Hampir fajar menjelang, ketika dua insan itu mencapai kepuasannya. Nafas keduanya tersengal-sengal akibat dahsyatnya kenikmatan yang baru saja mereka dapatkan.
"Eh eh, jangan tendang! Aku akan pindah sendiri." kata Felicya memperingatkan sebelum Darin menendang bokongnya seperti waktu itu.
Setelah dari pesta pernikahan, Darin menyeret Felicya menuju apartement pria itu. Lalu mereka melakukan aktifitas yang super panas. Darin meminta lagi dan lagi tanpa ada jeda. Felicya hampir kualahan melayani nafsu Darin yang seakan tak ada habisnya itu.
Di luar perkiraan Felicya, Darin justru menarik pergelangan tangannya, dan membuatnya jatuh kepelukan pria itu.
Felicya termangu. Kedua bibirnya terbuka.
"Darin.."
"Tidurlah disinihh.." Darin menaruh kepala Felicya di pundaknya. Tangannya mengelus rambut Felicya. Pria itu sibuk mengatur nafasnya sambil sesekali memejamkan matanya.
Ada yang aneh dengan Darin. Dan Felicya tak tau itu apa. Tapi ya sudahlah.
Felicya ikut memeluk tubuh polos Darin. Menghirup aroma pria itu. Bahkan setelah mengeluarkan banyak kringat, Darin masih memiliki wewangian khas pria itu. Felicya jadi suka aroma Darin. Sekarang itu adalah aroma favoritnya.
"Darin. Sebenarnya kamu itu orang yang seperti apa?"
"Kenapa kamu membohongiku?"
"Menipuku. Bahkan mengorbankan diriku."
"Kamu dingin dan hangat di waktu bersamaan." gumam Felicya semakin menyurukkan kepalanya ke leher Darin.
Membuat pria itu menggeliat akibat hembusan nafas Felicya.
"Yang jelas aku bukan pria baik." jawab Darin hampir tenggelam termakan angin. Tapi masih mampu terdengar jelas oleh Felicya.
Felicya mendongak, menatap Darin. "Kenapa begitu? Kalau emang kamu bukan pria baik, kamu gak akan mungkin mengharapkan seorang bayi. Aku yakin, kamu adalah pria baik. Cuman, masih ketutup aja sama kejahatanmu." Felicya terkekeh di akhir kalimatnya.
Darinpun sama terkekehnya, hanya saja kekehan pria itu terasa hambar.
Apakah Darin memang benar-benar mengharapkan bayi itu? Darin tak yakin itu. Semuanya ia lakukan hanya untuk mendapatkan seorang pewaris. Dia akan menjadi guru yang baik dalam mendidik anaknya kelak. Sebagai guru, bukan ayah.
*******
Felicya menggeliat merasakan pegal di sekujur tubuhnya.
"Ohh.. Tubuhku seakan patahhh.. Akhh..." rintihnya.
Seolah tersadar akan langit yang sudah berpijar terang, Felicya melompat dari tempat tidur. Memakai kemeja Darin yang tergeletak di lantai kemudian mengikat rambutnya asal-asalan.
Berlari keluar kamar, Felicya menemukan Darin di dapur. Pria itu tengah memanggang roti. Felicya melambatkan langkahnya.
"Kau bisa memasak?" Darin menoleh mendapati ucapan Felicya.
Gadis itu kini sudah berada tepat di samping Darin, memperhatikan pria itu.
"Mm-hhmmm." jawab Darin kembali melanjutkan menggoreng telor ceplok.
"Wahhh kau hebat juga. Sudah ku bilang bukan, kau sebenarnya tidak sejahat itu. Hanya saja, kelembutan hatimu itu sedang tertutupi awan hitam yang sangat pekat."
Prang. Darin meletakkan piring berisi roti bakar dengan telur mata sapi di atasnya.
"Kasar sekali." dumel Felicya mencebikkan bibirnya.
Darin yang melihatnya tak tahan. Menangkup Wajah Felicya lalu melumat bibir Felicya. Satu kecupan tak cukup, Darin kembali menempelkan bibirnya, lebih dalam.
Felicya yang tak sanggup lagi menerima serangan dadakan mendorong d**a Darin.
"Makan makananmu. Setelah itu kita akan pergi." kata Darin meninggalkan Felicya.
"Tunggu, kau tidak makan? Darin! Lalu bagaimana dengan pakaianku?!" triaknya. Darin mengabaikan dirinya dan masih lempeng berjalan.
Felicya menatap penuh minat piring di hadapannya.
"Siang hari yang mengesankan." hati Felicya menghangat melihat sepiring makanan di hadapannya.
Sore harinya, setelah Felicya menerima pakaian yang di pesan Darin untuknya melalui orang suruhan pria itu. Mereka bergegas pergi.
Felicya tidak tau Darin akan membawa dirinya kemana. Bertanya pun pasti tidak akan mendapatkan jawaban dari pria itu. Alhasil Felicya memilih tidur selama perjalanan itu berlangsung.
Kelelahan akibat aktifitas bercinta mereka semalam membuat Felicya tertidur nyenyak. Gadis itu sampai tak menyadari kapan mereka sampai.
"Kita sudah sampai?" tanya Felicya parau. Mengucek matanya lalu mengedarkan pandangan melalui kaca mobil.
"Hmm." Darin turun dari mobil lebih dulu.
Felicya menguap lebar tanpa sungkan. Sadar di tinggalkan Darin sendirian di dalam mobil, Felicya bergegas menyusul.
"Aughh.. Dingin!" decak Felicya mendekap kedua lengannya. Udara malam ini begitu menusuk kulitnya.
Mata Felicya membulat tercengang. Rumah berukuran minimalis dengan arsitektur yang indah tersaji di hadapannya. Felicya memutar tubuhnya menelisik sekitar.
Hutan? Mereka di tengah hutan?
"Uwah?" decak Felicya penuh kekaguman.
Darin berbincang dengan pengurus rumah sambil sesekali melirik Felicya yang masih berdiri di dekat mobil.
"Besok aku ingin kau datang fajar lalu bersihkan seluruh rumah. Dan setelah itu usahakan kau pergi sebelum aku sempat melihatmu." ucap Darin datar.
Pria paruh baya yang sudah menjadi penjaga rumah itu selama belasan tahun menunduk patuh.
"Haruskah saya menyiapkan sarapan pagi tuan muda?"
"Tidak perlu. Kau bisa pergi sekarang." titah Darin di laksanakan pria paruh baya tersebut.
"Kau ingin tidur di luar?" Felicya tersadar dari rasa kagumnya. Dia melihat Darin yang sudah berdiri di pintu rumah. Gadis itu lalu berlari kecil menghampirinya.
"Darin kita dimana?"
"Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu itu. Cepat masuk."
Lagi-lagi Darin bersikap dingin terhadapnya. Felicya harus lebih bersabar dengan sikap Darin yang selalu berubah setiap saat.
"Darin apa yang kita lakukan disini?" Felicya mengekori sambil matanya jelalatan melihat interior rumah.
Duk!
"Aduh!" Felicya menggaduh mengusap jidatnya yang menubruk punggung Darin.
Pria itu menghentikan langkahnya, kemudian berbalik memperhatikan Felicya.
Mata keduanya yang sempat bertemu membuat Felicya segera memutuskan kontak mata mereka. Gadis itu menunduk, kaku.
Darin tak tahan melihat Felicya yang menghindari tatapannya, menarik dagu gadis itu.
Rasa takut yang sempat muncul menatap mata Darin kini lenyap akibat tatapan pria itu yang menghangatkan.
"Anggap saja kita sedang berbulan madu." Darin langsung membungkam bibir Felicya.
Ciuman Darin yang lembut tanpa menggebu-gebu itu langsung membawa Felicya hanyut di dalamnya. Lengannya sudah bergelayut di leher Darin.
Darin menarik pinggang Felicya untuk menempel pada tubuhnya. "Akhh!!" pria itu mengerang saat bagian tubuhnya sudah mengeras.
Saat itulah Darin berbisik di telinga Felicya. "Aku ingin kau menjadi liar."
Nafas Felicya memburu begitu cepat. Wajahnya panas terakibat sengatan gairah.
Felicya mendongak menatap Darin, begitu juga dengan pria itu. Berjinjit Felicya langsung mengambil alih ciuman. Tangannya merambat meremas rambut Darin, semakin menekan kepala Darin.
"Dimana kita akan melakukannya?" tanya Felicya.
"Dimanapun yang kau inginkan." mata Darin menggelap. Pria itu menjilat leher Felicya sebelum kemudian berkata "malam ini tubuhku milikmu."
Seperti mantra, kalimat Darin tersebut langsung membuat Felicya mendorong tubuh Darin ke sofa yang tak jauh dari mereka berdiri saat ini.
Felicya menduduki tubuh Darin. Beraksi seliar mungkin seperti keinginan pria itu. Memulainya dari menciumi bibir Darin. Menjilat leher, d**a, hingga perut eight pack pria itu. Lidah Felicya terus menari di atas tubuh polos Darin.
Sampailah gadis itu pada milik Darin, Felicya melihat Darin sejenak untuk meminta persetujuan, Darin mengangguki tatapan Felicya itu.
Tak henti-hetinya mengerang akibat ulah Felicya di bawah sana, Darin mengakui kehebatan Felicya, entah darimana gadis itu belajar memuaskan miliknya menggunakan bibir mungil itu.
Darin menarik tangan Felicya dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.
"Lakukanlah sekarang. Bergeraklah di atasku." Felicya menyanggupi.
Beberapa menit berlangsung Felicya bergerak secara brutal. Gadis itu tak hanya memikirkan kenikmatan dan kepuasan Darin seorang saja, tapi juga mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri.
*****
Felicya mengeluh akibat rasa pegal di kakinya. Setelah semalam mereka bercinta dengan begitu hebat, dan tidur sampai sore menjelang, Darin menyeret dirinya untuk ikut serta berlari sore bersama pria itu.
Selain jaraknya yang sangat jauh, jalur yang di ambil Darin tak beraturan. Kadang menanjak lalu kadang menurun. Bagi Felicya yang jarang sekali berolahraga jalur seperti itu sangat mengerikan.
Darin berhenti berlari ketika melihat Felicya hampir sekarat.
Felicya terkapar menatap langit berawan. Dadanya naik turun mengatur pernafasannya.
"Apa kau berniat membunuhku?"
Darin menghela nafas kemudian menghampiri Felicya, mengikuti Felicya yang tidur terlentang di atas tanah penuh dedaunan kering.
"Berlari santai tidak akan membuatmu mati Feli."
"Santai ndasmu! Kau berlari cepat sekali seolah mengikuti kejuaran lari! Nafasku hampir tercekik karena mengikutimu!" dumal Felicya menatap sengit Darin. Bibirnya berkerucut, pipinya mengembung, bukannya terlihat seram justru terlihat lucu.
Darin tertawa.
Felicya terperangah melihat Darin tertawa lepas untuk pertama kalinya.
"Darin, bagaimana jika aku mencintaimu?" tanya Felicya penuh kehati-hatian.
Wajah Darin berubah datar. Tatapan pria itu menggelap seperti semula, dingin dan kejam.
"Maka kontrak kita berakhir."
Tbc...