Langen dan Kerin biarpun bersahabat, tapi perjalanan cintanya berbeda. Yang satu dikejar, yang satu mengejar. Hei! Tapi itu dulu, dong! Sekarang Kerin nggak sebodoh itu lagi. Mengejar orang yang nggak menyukainya selama dua tahun.
Jelas karena Lando dan Alvo tipikal lelaki yang berbeda. Walau Lando nggak banyak bicara, tapi setidaknya, Lando memperlakukan pasangannya dengan sangat baik. Lando lembut, penuh perhatian, padahal Langen kurang bisa menerimanya sebagai calon suami. Coba tanya ke Lando, berapa kali Langen bersikap ketus kepadanya? Nggak terhitung. Lha, gimana dong! Setiap kali ketemu, Langen selalu begitu. Mana ada manis-manisnya. Di mata Langen, Lando itu menyebalkan. Apa yang dilakukan calon suaminya selalu salah di mata Langen.
Kalau kata Ola, "Bang Lando napas aja salah buat Kak Langen!"
Ya iya sih. Langen juga mengakui kok.
Langen, Kerin dan Ola sedang duduk bersama. Kali ini Kerin yang mengunjungi rumah orang tua Langen. Biasanya Langen yang main ke tempat kosan Kerin. Karena teman-teman kost Kerin punya kesibukan masing-masing. Apa lagi hari sabtu begini, kebanyakan mereka pulang ke rumah orang tua. Sementara Kerin? Siapa yang mau dia kunjungi memangnya? Kerin merasa nggak punya orang tua.
Kerin menurunkan kedua bahunya lesu. Omong-omong soal orang tua, Kerin merasa kurang beruntung. Langen, biarpun cuma punya Mama doang, Langen termasuk anak yang beruntung. Tante Sandra orang perhatian walau suka sekali mengomeli anak dan keponakannya. Sedangkan Kerin? Saat masih tinggal bersama, Kerin pulang telat, mana pernah dicari? Ditelepon aja nggak, kok!
Kerin adalah gambaran sesungguhnya korban dari perceraian orang tua. Hingga hari ini dia nggak pernah melihat lagi wajah ayahnya setelah sekian lama. Kalau saja Kerin diberi kesempatan, Kerin ingin bertemu walaupun cuma sekali.
"Ish!"
Dengkusan Langen membuyarkan lamunan Kerin tentang orang tuanya yang bercerai. Ola yang duduk di kursi paling ujung sambil bermain gitar, sepertinya ikut buyar juga konsentrasinya. Ola memberi jeda, berhenti menarik senar gitarnya lantas menatap Kakak sepupunya sebal.
"Harusnya dia nggak marah dong ya? Ya, kan?" cerocos Langen nggak jelas.
Kerin dan Ola nggak paham siapa yang sedang Langen bicarakan. Tahu-tahu mengomel, mencerocos sambil menunjukkan ponselnya yang adem ayem rupanya.
"Woah!" seru Langen kesal bukan main.
Perempuan itu meletakkan ponsel ke meja. Menaikkan kedua kakinya ke kursi lantas menyilangnya. Sambil terus mengomel, Langen menggelung rambut panjangnya. Sesekali melirik ponselnya lalu menggerutu lagi.
"Lihat, kan!" tunjuk Langen ke layar ponsel yang gelap.
"Lo kenapa sih?" tanya Kerin bingung. Pasalnya, Langen sangat aneh. Dari Kerin datang ke rumah, wajah Langen ditekuk. Nggak senyum, nggak nyengir kayak biasanya.
"Halah! Paling sama Bang Lando." Ola menyahut, bersiap memetik gitarnya lagi.
Langen tahu-tahu menunjuk Ola. "Diem ya, lo. Jangan berani-beraninya main gitar!" ancam Langen.
"Dih! Apa sih?" balas Ola, nggak kalah nyolot. "Tante Sandra aja nggak melarang kok! Lagian ya, Kak, lo kalau kesel sama Bang Lando, jangan lo lampiasin ke orang lain!"
"Jangan sok tahu!" teriak Langen.
Ola sama sekali nggak menghiraukan omelan Langen. Karena menurut Ola, Kakak sepupunya tiada hari tanpa mengomel. Entah karena habis diceramahi Sandra, atau yang paling sering sih, karena Lando sering datang kemari. Haha, aneh kan ya? Diapeli calon suami kok nggak suka. Giliran orangnya nggak kemari, ngomel juga. Maunya Langen apa sih?
Langen adalah definisi perempuan ribet yang sesungguhnya! Kalau memang nggak suka, bagus dong Lando nggak ngapelin ke rumah! Ya, kan?
Ola memetik gitarnya keras-keras. Sengaja memang, kok. Biar Langen tambah kesal! Suara gitar yang keluar bukan lagi bikin syahdu kayak tadi. Tapi lebih mirip orang yang sedang kesetanan. Suaranya bikin sakit telinga. Kerin sampai ikutan protes.
"La! Berisik!" protes Langen sambil menutup kedua telinganya.
"Sama. Kayak suara lo tadi. Berisik!" balas Ola, beranjak dari kursi kemudian menaikkan satu kakinya. Dia sengaja mendekatkan wajahnya ke Langen lantas meninggikan suaranya.
"Heh! Udah!" seru Kerin melerai Langen dan Ola.
Ola berhenti bermain gitar lantas duduk ke kursinya lagi. Sedangkan Langen masih tampak kesal. Gulungan rambutnya lepas, dan dibiarkannya tergerai di kedua bahunya.
"Kalian berdua nggak bisa nggak ribut, ya?" tanya Kerin, menunjuk Ola dan Langen bergantian.
"Gue bisa. Kak Langen yang nggak," sambung Ola.
Langen mendelik. "Justru lo yang mancing gue mulu!"
Seriusan, ya. Langen sudah sebal dari pertama Ola tinggal di rumah mamanya. Ola tuh bandel banget, sumpah. Dari zaman SMA, Langen yang kedapatan menemui guru Ola di sekolah setiap kali Ola membuat masalah!
Yang ribut sama Kakak kelas-lah. Cari masalah sama geng di sekolah, parahnya, Ola pernah ikut tawuran! Coba tanya, dalam seminggu, berapa kali Ola dipanggil sama guru BK? Langen saja sampai muak, lho. Apalagi guru-guru di sekolah Ola!
"Lo kalau ada masalah cerita, jangan tahu-tahu ngomel. Kita mana tahu apa yang bikin lo kesel," ujar Kerin menasihati Langen.
"Ish, Kak Kerin. Dibilangin, pasti karena Bang Lando!" sahut Ola, kemudian, disambut lemparan sendal oleh Langen.
"Nggak kena, weeek! Haha!" ejek Ola.
Langen mengelus dadaa berusaha sabar menghadapi Ola. Kok ya bisa Natan mau sama Ola yang tingkahnya macam preman. Padahal mantannya Natan itu cantik, lemah lembut. Jauh beda sama Ola.
"Bener karena Lando, La?" tanya Kerin ke Langen.
"Ngaku aja kali, Kak! Lo ngambek karena nggak diapelin, kan? Habis berantem, kan?" ledek Ola sambil menunjuk ke Langen.
"DIEM LO! MINGGAT SANA!" bentak Langen, menunjuk ke dalam rumah.
Mereka sedang berkumpul di taman belakang. Tadinya adem ayem saja. Sampai akhirnya Langen tahu-tahu mengomel, memancing kekesalan Ola hingga keduanya jadi adu mulut.
"Sukurin! Bang Lando jadi marah, kan? Lo, sih, Kak. Soal jual mahal! Giliran Bang Lando yang balas marah, lo kayak cacing kepanasan!" Ola nggak berhenti meledek Langen.
Langen beranjak dari kursi hendak mengejar Ola. Namun Kerin segera menarik Langen, membujuk temannya agar bersabar menghadapi Ola yang lebih muda. Langen menunjuk Ola dan berteriak, "SINI LO, LA! BIAR GUE PITES!"
"Udah, La. Udah. Kenapa malah marah sama Ola, sih?" Kerin memegangi pinggang Langen. Ia tidak bisa diam begitu saja melihat temannya dan Ola bertengkar. Apa lagi Langen sedang dalam suasana hati kurang bagus. Bagaimana kalau mereka jadi jambak-jambakkan? Atau lebih parahnya saling pukul?
"OLA! BALIK KE SINI NGGAK!" Jeritan Langen sangat kuat sampai Kerin harus melepas pinggang Langen. Otomatis temannya itu jatuh terduduk di lantai. "Lo juga, Ke! Main lepas aja! Sakit, tahu!"
Kerin menurunkan tangannya dari telinga. Perempuan itu cengengesan melihat Langen marah-marah padanya. "Sori, La, gue nggak sengaja."