Menatap Dari Jauh

1052 Kata
Alvo ada di dalam mobil. Memandangi rumah kost Kerin dari kejauhan. Entah karena apa Alvo justru membawa dirinya hingga sampai kemari. Duduk di dalam mobil cukup lama sesekali menarik napas panjang. Walau agak jauh, Alvo bisa melihat ada kegiatan apa saja di kursi teras. Ada dua hingga tiga anak kost di sana sedang duduk di kursi sembari mengobrol satu sama lain. Tapi sayang, tidak ada Kerin di situ. Sial. Ini pasti karena kata-kata Lando waktu itu. Alvo nggak berhenti memikirkannya. Apa benar Alvo se-egois itu ya? Alvo rasa, Alvo bersikap biasa saja selama ini. Lagi pula, kalau memang Kerin merasa tersakiti karena ulah atau kata-katanya, kenapa nggak bilang saja? Minimal menegurnya. Ya, kan? Sedari dulu Alvo memang begini. Mau itu bersama Kerin atau teman-temannya. Sifat dan perkataan Alvo nggak bisa diubah. Sudah dari sananya. Dan Alvo rasa dirinya masih dalam batas wajar. Atau Lando saja yang berlebihan kemarin? Sampai hari ini, Alvo dan Lando belum menghubungi satu sama lain. Bukan berarti mereka nggak pernah bertengkar sebelumnya. Pernah, kok. Hanya saja besoknya pasti baikan lagi. Kumpul bareng lagi. Tapi, kenapa sekarang lama sekali ya? Lamunan Alvo buyar. Sebuah motor masuk ke halaman kosan Kerin. Alvo sedikit menurunkan kaca mobilnya. Biarpun cuma melihat dari punggungnya saja, Alvo dengan mudah menebak jika itu Alfa. Dan benar saja, begitu si lelaki melepas helm dan turun dari motor, itu memang Alfa. Menyapa teman kost Kerin yang duduk di teras dengan senyum ceria. Alvo mendengkus. Salah satu teman kost Kerin beranjak dari kursi lalu masuk ke dalam. Alfa duduk di kursi kosong. Mengajak ngobrol teman kost Kerin yang masih tersisa duduk di kursi. Lihat, Alfa mudah sekali berinteraksi dengan banyak perempuan. Atau memang sudah menjadi kebiasaan Alfa selama ini? Dan nggak diketahui Kerin? Dulu, sewaktu Alvo dan Kerin masih berpura-pura bertunangan, Alvo mana pernah mau berbaur begitu. Sembarangan duduk bersama perempuan lain, walaupun itu teman kos Kerin. Jangankan sama mereka, ditinggal duduk berdua bersama Langen saat mereka berempat makan bersama saja, Alvo nggak pernah kecuali bertanya hal penting atau Langen yang menegurnya lebih dulu. Ha, lelaki seperti itu yang menggantikan dirinya? Di satu sisi, Alfa menyadari adanya Alvo. Lelaki itu sungguh pengecut! Untuk apa duduk di dalam mobil sambil memandangi kemari? Sebelum motornya berbelok masuk ke halaman kos Kerin, dari kejauhan Alfa mendapati mobil Alvo terparkir nggak jauh dari rumah kost Kerin. Alfa memghafal plat nomor mobil lelaki itu. Melirik Alvo dari luar hanya beberapa detik saja kemudian menyeringai sinis. Alfa mengeluarkan ponsel. Berpura-pura nggak menyadari sedang diperhatikan Alvo. "Gue penasaran dari pertama lo ke sini sih." Teman kost Kerin menatap Alfa ragu-ragu. "Kita boleh tanya, nggak?" tanya satunya lagi. Alfa meletakkan ponselnya ke atas meja. "Boleh. Kalian mau tanya apa?" Dua teman Kerin saling melirik satu sama lain. "Lo pacar barunya Kerin?" Pertanyaan yang sama diterima Alfa dari teman-teman Kerin. Nggak Langen dan Lando, kemudian dua teman kosan Kerin sekarang. Alfa menjilat bawah bibirnya. "Kelihatannya gimana?" tanya Alfa cengengesan. Kedua perempuan itu saling menatap lagi. "Santai aja sama gue. Bilang kalau ada yang mau kalian tanyain," celetuk Alfa santai. Mereka jadi agak santai setelah mendengarnya. Salah satu dari mereka pun mengatakan, "Lo beda banget sama mantan dia yang dulu." "Siapa? Alvo?" tanya Alfa. "Bodo amat sama namanya," sahut teman kost Kerin yang duduknya mirip seperti lelaki. "Mantan Kerin sebelum lo tuh nyebelin menurut gue! Kelihatan banget sombongnya! Tiap jemput Kerin, pasti nggak mau turun dari mobil. Mukanya selalu ditekuk, padahal Kerin itu tunangannya ya, kan?" "Iya! Nyapa kita kayak lo tadi mana mau. Gue tahu dia anak orang kaya. Tapi, masa ahlak aja nggak punya?" dumel teman kost Kerin yang berbaju merah. Tiba-tiba teman kost Kerin yang sejak tadi cuma diam, kini nyeletuk, "Gue pernah nggak sengaja denger Kerin teleponan sama mantannya. Kayaknya, Kerin tuh nggak boleh temenan sama cowok. Kelihatan kayak dikekang banget!" "Duh! Beruntung sekarang udah putus kan!" sahut yang lainnya. "Biar cakep, dompet tebel, punya mobil. Kalau nggak bisa menghargai pasangannnya juga buat apa?" "Bener! Gue kalau punya pacar kayak gitu, udah gue putusin dari pertama pacaran. Tapi hebatnya Kerin bisa bertahan sampai dua tahun, lho!" Alfa masih mendengar para perempuan membicarakan Alvo. Di bawah meja, kesepuluh jari Alfa mengepal kuat. Seberengek itu Alvo selama ini? Woah! Keterlaluan sekali kalau memang benar. "Ssst," gumam teman-teman kost Kerin saling menyenggol lengan. Salah satu objek obrolan mereka tiba-tiba muncul. "Lo kebiasaan banget tiap mau ke sini nggak bilang dulu!" omel Kerin menunjuk Alfa. Alfa cuma haha-hihi doang. "Cari makan, yuk? Di tanggal tua begini, lo pasti makan mi instan doang di kost!" Kerin menghampiri Alfa, menoyor kepala lelaki itu pelan. "Emang kenapa kalau makan mi?!" "Nggak sehat, Ke. Udah badan lo kecil. Makannya mi instan mulu. Mana ada gizinya," celetuk Alfa, mendapat sambutan tawa yang lain. "Dih! Sejak kapan kalian akrab?" tunjuk Kerin ke teman-temannya lalu ke Alfa. "Sejak hari ini," jawab teman Kerin sambil tertawa. "Cari makan dulu, yuk! Gue laper, Ke!" seru Alfa. "Bentar. Gue ambil jaket dulu." Kerin akan berdiri dari kursi. Namun ditahan Alfa. "Kelamaan, Ke," ujar Alfa. Dia menurunkan resleting jaketnya kemudian membukanya. "Pake jaket gue aja nih! Kalau lo masuk lagi ke dalem, pasti lebih lama. Gue udah laper, Ke! Kalau nggak buru-buru dikasih makan cacing di perut gue, bisa pingsan gue ntar." "Lebay lo!" Kerin menoyoro bahu Alfa. Walau begitu, Kerin menerima jaket pemberian Alfa. Kerin mengenakannya, dibantu Alfa yang menutup resleting jaketnya. Juga, dengan jahilnya Alfa mengikat penutup kepalanya sampai Kerin memukul punggung tangan lelaki itu kesal. "Gue bisa kena cekik, bodoh!" maki Kerin. Lagi-lagi Alfa membalasnya dengan tawa. "Ada yang mau titip nggak?" tawar Alfa ke teman-temannya Kerin. "Nggak deh. Gue udah kenyang," jawab si baju merah. "Gue mau keluar juga bentar lagi. Cowok gue otw kemari," sahut si tomboy. "Oke." Alfa mengangguk. Alfa dan Kerin menaiki motor. Kerin mengenakan setelan piyama berlengan pendek, dan dibalut lagi menggunakan jaket bergaris warna biru milik Alfa. "Pegangan, Ke." Alfa berpesan dan menatap Kerin lewat spion motornya. Kerin menepuk bahu Alfa. "Iya. Udah, nih!" Alfa menjalankan motornya. Di belakangnya ada Kerin yang dia bonceng. Alfa melirik mobil yang diperkirakam milik Alvo yang masih di sana. Begitu motor Alfa keluar halaman kost Kerin, Alfa sengaja menghentikan motornya di samping mobil Alvo. Berpura-pura berkaca, padahal sengaja mau memamerkan Kerin. "Kenapa berhenti sih!" omel Kerin memukul bahu Alfa. "Bentar dulu, Ke. Gue lagi ngaca," kata Alfa santai. Dia yakin, Alvo sedang panas sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN