"Sori, gue balik duluan tadi dianter sama Lando."
Kerin menarik napas lega. Kepalanya ia dongakkan ke atas sehingga kedua matanya bisa menatap langit-langit mobil Alvo. Dengan cepat Kerin membalas pedang dari Langen sesekali menatap ke luar pintu mobil yang kacanya agak diturunkan.
"Lo baik-baik aja kan, La? Lo di mana? Di rumah?"
Send.
Alvo menaikkan kaca mobil sampai tertutup rapat. Jalanan macet total, ditambah hujan yang turun tambah deras. Alvo memerhatikan sekitarnya. Suara klakson di kanan dan kiri sampai dari kendaraan dari belakang tidak berhenti berbunyi. Alvo sempat mengintip dari kaca mobilnya tadi, dan pemandangan yang ia lihat hanyalah jajaran mobil dan motor yang tidak bisa bergerak ke mana-mana.
"Ada apa sih emang?" tanya Kerin menyadari mobil Alvo dan di sekitar tidak bisa bergerak selain diam di tempat.
"Nggak tahu, Ke." Alvo menggeleng lesu.
Kerin memandangi layar ponsel. Menunggu balasan pesan dari Langen. Setelah dicarinya dengan mengelilingi ke seluruh isi mal, ternyata Langen telah pulang duluan diantar oleh Lando. Sesaat, Kerin terdiam sambil terus berpikir. Lando mengantar Langen pulang? Berarti hubungan mereka baik-baik saja dong? Atau ada kemungkinan mereka berdua balikan?
"Mikirin apa, Ke?"
Suara Alvo membuyarkan lamunan Kerin. Lebih dari sepuluh menit Langen tidak kunjung membalas pesannya. Padahal pesannya menunjukkan telah dibaca perempuan itu. Kerin mengubah posisi duduknya agak miring kemudian berubah lagi menjadi lebih tegak.
"Ke?" tegur Alvo.
"Eh! Iya, Vo," sahut Kerin akhirnya. "Langen udah dianter Lando pulang ke rumah ternyata."
"Ya bagus kalau gitu. Terus kenapa lo kelihatan gelisah?"
Kerin melirik ponselnya sekilas sebelum beralih ke Alvo dan menjawab, "Tapi... lo merasa aneh nggak, sih, Vo?"
"Aneh gimana?" Alvo sepenuhnya menatap Kerin.
"Langen sama Lando kelihatan lagi nggak baik-baik aja. Chat gue cuma dibaca doang sekarang. Kenapa ya, Vo? Apa mereka belum baikan?"
Alvo menghela napas kemudian mengembuskannya. Kisah cinta Lando tidak jauh kalah rumit dari yang dialami Alvo. Sebagai teman yang mengenal Lando sejak masa kuliah. Alvo mengenal Lando sebagai lelaki baik dan tidak banyak bicara. Lando juga termasuk lelaki yang tidak mudah jatuh cinta. Banyak yang mendekati Lando sejak dulu. Tapi baru Langen yang menarik perhatian lelaki itu.
Padahal Langen tidak pernah memperlakukan Lando dengan baik.
"Tadinya gue nggak percaya Lando mutusin Langen." Kerin bergumam pelan. Kedua matanya mengerjap, mengingat saat Langen menelponnya sembari menangis. Langen mengatakan bahwa Lando telah memutuskannya secara sepihak padahal mereka telah bertunangan lebih dari satu tahun.
"Gue bahkan baru tahu tadi, Ke." Alvo menggeleng. Ia tidak berhenti terheran. Kalau saja Natan tidak memberitahunya, Alvo tidak akan tahu jika Lando memutuskan Langen.
Mereka semua tahu seberapa sayang Lando ke Langen. Apa saja yang Langen lakukan kepadanya, Lando akan tetap sabar menghadapi sikap Langen yang ketus dan terkadang kekanakkkan. Kerin sudah seringkali memberitahu Langen agar bersikap lebih baik kepada Lando. Kerin sendiri heran apa kurangnya Lando di mata Langen. Jika itu Kerin, mungkin Kerin akan belajar membuka hati untuk lelaki itu.
"Kenapa akhirnya Lando nyerah ya?" tanya Kerin tiba-tiba.
Alvo menggerakkan kepalanya dan menatap Kerin. "Gue nggak tahu. Lando nggak ngasih tahu alasannya apa."
"Lo tahu, Langen sampai nangis-nangis ke gue sama Ola." Kerin tanpa sadar memberitahu Alvo. "Gue heran aja... Langen bilang dia nggak suka Lando dan selalu minta perjodohan mereka dibatalin. Tapi sekarang..., tiba-tiba Lando minta putus. Itu pun nggak ngomong ke Langen dulu."
"Ah, masa?" Alvo menunjukkan ekspresi terkejut.
Kerin mengangguk kecil. "Iya, Vo. Makanya Langen kecewa banget."
Tidak mungkin Lando tidak memiliki alasan kenapa melakukannya. Pasti ada alasan di balik itu. Untuk melepas orang yang sangat disayangi, pasti Lando memikirkannya matang-matang. Tidak mungkin mengambil keputusan secara tiba-tiba.
"Tadinya gue ngajak Langen pergi ke mal buat jalan-jalan terus makan sebelum pulang. Nggak tahunya kita ketemu kalian." Kerin mengembuskan napas lantas menaikkan kedua bahunya. "Gue kira Langen bakal marah-marah begitu ketemu Lando. Nggak tahunya malah lari. Sinetron banget si Langen."
Di akhir kalimat yang Kerin ucapkan malah memancing Alvo untuk tertawa. Perempuan itu lantas menoleh bersiap untuk protes. Bagian mana yang lucu sampai membuat Alvo tertawa? Lagi pula tumben sekali Alvo mau berbaik hati membagikan suara tawanya.
"Nggak ada kata-kata gue yang lucu, Vo."
"Ya emang," sahut Alvo masih tertawa.
"Terus kenapa lo ketawa?" tanya Kerin bingung.
"Karena yang lucu tuh lo, Ke."
"Ha?" Kerin membeo. Kedua matanya mengerjap. "Gimana, Vo? Bisa lo ulangin kata-kata lo barusan, nggak?"
***
"La? Buka pintunya!" seru Sandra mengetuk pintu kamar Langen hingga beberapa kali. Namun tidak sekali pun anak perempuannya membukanya.
Sandra dibuat heran ketika Langen pulang sambil menangis. Seingatnya, Sandra belum terlalu pikun. Daya ingatnya masih bagus kok. Bukannya tadi Langen pergi bersama Kerin dan Ola ya? Kok, jadi sendirian? Sandra mendengar suara mobil dari luar rumah kemudian mengintip. Sandra mengenali mobil di depan sebagai mobil Lando. Apa? Kemungkinan Langen pulang diantar Lando. Kok, bisa?
Hari sudah sangat larut. Hujan tidak kunjung reda sejak sore tadi. Barusan Ola menelpon dan memberi kabar akan pulang telat. Sandra menceritakan soal Langen ke Ola karena penasaran. Ola sempat diam, lantas menjawab dengan santai. "Mungkin Kak Langen sama Bang Lando berantem tadi. Makanya pulang-pulang nangis." Begitu penjelasan yang Sandra terima dari Ola.
Sandra sendiri heran kepada anaknya. Dulu Langen ngotot ingin membatalkan perjodohannya dengan Lando. Sampai mohon-mohon segala. Pernah mengancam mogok makan dan ketahuan menyelundupkan banyak makanan di kamarnya. Giliran perjodohannya batal sungguhan, Langen menangis berhari-hari. Tidak mau makan, tidak keluar kamar juga. Jadi, maunya Langen itu apa?
Lando sudah sangat sabar menghadapi sikap Langen selama ini. Bukan cuma satu atau dua kali Lando dikerjai setiap datang kemari. Tapi marah pun tidak pernah. Lando iya-iya saja padahal sikap Langen ke Lando sudah nyerempet ke arah kurang ajar!
Sandra ikut pusing. Sewaktu masih jadi tunangan, ia pusing. Setelah Langen dan Lando putus, Sandra tambah pusing!
"Buka pintunya, La. Kamu kenapa? Sini cerita sama Mama," bujuk Sandra. "Jangan suka pendam masalah sendirian. Nanti kamu bisa stress."
Sandra mengetuk sekali lagi. Ia tidak akan berhenti sampai Langen membuka pintu kamarnya.
Atau..., Sandra dobrak saja ya? Zaman Sandra masih muda dulu, Sandra termasuk remaja yang kuat dan memiliki keahlian bela diri. Ya..., sebelas duabelas seperti Ola-lah. Hanya saja sekarang Sandra sudah semakin tua. Ia gerak lincah sedikit saja, ia bisa mendengar suara tulangnya sendiri.
Tapi, kalau Sandra mendobrak pintunya, bakal rusak, dong?
Sandra menggelengkan kepalanya. Daripada ia buang-buang waktu memikirkan akan mendobrak pintunya atau tidak, Sandra memilih untuk menghubungi seseorang. Yang mungkin saja bisa membujuk Langen untuk keluar kamar.
Ia merogoh saku baju lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Sandra akan menelpon Lando dan meminta bantuan lelaki itu. Alasan Langen pulang-pulang menangis pasti ada hubungannya dengan Lando. Entah apa penyebabnya. Sandra cuma menebak saja.
"Halo, Ndo, Tante bisa minta tolong kamu—"
"Maaf, pemilik HP ini barusan mengalami kecelakaan. Sekarang sedang ditangani dokter dan suster...."
Kedua mata Sandra mengerjap. Antara bingung sekaligus tidak yakin. Sebentar. Mungkin saja telinga Sandra agak bermasalah karena faktor usia.
"Gimana-gimana?" tanya Sandra sekali lagi.
Si penerima telepon menjelaskan detil-nya kepada Sandra. Mengatakan bahwa Lando mengalami kecelakaan mobil dan sekarang sedang ditangani dokter serta suster.