Bohong

1231 Kata
"Ke." "Apa?" "Nggak usah." Alvo menggeleng sebagai isyarat. Tangan Alvo tanpa sadar menahan lengan Kerin. Perempuan itu hendak menyusul Langen dan Lando yang saling berlarian. Kerin memandangi kepergiaan temannya dengan tatapan khawatir. Alvo juga menyadari kondisi Langen yang tidak biasa. Langen biasanya selalu terlihat segar. Tapi barusan, Langen kelihatan pucat dan tidak bersemangat. "Gue mau susul mereka," ujar Kerin. Ia membiarkan lengannya dipegangi Alvo. "Biarin aja, Ke." Natan tahu-tahu muncul di belakang bersama Ola yang sibuk menyedot minumannya. Ola sama sekali tidak memahami situasi di sekitar. Bisa-bisanya perempuan itu merengek untuk dibelikan minuman. Mana tempatnya antre. Natan harus berdiri dan mengantre hampir tiga puluh menit! "Lo tahu hubungan Langen sama Lando lagi nggak baik, Tan," kata Kerin cemas. Natan menjejalkan sebelah tangannya ke saku celana. Kedua matanya terarah ke pintu utama. "Justru karena hubungan mereka lagi nggak baik, biarin mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." "Tahu, tuh!" seru Ola sambil menggigit ujung sedotannya. "Kak Langen sama Bang Lando, kan, udah gede. Lo nggak usah khawatir, Kak!" Ola menepuk lengan Kerin lalu menaik turunkan alisnya. "Yuk, Ke." Alvo menarik tangannya dari lengan Kerin. Mungkin saja Kerin memang tidak menyadari bahwa lengannya sejak tadi digandeng Alvo. Sampai Alvo melepasnya, Kerin belum juga sadar. Atau bisa jadi karena terlalu khawatir pada Langen sehingga tidak menyadari. "Ke mana?" tanya Kerin celingukkan saat kedua kakinya melangkah menuju ke pintu keluar restoran. Natan dan Ola berjalan lebih dulu sembari berdebat. Entah apa yang sedang diperdebatkan oleh kedua orang itu. Kerin dan Alvo hanya bisa mendengar suara Ola yang memang kencang dan bisa didengar siapa saja. Secara refleks Alvo menggandeng tangan Kerin, kemudian membawanya ke pinggir. Perempuan itu berjalan di antara banyak pengunjung mal yang wara-wiri. Tertabrak ke sana kemari karena Kerin tidaj fokus. Pandangan matanya berpindah-pindah. Mungkin saja masih mencari keberadaan Langen dan Lando. "Kita mencar aja gimana?" Natan memutar badannya dan menatap Alvo. "Lo mau bantu cari Langen sama Lando?" serobot Kerin sebelum Alvo lebih dulu membuka mulutnya. Kepala Natan bergerak ke kanan ke kiri. Satu jarinya menunjuk ke arah Ola. "Gue mau nganter Ola beli sesuatu. Lo mau cari Langen sama Lando, Ke? Nggak usah. Biarin mereka berdua aja. Gue yakin ada banyak hal yang pengin dibicarain." Kerin merasa tidak yakin. Ia ragu. Daripada bicara dari hati ke hati, Kerin pikir Langen dan Lando justru sedang berdebat. Langen yang tidak mau mengakui perasaannya tetapi tidak terima dilepaskan, dan Lando membuat keputusan secara sepihak. "Lo pergi aja sama Ola nggak apa-apa, Nat." Alvo melirik Natan kemudian pada Ola. "Kerin kayaknya khawatir banget sama Langen. Gue pergi sama Kerin cari Langen aja kalau gitu." Alvo menatap tepat ke kepala Kerin—yang memang ukuran tinggi mereka sangat kontras. Pandangan Alvo agak turun, memandangi wajah Kerin dari samping. Perempuan itu sungguhan cemas kepada temannya. Alvo tahu keduanya sangat dekat, bahkan terlihat seperti saudara. Tidak aneh jika Kerin terlalu khawatir. "Gue pergi sama Ola, ya," ujar Natan menujuk ke arah sebrang. Natan menarik tangan Ola terlalu cepat sehingga perempuan itu terkejut dan hampir melempar minumannya. Ola mendelik. Menggenggam erat cup minumnya. Sementara Natan tidak peduli seberapa kesalnya Ola sekarang. "Coba lo telepon Langen sekarang." Alvo menunjuk ponsel di tangan Kerin menggunakan tangan kirinya. Tangan kanan Alvo digunankan untuk menggandeng perempuan itu. "Eh, iya." Kerin tersadar. Bukan cuma menyadari tentang ponselnya. Tetapi juga tangannya yang digenggam Alvo. "Vo... tangan gue," gumam Kerin menggerakkan tangannya digandeng lelaki itu. Alvo segera menyadari. Ia terlalu lama memegangi tangan Kerin. Alvo buru-buru melepasnya sebelum Kerin menegur dirinya lagi. Bagaimana jika Kerin mengira Alvo berubah kurang ajar? "Bentar. Gue coba telepon Langen, ya." Kepala Alvo terangguk singkat. Ia memiringkan badannya lalu membuang pandangannya ke arah lain. Alvo mengusap wajahnya, kasar, malu dengan tindakkannya yang lancang menggandeng Kerin tanpa izin lebih dulu. Diam-diam Kerin menenangkan degub jantungnya. Ia bahkan tidak fokus dengan suara di seberang. Nomor Langen bisa dihubungi, tetapi tidak diangkat oleh si pemilik. Kerin agak menunduk, memandangi tangannya yang digandeng Alvo tadi. "Gimana, Ke? Diangkat?" tanya Alvo. Kerin menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia buru-buru menyembunyikan pipinya yang hangat. Mungkin saja sudah berubah merah seperti warna kepiting yang baru dimasak. "Kita berpencar aja kali, ya?" gumam Kerin memberi ide. "Jangan," sahut Alvo sangat semangat. Sebelah tangan Alvo bergerak ke atas kemudian mengusap belakang kepalanya. Ia menutupi kegugupannya sendiri. Apa barusan ia berlebihan? "Maksud gue...," gumam Alvo panjang dikarenakan sibuk mencari alasan. "Lo kenapa?" tanya Kerin. "Kita bisa cari sama-sama sambil telepon Langen atau Lando." Alvo dalam hati mengutuk dirinya sendiri. "Gue takut lo cari Langen nggak fokus. Ditabrak sana-sini kayak tadi. Apa lagi badan lo kan kecil." "Maksud lo, Vo?" Kerin menunjukkan bahwa dirinya tersinggung karena dikatai berbadan kecil. Karena sesungguhnya memang ya. Jika dibandingkan dengan ukuran tinggi Langen, apalagi Ola yang belum genap dua puluh tahun, Kerin terlihat seperti kutcaci. "Oke. Kita cari sekarang." Demi menghindari amukan Kerin, Alvo lebih dulu melangkah. Berpura-pura tidak terjadi apa pun padahal Kerin kelihatan sebal setelah dikatai badannya kecil. "Vo! Tunggu!" seru Kerin setengah berlarian mengejar lelaki itu. *** Dua orang di dalam mobil hanya saling diam sejak tadi. Apalagi si perempuan. Kepalanya ia tundukkan, menatap jari-jarinya yang saling bertaut, menutupi kegelisahannya di depan mantan tunangannya. Langen merasakan sesak di dadaanya. Kata, 'mantan tunangan', terasa begitu menyiksa dirinya. Bukan cuma sakit. Tapi sungguhan sakit. Entah sejak kapan lelaki itu masuk ke dalam hatinya sehingga dengan mudah memporak-porandakan perasaannya hanya karena kata perpisahan. Bukannya ia selalu berdoa agar suatu hari lelaki itu melepasnya? Namun, begitu perpisahan sungguh terjadi, kenapa ia malah menangisi lelaki itu setiap malam? Hari ini tepat di jam makan siang, Kerin dan Ola menariknya pergi untuk jalan-jalan ke sebuah mal. Langen setuju pada akhirnya. Ia pikir ia butuh hiburan setelah berhari-hari mengurung diri di kamar. Mungkin dengan berjalan-jalan, Langen sedikit lebih rileks. Ia akan melupakan permasalahannya dengan Lando. Ya. Tadinya Langen berpikir begitu. Namun, siapa sangka kalau ia justru bertemu dengan Lando saat mengunjungi salah satu restoran yang ada di mal itu. Mereka saling berpandangan. Langen yang berubah kaku seperti patung hanya bisa menatap Lando dengan kedua mata merah dan nyaris basah. Sesungguhnya Langen merindukan lelaki itu. Melihat wajah lelah Lando yang baru pulang kantor lalu mengunjunginya ke rumah, tapi masih bisa tersenyum padahal sikap Langen sama menyebalkan. Langen merindukan suara lembut Lando. Ia merindukan kesabaran Lando yang tiada habisnya. Ah, tidak. Kesabaran Lando telah habis. Terbukti lelaki itu melepaskannya sekarang. "Kamu apa kabar?" tanya Lando di tengah keheningan. Langen hampir saja tidak bisa menjawab. Ia menggerakkan kepalanya, mengangkat dagu sedikit demi sedikit dan menatap Lando tegar. "Sangat baik." Bohong! Langen seperti meneriaki dirinya sendiri. Baik dari mana? Justru Langen sangat kacau beberapa hari ini. Apa Lando tidak bisa melihat wajah Langen yang pucat dan di bawah matanya yang menghitam? Karena siapa? Semua karena Lando! "Tante Sandra udah bilang ke kamu, kan?" "Udah." Langen meneguk ludah susah payah. Ia takut air mata yang sejak tadi ditahannya malah mengkhianatinya. Meluncur tanpa meminta izin lebih dulu. Lando mengangguk kecil. "Keputusan yang aku ambil nggak salah kan, La?" tanyanya. "Aku sayang sama kamu. Tapi kalau rasa sayang kamu justru membuat kamu merasa terbebani dan sedih, aku nggak bisa terusin, La. Aku penginnya kamu bahagia." Demi Tuhan. Langen ingin sekali memeluk Lando dan meminta maaf. Tapi sayang, Langen masih memikirkan gengsinya yang tinggi. Sudah jelas Lando lelaki yang baik, Langen malah lebih mementingkan gensinya. Langen menarik napas dan mengulas senyum canggung. "Hm, makasih," gumamnya setengah hati. "Lo udah ngelepas gue." Bukan. Bukan itu yang ingin Langen sampaikan yang sebenarnya pada Lando!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN