat ini. Dadanya begitu bergemuruh. Panas matahari semakin membakar rasa kesalnya terhadap pria itu.
Meski sedikit kesulitan untuk mendapatkan akses memasuki kantor Darin, tapi untunglah pada saat di lobi dan hampir saja Felicya akan di usir oleh security, Andreas datang tepat waktu dan membantu dirinya.
Melihat aura tak bersahabat Felicya, Andreas memahami dan langsung menyuruh Felicya untuk ke ruangan Darin yang berada di lantai teratas gedung.
"Darin!" nafas Felicya memburu saat melihat keberadaan Darin yang membelakangi dirinya.
Darin yang pada saat itu tengah berdiri di depan dinding gedung kantornya yang terbuat dari kaca menatap pemandangan gedung-gedung yang masih berada di bawah gedung kokoh miliknya. Wilkens corp memang berdiri begitu kokoh menjulang tinggi.
Suara tak santai Felicya yang memanggil namanya membuat Darin menoleh. Pria itu seakan tak terkejut dengan kehadiran sosok Felicya di kantornya.
"Ada apa?" tuturnya santai. Berjalan menuju kursi kebesarannya. Darin duduk dengan angkuhnya menatap Felicya yang di penuhi lautan emosi.
"Kau menipuku?" tanya Felicya langsung pada intinya. Gadis itu paham Darin bukanlah pria yang suka banyak basa basi. Akan lebih mudah jika Felicya langsung saja menanyakan intinya, terlebih hal itu semakin mempersingkat waktu.
Karena Felicya tidak sanggup lagi jika harus menahan kemarahannya.
"Apa ini berkaitan dengan suntikan dana yang ku berikan pada ayahmu?" Darin memiringkan kepalanya seakan menebak maksud Felicya.
Felicya tau Darin tidaklah sebodoh itu untuk menangkap maksud dari kata 'menipu' yang baru saja ia ucapkan. Felicya maju berdiri tepat di hadapan Darin.
Posisi Darin yang duduk sambil menatapnya tajam tak membuat Felicya merasa terintimidasi. Gadis itu takkan gentar dengan serangkaian tatapan menusuk Darin.
"Ya. Kenapa kau lakukan itu?"
"Karena hal itu sepadan dengan apa yang aku dapatkan Felicya." tak kalah sengit, Felicya juga memberikan tatapan tajamnya pada Darin.
Tak sepadan katanya?
"Apa dengan aku mengandung anakmu itu masih belum cukup?" kata Felicya dengan lantangnya.
Setelah sadar akan amarahnya yang meledak, Felicya meredamnya memejamkan mata. Menghirup nafas lalu mengeluarkannya perlahan.
"Apa kesalahan yang ku perbuat? Hingga kau hanya memberikan setengah suntikan dana?"
"Karena kau sudah tidak virgin."
Tubuh Felicya melemas. "Tapi bukankah itu tidak menjadi masalah? Dalam perjanjian awal kita, kau tidak menunjukkan persyaratan yang mengatakan bahwa aku harus masih dalam keadan suci bukan?" lirihnya.
Darin melipat kedua tangannya di depan d**a dan menghela nafas. "Ya. Aku tidak mengatakannya. Tapi aku mengumpulkan semua kegiatanmu Feli. Dan dari data yang di berikan oleh orang kepercayaanku, seharusnya kau masih virgin." Darin mengambil sebuah map berwarna hitam dari laci meja kerjanya. Menyodorkannya pada Felicya.
Gadis itu menerimanya lalu membaca isi di dalamnya.
"Di data itu tertulis bahwa kau sama sekali tak memiliki kekasih Feli, kau bahkan juga tidak memiliki seorang teman. Saat masih sekolah, kau selalu pulang kerumah. Tidak pernah nongkrong dan bergaul seperti anak remaja biasanya. Dan menurutku itu cukup untuk membuat kesimpulan bahwa kau masih virgin. Ternyata dugaanku salah."
Kepalanya berdenyut nyeri. Jika tau akan berakhir seperti ini, seharusnya Felicya tidak melakukan ke salahan fatal malam itu. Seharusnya dia tendang saja p****t si 'Lion' itu. Oh entah siapa pria misterius itu? Rasanya Felicya ingin mencakar habis wajah pria itu. Melampiaskan segala kekesalannya.
Mau bagaimana lagi sekarang? Semuanya telah kacau.
Darin melihat wajah keputusasaan Felicya. Sedikit timbul rasa iba di hati kecilnya. Tapi dengan cepat Darin menepis perasaan itu.
"Baiklah jika memang seperti itu. Sedari awal aku memang tidak seharusnya berharap banyak padamu. Tapi aku akan tetap mengucapkan ini..."
Darin menatap mata Felicya begitu juga sebaliknya.
"Trimakasih atas bantuannya Mr. Wilkens. Bagaimanapun juga, kau sudah membantu ayahku." kata Felicya.
Dan setelah itu, gadis itu pergi meninggalkan Darin.
Di satu sisi, Darin menatap kepergian Felicya dengan perasaan yang.. Entahlah..
****
Felicya menatap nanar keadan rumahnya. Rumah itu seakan tak pernah menemui musim semi-nya. Mungkin memang seharusnya, Felicya tak pernah masuk ke dalam rumah itu. Berkat dirinya, satu keluarga terpecah belah.
Rasa bersalah itu selalu muncul dalam pikirannya. Untuk itu, ia selalu mengupayakan agar Brighita selalu bahagia. Tapi sekarang, usahanya berakhir sia-sia. Yang dapat di lakukan saat ini iayalah mendo'akan Brighita, agar pria yang menikahi gadis itu adalah pria yang baik dan mampu membahagiakannya.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Feli?" kata Vincent yang berada di hadapan Felicya saat ini.
Felicya tersentak. Dirinya masih berdiri di depan rumah. Dan entah sejak kapan ayah tirinya itu berada di depannya.
"Ayah.."
"Ayah tau kau menyembunyikan sesuatu Feli." tuntut Vincent. Pria itu memang sudah mencurigai Felicya. Semenjak putri tirinya itu meminta untuk keluar dari rumah.
"Ayah.." lirih Felicya yang masih enggan untuk menceritakan masalahnya.
"Cepat katakan Felicya." Vincent terus mendesak Felicya agar mengatakan yang sesungguhnya.
Felicya menyerah. Ia tak mungkin terus menyembunyikan masalahnya sampai sembilan bulan kedepan.
Akhirnya, setelah berada di dalam ruang kerja sang ayah, Felicya menceritakan semuanya.
"Kau seharusnya tak melakukan itu Feli. Darin pria yang tak berperasaan. Kau akan semakin menderita. Ayah menikahi ibumu agar kau bisa hidup nyaman dan tidak merasakan kerasnya hidup dijalanan. Tapi kau malah membuat dirimu masuk ke dunia pria berhati dingin itu." cerca Vincent. Pria paruh baya itu merasa tak berguna untuk kedua putrinya.
"Maafkan Feli, ayah. Feli hanya ingin membantu. Tapi percayalah Darin tak semenyeramkan itu. Feli akan menjaga diri baik-baik. Jadi ayah tak perlu khawatir."
Felicya menundukkan kepalanya kuat-kuat. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Tangannya gemetar seiring rengkuhan sang ayah.
Vincent memeluk Felicya erat.
"Maafkan ayah, Feli. Seharusnya kau dan juga Tata tidak perlu merasakan kondisi seperti saat ini." ucap Vincent penuh sesal.
"Tidak ayah. Ayah tidak salah. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Feli melakukan ini semua untuk ayah dan juga Tata. Feli ingin kalian bahagia." ucap Felicya di akhiri senyum manisnya.
"Kau anak yang baik nak. Ayah harap kau menemukan ke bahagianmu."
Sudah seminggu berlalu..
Dan selama itu pula, Felicya tak lagi pulang ke rumah Darin. Gadis itu tinggal dirumah sang ayah untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan sang adik.
Lalu tibalah hari pernikahan itu. Felicya mematut dirinya di depan cermin. Terlihat menawan dengan balutan dress selutut berwarna putih. Gadis itu tersenyum melihat tampilannya.
Dalam hatinya, semoga acara malam hari ini akan berlangsung lancar, dan berharap semoga pria yang saat ini menikah dengan Brighita adalah pria yang takdirkan untuk gadis itu.
Felicya berjalan menyusuri lorong. Pesta pernikahan Brighita di adakan di salah satu hotel bintang lima. Gadis itu berniat untuk mengucapkan selamat pada Brighita. Meski Felicya sangat tahu jika nantinya Brighita akan mencacinya, tapi takkan jadi masalah. Itu sudah menjadi makanannya.
Dan benar saja, ketika tiba di salah satu ruangan khusus untuk mempelai wanita, Brighita sudah enggan untuk menatap dirinya. Miris sekali. Akhirnya Felicya keluar dengan perasaan hampa.
Felicya menatap topeng silver yang ada di tangan kanannya. Dia merasa De javu. Kenapa juga Brighita memilih tema pesta topeng untuk acara pernikahannya.
Felicya segera memakai topeng milik-nya yang dia dapat dari malam pesta 'itu'
Memang Felicya selalu menyimpan topeng itu. Karena itu akan menjadi benda pengingat akan malam itu. Mengingatkannya pada 'lion'
"Anna?" suara itu membuat Felicya menoleh kebelakang.
Kosong. Lorong dengan pencahayaan remang-remang itu tak menunjukkan ada seorangpun manusia.
"Mungkin itu hanya hayalanku saja. Berharap si Lion itu ada di pesta ini? Heh! Rasanya gak akan mungkin." gumam Felicya lalu melanjutkan jalannya.
Di tengah kerumunan pesta, Felicya merasa sepi. Hatinya kosong. Terlebih lagi, dia tidak pandai dalam bergaul. Mungkin karena itulah Felicya tak memiliki seorang teman.
Sesekali Felicya mengikuti sang ayah, Vincent menyapa mitra kerja sang ayah. Tiba saat Brighita berjalan menuju altar, Felicya memilih untuk meninggalkan tempat resepsi.
Gadis itu memilih menyusuri area ballroom. Dan saat matanya melihat siluet seseorang yang begitu menarik perhatiannya, Felicya terdiam membisu.
"Lion?"
Entah benar pria itu atau tidak, Felicya mencoba untuk menghampirinya.
Pria yang ia yakini adalah Lion itu, berdiri menghadap keluar dinding kaca. Tangan kanannya berada dalam saku celana lalu tangan kirinya memegang segelas wine.
Selain firasatnya yang mengatakan itu adalah Lion, topeng warna hitam yang kini di kenakan pria itu menarik Felicya kembali ke malam panas pesta itu. Felicya tidak mungkin salah mengenalinya. Topeng itu memang seakan di buat khusus dan hanya untuk pria itu.
Oh Tuhan. Jantung Felicya berdetak sangat cepat. Suhu tubuhnya perlahan naik seiring dengan langkahnya mendekat.
Felicya menarik turun ikatan pada topengnya, sebelum berada di hadapan pria itu.
"Permisi?" panggilnya memegang bahu pria itu.
Pria itu menoleh, sedikit terkejut melihat Felicya.
"Feli?! Aku mencarimu." Felicya membeo saat mendengar suara yang tak begitu asing untuknya.
Pria itu kemudian melepas topengnya, memperlihatkan wajah aslinya.
"Andreas? Hah? Kau?" mata Felicya membulat tak percaya.
"Iya aku? Kenapa? Kau tidak perlu terkejut seperti itu. Ayahmu rekan bisnis Darin, untuk itulah kami menghadiri pesta ini." jawab Andreas santai sambil meminum wine-nya.
Bukan itu yang menjadi pertanyaan Felicya saat ini.
"Boleh aku lihat topengmu?" Andreas meski kebingungan dengan permintaan Felicya menuruti saja memberikan topeng miliknya.
Felicya meniliti setiap detail topeng itu.
Benar ini topengnya. Jadi, Lion adalah Andreas? Pria pertamanya itu berada dekat dengannya dan Felicya tidak menyadari itu. Batin Felicya.
"Andreas apa kau...?? Ah sudah lah lupakan." Felicya tak jadi bertanya. Mungkin Andreas sudah melupakan malam itu.
"Oh ya, Darin sedari tadi mencarimu."
"Bebarkah?" tanya Felicya tanpa minat. Ia masih jengkel dengan pria itu.
"Hemm. Tentu saja. Kau mau aku membawanya kemari untukmu?"
"Tidak. Lupakan saja niatmu itu. Aku tidak ingin melihat wajahnya untuk saat ini."
"Tapi kontrak kalian masih berlaku bukan?"
"Mmm-hhmm. Tapi kau pasti tau bukan? Tentang apa yang terjadi di antara kami. Aku akan kembali kerumah itu mungkin dua hari setelah pesta pernikahan ini."
Andreas manggut-manggut paham.
Felicya pamit undur diri. Kenapa perasaannya tak terlalu senang begitu mengetahui identitas Lion? Tapi Felicya tidak terlalu terkejut. Malam itu, meski menggunakan topeng, Andreas memang sudah terlihat tampan.
Setelah menitipkan topengnya pada ibunya dan memintanya untuk menaruh topeng itu di lemari miliknya, Felicya terpekik saat tiba di tengah lorong lalu ada yang menarik tangannya.
Belum sempat gadis itu memprotes, bibirnya telah di bungkam terlebih dahulu oleh Darin. Ya, pria itu Darin.
Darin menggebu-gebu melumat bibirnya. Tangan pria itu menarik tubuhnya agar menempel pada tubuh pria itu.
Lutut Felicya terasa lemas saat Darin menciumnya tanpa celah. Bahkan bunyi kecupan itu menggema di lorong itu.
"Kau tidak seharusnya pergi dari rumahku, Feli." geram Darin.
"Darin.. Aku..."
"Sial!" maki Darin sebelum kembali melumat habis bibir Felicya.
Ciuman Darin tidak tergolong ciuman lembut dan manis. Tapi Felicya menikmatinya. Sama seperti Darin, Felicya juga rindu akan cumbuan pria itu.
"Kita akan pergi dari tempat ini sekarang juga." Darin menarik tangan Felicya menuju tempat parkir.
Felicya terpogoh-pogoh mengikuti langkah lebar Darin. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang.
"Tapi Darin, pestanya..."
"Persetan dengan semua itu Feli..."
Tbc......