Sebenarnya Kerin masih ingin berlama-lama di rumah Ratna. Ia masih merindukan Ibu angkatnya itu. Mereka berdua jarang bertemu, Kerin pun jarang menelpon karena sibuk dengan pekerjaan. Hanya sesekali saat Kerin memiliki waktu luang.
Kerin memeluk Ratna sangat erat. Seperti tidak ingin melepaskan. Wanita itu menepuk belakang kepala Kerin, seolah menenangkan Kerin yang telah dianggapnya seperti putrinya sendiri.
"Jangan lupa makan dan salat ya, Ke." Ratna mengurai pelukannya, mengelus rambut sebahu Kerin. "Sesibuk apa pun jangan sampai lupa segalanya. Mas Alfa... tolong selalu ingetin Kerin kalau lupa, ya," pesannya.
Alfa memberi gerakkan hormat. "Siap laksanakan, Bu!"
Kemudian, ketiganya tertawa bersama.
Ratna harus melepas Kerin untuk pulang walau tidak ingin sebenarnya. Ia hanya bisa mengantar Kerin sampai ke halaman rumah. Melihat Kerin dan Alfa bergantian menaiki motor.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa motornya ya, Mas," gumam Ratna tidak berhenti memberi pesan.
Zaman sekarang banyak muda-mudi mengendarai motornya ugal-ugalan. Ratna ngeri saja kalau ada yang membawa motor dengan kecepatan tidak kira-kira. Bagaimana kalau sampai menabrak pengendara lain? Karena selain membahayakan nyawa diri sendiri juga bisa membahayakan orang lain.
Ketika Kerin mengucapkan salam kepada Ratna, wanita itu buru-buru melambaikan tangan, tersenyum tipis, langkahnya yang pelan mengikuti motor Alfa yang perlahan keluar halaman. Sekali lagi Kerin melambaikan tangan sebelum motor Alfa membawanya pergi dari sana dan hilang dari pandangan Ratna.
Sesekali Kerin menoleh, ada rasa tidak rela meninggalkan Ratna hidup sendirian tanpa teman di rumahnya. Kerin terpaksa harus pindah dari sana karena jarak dari rumah Ratna ke tempat kerjanya sangat jauh. Ditambah lagi..., Kerin terdiam. Bayangan kurang indah di kepalanya kembali berputar dan mengganggu pengaturan pernapasannya.
Andai saja tidak ada Ratna dalam hidupnya, menolongnya dengan suka rela padahal Ratna bisa saja membencinya. Mungkin, Kerin sudah enggan untuk hidup lebih lama. Orang yang seharusnya melindungi Kerin justru menyakiti. Membangun mimpi buruk dari hari ke hari hingga Kerin tidak sanggup bernapas dengan baik.
Perceraian orang tua, pengkhianatan mamanya, dan.... berujung pada suatu kejadian yang membuat Kerin tidak habis pikir. Kenapa Mama melakukannya? Kenapa Mama tega sekali mengkhianatinya dan—Ratna—teman mamanya sendiri.
Kerin menunduk. Diam-diam memukul dadaanya, berharap rasa sakit yang bersarang di sana sejak bertahun-tahun lalu mau pergi. Walau kehidupannya lebih baik dari kemarin, bahkan sangat-sangat baik, Kerin belum bisa melupakan mimpi buruk itu. Atau mungkin selamanya akan bersemayam di sana?
Alfa merasakan punggung tangannya basah. Begitu kepalanya mendongak, muncul beberapa tetesan air dari langit dan mengenai hidungnya. Alfa melihat sekeliling. Tidak ada tempat untuk dijadikan tempat berteduh dari hujan.
Ia meminggirkan motor, setelah memutar kunci lalu mesin motor pun mati, Alfa turun hendak mengambil jas hujan di dalam jok motornya. Akan tetapi, Kerin tetap diam, tubuhnya seolah tidak bergerak, hanya saja, plikirannya berada di tempat yang lain.
Alfa tidak menunggu terlalu lama. Hujan turun makin deras dan dibarengi dengan suara petir yang lumayan kencang. Alfa heran, suara petir sekencang itu tidak mampu menggoyahkan lamunan Kerin? Sebenarnya, apa yang sedang dipikirkan Kerin, sih?
"Ke." Alfa menggoyangkan lengan Kerin.
Sontak, Kerin tersentak bukan main. Bahunya ditepuk beberapa kali sehingga Kerin mulai sadar dan kembali ke dunianya.
Alfa menarik tangan Kerin perlahan. Walau ke-linglungannya masih tersisa, Kerin menurut saja saat Alfa membantunya turun dari motor. Dibiarkannya Kerin berdiri di samping lelaki itu. Setelahnya, Alfa membuka jok dan mengeluarkan sebuah jas hujan berwarna hijau.
Ditariknya Kerin, kemudian memasangkan benda itu ke tubuh Kerin yang mulai dingin. Astaga, bahkan Kerin seperti tidak menyadari bahwa tubuhnya mulai menggigil.
"Yuk!" seru Alfa menaiki motor hendak melanjutkan perjalanan.
Kerin menunduk, menatap tubuhnya sendiri dari bawah hingga ke atas kepala. Alfa membuat badannya terlindungi dari hujan, tetapi Alfa sendiri justru hujan-hujanan.
"Fa, kok lo nggak pake jas hujan?" Kerin meninggikan suara agar bisa sejajar dengan suara hujan yang tambah deras.
"Jas hujannya cuma satu. Udah, lo pake aja." Alfa memegangi pergelangan tangan Kerin, menyuruh perempuan itu untuk cepat-cepat naik karena mereka akan melanjutkan perjalanan. "Ayo, Ke! Kenapa lo malah bengong?"
"Kita cari tempat berteduh aja dulu!" Kerin agak maju, lantas menambahkan, "Lo gila hah? Dari sini ke kosan masih jauh. Terus, lo mau hujan-hujanan gitu?!"
Alfa menunjuk ke sekeliling. "Nggak ada tempat buat berteduh, Ke. Udah, ayo. Nggak apa-apa gue hujan-hujanan. Yang penting lo aman!"
Kerin benar-benar ditariknya sehingga naik ke atas motor. Alfa meminta Kerin duduk dengan tenang dan manis. Biarkan Alfa kehujanan, asal mereka sampai ke tempat tujuan.
Ternyata Alfa kerasa kepala juga ya. Padahal hujan sangat deras. Tapi Alfa ngotot akan baik-baik saja tanpa mengenakan jas hujan.
Kerin melingkarkan tangannya ke pinggang Alfa. Berharap saat ia memeluk lelaki itu, Alfa bisa merasa hangat walau tidak seberapa.
***
Motor Alfa berhasil mengantar Kerin ke tempat kosannya dengan selamat. Hujan sudah tidak terlalu deras. Bahkan saat motornya memasuki gapura di depan sana, hujan sudah reda, ia tidak merasakan satu tetes hujan pun mengenai anggota tubuhnya.
Kerin melepaskan jas hujan lalu menggantungkannya ke depan motor Alfa. Segera ditariknya tangan Alfa untuk ia ajak duduk di kursi teras.
"Gue langsung balik aja, Ke," ujar Alfa menahan tangan Kerin.
"Gila kali lo, ya." Kerin berdecak. "Ayo masuk dulu. Lo duduk di teras. Gue ada kaus yang cukup di badan lo kayaknya. Jangan sampai lo sakit karena gue ya?" ancam Kerin.
Alfa menggeleng. "Seriusan, gue nggak apa-apa. Gue langsung pulang aja. Lagian udah malam banget. Apa lo nggak takut digrebek sama warga karena masukin cowok ke dalam kosan yang isinya semua perempuan?"
Sesaat, Kerin diam, ngeri juga membayangkan rumah kosannya digrebek warga. Tapi, kan.... ia dan Alfa tidak melakukan hal aneh. Kerin hanya ingin Alfa mengganti bajunya, meminum minuman hangat sambil menunggu capeknya Alfa agak berkurang baru bisa pulang ke rumah.
"Ya, kan?" Alfa menunjuk Kerin. "Bayangin aja kita kena grebek, terus lo mau dinikahin sama gue? Kalau gue sih ogah ya!"
"Tapi kan, Fa...," gumam Kerin, lantas memberi jeda. "Gue sama lo kan nggak ngapa-ngapain."
"Iya bener kita nggak ngapa-ngapain. Tapi kalau ada cewek sama cowok yang nggak punya hubungan apa-apa ada di kamar, cuma berduaan pula, ya pasti orang bakal mikir yang nggak-nggak." Alfa mencoba menakuti Kerin. "Udah ah! Gue pulang sekarang aja, Ke. Ntar keburu malam sampai rumah."
"Fa..." Kerin memanggil Alfa. "Lo beneran baik-baik aja? Dari awal perjalanan pulang, lo udah hujan-hujanan. Kalau lo jadi sakit karena gue gimana?"
"Halah, Ke, paling juga sakit demam." Alfa menanggapinya sambil cengengesan. "Lo buruan masuk dam istirahat. Lo besok kerja, kan? Ya udah. Gue balik sekarang ya. Dah!"
Kerin melambaikan tangan. Antara rela dan tidak membiarkan Alfa pulang. Bukan. Bukan berarti Kerin menyukai lelaki itu. Kerin hanya tidak rela Alfa sakit karenanya. Jangan karena dirinya, Alfa sampai rela mengorbankan dirinya.
Alfa bisa saja egois dengan mengenakan jas hujan itu untuk dirinya sendiri. Tapi, apa yang dilakukan Alfa? Alfa justru memakaikan jas hujan itu ke tubuhnya tanpa bicara apa-apa.
Kerin menggigit bawah bibirnya. Kedua matanya tidak mau lepas memandangi Alfa dan motornya keluar dari halaman kosannya.
***
Nomor Alfa tidak bisa dihubungi!
Kerin mendadak panik. Cuma karena Alfa tidak mengangkat teleponnya. Ah, tidak, Alfa bukan hanya tidak merespons panggilan teleponnya. Tapi sekarang nomornya justru tidak aktif.
Ke mana lelaki itu? Sangat jarang sekali Alfa tidak menghubunginya. Walau sebatas mengganggunya lewat pesan, Alfa tidak pernah absen menghubungi nomornya. Giliran Kerin memiliki inisiatif menelpon lebih dulu, Alfa seolah jual mahal.
Eh?
Kerin jadi uring-uringan. Di belakangnya, muncul sosok Langen. Kedua pasang mata Langen tidak berhenti memerhatikan gerak-gerik Kerin. Kenapa, sih? Kok, kayaknya Kerin seperti orang gelisah?
"DOR!"
Nyaris saja Langen mendapat u*****n dari Kerin. Ya iyalah. Ponsel Kerin hampir terbang ke udara kalau Kerin tidak buru-buru menggenggamnya erat di tangan.
Langen bersedekap. Sepenuhnya masuk ke dalam ruang pantry. Ia tadinya ingin membuat kopi. Tapi saat sampai di sana, ia justru melihat Kerin seperti orang bingung.
"Sialan lo, La!" Langen tidak bisa menghindari u*****n Kerin.
Langen cuma tertawa. "Ya lo sih. Gue udah dari tadi di belakang lo, dan lo nggak sadar juga?" Langen menggelengkan kepala sambil berdecak. "Lagian lo lagi mikirin apaan sih?"
"Gue lagi telepon Alfa," jawab Kerin.
"Hah? Nggak salah denger gue, La?" Langen balik bertanya.
Semenjak kapan Kerin mau menghubungi nomor Alfa lebih dulu? Kerin pernah bercerita kepada Langen bahwa Kerin merasa risi karena terus diikuti Alfa ke mana-mana.
Kerin dan Langen bersependapat bahwa Alfa sangat misterius. Apa pun tentang Kerin, Alfa tahu. Keberadaan Alfa seperti tiba-tiba, lalu mulai mengggangggu kehidupan Kerin yang—sudah kacau dari sebelum Alfa muncul dalam hidupnya.
Alfa datang tiba-tiba lalu mencium pipinya. Tahu-tahu muncul saat Kerin mulai lelah menghadapi sikap Alvo yang semena-mena. Walau mengaku risi, harus Kerin akui, kalau Alfa sering menyelamatkan hidupnya. Termasuk di depan Alfa.
Jika dipikir lagi, apa jadinya jika Alfa tidak muncul saat Kerin meminta berhenti menjadi tunangan pura-pura Alvo siang itu? Kerin pasti akan kalah berdebat, lantas pada akhirnya akan tetap berada di samping lelaki itu—dalam batas waktu yang tidak ditentukan itu kapan.
Dari pertama ia sepakat menjadi tunangan pura-pura Alvo, Kerin tidak mengetahui berapa lama waktu yang akan ia habiskan bersama Alvo. Berapa tahun kontrak mereka berakhir. Semua tidak disebutkan kecuali poin-poin yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan Kerin selama menjadi tunangan Alvo.
Bukan pertama kali saja Kerin ingin mengakhiri. Bukan berarti Kerin tidak menyadari bahwa dirinya memang dimanfaatkan Alvo demi kepentingan lelaki itu sendiri. Kerin menyadarinya. Seberapa banyak waktu Kerin terbuang sia-sia karena lelaki itu. Kerin hanya sedang dibutakan oleh pesona Alvo, serta cintanya kepada Alvo.
Sebelum ada Alfa, Langen sudah lebih dulu mengingatkan Kerin tentang Alfa. Masa bodoh Alvo itu temannya Lando. Langen sayang kepada Kerin. Maka dari itu Langen meminta Kerin untuk berhenti menyukai Alvo. Alvo itu jahat! Lelaki yang tidak memiliki perasaan! Enak sekali Alvo berniat menjadikan Kerin tumbalnya terus menerus demi kepentingan sendiri?
"Kemaren gue minta dianter sama Alfa ke rumahnya Bu Ratna," adu Kerin.
Ia memutuskan untuk bercerita kepada Langen. Kerin hanya tidak mau Langen jadi berpikir yang tidak-tidak tentang ia dan Alfa. Kerin berani bilang sumpah ia dan Alfa tidak memiliki hubungan apa pun selain berteman.
Langen mengerjapkan mata. Kerin selesai bercerita dan reaksi Langen adalah takjub. Dari segi penampilan, Alfa memang terlihat seperti lelaki urakan. Tapi Langen tidak menyangka bahwa Alfa akan rela hujan-hujanan demi Kerin. Membiarkan jas hujan hijaunya untuk Kerin kenakan—padahal Alfa sendiri pasti kedinginan.
Apalagi jarak dari rumah Bu Ratna menuju ke kosannya Kerin itu jauh. Astaga.
"Gue nggak ngira Alfa jentle banget ternyata." Langen menunjukkan reaksi berlebih. "Beda banget sama Alvo yang apa-apa pasti mikirin diri sendiri."
Membahas Alvo, Kerin jadi teringat nomornya yang diblokir lelaki itu.
"Nomor gue diblokir sama dia," beritahu Kerin.
"Dia siapa? Alfa?" tanya Langen.
"Bukan!" Kerin meninggikan suara tanpa sadar.
Langen mengernyitkan dahinya bingung.
"Maksud gue, Alvo." Kerin segera mengkoreksinya.
Langen menunjukkan raut wajah yang sebal. "Nggak heran sih kalau itu..."
"Tapi aneh aja menurut gue, La," ujar Kerin. "Kalau aja dia bersikap kayak biasanya sebelum ada kejadian nomor gue diblokir, gue nggak heran sih. Tapi beberapa hari sebelumnya dia jadi baik banget sama gue. Dan asal lo tahu aja, setelah dia ditolak sama Yasmin, kita pergi ke pantai berdua."
Kedua mata Langen langsung melotot. "Hah? Gimana? Alvo ditolak sama Yasmin?"
Obrolan kedua perempuan itu jadi lebih seru. Apalagi Langen. Ia merasa ikut puas mendengar Alvo ditolak Yasmin. Dalam hati Langen tertawa terbahak, mengejek Alvo habis-habisan karena ditolak perempuan yang sangat diharapkan Alvo untuk bisa kembali bersama.
"Mampus." Langen tidak bisa menahan lagi. "Sok ganteng banget selama ini kan! Dia kira nggak ada cewek yang bakal nolak dia apa?" Langen tertawa, tidak bisa mengontrol suara tawanya yang mungkin saja bisa didengar dari luar pantry.
"Gue pikir.... Yasmin bakal terima Alvo lagi. Nggak tahunya, kepulangan Yasmin ke Indonesia bukan buat ngajak Alvo balikan, tapi justru mau anter undangan pertunangan dia sama cowok lain."
"HAHAHA!" Langen tertawa puas.
Sampai hari ini Langen menaruh dendam kepada Alvo. Lelaki menyebalkan, sok ganteng, sok ikut campur urusan temannya sendiri.
Kalian masih ingat kejadian waktu itu, kan? Saat Langen menjenguk Lando di rumahnya? Masa, Alvo tidak mengizinkan Langen untuk ketemu Lando. Kan, lucu. Memangnya Alvo siapanya Lando? Orang tua atau kerabat? Hubungan mereka hanya sebatas teman. Jadi Alvo tidak memiliki hak melarang Langen!
"La!" tegur Kerin membungkam bibir Langen. Tertawanya berlebihan sekali.
Langen mendorong tangan Kerin. "Apa sih? Gue lagi bahagia nih. Gue jadi pengen tahu gimana malunya dia! Udah percaya diri banget bakal diterima. Eh, si mantan malah mau nikah!"
Kerin geleng-geleng.
"Lagian lo kenapa baik banget, sih? Pake ditemenin ke pantai. Terus, tahu-tahu nomor lo malah dia blokir! Alvo mulai ngelenong kayaknya."
Kerin mengangkat kedua bahunya. "Gue sampai hari ini aja heran. Setelah dia minta maaf juga, gue pikir gue sama dia baik-baik aja hubungannya. Eh, bukan berarti gue masih ngarep sama dia, ya. Nggak sama sekali!"
"Bagus!" Langen mengangkat dua Ibu jarinya. "Jangan mau sama cowok egois kayak Alvo! Muka aja yang cakep, ahlak nggak punya!"
***
Salah Kerin sendiri kenapa tidak mau mengenal Alfa lebih jauh. Saat Kerin khawatir seperti sekarang karena Alfa tidak kunjung mengangkat telepon atau membalas pesannya, Kerin jadi panik sendiri. Ia tidak tahu di mana tempat tinggal Alfa, di mana Alfa bekerja. Yang Kerin tahu, Alfa bekerja di sebuah kafe.
"Tapi, Ke, kafe di Jakarta tuh banyak ya! Tolong jangan buat gue naik darah," omel Langen ketika diminta menemani Kerin pergi mengunjungi beberapa kafe.
"Nggak ada salahnya dicoba, La," kata Kerin tidak berhenti berusaha.
"Ke." Langen memanggil Kerin. "Gue berhenti jadi temen lo, deh, seriusan. Gue nggak sanggup kalau diminta masuk dari satu ke satu kafe buat cari tahu di situ ada pekerjanya yang namanya Alfa atau nggak." Langen mencerocos. "Bukan maksud gue nggak mau bantuin. Tapi ya, bayangin doang masuk ke kafe-kafe Jakarta cuma buat cari tahu yang namanya Alfa."
Langen mengelus dadaa. Kerin ini ada-ada saja rupanya. Suruh siapa Kerin tidak mau bertanya tentang Alfa saat lelaki itu saat mereka sedang bersama? Lagi pula Kerin harusnya tidak khawatir. Bisa saja baterai ponselnya Alfa sedang lowbat. Atau paket datanya habis dan belum sempat beli karena sibuk. Kerin berpikirkanya terlalu jauh.
"Tunggu sampai Alfa hubungin lo dulu." Langen memberi ide. "Kalau sampai besok dia masih nggak bisa dihubungi, ya udah, gue bantu lo cari dia di mana."
Kerin menggigit bawah bibirnya gelisah. Sampai besok ya? Kerin tidak berhenti memikirkan Alfa sejak semalam. Melihat lelaki itu menahan dingin di tubuh karena jas hujannya ia kenakan, Kerin merasa bersalah. Sangat. Alfa sebaik itu padanya. Tetapi Kerin baru menhadarinya sekarang.
"Alfa bakal baik-baik aja kali." Langen mencoba menenangkan temannya. "Kelihatan kalau dia orangnya kuat. Kalau pun sakit karena kehujanan, paling ya demam doang."
Kerin bergumam, "Dia juga bilang gitu sih..."
"Nah, kan!" seru Langen menjentikkan jarinya. "Santai aja, Ke. Gue yakin Alfa pasti telepon lo balik kok."
Ya. Semoga saja begitu.
Kalau sampai Alfa tidak kunjung menelponnya, bisa-bia Kerin tidak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah.
***
Alvo banyak diam dan hanya memandangi ponsel. Dua hari yang lalu ia mengambil keputusan—yang menurutnya sangat kekanakan. Yaitu memblokir nomor Kerin. Padahal Kerin tidak mencoba menghubunginya setelah hubungan mereka berakhir. Atau Alvo saja yang terlalu percaya diri kalau suatu hari Kerin akan mengganggunya seperti dulu saat mereka masih bersama?
Diamnya Alvo menarik perhatian keluarganya. Khususnya keluarga Om-nya Alvo yang hari ini datang berkunjung. Hanya untuk makan malam bersama saja. Keluarga mereka sudah jarang bersama dikarenakan memiliki kesibukan satu sama lain.
Lania, sepupu Alvo, telah mendengar kalau Kakak sepupunya baru saja putus dari tunangannya. Lania menyayangkannya. Padahal Alvo dan Kerin adalah pasangan serasi. Tapi yang lebih membuat Lania kecewa, kenapa Kerin justru memiliki pacar lagi bahkan sebelum resmi putus dari Kakak sepupunya?
Lania terus memerhatikan Alvo selama makan malam berlangsung. Orang tua Lania, juga orang tua Alvo saling mengobrol satu lain sesekali bercanda. Lania juga menanggapinya. Akan tetapi, Alvo malah diam dan terus menatap ke layar ponselnya.
Ia jadi kesal pada Kerin. Sayang saja Lania belum bertemu dengan perempuan itu. Kalau nanti Lania bertemu, Lania akan memberi perhitungan kepada Kerin!
Orang pacaran, tunangan, tidak masalah jika memang ingin putus. Mungkin sudah tidak ada kecocokan lagi. Yang menikah puluhan tahun saja bisa bubaran. Apalagi Kerin dan Alvo. Cuma, kenapa tidak menunggu sampai benar-benar putus saja? Bahkan Tante Amara, mamanya Alvo mengatakan Kerin mengajak pacarnya kemari untuk mengantar Kerin yang diundang untuk makan malam bersama.
Cih! Astaga! Kerin perempuan tidak tahu malu! Bagaimana bisa Kerin mengajaknya pacarnya kemari? Kalau ada Lania di sana, Lania akan mengusir dua-duanya. Lagi pula tantenya ini aneh sekali. Sudah tahu anaknya diselingkuhi, kenapa malah membela Kerin, sih?
"Lho, Vo," tegur Amara saat Alvo hendak beranjak dari kursi. "Kamu mau ke mana? Makanan kamu belum habis."
Alvo tetap beranjak dari kursi bersiap pergi. "Aku udah kenyang, Ma," jawabnya lesu. "Om dan Tante, aku tinggal duluan nggak apa-apa ya? Aku harus ngerjain pekerjaan yang belum selesai."
Om-nya mengangguk, memaklumi keponakannya. "Iya, Vo. Silakan."
Lania melirik Alvo. "Kak, aku boleh ikut ke ruang kerja Kakak, nggak?"
Alvo melihat tangannya dipegangi Lania. Tatapannya seolah berharap. "Kamu mau ngapain?"
"Aku nggak akan ganggu Kak Alvo, seriusan!" Lania tersenyum lebar sembari menunjukkan dua jarinya yang membentuk huruf V.
"Ya udah." Alvo melepaskan tangan Lania.
Lania benar-benar berdiri dari tempat duduknya. "Ma, Pa, Om dan Tante, aku ikut Kak Alvo ke ruang kerjanya, ya."
Para orang tua hanya mengangguk mengiakan Lania yang ingin ikut ke ruang kerja Alvo. Lania dan Alvo adalah dua orang yang sifatnya sangat beda jauh. Alvo yang lebih pendiam, dan Lania yang cerewet.
"Dari dulu Lania suka ngikut Alvo ke mana-mana ya." Wina, ibunya Lania menatap ke arah tangga. Di situ Lania menyusul langkah Alvo dari belakang.
Diam-diam Amara memerhatikan interaksi keduanya. Alvo sama seperti biasanya. Tidak banyak bicara. Dan Lania, sepertinya tidak mau ambil pusing walaupun Alvo kurang baik memperlakukannya.
Amara menarik napas panjang tanpa kentara. Apa Alvo akan selamanya seperti itu? Kemarin sudah menyia-nyiakan Kerin dan mendadak berubah lebih diam. Sekarang, memperlakukan sepupunya sendiri juga tidak terlalu baik.
Atau... Amara carikan saja perempuan yang bisa dijodohkan dengan Alvo? Tapi, siapa perempuannya?
***
"Aku denger... alasan Kak Kerin minta putus karena punya pacar lagi ya, Kak?"
Seketika konsentrasi Alvo buyar. Pertanyaan Lania kembali mengingatkannya dengan Kerin dan Alfa.
"Kak Alvo nggak marah?" tanya Lania.
"Marah kenapa?" Alvo bertanya kembali, namun tanpa rasa emosi.
"Karena Kak Kerin selingkuh-lah!" jawab Lania.
Alvo mengepalkan tangan. Entah kenapa ia marah karena Kerin disebut selingkuh darinya.
Alvo menahan diri sebisa mungkin. Biarlah menjadi rahasia antara ia dan Kerin—bahwa selama ini mereka hanya pura-pura. Tapi mendengar Lania, atau bahkan kedua orang tua Lania mengira Kerin sungguhan selingkuh, padahal sebenarnya tidak, Alvo merasa tidak rela. Karena Alvo yang egois, Kerin jadi disalahkan.
Tidak ada yang selingkuh. Karena baik Kerin dan Alvo belum pernah memulai hubungan yang sebenarnya.
"Jangan sok tahu." Alvo menegur Lania.
"Aku nggak sok tahu, kok! Tadi aku nggak sengaja denger Mama sama Papa ngobrol soal Kak Alvo yang putus sama Kak Kerin," jawab Lania. "Jadi, Kak Kerin alasan Kak Alvo berubah jadi pendiam?"
"Dari dulu aku pendiam. Bukannya semua orang di keluarga kita bilang begitu?"
Lania menggelengkan kepalanya. "Tapi diamnya yang sekarang beda. Kak Alvo juga sering melamun. Aku jadi penasaran seberapa sukanya Kak Alvo sama Kak Kerin? Kak Alvo kelihatan kayak kehilangan banget."
Alvo mendadak bungkam. Apa ia terlihat begitu menyukai Kerin selama ini? Tidak. Alvo tidak merasa begitu. Kalau Alvo jadi lebih diam, itu karena Alvo sedang lelah saja.
***
Kalau bukan karena Kerin temannya, Kangen ogah harus masuk dari satu kafe ke kafe lainnya cuma untuk mencari Alfa.
Sudah lewat dua hari Alfa tiba-tiba menghilang. Semua yang berhubungan tentang lelaki itu seolah sulit dicari tahu. Kerin tidak tahu apa-apa tentang Alfa selain nomor teleponnya saja. Di mana rumahnya, siapa nama orang tuanya, atau siapa saja temannya. Kerin sungguhan tidak tahu. Sejak pertama bertemu, Alfa tidak pernah menceritakan apa pun tentang dirinya sendiri.
Langen dan Kerin duduk di salah satu kursi kafe. Mereka mencari tempat duduk paling ujung. Keduanya kompak celingukkan. Memandangi dari satu per satu pelayan kafe yang seliweran.
"Lo ada lihat nggak, La?" tanya Kerin masih menoleh ke sana kemari.
"Nggak ada, eh—anjir!" umpat Langen nyaris berdiri dari tempat duduknya.
Perhatian Kerin terbagi menjadi dua. Karena Langen yang tiba-tiba teriak, otomatis Kerin menoleh ke sumber suara. Oh, bukan. Lebih tepatnya ke mana kedua mata Langen memandang sehingga perempuan itu sangat terkejut.
Kerin sama terkejutnya seperti Langen. Kerin duduk berhadapan dengan Langen, sementara Kerin memunggungi pintu masuk kafe.
Coba tebak, apa yang membuat Langen dan Kerin terkejut.
Ya, Lando dan teman-temannya.
Ada Natan, Deon, dan Alvo.
"Kita sapa jangan, Ke?" tanya Langen panik.
"Pura-pura nggak lihat aja." Kerin mendorong pipi Langen agar menghadap ke arahnya.
"Kalau mereka lihat, terus.... kita nggak nyapa? Ntar salah paham lagi." Langen menunduk, diam-diam mengaduh.
Langen belum siap bertemu Lando lagi setelah ia mengatakan dengan jujur perasaannya kepada mamanya. Langen malu. Langen gengsi untuk mengakuui bahwa dirinya merasa kehilangan Lando. Kalau saja waktu bisa diputar, atau setidaknya memiliki keberanian lebih, Langen ingin mengatakan kalau ia menyukai Lando.
"Masih lama nggak sih, Ke?" Langen bertanya masih sambil menunduk, ia menyambar buku menu menutupi setengah wajahnya. "Keburu mereka lihat ntar!"
Kerin tampak santai, sepertinya tidak merasa terganggu sama sekali. Fokusnya Kerin hanya pada pelayan kafe yang ada di meja bar, lalu pada yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Tanpa sadar, Alvo bukanlah prioritas Kerin lagi....
Diam-diam Alvo memerhatikan Kerin yang berada di meja paling ujung sana. Kerin sibuk sendiri seolah sedang mencari seseorang. Alvo meluruskan pandangan, tidak mendengar apa pun yang dibicarakan teman-temannya.
Apa yang sedang dicari Kerin? Boleh tidak, Alvo berharap Kerin menatap ke arahnya sebentar saja?
Harapan yang Alvo inginkan dalam hatinya tercapai. Kerin tahu-tahu menengok ke arahnya. Alvo merasa ada harapan untuk menyapa walau sebatas senyum tipis. Tapi, apa yang dilakukan Kerin selanjutnya justru membuat Alvo merasakan kecewa yang luar biasa.
Kerin terlihat biasa saja, bahkan cenderung tidak peduli.
"Vo!" seru Natan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alvo.
Lamunan Alvo buyar. "Apa?" tanyanya sebal.
Natan mengikuti ke arah di mana Alvo memandangi seseorang. Seketika, Natan menendang kaki Lando. Dagu Natan bergerak, menunjuk dua orang perempuan dan—seorang lelaki di samping meja mereka.
Seketika Lando merasa cemburu. Entah siapa lelaki yang bersama Langen dan Kerin sekarang.
"Kayaknya itu cowok ngajak kenalan," gumam Deon sembari menunjuk Langen dan Kerin.
"Siapa?" tanya Alvo dan Lando bersamaan.
"Dilihat ke mana itu cowok ngasih HP-nya, kayaknya sih.... Langen." Deon menatap Lando sebentar. "Bener itu Langen, kan, Ndo? Mantan tunangan lo?"
Lando menelan ludah susah payah. Seketika ia tidak terima ada lelaki yang mendekati Langen. Tapi, kan.... mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Apa Lando masih berhak cemburu? Lando yakin, Langen akan sangat membencinya jika Lando menghampiri keduanya lantas membuat keributan di sini.
"Eh, iya!" seru Natan, seolah mengompori keadaan.
Langen menerima ponsel lelaki itu dan terlihat mengetik sesuatu. Lando mengepalkan kelima jarinya, menahan sesak lebih dari tiga detik, lantas, Lando beranjak dari kursi hendak menghampiri meja Langen.
"Kalian kompor banget ya." Alvo menunjukkan wajah datar. "Udah tahu Lando sayang banget sama Langen. Malah kalian komporin!"
Natan mengibaskan tangannya ke udara. "Halah! Paling lo juga nahan sebel, kan?" tunjuknya ke hidung Alvo. "Dari tadi lo lihatin Kerin sampai mata lo hampir keluar!"
Malas berdebat dengan Natan, tidak akan ada habisnya. Setiap kali Alvo menimpali, maka Natan akan menimpali terus dan terus karena tidak mau kalah. Dan Alvo malas mengalah.
"Eh, Vo! Mau ke mana?" teriak Natan, sengaja meninggikan suaranya.
Dasar Natan sialan!
Awas saja, Alvo akan membalasnya nanti.