Natan geram juga menunggu Ola lama-lama. Langen sampai bolak-balik mengetuk pintu kamar perempuan itu tapi tidak kunjung dibuka juga. Astaga. Ola tidur atau sedang simulasi menjadi mayat, sih?
Sandra menghampiri Natan. Sedari tadi calon menantunya kelihatan gelisah. Sesekali mengintip jarum jam dari pergelangan tangannya. Sandra berdecak. Setelah Langen, sekarang Ola yang berbuat jahil kepada tunangannya sendiri. Jangan sampai nanti menyesal seperti Langen. Kalau sudah kejadian, baru-baru menangis di kamar hampir setiap hari.
"Samperin aja ke kamarnya, Tan." Sandra memberi isyarat agar Natan mengikutinya naik ke kamar atas, kamarnya Ola berada.
Natan di belakang Sandra tidak berhenti menggaruk belakang lehernya. Walau ia dan Ola sebentar lagi menikah, tapi masuk ke dalam kamar perempuan itu adalah pertama kalinya.
"Lho, nggak dikunci ternyata." Sandra iseng membuka pintu kamar Ola dan tidak dikunci.
Sandra meletakkan dua tangannya ke pinggang lantas berdecak. Apa Langen tidak mengeceknya dahulu apakah pintu kamar Ola dikunci atau tidak ya? Daripada Langen sampai bolak-balik membangunkan Ola, tahu begitu Sandra saja yang membangunkan keponakannya. Ola, nih, terkadang memang menggemaskan. Saking gemasnya, Sandra jadi ingin mencubit ginjalnya.
Ia jadi serba salah setiap kali berhadapan dengan Ola. Bagaimanapun Ola itu titipan kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sebisa mungkin ia bersikap baik pada Ola, seperti ia memperlakukan putrinya sendiri. Tidak membeda-bedakan antara Langen atau pun Ola. Tapi... ada tapinya. Mbok ya agak pengertian sedikit gitu, lho. Ola, kan, bandel. Sementara Sandra, setiap kali ingin mengomeli Ola agak segan. Takut Ola malah kepikiran kalau Sandra tuh jahat, cerewet, tukang ngomel. Padahal ia melakukan semua itu karena Sandra sayang sama Ola. Ingin Ola melakukan sesuai yang ditulis di surat wasiat mendiang ayahnya.
Cuma ya, yang namanya Ola, mungkin saja karena usianya jauh lebih muda, jadi Ola lebih suka main ke sana sini. Terkadang tertawa saja, tidak pernah direm sampai Sandra sering mengelus dadaa.
Oalah, punya dua anak perempuan di rumah sama-sama sering bikin makan hati.
"Masuk aja, Tan. Bangunin sendiri ya."
Sandra memutuskan agar Natan saja yang membangunkan Ola. Sekalian simulasi menjadi suami yang memiliki istri petakilan dan kurang sopan seperti Ola.
Sandra berharap Natan lebih sabar lagi. Ola tuh baik anaknya. Cuma ya itu, kurang dibimbing saja. Harus lebih telaten dan sabar, siapa tahu Ola tiba-tiba luluh kan, ya?
Natan ditinggal begitu saja oleh Sandra di depan kamar Ola. Pintunya sudah setengah dibuka. Natan menyembulkan kepalanya, mengintip dari luar.
Oh, itu calon istrinya. Haha, enak sekali Ola ya. Tidur sembari selimutan tebal. Sementara Natan menunggu di bawah hampir satu jam!
Natan mendorong pintu lebih lebar lantas masuk ke dalam kamar Ola. Ia menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Ia akan membangunkan Ola, tapi rasanya seperti mau baku hantam saja. Astaga! Kenapa ia harus memiliki calon istri seperti Ola, sih? Merepotkan! Sudah begitu menyebalkan sekali!
Setiap kali bepergian selalu begini. Selalu bertengkar dulu. Selalu dibuat sebal dulu. Atau memang Ola sengaja ya? Berniat membuat Natan kesal, terus ilfeel seperti yang dilakukan Langen kepada Lando?
Oh, tentu saja tidak bisa! Natan memang bukan penyabar seperti Lando. Tapi Natan cukup tangguh menghadapi perempuan petakilan seperti Ola!
Lihat saja, Natan akan mengerjai Ola habis-habisan!
***
Kedatangan Alfa ke kosan Kerin sama sekali tidak mengejutkan penghuni di sana. Yang membuat mereka histeris melihat Alfa muncul di depan, adalah sekantong buah-buahan segar, ditambah bahan-bahan untuk membuat rujak.
Ya ampun! Membayangkan siang-siang begini makan rujak pasti enak banget!
"Stop!" Alfa menggulung lengan kausnya agak tinggi.
"Kenapa, Fa?" tanya Debora mematung di ambang pintu dengan kepala yang diberi baskom oleh Malika.
"Kalian tinggal duduk dan lihat gue ngeracik bumbunya. Eh, nggak ding. Kalian kupas buah terus cuci ya?" kata Alfa, menatap satu per satu perempuan di hadapannya. Tidak lupa juga cengiran khas lelaki itu.
Chintya sejak tadi sudah lemas cuma karena melihat Alfa tersenyum sampai kedua matanya menyipit lucu. Lelaki setampan Alfa dibiarkan begitu saja sama Kerin? Iya, sih. Mungkin Kerin sudah bosan di kelilingi lelaki tampan sampai yang setampan Alfa saja tidak dihiraukan. Coba itu Chintya, duh... tidak akan Chintya biarkan menganggur. Kalau perlu Chintya kunci saja di dalam rumah supaya tidak ada yang bisa mengambil Alfa darinya.
Tapi ya... sayangnya itu bukan Chintya. Melainkan Kerin. Ah, kapan sih Chintya bisa didekati lelaki tampan macam Alfa? Atau seperti Alvo, tampangnya juga lumayan. Ahlak-nya saja yang kurang!
Debora menggigit mangga, kemudian menjejalkannya ke dalam mulut Chintya dengan jahil. Chintya jadi gelagapan mirip orang yang akan tenggelam ke dalam lautan. Padahal, Debora hanya berniat menyadarkan Chintya dari kemupengannya.
Perempuan kok jelalatan matanya!
"Oh, Dora anjing!" maki Chintya sambil melepehkan potongan buah mangga—paling asam yang pernah Chintya makan. Memang teman tidak punya ahlak! Sudah menjejali Chintya, Debora tertawa ngakak sejadi-jadinya!
"Awas ya lo Dora! Besok kalau tahu-tahu lo sesak napas, jangan kira lo kena asma!" ancam Chintya menggebu-gebu.
"Terus, kenapa dong?" sahut Manda, baru saja kembali dari dapur membawa sebuah baskom.
"Gorengannya gue kasih sianida!" celetuk Chintya. Rupanya Chintya sungguhan sakit hati.
Alfa menggelengkan kepalanya. Ia jarang bertemu teman-teman Kerin saat hari biasa. Mungkin karena semua orang di kosan ini memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang bekerja, ada juga yang masih kuliah. Dan hanya bisa berkumpul setiap akhir pekan begini.
"Maaf, Cin. Ya ampun, gue bercanda doang!" Debora menghampiri Chintya kemudian memeluk temannya. Debora berbisik di telinga Chintya. "Caper lo anjing di depan Alfa! HAHA!"
Chintya terbengong sesaat. Telinga kirinya yang dibisiki Debora langsung berbunyi, ngiiiing! Setelah Debora tiba-tiba berteriak di telinganya!
Astaga! Mengirim orang agar lebih cepat bertemu Tuhan, dosa nggak, ya?
Debora masih ngakak. Beruntung tidak sambil guling-guling di halaman kosan mereka. Chintya, sumpah, temannya yang satu itu lawak sekali! Debora jadi ingin terus mengerjai Chintya di depan Alfa.
"Lo berdua nggak malu dilihat sama cowok ganteng di depan kalian hah?" Manda menegur kedua temannya. "Jangan sampai Alfa enek lihat kalian," tambahnya.
"Nggak dong! Ya, kan, Fa?" sambung Debora memiringkan wajahnya ke dekat Alfa.
Kerin sejak tadi diam, tetapi melihat Debora sudah mirip ulat bulu, Kerin tidak tahan untuk menarik ujung rambut Debora sampai perempuan itu nyaris terjungkal kemudian mereka semua tertawa. Khususnya Chintya. Perempuan itu paling puas menertawai Debora.
"Makanya jangan ganjen sama cowok orang!" teriak Chintya yang ditunjukkan pada Debora.
"Lo berdua kalau masih ribut, minggat sana!" usir Kerin sebal.
***
"Eh! Kok, kayak hujan sih?" Ola bergumam dengan kedua mata menutup rapat. Tangannya menengadah tanpa ia sadari. "Masa iya gentengnya bocor?"
"Heh, bangun!" seru Natan sembari menciprati Ola dengan air dari gelas di tangannya.
Sontak saja kedua mata Ola terbuka, ia gelagapan, begitu matanya terbuka sempurna, sosok pertama yang ia lihat adalah si tengil Natan.
"LO NGAPAIN ADA DI KAMAR GUE?!" jerit Ola menarik selimutnya agak tinggi.
Natan masih memegangi gelas di tangannya. Tidak. Itu bukan air putih ternyata. Ola bisa melihat air dari gelas berwarna cokelat bening yang artinya itu—AIR TEH! TOLONG CATAT, AIR TEH!
Sialan!
"Yang harusnya aku tanya itu kamu." Natan menunjuk Ola geram. "Aku nunggu lebih dari satu jam, dan kamu masih asyik tidur di sini?"
Ola memberengut. Selain karena air teh yang Natan cipratkan itu teh, juga Natan yang semakin lama kian menyebalkan saja! Bisa tidak, lelaki itu membiarkannya tenang sehari saja? Natan selalu muncul tanpa Ola duga, bahkan tidak pernah Ola harapkan sama sekali.
"Ayo bangun," perintah Natan menarik selimut yang Ola pegangi rapat.
"Nggak mau! Lo pulang, deh! Gue mau tidur seharian ini!" teriak Ola hendak berbaring lagi.
Natan buru-buru meraih lengan Ola, menahan perempuan itu agar tidak berani berbaring lagi, atau kalau tidak...,
"Bangun sekarang, atau aku cium kamu!" ancam Natan.
Kedua bola mata perempuan itu membulat. Sontak saja membekap bibirnya sendiri kala Natan mengancamnya. Seandainya Natan cuma menggertaknya saja, rasanya ngeri saja. Kenapa harus mengancam akan menciumnya? Kan, bisa menggunakan hal lain. Misalnya: menghukum Ola dengan belajar seharian sambil ditemani Natan. Iya, kan? Oh... atau Natan sedang mencari kesempatan dalam kesempitan karena hanya ada mereka berdua di sini? Tante Sandra ke mana sih? Mudah sekali percaya dengan lelaki seperti Natan!
"Iya! Nih, gue bangun!" Ola sengaja meninggikan suaranya tepat di depan wajah Natan.
"Bagus." Natan manggut-manggut. Ia kemudian melirik arloji di tangan. "Kamu cuma punya waktu lima belas menit dari sekarang."
"Apa?" pekik Ola. "Lo yang bener aja dong! Gue bahkan belum mandi, belum sarapan, ada banyak hal yang mau lakuin."
"Waktu kamu tinggal empat belas menit," potong Natan tidak peduli.
Ola mencak-mencak. Ia menggaruk kulit kepalanya sembari mengentakkan kedua kakinya ke lantai. Perasaannya sungguh kesal. Bisa-bisanya Natan melakukan hal kejam kepadanya! Natan tahu nggak, sih, waktu lima belas menit untuk cewek siap-siap itu terlalu sedikit. Ola bukan cuma pergi mandi, Ola harus makan dulu, dandan dulu, belum lagi menyiapkan baju. Kan, Natan sendiri yang memperingatkan Ola supaya tidak membuat lelaki itu malu di saat ia diajak pergi bertemu teman-teman atau bahkan koleganya.
"Tiga belas menit la—"
Ola mendesah frustrasi. Ia menarik rambutnya sendiri. Kayaknya, Natan kalau tidak membuat Ola kesal, tidak enak ya? Mungkin saja kurang afdol.
"Suruh siapa ngerjain gue," gerutu Natan ketika Ola sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
***
"Wah! Gue kenyang!" seru Alfa meletakkan kedua tangannya ke lantai sebagai penyangga badannya. Kepalanya menengadah ke atas lalu tersenyum sumringah.
Teman-teman kosan Kerin berada di dapur setelah membereskan peralatan yang mereka gunakan untuk membuat rujak. Sesuatu yang sederhana, tapi Kerin merasa sangat berkesan. Mereka jadi banyak bercanda dan mengobrol satu sama lain. Hal yang jarang dilakukan Kerin selama ini. Ah, tidak, lebih tepatnya selama menjadi pasangan Alvo, pura-pura maksudnya, Alvo membatasi pertemanan Kerin. Kerin tidak boleh berteman dengan orang yang tipikalnya begitu dan begitu. Kerin juga tidak boleh pergi dengan teman lelaki sembarangan dan harus meminta izin Alvo. Kalau tidak, Kerin dilarang pergi. Alasannya, sih, Alvo tidak ingin salah satu keluarga melihatnya. Bisa-bisa keluarga Alvo jadi curiga nanti.
Bisa dibayangkan tidak, sih? Kerin cuma menjadi pasangan pura-pura Alvo, tapi dikekangnya—hampir sama seperti orang pacaran sungguhan. Atau malah lebih parah. Kerin jadi tidak bisa bergerak. Ia juga merasa menjauhi teman-temannya tanpa sadar.
"Enak ya, Ke? Kapan-kapan gue mau ajak temen-temen lo ngerujak lagi," kata Alfa cengengesan.
"Lo belajar dari mana bikin bumbu rujak, Fa?" tanya Kerin.
"Kenapa? Enak, ya?" Alfa tertawa riang.
Kerin menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Sungguhan, Alfa sangat jago membuat bumbu rujak yang enak. Kerin dan teman-temannya sampai tidak sadar potongan buah di dalam baskom telah habis. Alfa jadi kena omelan para perempuan karena dianggap membawa buah dan bahannya nanggung.
Ya ampun! Alfa sudah berbaik hati mengajak mereka makan rujak. Alfa yang membawa semua bahannya, Alfa juga yang meracik bumbunya, mereka cuma diberi tugas mengupas lalu memotongnya. Kan, habis juga karena mereka makan. Tapi kenapa Alfa yang diprotes sih?
"Tadinya gue pengin ajak lo jalan-jalan, Ke. Mumpung hari minggu dong. Tapi setelah gue pikir lagi, apa nggak bosen lo lihat gue mulu, gue terus, jadinya ya, kenapa gue nggak ajak lo makan rujak sama-sama? Dan kebetulan orang-orang di kosan banyak yang ngumpul."
Alfa sadar kalau kehadirannya dalam hidup Kerin tidak terlalu diharapkan sama sekali. Terbukti sikap Kerin padanya agak ketus. Walau sekarang sudah agak mendingan, Alfa rasa mengganggu Kerin setiap hari alih-alih pendekatan tapi terkesan memaksa, Alfa jadi mengatur strategi.
Alfa mendekati Kerin bukan sebagai lelaki yang menyukai perempuan pada umumnya. Alfa mendekati Kerin sebagai teman. Biar mereka saling mengenal dulu, saling memahami satu sama lain, baik dan buruk diri mereka masing-masing supaya nanti tidak terkejut.
"Emang lo mau ngajak gue jalan-jalan ke mana?" tanya Kerin tiba-tiba.
Alfa duduk pada undakan tangga di depan kosan Kerin. Ia dan teman-teman Kerin memilih untuk duduk lesehan saja di sana daripada duduk di kursi. Alfa masih berada di tempatnya tadi, menikmati semilir angin sesekali memandangi Kerin dari samping.
"Nggak tahu, sih. Gue belum ada tujuan mau ngajak lo ke mana." Alfa nyengir, memerlihatknya giginya yang putih dan rapi.
"Yee!" Kerin melayangkan tangan ke udara seolah ingin memukul kepala Alfa. "Jadi, lo mau ngajak gue jalan-jalan doang? Makan angin dong!"
"Ya nggak gitu, Ke." Alfa menegakkan badan. "Maksud gue ya ke mana gitu. Misal kita pergi ke mal, keliling aja dulu. Nanti kalau ketemu toko baju atau tempat makan yang lo mau, kita mampir. Atau lo mau nonton ke bioskop aja?"
Kerin menggelengkan kepalanya tanda tidak berminat. Bukannya apa-apa, Kerin bosan pergi ke mal terus. Beberapa hari yang lalu, kan, ia sudah pergi bersama Ola dan Langen. Masa mau ke sana lagi? Lagian keliling mal buat apa? Itu sama sekali bukan hobi Kerin.
"Oh, atau lo ada usul buat pergi ke mana?" tanya Alfa. Tiba-tiba ia sangat semangat.
"Lo mau nganter emang?"
Alfa meletakkan sebelah tangannya ke ujung kening, mengisyaratkan tanda hormat. "Ke mana pun lo mau pergi, gue siap antar!"
Kerin menepuk bahu Alfa. Tanpa bicara, perempuan itu segera berdiri lalu masuk ke dalam kosannya.
Alfa terlihat senang Kerin mulai menerimanya. Alfa sempat khawatir bagaimana kalau Kerin tidak pernah bisa menerima Alfa dalam hidupnya? Bagaimana kalau Kerin justru mendorong Alfa agar menjauh? Tapi nyatanya tidak seperti itu. Mendekati Kerin tidak bisa dibilang susah, tidak mudah juga. Apa ya, mungkin Kerin membutuhkan seseorang yang sabar dan telaten seperti dirinya.
***
Ola pergi bersama Natan. Dan barusan ia menelpon Kerin. Katanya, perempuan itu sedang dalam perjalanan ke suatu tempat bersama Alfa. Astaga, Kerin beruntung sekali ya. Lepas dari Alvo, Kerin dengan cepat mendapatkan pengganti. Tidak seperti Langen. Masih saja gagal move on!
Woah!
Langen menggelengkan kepalanya lesu. Ia duduk di dekat jendela yang terbuka. Langit tidak terlalu cerah, mirip seperti suasana hatinya sekarang. Rasanya sedih saja. Andai saja waktu bisa diputar kembali, Langen mungkin akan bersikap lebih baik untuk menerima seseorang yang menyukainya.
Langen mendesah, menurunkan kedua bahunya. Sampai hari ini ia bungkam di depan Lando. Hati dan mulutnya tidak bisa singkron. Padahal ia hanya perlu mengatakan tidak ingin mereka berpisah, tetapi yang keluar dari mulutnya berbeda. Menyebalkan sekali. Apa ia terlalu gengsi? Setinggi apa gengsinya sih?
"La."
Pintu kamarnya diketuk beberapa kali, itu suara mamanya. Sejak ia dan Lando resmi putus, mamanya jadi sering mampir ke kamarnya. Entah menanyakan apa yang ia lakukan, atau sekadar bertanya, "Kamu nggak makan?" Langen bergidik. Mamanya selama ini jarang menanyainya sudah makan atau belum. Karena kata mamanya, orang kalau lapar pasti akan makan, tidak perlu diingatkan segala.
Sekarang Langen tahu ia mendapatkan gen aneh dari mana kalau bukan dari mamanya.
"Hmm..."
Sandra membuka pintu. Ia melihat anak perempuannya duduk di dekat jendela sembari memandangi langit. Sandra bersedekap. Anaknya sekarang tiada hari tanpa galau. Kerjaannya selalu merenung, memandangi langit, atau yang paling sering Sandra pergoki, Langen sering memutar lagu galau saat sendirian di kamar. Kalau tidak percaya, coba saja tanya pada Ola.
"Kamu udah makan belum, La?"
Tuh, kan. Langen bilang apa. Mamanya pasti kemari hanya untuk bertanya makan atau belum.
"Makan, La. Mama udah masak enak buat kamu." Sandra membujuk anaknya. "Mama tahu kamu lagi sedih karena habis putus. Tapi kalau nggak makan, kamu nggak ada tenaga buat nangis."
Sontak, Langen menolehkan kepalanya. Mamanya langsung menyengir begitu ditatap sebal oleh putri semata wayangnya.
"Mama nggak salah ngomong dong? Coba aja kamu nggak makan seharian, pasti lemas, kan? Mau nangis jadi nggak ada tenaganya. Kayak sebatas sesak doang di sini..." Sandra meletakkan tangannya ke dadaa, ekspresi yang ditunjukkannya sangat berlebihan.
Langen mendengkus. Mamanya selalu saja mengacaukan kegalauannya. Mau sebal, tapi yang dibilang mamanya ada benarnya. Langen membutuhkan banyak energi. Termasuk saat ingin menangis.
"Lagian kamu nggak capek nangis terus, La? Udah jenguk Lando waktu itu dong?" tanya mamanya, mengambil duduk di tepi ranjang.
Langen mengangguk-anggukkan kepalanya. Gerakkannya lesu seperti orang belum makan. Eh, memang belum makan sih. Pantas saja tidak memiliki tenaga biarpun cuma mengangguk-angguk. Aduh, mana tahu kalau efek putus sama Lando akan jadi begini. Sandra kira Langen akan senang. Kan, selama ini Langen selalu ngotot ingin perjodohannya dibatalkan. Giliran batal sungguhan, nangisnya bersambung terus.
"Jujur aja sama Mama, La. Gini-gini, Mama dulunya pernah jadi Mak Comblang di sekolah." Sandra menepuk dadaanya seolah bangga. Tawanya yang khas mengisi keheningan di kamar Langen.
Langen bangun dan berpindah ke ranjangnya. Ia duduk di tengah, sementara Sandra masih berada ke tepi ranjang. Kedua mata Langen terlihat sayu, tatapan penuh binar Langen pergi entah ke mana. Mungkin... dibawa pergi Lando kali, ya?
"Aku pengin bilang maaf ke Lando," gumam Langen menekuk kedua kakinya.
"Terus?" pancing Sandra.
"Ah, tahu deh!" sungut Langen, membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
"Lho, La, kok malah ngambek?" Sandra menaikkan kedua kakinya ke kasur. "Ngomong yang bener. Kalau kamu tahu-tahu ngambek begini, Mama mana ngerti."
Tubuh Langen bergerak, berubah menjadi terlentang. Kedua matanya memandangi langit-langit kamar yang baru ia sadari sangat membosankan. Sebentar, atau Langen perlu merenovasi kamarnya? Siapa tahu bisa menaikkan mood-nya.
"Reaksi Lando gimana waktu kamu dateng jenguk?" bujuk Sandra lembut.
"Bilang makasih," jawab Langen. Ia menatap mamanya sepintas kemudian menarik napas. "Udah, gitu doang."
Sandra memasang tampang bengong. Jauh-jauh datang ke rumah Lando, dibela-belain pergi ke sana pulang kerja, udahlah capek, perjalan lumayan jauh karena tidak searah dengan jalan pulang, Lando cuma menjawab terima kasih?
"Apa Lando benci sama aku ya, Ma?" gumam Langen. Matanya berembun, siap menangis lagi.
"Nggak dong. Mana mungkin Lando benci sama kamu?" Sandra menepuk lengan putrinya. "Justru alasan Lando minta perjodohan kalian dibatalkan itu demi kamu." Sandra mengusap punggung Langen.
Rupanya Langen belum paham juga kenapa Lando meminta perjodohan mereka dibatalkan. Semua jelas karena Langen. Demi kebahagiaan putri Sandra satu-satunya. Lando bilang, Lando menyayangi Langen dengan tulus. Tapi kalau perasaannya jadi membebani Langen apa lagi sampai membuat Langen menangis, Lando tidak bisa memaksa selain melepas.
Lando juga menambahkan, "Saya nggak mau menjadi orang yang egois Tante. Saya nggak mungkin bahagia kalau Langen jadi merasa tertekan."
Duh, apa Langen tidak akan menangis mendengar kata-kata Lando waktu itu? Sandra saja rasanya terharu. Ada lelaki baik, mapan, tampan pula, menyukai anak perempuannya. Sayangnya Langen malah menutup pintu hatinya terlalu rapat. Bahkan untuk belajar menerima Lando saja tidak pernah.
"Mama tanya dan kamu harus jawab jujur." Sandra menatap putri semata wayangnya dengan serius.
Langen menelan ludah. Semula ia berbaring, kini mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu suka sama Lando?" tanya Sandra tiba-tiba. "Aneh aja kalau kamu nangis-nangis karena udahan sama Lando, tapi kamu ngaku nggak suka."
Langen gelagapan ditanya begitu.
"Mama tanya, alasan kamu nangis sebenernya apa? Nggak terima diputusin sama Lando? Kok, bisa? Bukannya kamu harusnya seneng ya? Mama pikir kamu bakalan party-party!"
"Ma..." Langen merengek. Air mata yang menggantung sejak tadi kini berjatuhan. Bergantian. Membuat Langen buru-buru menyekanya.
"Apa salahnya bilang suka, La?" Sandra mengelus rambut Langen dengan lembut. "Lando itu baik banget sama kamu selama ini. Kalau Mama ada di posisi kamu, Mama bakal merasa jadi perempuan paling beruntung di dunia ini!"
Seharusnya memang begitu. Lando, lelaki yang selalu membuatnya sebal—sebenarnya lelaki yang baik. Lelaki yang selalu mengalah padanya padahal Langen sudah kelewat kurang ajar.
Lando tidak pernah marah saat ia mengomelinya. Lando bahkan tidak pernah balas mengerjainya seperti Natan yang balas mengerjai Ola. Lando terus bersabar. Balas marah saja tidak pernah. Membentak? Apa lagi. Itu justru kebiasaan Langen.
"Aku nggak tahu...." Suara Langen gemetaran. Ia menyeka air matanya yang membanjiri pipinya. "Aku merasa nggak rela aja. Lando bahkan nggak bilang ke aku dulu. Tapi langsung ke Mama. Emang Lando anggap aku apa?"
"Nah... kamu sendiri anggap Lando gimana selama ini?" balas Sandra menanyai putrinya.
Tangis Langen pecah juga. Sandra tahu putrinya sedang bingung memahami perasaannya sendiri.
Dibawanya Langen ke dalam pelukan Sandra. Menepuk puncak kepalanya pelan. "Kalau nggak rela Lando pergi, ya bilang dong. Kamu nangis-nangis kayak gini Lando mana ngerti."
"Emang Lando masih mau sama aku?" Langen mendongak, kemudian menambahkan, "Lando pasti benci sama aku, Ma."
"Tahu dari mana?" tanya Sandra. "Udah coba ngomong belum ke Lando? Kalau belum dicoba, kamu mana tahu, La."