Alvo dibuat geram oleh tingkah Alfa. Bisa-bisanya lelaki itu menghentikan motornya di samping mobil Alvo persis. Ingin sekali Alvo menurunkan kaca mobil kemudian menegur keduanya kenapa berhenti sangat lama. Tapi, kalau Alvo sungguh melakukannya, itu sama seperti bunuh diri. Apa kata Kerin nanti? Pasti perempuan itu akan besar kepala!
"Ke."
Alvo melebarkan telinga, berusaha mendengar obrolan Alfa dan Kerin.
"Apa? Lo mau sampai kapan ngaca, sih?! Katanya lo udah kelaperan!" omel Kerin memukuli kedua bahu Alfa.
Alfa menengok ke belakang sepintas kemudian mengaca lagi. "Tunggu, Ke. Gue belum puas lihatin wajah ganteng gue," jawabnya diselingi tawa menyebalkan.
Iya, menyebalkan. Setidaknya itu menurut Alvo. Selama gaya berpakaiannya seperti berandalan, Alfa bukan tandingan Alvo. Percaya diri sekali menyebut wajahnya ganteng!
"Gue tadi ngobrol sama temen-temen lo di teras," gumam Alfa, tapi herannya suara lelaki itu sengaja ditinggikan.
"Ngobrol apa?" tanya Kerin.
Sambil merapikan rambutnya menggunakan jari-jarinya yang panjang, lelaki itu menjawab, "Mereka ghibahin Alvo."
Di dalam mobil, Alvo mendelik tidak terima. Apa katanya? Teman-teman Kerin menghibahkan dirinya? Alvo menahan geram, entah kenapa dia malah menggulung lengan kemejanya seolah sedang membuat perhitungan dengan teman-teman Kerin.
Jadi itu alasannya kenapa Alfa lama sekali mengobrol dengan perempuan-perempuan tadi? Hanya untuk membicarakan Alvo? Ha! Lancang sekali mereka! Lagi pula, apa yang mereka bicarakan tentang Alvo? Baik atau justru tentang hal buruk?
Alvo tertawa sinis, hampir mengeluarkan suara tawa namun ditahannya karena tidak ingin ketahuan Alfa dan Kerin yang masih di situ.
"Temen-temen lo bilang. Selama ini Alvo nggak pernah bersikap baik ke lo. Tiap dateng ke kosan lo, dia nggak mau turun dari mobil. Wajahnya cemberut mulu katanya," cerita Alfa, sesuai yang dikatakan teman-teman Kerin.
"Emang," sahut Kerin santai.
Alfa melirik Kerin dari kaca spion motornya. "Lo sakit diperlakuin gitu nggak, Ke?"
Raut wajah Kerin berubah murung. Tetapi tetap ditimpalinya dengan menganggukkan kepalanya lalu menambahkan, "Bohong banget kalau gue nggak sakit hati." Kepala Kerin terangkat, mengangkat kedua bahunya. "Tapi ya gimana lagi, waktu itu gue lagi bodoh aja. Bisa-bisanya gue bertahan sampai dua tahun ya? Haha," tawanya, namun ekspresi yang ditunjukkan Kerin justru datar, tawanya hambar sekali.
Alfa menatap lurus ke kaca mobil Alvo. Dia memang sengaja menghentikan motornya ke samping mobil Alvo agar lelaki itu bisa mendengar semua percakapannya dengan Kerin. Supaya Alvo tahu, kalau sikapnya kepada Kerin sudah sangat keterlaluan. Bahkan bukan hanya Kerin yang merasakan. Tetapi juga orang-orang di sekitar Kerin juga.
Di dalam mobil, Alvo bisa mendengar obrolan Kerin dan Alfa sepenuhnya. Alvo merenungi kata-kata Alfa, yang disampaikan oleh teman-teman Kerin. Apa.... Alvo sudah sangat keterlaluan kepada Kerin? Alvo bahkan tidak menyadarinya. Menurut Alvo, dia bersikap biasa saja. Sama halnya bersikap kepada teman-temannya. Alvo memang begitu sejak dulu. Coba tanya saja pada orang terdekat Alvo. Pasti mereka akan mendapat jawaban yang sama seperti Kerin.
"Udah, deh. Lo kenapa malah bahas Alvo, sih? Buruan pergi cari makan, yuk!" seru Kerin menepuk punggung Alfa.
"Iya, iya." Alfa menyeringai. Dia merasa sudah cukup memancing Alvo. Dia pikir, lelaki itu bisa mendengar semua obrolannya dengan Kerin.
***
Sandra heran dengan anak perempuannya ini. Ditemui sama calon suami, wajahnya malah ditekuk mirip kertas lipat yang biasa digunakan anak sekolah TK untuk ketarampilan. Iya, yang warna-warni itu, lho. Tahu, kan?
Kurang sabar apa Lando selama ini ke Langen. Langen begini, Langen begitu, Lando kayaknya nggak pernah balas marah ke anak perempuannya. Masih saja sabar padahal Langen sudah kurang ajar.
Ya iya sih, Langen dan Lando bertunangan karena dijodohkan keluarga. Tapi, kan... Sandra mencarikan Langen calon suami yang nggak asal dari keluarga kaya saja. Tapi juga tampan, baik, penyabar pula. Langen mau cari seperti apa lagi? Usianya sudah tiga puluh tahun. Tiap disuruh mempercepat pernikahan, pasti ada saja alasannya. Sudah gitu, Lando cuma iya-iya saja.
"Mukanya biasa aja kenapa, La," tegur Sandra mulai nggak sabaran.
"Ini udah paling biasa, Ma," jawab Langen sambil mengaduh teh.
"Biasa apanya?" Sandra nggak berhenti mengomeli anak perempuannya. "Lando udah sabar banget sama kamu, La. Mau kamu judesin kayak gimanapun, Lando nggak pernah balas marah sama kamu."
Langen menyahut, "Ya... belum ketahuan aja aslinya."
Sandra mengembuskan napas. Kepalanya dia gelengkan mendengar jawaban putrinya. Sandra heran, Lando harus berbuat bagaimana lagi agar Langen luluh? Rasanya segala hal sudah Lando lakukan untuk Langen. Termasuk menunda pernikahan mereka. Kalau saja Lando itu Sandra, sudah dia paksa menikah beberapa bulan setelah pertunangan dilaksanakan. Tapi Lando tetap mengalah. Katanya, akan menunggu Langen sampai siap menikah dengan tanpa dipaksa.
"Udah bener masukin gula belum?" sindir Sandra, melipat tangan di depan dadaa.
"Udah, Ma. Nih, gula, kan?" Langen menunjuk tempat gula diletakkan.
Sandra mencebikkan bibir. "Siapa tahu aja kamu niat ngasih garem lagi ke minumannya Lando!"
Sandra sampai kasihan sama Lando. Sudah dijudesin, dikerjain pula sama Langen. Masa ya, pertama kalinya Lando main kemari untuk menemui Langen, putrinya itu malah mengerjai Lando habis-habisan. Minumannya bukan diberi gula, tapi garam dan saus sambal tanpa sepengetahuan Sandra. Dan herannya lagi, Lando meminumnya sampai habis. Kalau saja Ola nggak memberitahu kejahilan Kakak sepupunya ke Sandra, dia juga nggak akan tahu. Mungkin saja setiap kali Lando kemari akan dikerjai terus-terusan.
"TANTEEE!"
Sandra mengelus dadaa. Hampir saja jantungnya copot mendengar Ola berteriak dari luar dapur. Langen mendengkus. Dalam hati Langen sedang menyumpah serapahi Ola, sepupunya. Karena Ola mengadu ke mamanya dulu, Langen sampai hari ini dendam sama Ola.
"Tante." Ola memanggil Sandra lebih lembut daripada tadi. "Perjodohan aku sama Natan bisa dibatalin aja nggak, sih?"
"Eh? Kenapa?" tanya Sandra menghampiri Ola.
"Dia nyebelin aja! Lagian nih ya, Tan, emang masih musim dijodohin?!" protes Ola.
Langen yang di belakang Sandra pun mengangguk, setuju dengan kata-kata Ola.
"Sayangnya nggak bisa, La. Perjodohan kalian kan sesuai surat wasiat yang ditulis Papa kamu," kata Sandra penuh kesabaran. "Lagi pula, Natan cocok sama kamu, kok. Kamu pun sama-sama nyebelinnya."
"HAHA!" tawa Langen membludak, membuat tubuh Ola bergerak dan menatap Langen sebal.
Tadi Langen, sekarang Ola. Anak sama keponakannya nggak ada bedanya. Susah sekali diberitahu. Apa salahnya dicoba dulu, sih? Nggak ada ruginya. Toh, baik Lando sama Natan juga lelaki baik-baik. Sandra yakin, mendiang papanya Ola memiliki alasan kenapa menjodohkan putri satu-satunya dengan Natan.
"Tapi, Tante..." Ola mulai merengek.
Sandra menutup kedua telinganya. "Aduh, La, Tante nggak berani batalin perjodohan kamu sama Natan. Kalau Tante digentayangin sama Papa kamu, gimana?"
Sandra menghindari Ola. Kemudian keluar dapur meninggalkan Ola dan Langen hanya berdua.
"Ish!" Ola mengentakkan kedua kakinya kesal.