Kembali Ceria

1032 Kata
"Nggak, kok." Alfa mengangkat kedua bahunya. "Mending lo jangan kenal orang itu, deh. Daripada lo dibuat sebal. Eh, nggak deh. Sakit hati lebih tepatnya." Kerin tidak paham saja siapa yang dimaksud Alfa sebenarnya. Yang Kerin asumsikan, orang yang membuat Alfa sebal adalah orang yang tidak cukup baik. Alfa itu cengengesan. Kalau kata orang, gayanya mirip berandalan. Tapi, orang yang menilai Alfa seburuk itu belum menemukan saja sisi baik Alfa. Belum tentu orang yang menilai Alfa demikian, memiliki hati sebaik Alfa. "Oh, okay," gumam Kerin mengakhiri pembahasan mereka. Ia pikir ia perlu mencari tema obrolan yang tidak perlu memancing kekesalan Alfa tentang orang itu. Berbeda dari Kerin yang mengira dirinya sebal kepada orang lain—padahal orang yang dimaksudnya sebenarnya Alvo, Alfa berharap waktu bisa ia putar lagi. Ia akan datang lebih awal sehingga bisa bertindak agar Kerin tidak pernah mengenal sosok Alvo. Bayangkan saja, Kerin sudah dimanfaatkan, menjadi pacar pura-pura pada awalnya, akan tetapi, tiba-tiba Kerin dipaksa bertunangan dengan Alvo. Kan, gila! Walau yang memaksa Kerin bertunangan itu orang tua Alvo, tapi bagaimanapun Kerin berhak untuk menolak. Apa yang didapat Kerin selama menjadi pasangan pura-pura Alvo? Kaya tidak, makan hati iya. Raut wajah Alfa datar. Kerin memutar otak bagaimana caranya Alfa kembali ke ekspresinya semula. Kerin tidak pandai dalam menaikan suasana hati seseorang. Kalau mengacaukan suasana hati orang, Kerin lumayan jago. "Kerin, Alfa...." Ratna mengintip di balik pintu. Seketika dua anak muda tersebut memutar kepalanya dan menatap Ratna. Kerin mendongak, lantas bertanya pada wanita setengah baya itu, "Kenapa, Bu?" tanyanya, kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Ayo masuk, Ke. Ajak Mas Alfa-nya makan sama-sama di dalam." Sebelah tangan Kerin meraba bahu Alfa kemudian menepuknya beberapa kali. Alfa paham isyarat yang diberikan Kerin kepadanya. Lelaki itu berdiri dan menghadap Ratna. Kerin dibuat takjub. Karena hanya dalam sekedip mata saja, Alfa menunjukkan ekspresi yang berbeda. Kerin menarik kedua sudut bibirnya. Matanya menyipit lucu kala perempuan itu tersenyum lebar. Aneh, ia merasa hangat saat melihat Alfa tersenyum seperti itu. Dalam hati ia merasa lega karena Alfa kembali ceria sedia kala. Walau, Kerin tidak tahu senyum Alfa datang dari hati atau karena terpaksa. Entahlah. "Ke..." Ratna menegur Kerin. Kerin tersadar bahwa dua orang di depannya sedang kompak menatap ke arah dirinya. "Eh, iya, Bu." Kerin gelagapan. Apalagi saat kedua matanya bertabrakan dengan mata hitam Alfa. "Iya, iya. Aku masuk sekarang. Yuk, Fa!" *** Ola menguap—entah untuk yang ke berapa kali. Kalau ia disuruh menghitung, sepertinya menggunakan kesepuluh jarinya saja kurang. Lagi pula yang aneh itu Natan. Kalau cuma pergi mengumpul dengan teman-temannya. Kenapa juga harus menyuruh Ola untuk ikut? Iya, sih, Ola kenal dengan dua teman Natan—yang sering ia temui saat Natan berkumpul mereka. Cuma ya, untuk apa, sih? Lagian obrolan Natan dan teman-temannya sama sekali tidak cocok dengannya. Apaan, masa, setiap kumpul begini kebanyakan yang dibahas soal pekerjaan, bisnis dan investasi. Apa Natan dan semua temannya tidak capek ya? Di kantor sudah dibebani banyak pekerjaan. Saat sedang santai, pun, yang dibahas masih pekerjaan juga. Ola yang mendengarnya saja rasanya hampir mual sendiri. Astaga. "Kayaknya Ola ngantuk, Tan," ujar Deon menunjuk Ola—yang tengah menguap. Otomatis Ola membungkam mulutnya sendiri. Bergaya canggung setengah mati. Dalam hati Ola mengumpat, di depan lelaki setampan Deon, Ola justru membuatnya dirinya terlihat tidak punya malu. Natan meliriknya sepintas. "Padahal dia bangunnya siang banget. Masih aja ngantuk," sindir Natan sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. "Wajar, Tan. Ini kan hari minggu. Mungkin Ola maunya tidur sampai siang." Deon menunjuk Ola lagi. Ola menahan cengirannya. Baru kali ini ada teman Natan yang mengerti perasaannya. Biasanya Alvo dan Lando tidak mau ikut campur atau bahkan membelanya saat Natan membuatnya kesal. Duh, boleh ditukar saja tidak, sih? Deon tidak kalah tampan dari Natan. Tubuhnya tegap dan tinggi, walau sesekali berbicara, tapi dengan melihat wajahnya saja Ola sudah kesemsem. Sungguh, kalau boleh ditukar, Ola mau Deon saja yang menjadi calon suaminya. "Hmm..." Natan bergumam, tangan kanannya sontak meraup wajah Ola perlahan. Ola mendengkus. Sontak saja ia mendorong tangan Natan dengan kasar. "Apa sih? Tangan lo bau!" Deon mengeryitkan dahinya tanda bingung. Natan dan Ola selalu saja berdebat dan adu mulut. Jika hitung sudah berapa banyak mereka ada mulut saat bertemu sekarang, Deon tidak bisa menghitungnya. Ada saja yang membuat pasangan ini bertengkar. Natan menarik lengan Ola, berbisik di telinga calon istrinya. "Kamu serakah juga ya." Ola menarik dirinya, menatap Natan beberapa detik kemudian sepasang matanya mengerjap. Tidak paham maksudnya apa. Oh, atau Natan mau menggombalinya? Mau bilang begitu karena Ola telah memborong cantik dan manis juga. Haha, masa sih? Natan kembali berbisik. "Udah ada aku yang ganteng. Masih aja ngelirik lelaki lain?" Sontak saja Ola mendorong sebelah bahu Natan. Sialan. Ia kira Natan ingin menggombalinya. Tapi ternyata Nata justru menunjukkan seberapa tinggi tingkat kepercayaan dirinya. "Gantengan temen lo emang." Ola sengaja memancing Natan. Memangnya hanya Natan yang bisa membuat orang kesal? "Pulang dari sini, gue mau ngomong sama Tante Sandra." Natan mencium bau-bau yang mencurigakan. Ola mau ngomong apa pada tantenya? Pasti bukan sesuatu yang baik. Ola, kan, terkadang suka nyeleneh. Apa yang dilakukan Ola lebih sering tidak wajarnya. "Apa?" tanya Natan agak berbisik. "Gue mau tukerin lo sama Kak Deon," jawab Ola menyengir. "Jangan aneh-aneh!" Tanpa sadar, Natan menaikkan intonasi suaranya. "Apanya yang aneh?" balas Ola, memiringkan badan kemudian berkacak pinggang. "Yang aneh tuh lo. Ngapain juga bawa gue tiap lagi ngumpul sama temen lo? Kalau yang dibahas seru nggak apa-apa. Nah, lo, yang dibahas soal kerjaan mulu. Bikin gue mau mual aja!" "Kamu calon istri aku. Apa salahnya aku ajak kamu ketemuan sama temen-temen aku?" "Ya nggak salah. Tapi pemilihan waktunya nggak tepat! Lo nggak tahu seberapa berharganya hari minggu gue hah?" Bagi Ola, hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Maka dari itu Ola selalu menggunakan hari minggunya untuk bangun siang, makan, tidur lagi, bangun-bangun sudah malam. Jangankan diajak pergi, untuk pergi ke kamar mandi saja Ola sudah malas. Deon melihat perdebatan keduanya, kemudian menggeleng heran. Belum menikah saja sudah banyak ributnya, bagaimana jika Ola dan Natan resmi menikah? Tidak terbayang akan seramai apa rumah mereka nanti. "Stop!" seru Ola mengangkat dua tangannya. Ia beranjak, menyambar tas selempangnya. "Ngomong sama lo selalu bikin gue naik darah! Udah ah! Gue pulang aja. Gue mau tidur di rumah sampai besok pagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN