Alvo yang Berubah

2872 Kata
Langen meremas ujung bajunya. Tatapannya menengadah memandangi rumah berlantai dua dari tempatnya berdiri. Kerin menyadari jika temannya ragu walau sekadar melangkahkan kaki ke depan pagar rumah. Ia menolehkan kepalanya memandangi Langen beberapa saat kemudian ikut mendongak, menatap hunian Lando beserta kedua orang tuanya. "Yuk, La," ajak Kerin mengapit lengan temannya. Langen masih ragu. Antara maju atau mundur dan memutuskan pulang saja. Untuk apa ia kemari? Belum tentu Lando mau menemuinya. Toh, hubungan mereka sudah berakhir. Langen bukan lagi tunangan Lando. Dan Lando bukan lagi calon suaminya. Ini semua karena kesalahannya sendiri. Iya, seluruh kesalahannya ada pada Langen. Andai saja Langen tidak pernah merengek ingin perjodohannya batal, bertingkah ketus dan kekanakkan agar Lando ilfeel. Selamat, Langen sukses melakukannya. Lando sungguhan membatalkan perjodohan mereka. Sekarang.... tinggal rasa penyesalan yang tersisa. "Kita balik aja, Ke." Langen hendak memutar tubuhnya. Namun Kerin buru-buru menarik lengannya sehingga Langen kembali ke tempatnya seperti semula. "Lando pasti nggak mau ketemu sama gue pasti. Udahlah, mending kita pulang yuk? Gue juga capek pengin istirahat." Kerin menahan Langen, lantas menggelengkan kepalanya. "Kita udah sampai sini, Ke. Kalau lo pulang, jadi sia-sia dong?" Langen menggigit bibir bawahnya. Ia menatap hunian di depannya sekali lagi. Ia bertanya-tanya dalam hati. Masuk ke sana atau berbalik untuk pulang saja? Ia mendapatkan kabar terbaru tentang Lando dari Ola. Tentu saja Ola mendapatkan semua informasi mengenai lelaki itu dari Natan. Langen sampai memohon kepada Ola agar bisa memberitahunya bagaimana keadaan Lando pasca kecelakaan beberapa hari yang lalu. Ola awalnya enggan. Karena kalau ia ingin tahu soal kabar Lando, otomatis ia harus bertanya dan berurusan dengan si tengil Natan. Malas sekali harus mendengar suara Natan walau dari sambungan telepon sekali pun! "Demi lo nih, ya." Kala itu, Ola pada akhirnya mengalah saja. Ia kasihan melihat Langen mirip mayat hidup. Seperti orang yang tidak memiliki semangat padaha perjalanan masih panjang. Suruh siapa bersikap kurang baik kepada calon suaminya sendiri? Giliran diputusin, Langen menangis hampir setiap hari secara diam-diam. Ketika keluar kar untuk mengambil air minum, Ola dan Sandra akan disambut dengan mata sembab Langen. Sandra jadi prihatin. Tapi mau menyalahkan juga tidak bisa. Untuk saat ini Langen ingin sendiri dulu agar pikiran dan hati jauh lebih tenang. "Bang Lando lagi istirahat di rumah. Cuma ditemenin sama Bibi yang kerja di sana," kata Ola sehabis mendapatkan jawaban dari Natan. "Lo pasti tahu orang tua Bang Lando lagi nggak ada di Jakarta kan, Kak?" Langen mengangguk sebagai jawaban. "Kata Natan, lo kalau mau ke sana ya ke sana aja. Bang Lando nggak ada yang jaga, apa lagi yang rawat." Ola menerangkannya. Apa mau Lando melihat wajahnya? Dengan dibujuk Kerin di tempat kerja mereka, pada akhirnya Langen setuju untuk pergi menemui Lando di rumah orang tuanya. Langen meminta agar Kerin mau menemaninya pergi ke sana agar tidak canggung. Sebuah mobil berwarna hitam melintas di depan Langen dan Kerin. Kedua perempuan itu berjalan mundur. Kerin menelisik, ia mengenali mobil siapa itu. Pemiliknya adalah Alvo. Dan benar saja, lelaki itu keluar mobil lalu disusul oleh lelaki yang asing di mata Kerin. Sepertinya ini pertama kali Kerin dan Langen melihat lelaki itu. Kedua lelaki itu mengarahkan pandangannya kepada Kerin dan Langen. Tatapan Alvo seketika tertuju kepada Langen. Penampilan Langen bahkan lebih parah dari terakhir mereka bertemu di restoran beberapa hari yang lalu. Kerin akan membuka mulut hendak menyapa Alvo. Namun Alvo malah melengos, hanya fokus kepada Langen. Dalam hati Kerin bertanya, "Apa Alvo nggak lihat gue? Kok aneh banget?" "Vo," sapa Langen canggung. "Ngapain ke sini lo, La? Urusan lo sama Lando udah selesai, kan?" tanya Alvo ketus. Lelaki asing yang dimaksud Kerin adalah Deon. Sebelah alis lelaki itu terangkat tinggi, hanya beberapa detik, kemudian berada di posisi normal lagi. Alvo memamg begitu sejak dulu. Ketus. Tapi Deon kurang setuju kalau Alvo jadi ikut campur urusan temannya. Alvo memanggil perempuan di depannya dengan sebutan, 'La'. Apa artinya perempuan di depan mereka adalah Langen? Mantan tunangan Lando yang dibicarakan dengan Natan beberapa hari yang lalu? "Langen mau jenguk Lando, Vo." Kerin mewakili Langen. Alvo bersedekap. Tiba-tiba saja tatapannya berpindah ke Kerin sehingga membuat perempuan itu terkejut. Lebih kaget lagi karena kata-kata Alvo yang berbunyi, "Gue tanyanya sama Langen. Bukan sama lo, Ke." Kerin membungkam mulutnya rapat-rapat. Alvo kenapa lagi? Rasanya baru kemarin mereka berinteraksi dengan baik. Mereka pergi ke pantai dan ngobrol hingga sore hari. Kemarinya lagi terjebak macet, berada di mobil begitu lama sembari mengobrol banyak. Kenapa sekarang berubah lagi? "Keinginan lo udah dipenuhi sama Lando. Sekarang mau apa lagi?" Alvo memborbardir Langen dengan kata-katanya. Langen diam awalnya. Tapi ia rasa Alvo tidak memiliki hak untuk menghakimi Langen, sekali pun Alvo teman baik Lando. "Vo," ujar Deon menengahi perdebatan di antara keduanya. "Nggak ada salahnya dia jenguk Lando, Vo. Biarin Lando sendiri yang memutuskan buat ketemu atau nggak sama...," "Langen," sahut Kerin begitu sadar bahwa lelaki asing itu kebingungan menyebut Langen. "Iya. Langen," ujar Deon mengangguk. "Yon! Lo nggak tahu aja kalau Langen selama ini bersikap kurang baik ke temen lo. Masa lo mau biarin ada orang lain mau nyakitin temen lo terus?" protes Alvo. "Justru karena gue nggak tahu, Vo." Deon menimpali dengan sabar. "Semua keputusan ada sama Lando. Gue tahu maksud lo baik. Tapi ada baiknya lo biarin Lando sama Langen memutuskan sendiri tanpa kita ikut campur." "Halah! Terserah lo aja." Alvo menabrak bahu Deon, mengibaskan tangan ke udara. *** Jadi, bukan sekadar perasaan Kerin saja Alvo berubah hanya dalam beberapa hari. Woah. Perubahan suasana hati Alvo makin esktreem saja ya. Padahal baru kemarin Alvo meminta maaf atas segala sikapnya kepada Kerin selama ini. Walau setengah hati Kerin sudah tidak mengharapkan cintanya berbalas. Tetap saja Kerin dibuat kebingungan setengah mati. Setelah ia dan Langen diperbolehkan masuk—padahal Alvo bukan si pemilik rumah, cuma statusnya teman baik Lando saja. Langen diantar pergi ke kamar Lando oleh Bibi yang bekerja di rumah ini. Kerin diminta menunggu di ruang tamu, bersama Alvo dan Deon—teman ketiga lelaki itu yang baru dikenalnya. Kerin baru tahu Alvo, Natan dan Lando memiliki satu teman lagi yang tinggal luar negeri selain Yasmin. Selama ini Alvo dan lainnya tidak pernah menyinggung soal Deon atau menyebut nama lelaki itu saat mereka semua berkumpul. Tidak heran kalau Langen juga tidak mengenali Deon seperti dirinya. "Mending lo duduk aja, Vo." Deon menegur Alvo yang wara-wiri di depan mereka. "Gue lagi khawatirin temen kita, Yon," sembur Alvo. Deon menggelengkan kepalanya heran. "Yang lagi nemuin Lando itu Langen, Vo. Cewek pula. Apa yang bikin lo khawatir emang?" Alvo sengaja melirik Kerin. Tetapi tatapannya sinis. "Jangan salah, Yon. Cewek juga bisa berbahaya." Kerin mengerutkan dahinya. Entah Kerin sedang baper, atau Alvo memang sengaja menyindirnya. Tapi sepertinya memang iya. Kalau tidak, Alvo mana mungkin berbicara ketus sambil menatap ke arahnya. Kerin rasa, Alvo sudah agak tidak waras. Atau Alvo sedang mengalami masalah dengan mentalnya? Kerin sungguhan bingung, lho. Kalau memang Alvo ingin hubungannya seperti yang dulu, kenapa kemarin bersikap baik kepadanya? Kenapa tidak ditinggalnya Kerin sendiri di mal kemarin? Alvo bahkan memaksa mengantar pulang Kerin. Mana digandeng pula tangannya selama mengelilingi mal. Sekarang Kerin menyesal telah mengasihani Alvo yang ditolak Yasmin. Tahu begitu Kerin tinggal saja! Menyebalkan sekali! Seharusnya Kerin tidak usah heran sih. Kan, itu Alvo. Justru perubahan Alvo yang mendadak baik harus dipertanyakan. Siapa tahu saja Alvo sedang ketempelan hantu di jalan. "Lo bisa berhenti mondar-mandir nggak, sih?" tegur Kerin. Pada akhirnya ia jengah melihat tingkah Alvo. Jadi kesannya kayak riweuh sendiri. Memangnya yang punya teman hanya Alvo saja? Apa Alvo lupa, kalau Langen itu temannya? Sebahaya apa Langen sampai Alvo khawatir Langen akan menyakiti Lando? Ha! Deon menangkap sinyal tidak baik. Alvo juga bebal sekali diberitahu. Bukannya mendinginkan suasana, Alvo justru membuat suasana jadi tambah panas. "Gue tahu Langen itu salah. Tapi lo juga nggak berhak menghakimi. Apalagi Langen itu perempuan. Apa hak lo emang? Mulut lo nggak bisa diam aja ya?" maki Kerin panjang lebar. Alvo dibuat kaget. Ia seperti didorong dalam sekali kedip lewat kata-kata Kerin. Bukan cuma ketus. Tapi tanpa titik dan koma. Diam-diam Deon menertawakan Alvo. Ternyata bukan hanya ia yang merasa Alvo terlalu banyak bicara hari ini. Tumben sekali Alvo sekhawatir itu kepada temannya. Sampai mondar-mandir di depan kamar Lando hanya karena Langen ada di dalam sana juga. Deon mengenali ketiga teman lelakinya. Walau sempat berpisah beberapa tahun karena Deon harus pindah ke Amerika bersama Kakak dan neneknya. Tapi Deon masih ingat seperti apa watak mereka. Dan Alvo, adalah tipikal orang yang tidak suka banyak bicara. Mulutnya memang pedas. Cuma, baru sekarang Deon tahu Alvo juga berubah nyinyir. "Vo, duduk sini..." Deon memanggil Alvo, menunjuk tempat kosong di sofa menggunakan dagunya. Masih agak shock karena Kerin memakinya di depan Deon, Alvo memilih untuk duduk dan menunggu saja. Deon menarik salah satu cangkir di atas meja yang dihidangkan Bibi. "Jangan terlalu khawatir. Lo pikir Lando selemah apa?" Deon agak tertawa geli melihat ekspresi Alvo. "Mereka berdua udah sama-sama dewasa. Lo pikir aja, Vo... kalau mereka nggak lagi baik, ada suara berisik dari dalam, nggak?" "Mampus." Kerin memaki Alvo dengan suara paling pelan. "Lo tahu? Yang dari tadi lo lakuin kesannya malah berlebihan," tambah Deon sembari menggelengkan kepalanya. Sial. Alvo mengumpat dalam hatinya. Ia merasa kalah daripada Kerin. Alvo juga menyalahkan Deon karena terkesan membela orang lain ketimbang temannya sendiri. *** Sudah Ola bilang kan. Ia paling malas bertatap muka dengan si tengil Natan. Apaan, di depannya saja Natan sok dingin, tidak banyak bicara, padahal saat bersama teman-temannya, Natan mirip seperti ibu-ibu yang berkerumun mengelilingi gerobak sayur di pagi hari. Sudah begitu, mulutnya nyinyir pula. Ada saja yang tidak cocok apa yang digunakan atau dilakukan Ola di depan Natan. Di hari minggu pagi, Natan sudah menjemputnya ke rumah. Natan datang mengenakan pakaian santai. Bukan lagi setelan jas mahal seperti hari-hari biasanya. Ola yang memiliki kebiasaan bangun siang di hari minggu jelas merasa terganggu sekali. Ola tidak berhenti misuh-misuh sewaktu Langen mengetuk pintu dan memberitahu Natan ada di bawah. Ola sengaja tidak menyahut. Biarkan saja orang rumah mengira Ola masih tidur. Sukur-sukur Natan pulang tanpa diusir olehnya. Ia merebahkan kepalanya ke atas bantal. Merentangkan kedua tangan lalu menguap lebar. Lama-lama Ola semakin sebal saja kepada Natan. Bisa tidak, tidak usah mengganggunya saat-saat begini? Bukan cuma itu saja, Natan sering kali muncul di depan gerbang kampus seolah Ola sengaja meminta untuk dijemput! Halah! Kalau ia boleh memilih, Ola akan lebih memilih pulang menggunakan jasa ojek online ketimbang harus berlama-lama dengan lelaki bernama Fanatan Bramantyo tersebut. "Ola...." Suara Langen terdengar lagi dari luar pintu kamar. Ola memejamkan mata, sengaja menulikan kedua telinga. Anggap saja suara barusan adalah suara dari mahluk tak kasat mata. Ola menggerakkan badan dan berubah miring. Ia menarik selimutnya lebih tinggi. Ia akan mengutuk siapa pun yang berusaha mengganggu hari liburnya! Khsususnya pada Natan! Tidak terdengar suara Langen lagi. Kakak sepupunya itu pasti sudah turun ke lantai bawah sambil mengomel karena usahanya untuk membangunkan Ola tidak berhasil. Yang ada, Langen malah tambah kesal setengah mati. Ola tersenyum lebar walau kedua matanya memejam bersiap tidur lagi. Sebodo amat dengan Natan yang menunggunya di bawah. Tunggu saja sampai tahun depan sana. Karena Ola tidak akan menyia-nyiakan hari minggunya untuk banyak beristirahat daripada menemui Natan yang menyebalkan! *** "Woah." Kerin membulatkan mata kemudian mengembuskan napas dengan kasar. Setelah Alvo menunjukkan sifatnya yang terus berubah-ubah. Kini Kerin menyadari kalau nomornya telah diblokir lelaki itu. Apa-apaan Alvo? Kerin kira urusan di antara mereka sudah selesai. Iya, Kerin menganggap hubungan mereka berakhir tanpa ada masalah setelah mereka berdua banyak berbicara saat di pantai beberapa hari yang lalu. Dengan tulus Alvo meminta maaf kepadanya. Kerin sudah memaafkan Alvo sejak lama, bahkan sebelum Kerin meminta hubungan pura-pura mereka berakhir. Lucu. Kerin memang bukan tipe orang yang suka menyimpan dendam. Tapi ia juga bukan termasuk orang yang mudah memaafkan. Apalagi Alvo memperlakukan Kerin dengan sangat buruk selama dua tahun belakangan. Tapi herannya, Kerin menyikapinya seperti angin lalu. Hari ini ada kata-kata Alvo yang menyakitinya. Kesal satu atau dua jam, nanti sorenya kembali baik lagi. Mengalah lagi padahal Alvo sudah bisa disebut lelaki berengsek. Ah, sudahlah. Kerin sudah terbiasa menghadapi sikap Alvo yang begitu. Lebih baik Kerin mulai menata kembali hidupnya, mencintai dirinya lebih dulu, agar jika suatu hari ada orang yang ingin menyakitinya, Kerin bisa melawan. Termasuk itu Alvo. Di hari minggu, Kerin bingung akan melakukan apa, mau ke mana, maunya di kosan saja, ingin tidur seharian seperti yang dilakukan Ola setiap hari minggu tiba. Tapi, Kerin tidak bisa. Justru kalau besok ia libur bekerja, ia akan bangun lebih awal daripada biasanya, membuat teman-teman satu kosannya terheran-heran. "Pagiii!" sapa Kerin ceria di ruang makan yang terhubung dengan dapur. Manda menoleh ke belakang begitu mendengar suara Kerin sebelum akhirnya fokus menggoreng telur dadar miliknya. Di meja makan sudah ada Chintya, Debora dan Malika. "Cerah amat muka lo." Malika menyapa balik Kerin dengan wajah heran. "Beda banget sama kemaren ya?" sambung Chintya sambil menyendok makanannya. Kerin mencomot gorengan di piring kemudian duduk di kursi kosong. Sudah lama ia tidak berkumpul dengan teman-teman satu kosannya. Selain karena sibuk bekerja, Kerin juga sibuk menata hatinya setelah diporak-porandakan oleh lelaki bernama Rialvo Tjandra. "Repot amat punya temen kayak lo semua." Kerin berbicara sambil mengunyah makanan di mulut. "Gue murung, lo semua heran. Gue ceria, lo tambah heran. Enaknya gue ngapain deh? Yang kelihatan bener di mata lo semua." Debora dari tadi diam, namun lama-lama tidak tahan juga untuk menarik rambut Kerin yang telah dipotong hingga sebatas bahu perempuan itu. "Ceria ya ceria, Ke, tapi itu gorengan gue yang lo comot, anjing! Beli sendiri kenapa sih?" "Eh?" Kerin membeliakkan mata. Ia tanpa sadar telah menghabiskan dua, eh, tidak, tiga—yang masih tersisa setengah di tangan. "Gue balikin deh, nih...." "Iuuuu!" Debora pura-pura akan muntah. "Lo nyuruh gue makan bekas gigitan lo? Nggak sudi gue, Ke!" "Haha," tawa Kerin terdengar geli. "Gue ganti, anjir, pelit amat lo!" Debora sampai manyun. Manda baru saja selesai memasak nasi goreng dengan tambahan toping telur mata sapi. Kerin serta ketiga temannya bisa mencium bau wangi dari tempat mereka duduk. Menarik sendok di atas meja sampai rebutan, bersiap berperang untuk menikmati hasil masakan Manda yang terkenal enak. "GUE YANG MASAK BELUM MAKAN YA BABON!" jerit Manda, menjauhkan sepiring nasi goreng buatannya. "Bagi dong, Nda!" seru Malika, memasang tampang memelas. "Jangan mau, Nda, mereka rakus! Yakin lo nggak bakal kebagian," sambung Chintya yang mengompori Manda. Debora hendak menyambung, "Barter sama gue, Nda!" "Pake apa?" tanya Manda, hampir saja luluh. Debora menunjuk sisa gorengan di piring. Tinggal satu setengah. Yang setengah bekas gigitannya Kerin. "Temen nggak ada ahlak lo, ya, Dora!" maki Manda bersungut-sunggut. "Udah sana, gue nggak akan mau berbagi sama jomlo kayak kalian!" "Apa hubungannya ya anjir," seru Kerin menepuk punggung Manda, geram. "Tahu, nih! Huuu!" Teman-teman Manda kompak menyorakinya. "Padahal Kerin, kan, nggak termasuk jomlo kayak kita," celetuk Malika. Chintya mengangguk, menyadari ada benarnya yang dibilang Malika barusan. "Iya, ya. Gue kok baru sadar." "Pacar apa?" tanya Kerin. Pada akhirnya Manda meletakkan nasi goreng buatannya, ia membagi kepada teman-temannya yang kebetulan semuanya rakus kalau sudah dihadapkan dengan makanan enak. Kerin lebih dulu menyengok nasinya, kemudian menyuapkan ke mulutnya sendiri. Bak seperti nongkrong di warung kopi, Kerin menaikkan salah satu kakinya ke pinggir kursi yang ia duduki. "Alfa itu apaan?" "Orang," jawab Kerin. Debora yang dikenal suka main tangan—alias apa-apa selalu mukul, entah sedang tertawa atau berbicara seperti sekarang, refleks memukul pipi Kerin. Tapi sialnya, malah mengenai sendok yang akan masuk ke dalam mulut perempuan itu. Alhasil sendoknya jatuh, nasi goreng yang hampir saja akan ia telan jadi ikutan jatuh berserakan ke meja. "Bukan mulut lo aja yang nggak ada ahlak, Dora! Tangan lo juga!" pekik Kerin heboh. Menatap sayang ke butiran-butiran nasi di meja makan mereka. Malika menyumpal mulut Kerin dengan tahu goreng. "Makan ini aja, Ke. Berisik banget mulut lo kalau lagi normal." "Malika anjing," umpat Kerin tidak terima. "Eh, iya. Gimana sama Alfa? Masa ganteng-ganteng nggak lo akuin pacar, Ke? Kalau nggak mau, lempar ke gue aja sini!" seru Chintya sambil mengulurkan kedua tangannya. Debora menepuk tangan Chintya. "Kegatelan banget lo jadi perempuan!" "Jangan sirik! Ini yang dinamakan usaha, Dora!" balas Chintya. Debora sebal. Teman-temannya sembarangan mengganti namanya. Nama sudah bagus, Debora, kenapa dipanggil jadi Dora? Kalau Debora itu Dora, monyetnya siapa, ha? "Gue sama dia cuma temenan. Mana ada pacaran," jawab Kerin, menjilati sendoknya. "Perhatian gitu, Ke. Gue sampai bayangin gimana rasanya punya pacar yang cakep dan perhatian kayak Alfa. Auranya itu, lho.... mirip-mirip kayak sadboy di drama Korea, haha!" Chintya ini paling maniak sama drama Korea ketimbang yang lain. Kerin manggut-manggut. Ia sibuk dengan nasi goreng di depannya. "Beneran temen, Ke? Gue nggak enak nih kalau mau gue gebet, tapi ternyata dia ada apa-apa sama lo. Jangan sampai kita jambak-jambakkan di teras cuma karena cowok, ya!" peringat Chintya lagi. "Gebet aja sana," sahut Kerin santai. "Lo bisa tanya ke Alfa sendiri. Dia emang baik banget orangnya." "Terus, kenapa lo nggak suka dia aja?" sambung Manda. Kerin menuang air ke dalam gelasnya. "Suka, kan, nggak harus dipaksa untuk ke siapa-siapa. Gue nyaman temenan sama dia, kalau lebih ya, kayaknya nggak deh." "Kenapa?" tanya Malika, ekspresinya kelihatan sangat penasaran. "Sekarang aja lo bilang nggak. Ntar ada yang gebet si Alfa beneran, mampus lo, anjing! Gue ketawain sambil guling-guling!" seloroh Debora dengan ekspresi wajah yang sangat puas. Ia meneguk air dari gelasnya. Kedua bahu Kerin terangkat cuek. Setelahnya, teman-teman Kerin heboh membahas hal lain lagi. Seperti; pengalaman Manda yang baru pertama kopi daratan dengan teman chatting-nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN