Rahasia Alfa

1162 Kata
"Nih, obat sama air putihnya." Natan mengangsurkan segelas air dan obat pada Lando. Lando menerimanya. Ia duduk bersandar ke kepala ranjang. Menjejalkan obat pemberian Natan kemudian meneguk air dari gelas. Natan mendapat kabar kalau Lando baru saja mengalami kecelakaan. Itu pun dari Langen. Natan yang saat itu bersama Ola, tentu saja terkejut. Ia mau pun yang lain tidak mendapat kabar apa pun dari Lando. Kenapa Langen bisa tahu? "Jangan bilang ke Lando kalau gue yang ngasih tahu lo, ya, Tan," pinta Langen dengan suara serak. Suara Langen mirip seperti orang yang menangis. Selain serak juga lemas. Natan menjadi bingung sekaligus bertanya, yang barusan sungguhan Langen ya? Atau malah Tante Sandra sedang cosplay menjadi Langen karena kasihan sama Lando? Oalah, Ndo. Sebelum datang menjenguk Lando yang ada di rumah, Natan menelpon Deon, teman mereka yang baru pulang dari Amerika. Karena kejadian kemarin saat Lando bertemu Langen tidak sengaja di restoran, kemudian Lando mengalami kecelakaan, mereka jadi tidak sempat menjemput Deon. Termasuk Alvo. Entah ke mana si Tuan Kulkas itu pergi. Nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Beberapa kali Natan mencoba menelpon Alvo kemudian mengirim pesan, Alvo juga tidak kunjung membalas. "Sori ya, Yon. Gue nggak sempat jemput lo di bandara," ujar Lando lemas. Natan mengambil alih gelas bekas milik Lando lantas meletakkannya ke atas meja. "Lo kalau ada apa-apa harusnya kabarin kita, Ndo," ujar Natan. "Kalau aja Langen nggak ngasih tahu, gue nggak bakal denger kabar lo kecelakaan." Sesaat, Lando diam mematung. Baru saja Natan menyebut nama Langen. Benar, kan? Tolong koreksi Lando jika salah. Siapa tahu Lando sudah tidak waras karena berpisah dari perempuan itu. "Sebenernya lo sama Langen tuh kenapa sih, Ndo?" tanya Natan penasaran. "Langen siapa?" sahut Deon. Sejak tadi ia cuma memerhatikan kedua temannya. Natan sempat menyinggung nama seorang perempuan saat perjalanan kemari. Sekarang Natan membahas nama Langen lagi. "Tunangannya Lando," jawab Natan sambil menoleh ke Deon yang ada di belakangnya. "Mantan," koreksi Lando. Natan menaikkan sebelah alisnya. "Udah fix emang?" Lando diam dan tak menjawab. Sejujurnya Lando belum bisa melepaskan Langen sepenuhnya. Lebih dari setahun mereka bersama sebagai tunangan dan akan merencanakan sebuah pernikahan. Namun, Lando tidak bisa memaksa Langen untuk menerimnya. Kalau saja, Langen setengah hati melakukannya. Menikah dengan Langen memang salah satu keinginan terbesar Lando. Akan tetapi, membuat Langen terus kesal dan marah, atau justru menangis karena tidak ingin dijodohkan dengannya, membuat Lando mengambil keputusan untuk melepaskan Langen pada akhirnya. Lando ingin membahagiakan Langen. Tapi kalau Langen saja tidak bisa menerimanya, Lando bisa apa? Mungkin cara Lando membahagiakan perempuan itu dengan cara membatalkan perjodohan mereka. Atau bisa jadi, ia dan Langen tidak pernah berjodoh selama ini. "Jadi yang bener yang mana?" Deon maju beberapa langkah sampai berada tepat di samping tempat tidur Lando. "Tunangan atau mantan tunangan lo, Ndo?" Deon mengamati wajah lesu Lando. Ia baru saja kembali ke Indonesia. Tapi kepulangannya justru disambut dengan berita kecelakaan Lando, dan kerumitan hubungan temannya itu. "Kasihan Langen, Ndo," gumam Natan. "Ini antara lo percaya atau nggak, ya." Kepala Lando terangkat sedikit demi sedikit. Begitu pun dengan Deon yang diam-diam penasaran. Pasalnya ini tentang Lando. Perempuan beruntung mana yang bisa meluluhkan seorang Orlando? Selama Deon di Amerika, Deon tidak pernah mendengar kabar Lando dekat dengan perempuan ini dan itu. Tahu-tahu saja sudah tunangan dan sekarang malah sudah putus. "Justru gue kasihan sama Langen kalau terus dipaksa masih sama gue, Tan," gumam Lando sedih. "Lo tahu sendiri kalau Langen nggak pernah suka sama gue. Dia terpaksa terima perjodohan kita. Mungkin... ini cara gue membahagiakan dia." "Dengan perpisahan?" tebak Natan. "Apa lo udah diskusiin ini sama Langen, Ndo?" Tidak. Itu jawaban Lando. Bukan bermaksud memutuskan hubungan secara sepihak. Tetapi Lando sudah mendapatkan jawaban. Langen pasti akan menyetujuinya. Karena dari dulu, perempuan itu tidak pernah menerima Lando sepenuhnya. Seperti Lando menyukai Langen. Ah, tidak, Lando sudah terlalu tua jika hanya menyukai. Lebih jelasnya mencintai Langen. Bahkan sebelum mereka bertunangan. "Gue udah bilang sama Tante Sandra," gumam Lando kemudian menarik napas dan mengembuskannya. "Tinggal ngomong sama orang tua gue doang. Mereka lagi ada di luar kota." "Lo nggak mau pikirin lagi, Ndo?" Natan memperingatkan Lando. "Siapa tahu ada yang belum Langen sampaikan ke lo selama ini." Deon mengulurkan tangan dan meletakkannya ke sebelah bahu Natan. "Jangan dipaksa, Tan. Lando pasti udah mikirin ini sebelumnya." Lelaki itu meminta Natan mengakhiri pembahasan mereka tentang Langen. Walau Deon belum pernah bertemu dengan Langen dan menyapanya. Deon rasa keputusan Lando hanya perlu mereka hormati. Bagaimanapun yang menjalani itu Lando. Bukan mereka. Bukan Natan, apa lagi Deon. *** "Berengsek," umpat seorang perempuan membanting ponselnya ke meja bar dengan kesal. Umpatan perempuan di depannya menarik perhatian Alfa yang ada di balik meja bar. Ia mengenali perempuan itu sebagai salah satu pengunjung di kafe tempatnya bekerja. "Kenapa lagi? Cowok lo?" tebak Alfa menyembulkan kepalanya di balik meja bar. "Woah." Perempuan itu menguap lantas menyambar gelas minumannya. Alfa dengan sempurna berdiri di depan si perempuan yang hanya terhalang meja bar. Sambil mengelap peralatan makan, Alfa siap mendengar curhatan Gauri, lagi. Ya, lagi. Karena hampir setiap kemari pasti perempuan akan mengoceh. Menceritakan soal pacarnya yang ketahuan selingkuh untuk yang ketiga kalinya. "Bisa-bisanya dia masih ngelak," decak Gauri sambil menggelengkan kepala. "Udah jelas kena gep selingkuh sama gue, masih aja dia ngelak, kan, b*****t!" Alfa terkekeh geli. Itulah Gauri. Perempuan yang dikenalnya sebagai pengunjung kafe, tidak sungkan sama sekali menceritakan kisah asmaranya kepada Alfa. Tahu-tahu Gauri duduk, memesan minuman, lantas mengoceh panjang lebar di depannya. Semula Alfa agak ragu untuk menanggapi. Ia tidak mau dianggap lancang. Siapa tahu Gauri memang hobi berbicara sendiri. "Lo nggak capek sama cowok model begitu?" tanya Alfa tanpa sungkan lagi. Gauri melirik Alfa lalu tertawa. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri. Ia perempuan lemah yang digombal sedikit saja, lantas sudah luluh kemudian melupakan segala permasalahan yang dilakukan pacarnya. Selingkuh sampai tiga kali, lho. Mana sama perempuan yang beda-beda pula! "Gue udah terlanjur sayang sih, Fa," jawab Gauri sambil memutar gelas di depannya. "Sayang sih sayang," sahut Alfa. "Tapi kalau lo dikadalin mulu, siapa yang bakal bertahan? Gue yakin suatu saat lo bakal jenuh karena terus dibohongin. Bukan sekali dia selingkuhin lo. Tiga kali malah." Gauri berdecak sambil geleng-geleng. "Dasarnya gue yang lemah." "Bukan lemah," ujar Alfa santai. "Tapi lo nggak ada kemauan buat lepas. Lo belum usaha aja." "Apa bisa?" Gauri menegakkan badan. "Bisa. Asal lo ada kemauan dan usaha aja," jawab Alfa kemudian mengedipkan sebelah matanya. Gauri mendengkus. "Belum. Kayaknya gue belum mau putus sama dia," gumamnya. "Tunggu gue jenuh kayak kata lo tadi. Setelah itu gue bakal putusin dia!" Alfa cuma manggut-manggut. "Terserah lo. Hidup lo ini. Gue sekadar ngasih saran." "Oke. Thanks!" seru Gauri lalu tertawa renyah. "Eh, btw, gimana? Lo udah ketemu sama dia?" Alfa paham siapa yang dimaksud Gauri. "Udah." Gauri tampaknya begitu semangat mendengar cerita Alfa. "Terus? Terus? Dia tahu siapa lo? Nggak marah dong?" Alfa tersenyum masam. "Belum. Gue nggak punya keberanian buat bilang yang sebenernya." Karena jika orang itu tahu siapa Alfa dan alasan Alfa menemui, bisa saja Alfa akan dibenci. Ia cukup pengecut. Ia berani menunjukkan dirinya, tetapi membungkam mulutnya rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN