Kerin melambaikan tangan begitu pintu dibuka. Sosok wanita berkacamata di depannya menatap Kerin sebentar kemudian Kerin menghambur ke pelukan wanita itu sembil berseru, "KANGEN!"
Alfa menatap dua perempuan beda usia itu. Walau ia tidak mengenali siapa yang dipeluk Kerin sekarang, Alfa bisa menebak jika keduanya memiliki hubungan yang dekat. Terlihat seberapa bahagianya Kerin melihat wanita itu lantas memeluknya erat.
"Aku kangen banget sama Ibu!" teriak Kerin masih memeluk si wanita.
Ibu?
Muncul kerutan di dahi Alfa. Ibu? Itu ibunya Kerin? Bukannya...,
"Dasar! Ke mana aja kamu selama ini? Kenapa baru jenguk Ibu sekarang?" omel wanita itu setelah mengurai pelukannya.
Kerin cengengesan. "Maaf deh, Bu. Aku lagi sibuk banget kemaren. Jadi belum sempat temuin atau telepon Ibu. Tapi sekarang kan aku udah di depan Ibu, nih!"
"Oke! Ibu maafin kamu sekarang. Tapi awas aja diulangi lagi!" tunjuk si wanita ke hidung Kerin. Kemudian, keduanya tertawa dan pelukan lagi.
Alfa merasa tidak dianggap sekarang. Kerin dan si wanita setengah baya itu asyik sendiri pelukan. Padahal, kan, Alfa juga pengin. Eh, tidak dong. Maksudnya, tuh, noleh ke arahnya kek, Alfa sudah mirip patung selamat datang di depan pintu, nih! Mana panas sekali!
"Heh, Ke!" seru wanita tadi, mulai menyadari keberadaan Alfa. "Sampai lupa ada temen kamu. Maaf ya, Mas. Mas-nya temen atau pacar baru Kerin?"
"Ih! Bu," rengek Kerin mirip anak kecil.
Otomatis menarik Alfa untuk menyunggingkan senyum melihat reaksi Kerin barusan. Ia jadi melihat sisi Kerin yang lain daripada biasanya.
"Lho, kan, tinggal kamu jawab siapanya kamu." Wanita itu maju beberapa langkah mendekati Alfa. "Saya Ratna, Ibu angkatnya Kerin. Mas-nya siapa namanya?"
Wanita bernama Ratna itu mengulurkan tangannya. Alfa menyambutnya, walau sempat beberapa detik melamun. Alfa menyebutkan namanya, "Alfa, Tante." Alfa mengulas senyum sopan.
"Pacar barunya Kerin?" goda Ratna jahil, ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melirik Kerin.
"Bukan, Tante..." Alfa menjawab sambil menggeleng kecil. "Saya cuma temennya aja."
"Lebih dari temen juga nggak apa-apa, Mas," sambung Ratna menahan senyum.
Kerin menghampiri Ratna, lantas menggandeng tangan wanita itu. "Aku sama Alfa cuma temenan aja kok. Seriusan, Bu. Aku mana mau sama cowok petakilan kayak dia! Jadi temen aja suka ngerepotin kok!"
"Nggak kebalik, Ke?" sahut Alfa tengil.
Kerin mengerucutkan bibirnya. "Bukan gue yang minta ya. Kan lo yang nawarin, ya gue terima!"
"Udah, udah. Kok jadi berantem? Ayo masuk, Mas Alfa...." Ratna mempersilakan Alfa masuk ke dalam rumahnya. Kalau Kerin tidak perlu dipersilakan. Tanpa diminta pun, Kerin sudah nyelonong masuk.
"Gue baru tahu lo punya Ibu angkat, Ke." Alfa mensejajarkan langkahnya di samping Kerin.
"Karena gue nggak pernah cerita sama lo." Kerin menanggapi santai.
"Lo deket banget sama Tante Ratna?" tanya Alfa.
Kerin mengembuskan napas. Kedua tangannya ia jejalkan ke dalam saku jaket. "Banget!" jawabnya, kemudian ia menambahkan, "Bu Ratna penyelamat gue banget. Mungkin kalau nggak ada Bu Ratna, entah gue masih ada atau nggak hari ini. Berdiri di sebelah lo, natap lo kayak sekarang."
Sesaat, Alfa mematung mendengar kata-kata Kerin. Apa maksudnya?
Kerin menepuk sebelah lengan Alfa. Berjalan mundur sembari menunjukkan ekspresi girang, sebelum akhirnya memutar badan memunggungi Alfa, lantas berlarian meninggalkannya untuk menyusul Ibu angkatnya.
"BU, AKU BANTUIN YA!" seru Kerin. Terdengar semangat.
***
"Woi!"
Bahu Alfa ditepuk dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Kerin sedang berdiri sembari menyunggingkan senyum lebar kepadanya. Sesaat Alfa terkejut. Belum pernah Kerin tersenyum seceria ini kepadanya.
Kerin ikut duduk pada undakan tangga yang ada di teras rumah Bu Ratna. Kerin duduk santai di sebelahnya. Kedua kakinya ia selonjorkan ke depan lalu menghirup udara dengan gembira.
Apa yang membuat Kerin sesenang sekarang?
Pertanyaan itu selalu berputar di kepala Alfa. Beda dari Kerin biasanya, Kerin yang tengah duduk di sampingnya ini seperti bukan Kerin yang ia kenal. Tidak, lebih tepatnya yang Alfa dekati. Kerin jadi kelihatan lebih ceria, seolah tidak memiliki sedikit pun beban di bahunya.
"Gue cari lo ke mana-mana ternyata ada di sini." Kerin lebih dulu mengajak Alfa berbicara.
Alfa menengok, ia mendekatkan bibirnya ke Kerin seakan sedang berbisik ke telinga perempuan itu. "Kenapa? Lo kangen sama gue ya?"
Buru-buru Kerin mendorong wajah Alfa sampai lelaki itu meringis. "Bilang aja. Nggak usah malu-malu. Gue sadar kalau gue orangnya emang ngangenin."
Kerin pura-pura terbahak. Satu kepalan tinjunya hendak ia layangkan ke wajah tampan Alfa. "Cuma orang nggak waras yang bakal kangen sama lo." Kerin berdecak sambil menggelengkan kepala. "Karena gue masih sangat waras. Maka gue bilang dengan jelas, gue nggak kangen sama lo. Denger nggak, lo?"
Alfa mendengkus. Tetapi jari-jarinya mengisyaratkan tanda oke. "Bener ya. Gue pegang kata-kata lo. Awas aja lo kangen sama gue, tapi nggak bilang-bilang."
"Oke. Gue siap taruhan sama lo kalau perlu!" tantang Kerin tidak mau kalah.
Seperdetik, terdengar suara tawa keduanya saling bersahutan. Kerin bahkan sampai memukuli lengan dan punggung Alfa. Lelaki itu pura-pura mengaduh, tetapi kedua matanya yang menyipit karena tertawa, menunjukkan dengan jelas kalau Alfa tidak sungguhan kesakitan.
Dilihat dari jarak sedekat ini, Alfa jadi lebih sadar kalau Kerin sungguhan cantik. Bahkan saat dandanan minimalis serta rambut sebahu perempuan itu agak berantakan, Alfa pikir, Kerin masih sama cantiknya. Sayang saja Alvo buta, kebanyakan gengsi sampai tidak bisa melihat ada mahluk cantik yang tulus menyayangi lelaki itu.
"Akh," erang Alfa sebal.
Kerin menyadari perubahan raut wajah Alfa. Tadi tertawa, sekarang malah sebal.
Iya, sebal. Alfa sebal kepada Alvo! Sudah diberi kesempatan agar bisa dekat lagi dengan Kerin, Alvo masih saja mengelak, tidak mau mengakui perasaannya secara jujur kepada Kerin. Alfa tidak buta. Dari tatapan mata Alvo, jelas Alvo menaruh perasaannya pada perempuan di sampingnya ini.
Alfa harap Alvo tidak menyesali keputusannya.
"Lo sebel sama gue beneran, Fa?" tanya Kerin tiba-tiba. Sepasang mata perempuan itu menelisik wajah Alfa. Yang tadinya kelihatan sumringah, kini justru berubah sebal. "Padahal gue cuma bercanda."
"Bukan sama lo," jawab Alfa.
"Sama siapa?" Kerin celingukkan ke kanan ke kiri. "Di sini cuma ada kita berdua."
"Orangnya nggak di sini."
"Siapa?"
"Yang udah bikin gue sebel."
"Oh..." Kerin manggut-manggut. "Tapi, siapa orangnya, Fa? Gue kenal, nggak?"