"Hai, Vo!"
Alvo hampir saja terkena serangan jantung dikarenakan Alfa tahu-tahu membuka pintu mobilnya kemudian duduk di samping kursi kemudi.
"Lo kaget ya, Vo," ujar Alfa cengengesan.
"Udah tahu jawabannya. Kenapa masih nanya?" sungut Alvo.
"Oh, masih judes ternyata." Alfa bergumam sesekali mengangguk-angguk.
Ada gerangan apa Alfa tiba-tiba masuk ke mobilnya. Gaya selengekan lelaki itu sungguh mengganggu pemandangan mata Alvo. Bisa tidak, Alfa berbicara biasa saja tanpa harus cengengesan seperti sekarang? Alvo risi melihatnya. Bagaimana bisa Alvo yakin kalau Alfa lelaki baik bagi Kerin, kalau modelannya saja kelihatan tidak serius sama sekali.
"Kok, lo lihatin gue gitu banget, Vo?" tegur Alfa santai. Sama sekali tidak tersinggung dengan tatapan Alvo yang sesungguhnya agak merendahkannya.
Alfa menganggap Alvo sedang cemburu kepadanya. Dari hati terdalam Alfa, ia sedang menertawakan lelaki itu sekarang. Sudah jelas Alvo tidak menyukainya karena Alvo menyukai Kerin. Alvo itu sedang cemburu dari awal kemunculan Alfa di restoran saat keduanya saling bicara. Melihat gerak-gerik Alvo, dari mulai menatap dan bicara kepadanya, Alvo jelas menunjukkan gestur cemburu. Hanya saja gengsinya terlalu dominan sehingga tidak menyadarinya.
"Gue rasa kita nggak ada kepentingan satu sama lain. Cepat lo keluar dari mobil gue." Alvo tidak lagi menatap Alfa remeh.
Alfa masih saja cengengesan padahal lawan bicaranya sudah muak setengah mati. Alfa tetap santai, sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan atau kata-kata Alvo yang dikenal nyekelit.
"Ada, Vo, ada..." Alfa mengangguk sekali.
Alvo mendengkus. "Apa? Cepat lo bilang mau lo apa. Setelah itu keluar dari mobil gue sekarang juga!"
Apa Alvo masih berani membentaknya kalau tahu Alfa siapa, ha? Alfa yakin, Alvo akan menyesalinya jika tahu siapa dirinya selama ini. Kalau bukan untuk Kerin, Alfa ogah mendekati Alvo.
Mata Alfa menelisik. Memandangi Alvo dari jarak sangat dekat. Tampangnya bolehlah. Tampan juga ternyata. Tidak salah jika Kerin sangat menyukai lelaki ini. Dari segi ketampanan, Alvo sudah lulus. Tapi untuk kepribadian, Alvo harus belajar lebih banyak lagi agar bisa menghargai orang di sekitarnya. Kalau sudah kehilangan seperti Alvo kehilangan Kerin, Alvo bisa apa selain meminta maaf? Sedangkan Kerin saja rasanya enggan berada di samping lelaki itu terlalu lama. Kerin trauma akan disakiti lagi.
"Gue nggak mau basa-basi."
"Yang lo bilang barusan termasuk basa-basi," sahut Alvo ketus.
Alfa memiringkan badan kemudian mengangguk setuju. "Oh ya. Bener juga kata lo."
Mobil Alvo masih berada di sekitar tempat tinggal Kerin berada. Setelah terjebak macet sangat lama, Alvo bergegas mengantar Kerin ke tempat kosannya. Kerin segera turun dan berpamitan kepada Alvo akan masuk ke dalam saat mobil Alvo memasuki gang lebar tempat kosan Kerin berada. Tidak lupa perempuan itu mengucapkan terima kasih.
Alvo diam-diam memerhatikan langkah Kerin dari dalam mobilnya. Hingga sosok jangkung menyambut Kerin di teras. Dan itu Alfa.
"Gue bukan pacarnya Kerin, btw," gumam Alfa. Suaranya yang sengaja dipelankan berhasil menarik perhatian Alvo. Seketika lelaki itu membuyarkan lamunannya dan menatap Alfa beberapa detik.
Rupanya Alvo salah menangkap maksud Alfa. Sontak, Alvo merubah posisi duduknya kemudian menarik kerah baju Alfa. "Maksud lo apa? Jangan bilang lo mau main-main sama Kerin, Fa! Kalau sampai lo nyakitin Kerin, gue nggak bakal segan-segan buat—"
"Woi, tenang! Santai dulu, Bro!" potong Alfa, mendorong tangan Alvo. "Justru gue mau bantu lo, bodoh! Jangan samain gue sama lo yang bisanya cuma nyakitin Kerin doang!"
Cengkraman tangan Alvo pada kerah bahu Alfa jadi mengendur. Kata-kata Alfa barusan sangat menohok. Mengingatkannya pada perilakunya selama ini. Khususnya ke Kerin.
Bukan cuma Alfa yang mengingatkannya. Tetapi juga teman-teman Alvo. Khususnya Lando dan Natan.
Rahasia perihal hubungan pura-pura Alvo dan Kerin hanya diketahui tiga orang saja. Langen, Lando serta Natan. Sementara Ola, tunangan Natan, tidak tahu menahu soal itu. Karena kalau sampai perempuan itu tahu, rencana Alvo bisa berantakan. Tahu sendiri bagaimana watak Ola, kan. Jadi, Alvo dan lainnya memutuskan tidak akan memberitahu Ola karena bisa membahayakan rencana Alvo nantinya.
Bukan hanya satu atau dua kali kedua temannya mengingatkan Alvo. Kata Natan, Alvo harus sedikit lebih lembut kepada Kerin. Walau hubungannya dan Kerin sebatas pura-pura, tetap saja harus memperlakukan Kerin dengan baik. Bagaimanapun Kerin telah membantu Alvo. Bukan cuma mengorbankan waktu dan tenaga Kerin yang harus bersedia dibawa ke sana kemari. Dikenalkan pada keluarga Alvo yang ini itu. Bahkan Kerin tidak dibayar sepeser pun.
Kerin yang menolaknya. Kalau soal materi, biar Kerin tidak sekaya Alvo, Kerin masih bisa membiayai hidupnya sendiri tanpa minta-minta orang lain. Dan apa balasan Alvo? Menyia-nyiakan Kerin. Memperlakukan Kerin tidak begitu baik.
"Sebenarnya lo siapa?" tanya Alvo. Sudah sangat lama Alvo menyimpan pertanyaan ini untuk ia sampaikan pada Alfa.
"Kalau gue bilang masa depannya Kerin. Reaksi lo bakal kayak gimana?" balas Alfa ambigu.
Alvo menyeringai. Ia merasa dipermainkan oleh Alfa sekarang. Apa susahnya memberitahu siapa Alfa sebenarnya? Memangnya Alfa siapa? Orang penting? Selebriti saja bukan, kok!
"Lo nggak perlu tahu gue siapa. Pertanyaan gue cuma satu, lo mau gue bantu deketin Kerin atau nggak?" tanya Alfa tanpa basa-basi lagi.
Alvo melempar tatapannya ke arah lain. Menurunkan kaca mobilnya hingga setengah agar bisa menghirup udara lebih leluasa. "Jangan sok tahu. Gue nggak suka sama Kerin. Gue cuma...,"
"Merasa bersalah? Udah minta maaf belum lo sama dia?" potong Alfa.
"Udah." Alvo menatap Alfa kembali.
"Jadi lo nolak tawaran gue?"
Entah ini hanya perasaan Alvo saja atau bagaimana. Hanya dalam hitungan detik saja, ekspresi Alfa berubah menjadi dingin. Tatapannya datar namun menusuk. Alvo menelisik lagi, menebak-nebak tentang Alfa. Siapa Alfa, apa hubungannya dengan Kerin yang sesungguhnya.
"Lo udah terlalu lama di mobil gue. Silakan keluar," usir Alvo menunjuk pintu mobil. "Gue nggak ada waktu meladeni orang kayak lo. Lo tahu, lo tuh sok tahu. Jangan segampang itu berasumsi soal perasaan orang lain kalau lo nggak tahu yang sebenarnya. Gue berusaha baik sama Kerin karena emang gue salah kemarin. Tapi bukan berarti gue menaruh perasaan ke dia. Lagian lo siapa sih? Atau jangan-jangan Kerin yang nyuruh lo?"
Seperdetik, Alfa mengulas senyum. Sungguh membingungkan Alvo.
"b*****t," maki Alfa, tetapi nadanya terdengar santai, seperti tidak memiliki emosi.
Alfa mendorong pintu mobil Alvo hendak keluar. Berbicara dengan lelaki arogan seperti Alvo sangat memancing emosi Alfa saja. Kalau ia terlalu lama di sana, ia khawatir akan membuat wajah tampan Alvo berubah biru-biru.
Ternyata perkiraan Alfa salah. Penilaiannya tentang lelaki itu keliru. Tidak seharusnya Kerin berada di samping Alvo, bahkan sejak dua tahun lalu. Alfa marah dan kesal. Tetapi bukan karena Alvo mengelak perihal perasaannya. Akan tetapi, Alvo malah menuduh Kerin yang menyuruhnya mengatakan hal ini.
Baiklah. Karena Alvo mengatakan tidak pernah menyukai Kerin, Alfa tidak akan memaksa. Alfa bersumpah akan membuat lelaki menyesali kata-katanya.
***
Bersama Sandra, Langen pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lando. Entah bagaimana keadaan lelaki itu sekarang. Langen hanya diberitahu Sandra bahwa Lando sedang dibawa ke rumah sakit dan ditangani oleh dokter.
Semula Langen mengira mamanya berbohong. Mamanya pasti sengaja melakukannya agar ia keluar kamar dan mau bicara kenapa menangis saat pulang tadi. Langen sungguhan ingin sendiri. Ia tidak berniat berbicara apalagi menjawab pertanyaan mamanya tentang Lando. Langen cuma ingin menenangkan diri. Itu saja.
Sandra berteriak dari luar kamar Langen. Mamanya mengatakan kalau Langen tidak percaya Lando mengalami kecelakaan, Langen bisa menelpon ke nomor Lando. Pasti bukan Lando yang akan mengangkat teleponnya. Atau sekarang tidak akan diangkat.
Dan benar saja, panggilan dari Langen tidak diangkat. Kemudian, sebuah pesan masuk ke nomornya dan memberitahu kalau si pemilik ponsel mengalami kecelakaan dan sedang ditangani dokter.
Seketika tubuh Langen lemas. Tangisnya yang belum mau berhenti sejak pulang tadi semakin deras. Bahkan ia harus berpegangan pintu kamar ketika membukanya. Sandra menunjukkan kekhawatirannya. Selain karena Lando mengalami kecelakaan, Langen juga sama mengkhawatirkannya. Langen muncul dengan wajah bengkak, matanya sembab, rambut cokelat tua putrinya diikat asal-asalan.
Sandra memeluk Langen secepat mungkin untuk menenangkan. Walau Sandra belum tahu pasti keadaan Lando, Sandra berusaha menghibur Langen dengan mengatakan kalau Lando akan baik-baik saja.
Reaksi yang ditunjukkan Langen sama sekali tidak Sandra kira. Anak perempuan satu-satunya itu mengurai pelukannya, mengentakkan kedua kaki sambil menangis sesenggukkan mirip anak kecil. Sandra tertegun untuk beberapa saat. Langen bertindak seolah sangat mencintai Lando. Seperti seseorang yang takut kehilangan orang yang sangat dicintai.
Andai saja keadaannya tidak genting, Sandra akan menggoda Langen habis-habisan. Barusan yang ditangisi Langen adalah orang yang sangat dibenci putrinya. Tapi Langen justru menangisinya saat Lando mengalami kecelakaan.
Bukan saatnya Sandra menggoda Langen. Ia akan menunda. Mengantar Langen lebih dulu ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Lando.
"Apa? Udah pulang?" tanya Langen kepada suster.
Air mata yang tadinya tidak berhenti berjatuhan tahu-tahu berhenti. Langen mengusap wajahnya yang pucat sekaligus merah karena tidak berhenti menangis sejak tadi. Menatap si suster tidak percaya.
"Iya, Bu." Suster mengangguk kecil. "Karena kondisi pasien juga nggak parah. Dokter memperbolehkan pasien saat minta pulang."
"Pasien sendiri yang minta pulang, sus?" tanya Sandra.
Suster mengangguk sekali lagi.
Langen merasa kedua kakinya lemas. Ia merasakan perasaannya lebih lega sekaligus kecewa. Langen lega karena kondisi Lando tidak parah, sementara itu, Langen juga kecewa karena tidak bisa melihat Lando secara langsung.
"La, pulang aja, yuk?" Sandra agak menunduk, menyentuh sebelah bahu Langen.
Langen memejamkan kedua matanya sejenak. Menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. "Ya, Ma."
Sandra mengusap puncak kepala Langen. Ia menggandeng tangan Langen, menuntun putrinya menuju ke arah lift bersiap pulang.
Sandra memilih diam, sengaja tidak membahas Lando. Ia bisa melihat Langen kecewa karena tidak bisa menemui Lando di rumah sakit. Sandra merangkul bahu putrinya hingga masuk ke dalam sebuah lift bersama beberapa orang yang ikut menaiki lft.