Perasaan Alvo sekarang jauh lebih lega dan ringan. Tidak ada lagi perasaan sebal atau kecewa karena Yasmin telah memiliki lelaki lain. Ah, rasanya kurang tepat. Baik, Alvo akan mengkoreksinya. Yasmin telah memiliki calon suami. Dan Alvo, hanyalah seseorang di masa lalu yang mengharapkan Yasmin untuk kembali.
Dua hari yang lalu Yasmin dan calon suaminya telah kembali ke luar negeri. Bahkan Alvo dan Lando secara khusus mengantarkan Yasmin ke bandara sebagai ucapan perpisahan. Yasmin memeluk kedua temannya bergantian. Kepada Alvo, perempuan itu memeluk lebih lama. Di saat mereka berpelukan, Yasmin membisikkan sesuatu ke telinga Alvo. Membuat Alvo diam merenung sembari meyakinkan dirinya sendiri.
"Kamu salah ngejar orang, Vo." Yasmin berbisik ke telinga kanan Alvo.
Alvo mengurai pelukan Yasmin dan menatap perempuan itu dengan dahi mengernyit.
Yasmin mengulas senyum ceria. Ditepuknya sebelah bahu Alvo, lantas menambahkan, "Yang aku lihat, yang kamu harapkan itu Kerin, Vo, bukan aku."
Alvo menghabiskan lima detiknya untuk bertanya. Paling tidak kepada dirinya sendiri. Kenapa Yasmin mengira ia mengharapkan Kerin?
"Mulai dari sekarang cari tahu kenapa kamu suka sama Kerin." Yasmin mengedipkan sebelah matanya jahil sambil tertawa kecil.
Kemudian, sepulang mengantar Yasmin dan calon suaminya, Alvo tidak berhenti memikirkan kata-kata Yasmin. Apa benar? Alvo menyukai Kerin?
Jika kalian bingung. Sebenarnya Alvo telah menceritakan perihal hubungannya dan Kerin kepada Yasmin. Termasuk mereka berpura-pura saling mencintai selama ini. Kerin cuma pacar pura-pura pada awalnya. Tapi karena mamanya Alvo terlanjur menyukai Kerin dari awal diperkenalkan, mamanya Alvo tahu-tahu membuat pesta pernikahan tanpa memberitahu Alvo lebih dulu. Segala upaya telah dilakukan dan tidak mungkin Alvo mempermalukan keluarganya sendiri jika menolak. Begitu pun Kerin. Mana mungkin Kerin bisa menolaknya? Sementara keluarga Alvo menaruh harapan kepada mereka berdua.
Reaksi Yasmin terlihat biasa. Perempuan itu mendengarkan cerita Alvo dari awal sampai akhir tanpa menyela. Yasmin bertanya kenapa Alvo terus mengajak Kerin berpura-pura. Kenapa tidak belajar saling membuka hati saja? Alvo diam, menelaah kata-kata Yasmin. Namun, tidak kunjung mendapat jawaban. Jika dulu Alvo menaruh harapan besar—bahkan sebelum Yasmin kembali ke Indonesia. Alvo tidak berniat membuka hati kepada siapa pun termasuk Kerin. Lagi pula, Kerin tidak masuk dalam kriteria perempuan yang Alvo sukai.
Yasmin yang feminim dan anggun. Tutur katanya lembut dan bijak. Sementara Kerin? Perempuan itu seringkali sembarangan. Gaya berpakaian yang sembatangan. Rambut yang diikat asal. Bicara ceplas-ceplos. Sungguh. Bermimpi mempunyai pasangan seperti Kerin saja tidak pernah!
"Vo!" seru Natan menggoyangkan lengan kanan Alvo.
Alvo, Lando dan Natan sedang pergi makan siang bersama. Di samping Natan, ada Lando yang diam, seolah sibuk sendiri dengan ponsel di tangan.
Natan menggeleng kemudian mendecakkan lidah. Melihat kedua temannya sering melamun beberapa hari ini membuat Natan agak khawatir. Jarang sekali Alvo apa lagi Lando diam melamun. Jika mereka sedang berkumpul, akan ada banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk kepulangan Deon dari Amerika.
Siapa Deon? Tentu saja teman mereka. Lelaki paling dingin di antara yang dingin.
Menurut Natan, Alvo bukan lelaki dingin seperti yang dikatakan orang-orang. Coba saja mereka menjadi teman Alvo. Sehari saja. Biar tahu rasanya disakiti dengan kata-kata pedas Alvo. Lidah tajam. Apa saja yang keluar dari mulut Alvo selalu nyelekit.
Pantas saja Kerin mundur.
"Menghadapi Deon udah bikin gue pusing. Tiap ngomong sama dia berasa ngomong sama tembok," keluh Natan sambil geleng-geleng.
Lando dan Alvo menatap Natan kompak. Berbeda saat berada di depan Ola, tunangannya. Natan menunjukkan sifat aslinya di depan teman-temannya. Cerewet, banyak mengomel, dan jahil. Mungkin karena Natan setahun lebih muda dari ketiga temannya. Dan mereka sudah memaklumi itu.
"Eh, lo, Ndo." Natan menunjuk Lando. "Kalau lo masih sayang sama Langen. Kenapa lo lepasin dia? Lo lihat penampilan lo setelah kalian putus. Mirip Zombie!"
Kini, bukan Natan lagi yang menjadi objek-nya. Tetapi Lando. Alvo bahkan menolehkan kepalanya tepat ke samping kursi yang diduduki Lando.
"Lo putus sama Langen, Ndo?" tanya Alvo. Raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa lelaki itu sangat terkejut.
Semua orang di sekitar Lando tahu betapa sayangnya Lando kepada Langen. Teman Alvo yang satu ini terlalu sabar. Apa saja yang diminta Langen selalu dituruti. Apa saja yang Langen lakukan, Lando tidak akan protes dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Menerima semua kecerewatan Langen, ketusnya Langen. Baik dan buruknya Langen, Lando menerimanya. Jadi, kenapa sekarang tiba-tiba putus?
"Siapa yang minta putus duluan, Ndo? Langen?" tanya Alvo lagi.
"Gue," jawab Lando jujur.
Intonasi suara Lando terdengar lesu. Seolah tidak memiliki semangat hidup. Natan mulai berdecak. Bukan cuma Alvo saja yang heran. Tapi juga dirinya. Sewaktu Lando bercerita ke Natan perihal Langen yang selalu ingin putus, Lando berpikir Langen menjalani hubungan mereka selama ini sama seperti memikul beban. Lando yang sayang setengah mati kepada perempuan itu malah timbul rasa bersalah. Kalau Lando terus memaksa Langen bersama, itu artinya sama saja membuat Langen menderita.
Alvo manggut-manggut tanda mengerti. Ia menoleh lalu menepuk bahu temannya prihatin. Sayang sekali Langen melepas Lando. Langen belum menyadari seberapa sayang dan cintanya Lando. Alvo yakin, Langen tidak akan menemukan lelaki sebaik dan sesabar Lando jika menemukan pendamping yang baru.
"Respons Langen gimana, Ndo?" Alvo sepenuhnya meletakkan pandangannya pada Lando.
Alvo bahkan sampai mengubah letak posisi kursinya. Duduk memunggungi Natan yang mulai cerewet.
"Duduk yang bener kenapa sih, Vo!" seru Natan menepuk punggung Alvo lumayan keras.
Alvo menengok sekali lantas mendengkus. Ia tidak menghiraukan ocehan Natan.
"Gue nggak tahu," gumam Lando. Sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum sedih.
"Kenapa nggak tahu?" tanya Alvo bingung.
Natan nyeletuk, "Lando ngomongnya ke Tanta Sandra!"
"Bener, Ndo? Kenapa nggak langsung ke Langen aja?"
"Karena Lando yakin Langen tuh benci banget sama dia, Vo," serobot Natan.
Alvo menarik napas sesaat. Lando tidak banyak bicara. Beberapa hari yang lalu ia dan Lando sempat tidak saling sapa karena perdebatan mereka di ruang kerja Alvo waktu itu. Jadi Alvo baru tahu kalau Langen dan Lando sudah putus.
"Gue kira cowok kelewat baik cuma ada di novel ya, Vo," celetuk Natan. "Ternyata terjadi sama temen kita sendiri. Cakep-cakep kok sad boy."
Alvo melirik Natan. Sejak tadi yang heboh justru Natan. Lando menanggapi pertanyaan Alvo santai, tidak banyak kata tapi ekspresi wajahnya sudah cukup mewakili perasaan Lando.
"Kalau lo berakhir melepas sesuatu, jangan tanggung, Ndo. Lo kan mikirnya Langen nggak suka sama lo. Mending lo cari pacar ba—aduh! Sakit, Vo!" teriak Natan sambil memegangi kepalanya.
"OM!"
Ketiga lelaki itu dengan kompak menolehkan kepala mereka. Suara tak asing di telinga Natan meyakini kalau suara cempreng barusan adalah suaranya Ola.
Dan benar saja. Ola berdiri tidak jauh dari kursi mereka—ditemani dua orang perempuan. Salah satu perempuan itu adalah objek yang mereka bicarakan sejak tadi.
Natan menyenggol lengan Alvo seakan memberitahu jika di depan mereka ada Kerin—juga Langen. Perempuan itu menatap Lando dingin.
Alvo memberitahu Lando yang tadinya sedang menunduk. Lando mengangkat sedikit wajahnya. Begitu Alvo menggerakkan dagunya menunjuk ke sebuah arah, Lando baru menyadari keberadaan Langen di sana.