Keributan di Kafe

4052 Kata
Sontak, Langen mendongakkan kepalanya. Aroma parfum khas milik Lando tercium dari tempat duduknya. Dan benar saja, begitu kepalanya bergerak ke atas, wajah Lando-lah yang menyambut kedua matanya. Seketika Langen merasa panas dingin. Ponsel milik seorang lelaki yang mendatangi mejanya untuk mengajak berkenalan, jadi jatuh ke atas mejanya. Sepersetik Langen terbengong. Tapi setelahnya tersentak, akibat Lando membuka suaranya. Mengusir lelaki tadi dengan mengatakan bahwa Lando adalah calon suaminya. "Oh, maaf. Saya kira...," gumam lelaki itu salah tingkah. Ia menyambar ponsel dari atas meja. "Saya kira Mbak-nya belum ada pasangan." Alvo menyusul Lando. Ia sangat berharap Kerin mengarahkan pandangannya walau hanya beberapa detik saja. Kerin seolah tidak peduli lagi. Seakan Alvo adalah mahluk tak kasat mata. "Ayo." Lando menyambar tangan Langen sampai perempuan itu berdiri. "Eh! Apaan, sih?" protes Langen melihat tangannya dipegangi Lando. "Cowok tadi mau ngapain?" tanya Lando kesal. "Ngapain ya?" gumam Langen sengaja memancing kekesalan Lando. Seingat Langen, Lando tipikal lelaki yang tenang, tetapi juga cemburuan. Langen yakin sekarang Lando sedang kesal setengah mati setelah melihat seorang lelaki mendatangi mejanya, lantas menyodorkan ponsel sembari mengatakan bahwa lelaki tadi ingin mengajak Langen berkenalan. Jelas Lando tidak terima! Mudah sekali Langen memberikan nomornya kepada lelaki tadi! Saat bicara dengannya dulu, Langen selalu ketus, kata-katanya pedas, giliran pada lelaki tadi, Langen sangat ramah. Padahal lelaki tadi tidak mungkin tidak memiliki maksud tertentu. "Aku serius, La. Cowok tadi mau ngapain?" tanya Lando lebih sabar. "Serius?" Langen bersedekap. "Kalau serius, lo nggak bakal ninggalin gue. Putusin gue tiba-tiba banget berunding sama gue dulu!" teriak Langen menunjuk d**a Lando. Kerin sampai bengong. Begitu pun Natan di belakang Alvo yang baru menyusul. Langen menyadari jika baru saja dirinya keceplosan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Langen memejamkan mata, menarik napas perlahan, kemudian membuka kedua matanya. Menatap sosok Lando yang berdiri di sampingnya persis. "Apa?" bentak Langen, lebih tepatnya menutupi rasa gengsinya yang terlalu tinggi sampai kesulitan turun lagi. "Gue salah ngomong, nggak? Tan," tunjuknya ke Natan. Sontak saja semua orang di sana menatap Natan, seolah Natan tertangkap basah melakukan sebuah kejahatan. Natan mendelik, lantas bertanya, "Apa? Kok, jadi nunjuk gue, lo, La?" "Lo kan paling ceplas-ceplos di sini. Gue barusan salah bilang gitu nggak menurut lo?" tanya Langen sambil berkacak pinggang. "Yang mana, La?" Natan balas bertanya. Sialan. Sepertinya bukan hanya Alvo yang menaruh dendam kepada Natan. Tetapi juga Langen yang geram setengah mati sekarang! Bisa-bisanya Natan masih bertanya. Langen kan jadi mengulang lagi! Langen mengangkat dagu, sibuk menenangkan jantungnya karena ditatap terus-terusan sama Lando. "Dia bilang dia serius." Langen menunjuk ke Lando. "Kalau temen lo ini serius, kenapa tiba-tiba putusin gue tanpa bilang-bilang dulu?" Aduh. Natan menyesal karena malah menyusul Lando ke meja Langen. Kalau ditanya begitu, padahal sudah jelas konteks 'serius' yang dimaksud Lando kan beda sama seriusnya Lando ke Langen—dulu. Dan Natan sampai sekarang. Tapi, kan.... Langen sedang emosi. Natan salah bicara sedikit saja, ia bisa kena omel juga. Apalagi Lando, kan, teman baiknya sejak kuliah. "Jawab, Tan," bisik Kerin menyenggol lengan temannya. "Kok jadi gue, Ke?" balas Natan berbisik ke Kerin. "Mereka yang putus, kenapa kita jadi ikut repot." "Kita?" Kerin menarik dirinya. "Lo aja kali. Gue nggak merasa tuh!" "Minta dihujat banget lo, Keket!" ejek Natan. "Ekhem!" Seseorang berdeham, menatap keduanya dengan tidak suka. Yang satu mantan pasangannya, satunya temannya sendiri. Apa Natan bermaksud menggaet Kerin setelah ini? Siapa tahu Natan sungguhan lelah sama Ola yang bar-bar. Eh, Kerin juga bar-bar, lho. Jangan salah kalian. "Bapak mantan mending diem, ya. Nggak ada alasan untuk cemburu. Kerin belum jadi hak milik siapa-siapa." Natan mengomeli Alvo, orang yang berdeham keras di belakangnya tadi. Deon tersentak, tahu-tahu tangannya ditarik sama Natan sampai berdiri di samping Kerin. Kerin tidak kalah terkejut saat lengan Deon menabrak lengannya. Natan menunjuk keduanya, sengaja memang. Supaya Alvo membuka matanya selebar mungkin. Kalau, ALVO SUDAH TIDAK BERHAK CEMBURU! Terserah Kerin mau dekat dengan siapa pun dong! Gitu aja kok repot banget! "Nah, mending sama Deon aja, Ke!" seru Natan. Masalah terbagi menjadi dua karena Natan. Pokoknya semuanya karena Natan! Lho, iya dong. Coba saja Natan tidak memberitahu Lando kalau di kafe ini juga ada Langen, pasti Lando tidak akan membuat keributan dengan mengusir lelaki tadi. Terus, siapa yang duluan berbisik ke telinga Kerin? Ya Natan. Makanya Alvo kesal setengah mati. Tapi sama Natan bukannya mendinginkan hati yang terlanjur panas, Natan justru membuat suasana menjadi lebih panas lagi. Astaga. "Nggak apa-apa kan sama mantannya temen, Yon? Lagian Kerin baik, kok. Sabar banget. Cocok sama lo yang jarang ngomong banyak." Natan mempromosikan Kerin dengan penuh semangat. "Ke, gimana? Mau nggak kalau sama Deon? Lebih cakep dari Alvo. Mapannya sama, bahkan ahlak-nya lebih baik." Bagaimana, sih?! Tadinya mereka kan fokusnya ke Langen sama Lando. Tapi sekarang malah menjadi ajang promosi. Langen melirik Alvo. Ngeri sekali melihat ekspresinya sekarang. Eh, tapi, Alvo kan tidak suka sama Kerin. Jadi, tidak mungkin Alvo sedang cemburu, kan? Kalau Alvo sungguhan cemburu, kayaknya Langen mau bikin tumpeng saja. "Apa sih lo, Tan," ujar Kerin risi. Langen ikut-ikutan risi. "Eh, setan!" seru Langen menunjuk Natan. "Kerin udah sama Alfa. Dia ke sini aja buat cari Alfa, kok! Kenapa malah lo jodohin sama temen kalian?" Alvo menelisik ke mata Kerin. Memang iya Kerin pacaran sama Alfa? Tidak. Bukannya Alfa bilang sendiri kalau lelaki itu hanya berteman dengan Kerin? Bahkan Alfa sempat menawarkan bantuan untuk mendekati perempuan itu secara sukarela. Langen menyambar tasnya di atas meja, kemudian, menarik tangan Kerin melewati gerombolan empat lelaki di sekitar meja mereka. "La," panggil Lando, berakhir lesu karena Langen mengabaikannya. "Apa?!" Langen menengok, ekspresinya kelewat judes. "Eh, anjir, judes banget mantan lo, Ndo!" ejek Natan sambil tertawa. "Ngomong sama kalian cuma bikin tensi darah gue naik doang!" cerocos Langen. "Ya bagus, La. Siapa tahu lo ada riwayat darah rendah," balas Natan cengengesan. "Adanya riwayat darah tinggi, bodoh!" umpat Langen mulai hilang kesabaran. Sedangkan Alvo hanya bisa melihat ke arah Kerin, tapi Kerin sama sekali tidak membalasnya. Kerin berubah. Apa karena Alfa? Atau kenapa? "Udah ah! Gue sama Kerin mau balik aja!" Langen mengapit lengan Kerin. "Lain kali kalau kalian lihat kita ada di tempat yang sama, mending pura-pura nggak kenal aja! Daripada kayak gini. Nyapa nggak, malah bikin keributan!" "Dih, padahal dia yang bikin ribut. Suaranya siapa yang nyaring sampai ke tempat parkir?" gerutu Natan. "Tunggu, Ke." Sebuah kejutan. Setelah tingkah Langen yang membingungkan. Kini Alvo hampir bertindak sama. Cuma Deon yang tidak tahu menahu sejarah tentang Alvo dan Kerin. "Gue pengin tanya," gumam Alvo, maju beberapa langkah mendekati Kerin. Walau tetap berjarak, tetap terasa dekat. Alvo bahkan bisa melihat ekspresi yang ditunjukkan Kerin biasa-biasa saja. Cenderung enggak menatap Alvo. "Sama. Ada yang mau gue tanya juga," balas Kerin. Alvo mengangguk sepintas. Kepalanya menunduk sekitar dua detik. "Hubungan lo sama Alfa apa sebenernya? Terakhir kali Alfa bilang ke gue, dia nggak punya hubungan apa-apa selain temenan sama lo." Kerin tersenyum tipis. "Emang cuma temen." "Terus, ngapain lo cari dia sampai ke sini? Apa ini tempat kerja dia?" tanya Alvo. "Bukan urusan lo. Lagian sejak kapan lo suka kepo sama urusan orang? Mending urus diri lo sendiri." Beda dari perdebatan Lando, Langen dan Natan tadi, ketika fokus mereka berpindah ke Alvo dan Kerin sepenuhnya, suasana berubah terlalu canggung. Hanya ada ketegangan padahal Alvo dan Kerin menggunakan intonasi pelan dan tampak santai. Kerin rasa sudah cukup ngobrol dan bertatap muka dengan Alvo. Kedatangannya kemari untuk mencari Alfa. Bukan mencari masalah pada Alvo. Ia rasa tidak memiliki urusan denga Alvo lagi. "Ke." Alvo memanggil lagi tepat saat Kerin membalikkan badan, berjalan ke arah pintu keluar kafe bersama Langen. Kerin berhenti, namun tidak menoleh. "Lo mau tanya apa sama gue?" tanya Alvo. Kerin tersenyum tipis. Ia menengok ke belakang hanya beberapa detik. "Nggak jadi. Gue nggak mau ikut-ikutan bertindak kayak anak kecil. Toh, lo udah nggak penting lagi buat gue." "Anjir," umpat Natan sambil menggeleng. Lando dan Deon mengapit Natan. "Mulut lo bisa diem, nggak?" Natan tidak peduli walau mendapat peringatan. "Alvo kena karma," bisik Natan pada dua temannya. "Kalau gue jadi Alvo, pasti gue tengsin banget." Alvo mengepalkan kelima jarinya menahan kesal. Kerin memperlakukannya dengan begitu kejam. Kerin tidak lantas menoleh, menjawab sambil membelakangi Alvo. "Yuk, pulang, Vo." Natan ingin menghibur temannya. Namun, Alvo malah pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Ia terlalu kesal. Ini pertama kalinya Alvo diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Terlebih perempuan itu adalah Kerin. "Vo! Oi!" seru Natan. *** Kata Alvo, Alfa mengatakan hubungan mereka hanya sebatas teman saja. Deg! Kerin terus saja melangkah sambil digandeng oleh Langen. Pikirannya jauh melayang. Bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Kenapa ia merasa kecewa setelah tahu Alfa hanya menganggapnya sebagai teman? Lalu..., apa maksud Alfa yang pernah mengklaim dirinya sebagai masa depan saat Kerin bicara dengan Alvo waktu itu? "Ke! Hati-hati dong." Langen menegur Kerin yang hampir tersandung. Beruntung Langen segera menarik tangan Kerin. Jadi tidak hampir jatuh. Kerin mirip orang linglung. Padahal yang linglung tadi dirinya setelah bertemu Lando. "Kita cari tempat duduk sambil gue pesanin taksi online, ya." Langen mendudukan Kerin ke sebuah kursi panjang. Sambil menunggu Langen selesai memesan taksi online, Kerin duduk dan berusaha menenangkan hatinya. Bisa-bisanya ia merasa kecewa hanya karena dianggap sebagai teman oleh Alfa. Kan aneh. Mereka memang berteman—setidaknya Kerin menganggap begitu, karena sebelumnya ia merasa risi karena diikuti Alfa ke sana kemari. Tahu-tahu datang ke kosannya sambil membawa makanannya. Atau, tiba-tiba datang ke kantornya hanya untuk mengajaknya makan siang bersama. Kalau Alfa nanti muncul, apa Kerin perlu tanya? Ah, tidak. Kerin tanpa sadar menggeleng. Ia rasa ia tidak perlu. Ia mulai nyaman berada di samping Alfa. Jadi, memiliki hubungan sebagai teman saja sudah cukup. "Bentar lagi nyampek taksi online-nya, Ke." Langen memasukkan ponsel ke dalam tas dan duduk di samping Kerin. "Gila, ya. Udah cuaca panas banget. Yang di dalam sana bikin gue naik darah!" omelnya. "Harusnya tadi kita langsung pergi aja," gumam Kerin. "Kenapa? Tadi lo nyuruh gue buat biasa aja. Oh, pasti karena ada Alvo tadi ya?" Bukan. Kerin ingin menjawab seperti itu. Yang membuat Kerin terganggu bukan Alvo malah. Tapi kata-kata Alvo tadi tentang Alfa. Seharusnya Kerin tidak perlu mendengar daripada menjadi pikiran. "Iya." Merasa ingin menutup obrolannya siang itu, Kerin mengiakan pertanyaan Langen. "Bener. Lain kali kita langsung pergi aja kalau ketemu mereka!" seru Langen menggebu-gebu. Tidak lama, tepat setelah keduanya mengakhiri obrolan tentang pertemuannya dengan Lando dan Alvo di kafe tadi, taksi online yang dipesan Langen sudah datang. Langen menggandeng Kerin dan masuk ke dalam mobil secara bergantian. *** Di kosan, Kerin melihat salah satu temannya menangi di ruang tamu sambil di kelilingi teman-teman kosan yang lain. Kerin ikut bergabung saja. Bosan di kamar sendirian. Menjelajahi internet, menonton dan mendengarkan lagu sudah Kerin lakukan. Tapi tetap saja rasanya jenuh sekali. Daripada Kerin tidak jelas dan malah melamun, Kerin memutuskan untuk keluar kamar saja. Saat berada di luar, Kerin malah disambut dengan tangisan teman kosannya. Entah karena masalah apa. Nama teman kosannya yang satu ini, Debi. Orangnya cantik, tubuhnya mungil, imut-imut gitulah pokoknya. Yang Kerin tahu dari Manda, Debi sering curhat masalah lelaki. Katanya, Debi sering dimanfaatkan. Diajak teleponan sampai subuh, kadang sampai tidak tidur padahal ada shift pagi, tetap saja Debi ladenin. Eh, tahu-tahu lelakinya pacaran sama perempuan lain. Tidak hanya sekali Debi diperlakukan begitu oleh satu lelaki. Tapi hingga beberapa kali. Penghuni kosan sudah sering memberitahu supaya tidak terlalu menaruh harapan ke seseorang. Terlebih itu lelaki. Karena kalau sudah dibuat kecewa, lama sembuhnya. "Lo, sih...." Debora memaksa duduk di satu sofa yang sama. Padahal selain ada Debi di tengah, juga ada Malika dan Chintya. "Bisa pindah nggak sih lo?" sungut Chintya. "Sofa jadi sempit karena lo maksa duduk di sini!" "Gue maunya duduk di sini. Berisik banget sih, lo." Debora tidak mau mengalah padahal memang salah. Demi mengurangi kegaduhan—cukup suara tangis Debi saja yang membuat mereka semua pusing. Manda menarik Chintya, membuat isyarat lebih baik mengalah daripada nanti mereka adu mulut di kosan. "Nyebelin banget emang si Dora!" sungut Chintya masih tidak terima. "Yang waras ngalah, Chin," bisik Manda. "Iya, bener. Mending gue ngalah. Gue kan waras!" Chintya sengaja meninggikan suaranya. "Debi kenapa lagi? Soal cowok?" tanya Kerin. "Apa lagi, Ke?" sahut Manda. "Selain cowok, Debi nggak punya permasalahan hidup apa-apa." Kerin mengangguk tanda setuju. "Sama cowoknya kenapa lagi sekarang? Putus?" "Iya, putus." Manda menjawab. "Tapi parahnya, pacar Debi bawa motornya Debi pergi." Kerin sontak menengok. "Kok bisa?" Manda menaikkan kedua bahunya. "Gue nggak tahu juga. Nih anak polos campur bodohnya kebangetan menurut gue." "Lo udah telepon ke nomornya belum?" tanya Malika pada Debi. Debi menangis sambil membuang ingusnya. "Udahlah. Gue udah telepon sampai gue muak denger mbak-mbak customer service ngomong kalau nomornya nggak aktif! Gue disuruh hubungin nanti lagi! Sialan, gue di PHP-in sama mereka!" "Gimana sama alamat rumahnya, Deb?" Giliran Manda yang bertanya. Debi menjawab agak sesenggukkan. "Udah. Tapi ternyata itu bukan rumahnya." "Hah?" Kerin dan yang lain bengong. "Terus, rumah siapa dong, anjir!" seru Debora. "Nggak tahu. Katanya, sih.... dia numpang doang di situ." Debi sesenggukkan lagi. "Gue dibohongin sama dia! Gimana dong?" "Bentar." Kerin menginterupsi. "Rumah yang lo datengin rumah temennya, bukan? Kalau iya, kemungkinan aja temennya bisa ikutan bohong!" "Nah, iya! Gue setuju sama Kerin!" sahut Manda. Debi berhenti menangis. Matanya mengerjap-ngerjap. "Iya, ya... kenapa gue baru kepikiran." Debi bergumam sambil menggaruk kulit kepalanya. "Menurut lo, gimana caranya kita bisa tahu temennya bohong atau nggak, Ke?" tanya Malika sebagai perwakilan. Kerin diam. Ia sedang mencari cara agar bisa membantu Debi menemukan pacarnya itu. "Sini, gue bisikin kalian....," *** "Gue tadi ketemu sama tunangan lo." Ola diberitahu kalau Kakak sepupunya tadi bertemu dengan Natan—tunangannya. "Terus?" tanya Ola, cuek. "Gue cuma ngasih tahu doang." Langen menimpali sembari menuang air ke dalam gelasnya. "Oh." Ola menyahut, mulut penuh dengan kue kering yang dikunyahnya. Langen tidak perlu heran kenapa reaksi Ola biasa-biasa saja. Sama seperti dirinya. Ola dan Natan juga dijodohkan. Kalau Ola, sih... jelas tidak menyukai Natan. Kata Ola, Natan itu sok dingin, padahal sebenarnya sangat cerewet. Ola juga tidak suka karena Natan suka memaksanya untuk ikut ke segela kegiatan bersama teman-temannya—kalau keberadaannya saja tidak akan berfungsi apa-apa. Yang dilakukan Ola hanya menguap karena kebosanan dengan pembahasan Natan beserta teman-temannya. Kemudian, menghabiskan banyak makan, minuman, dan camilan. Beruntung, Natan tidak menegurnya karena menganggap dirinya memalukan. Ola itu apa adanya. Sama sekali tidak mengenal apa itu jaim. Apa yang diperlihatkan Ola kepada semua orang adalah murni tentang dirinya. Tidak sok baik, sok polos. Kalau bar-bar ya bar-bar saja. Itu kalau Ola. Ada pertanyaan Mama, "Kalau Natan suatu hari beneran ninggalin kamu karena nggak kuat sama tingkah kamu, La. Reaksi kamu kayak gimana?" Dijawab sama Ola. "Ya bagus, Tante! Berarti aku harus lebih menunjukkan kebar-baran aku supaya Natan cepat ilfeel, terus ninggalin aku." "Kamu nggak menyesal?" tanya Sandra lagi. "Justru aku menyesal karena terima perjodohan yang Papa buat." Ola menarik napas. Nada suaranya terdengar sedih. "Kalau bukan karena Papa, aku ogah mau tunangan sama Natan." Sebelumnya Langen tidak pernah mengenal Ola secara pribadi. Pertama, Langen tidak cocok dengan kepribadian Ola. Kedua, usia mereka memiliki jarak yang cukup jauh sehingga Langen menghindari percakapan dengan Ola. Saat ada acara keluarga, Langen lebih memilih ngobrol dengan sepupu yang lain. Sementara Ola, lebih suka menyendiri sambil menyibukkan diri bermain ponsel sampai bosan. Oh, dalam kamus Ola tidak ada kata bosan. Ketika pertama kali Ola dibawa kemari, Langen kurang setuju. Ia tidak akrab dengan Ola. Malahan Sandra berniat menempatkan kamar Ola di sebelah kamar Langen. Langen yang paham akan seberisik apa kamar Ola nantinya. "Tadi ada suatu kejadian, sih...." Entah kenapa, Langen ingin sekali menceritakan kejadian di kafe tadi. "Apa?" sahut Ola memutar kepalanya. Langen membawa gelasnya. Menarik salah satu kursi kosong di sana. "Kayaknya Alvo cemburu sama Natan." Ola memperlambat mengunyah makanannya. "Kak Alvo? Kenapa bisa cemburu sama Natan?" "Itu...," Langen meletakkan gelas di atas meja. "Natan bisik-bisik sama Kerin. Terus Alvo kayak cemburu gitu." Ola manggut-manggut. "Nggak heran, sih... kan, Kak Kerin mantannya." "Lo nggak cemburu juga?" pancing Langen. "Sama siapa? Natan? Dih! Mana peduli gue! Lagian Kak Kerin juga ogah kayaknya sama Natan!" jawab Ola, nge-gas. Karena ada yang lebih menyebalkan ketimbang mendengar Natan dan Kerin saling bisik-bisik. Bohong kalau Ola tidak kepikiran. Walau sekarang status Natan dan perempuan itu telah berubah sebagai Kakak beradik, Ola merasa Natan masih meletakkan harapan kepada Elise. Mantan pacar yang kini justru telah menjadi adik tiri Natan. Dengar-dengar, sih... katanya kedua orang tua Natan akan pulang ke Indonesia untuk liburan beberapa hari. Dan tentu saja, Elise akan ikut pulang. Otomatis Natan dan perempuan itu akan bertemu lagi. Ola menggeleng keras. Mengusir pikiran anehnya. Secinta apa pun Natan kepada Elise, begitu pun sebaliknya, tidak mungkin mereka berdua melakukan tindakan gila—dengan kembali sebagai pasangan seperti dulu, kan? Apa Natan dan Elise tidak takut membuat orang tua mereka menjadi sedih? Apa kata orang nanti? "Hei." Langen menegur Ola dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah perempuan itu. "Hah? Apaan?" Ola gelagapan, mengusap wajahnya agak cepat. "Lo lagi ngelamun? Mikirin apaan? Tumben banget," celetuk Langen heran. "Nah! Lo pasti kepikiran, kan?!" "Eh! Nggak!" seru Ola mengelak. "Gue lagi mikirin tugas. Jangan sok tahu deh, lo, Kak!" Langen tersenyum puas. "Halah! Kayak mahasiswa teladan aja lo. Selama ini kalau ada tugas kayaknya santai-santai aja. Biarpun lo agak..., urakan jadi cewek, tapi gue akuin otak lo lumayan encer. Gue lihat juga lo jarang belajar. Tapi nilai-nilai lo selama SMA, bagus-bagus aja tuh." Ola diam beberapa detik sebelum ia menanyakan, "Lo kenal temennya Kak Lando yang namanya Elise, nggak, sih?" "Elise?" gumam Langen sembari berpikir. "Itu kayak nama adiknya Natan, kan?" "Adik apaan!" sungut Ola sebal. "Iya, kan? Dulu sempat disebut-sebut waktu acara lamaran lo sama Natan." Ia baru sadar kenapa Elise tidak berusaha untuk datang ke acara lamarannya bersama Natan. Awalnya Ola menganggap karena adiknya Natan sungguhan sibuk. Jadi Ola tidak mau ambil pusing. Toh, Ola tidak memiliki harapan pada perjodohannya. Ia justru berdoa kepada Tuhan agar suatu hari perjodohannya dengan Natan tidak bertahan lama. Ola tidak pernah menyukai Natan. Bahkan sampai hari ini. "Elise tuh..., adik tirinya doang." Ola mencebikkan bibir. "Gue aja baru tahu. Selama ini Bang Lando sama Kak Alvo nggak pernah ngasih tahu. Pantes aja si Natan suka mendadak galau kalau ada yang nggak sengaja sebut namanya Elise. Oalah, ternyata karena mantan pacarnya sebelum jadi adik tiri!" Langen menangkap kekesalan. Dari ekspresi dan nada suara Ola saja sudah cukup membuktikan kalau Ola sedang cemburu soal Elise. Tapi sungguh. Langen tidak tahu menahu kalau Elise ternyata mantan pacarnya Natan. "Kayaknya, sih...," Ola memberi jeda beberapa detik. "Natan masih suka sama Elise." "Jangan suka bikin asumsi sendiri." Langen mengingatkan adik sepupunya agar tidak menyimpulkan sendirian tanpa bertanya lebih dulu. "Kelihatan kali!" sambar Ola. "Gue nggak bodoh banget sampai nggak bisa lihat mana orang yang masih suka sama udah move on." Langen tertawa mendengar celotehan Ola. "Lo jangan ketawa," protes Ola. "Diem-diem di belakang gue, Natan sama Elise masih sering teleponan." "Cuma tanya kabar kali. Lagian Elise kan tinggal sama orang tua mereka di luar negeri." Ola mengibaskan tangan. "Emang orang tua mereka nggak pegang HP juga? Papanya Natan itu pebisnis. Kayaknya nggak mungkin nggak punya HP. Nggak tahu juga kalau mereka niat selingkuh." "Lo anggap Natan selingkuh?" "Iya. Kan, Natan udah tunangan sama gue." Ola menunjukkan cincin di jari manisnya. "Lo kan nggak suka dari awal sama Natan. Kok lo anggap selingkuh? Harusnya lo jadiin alasan pisah sama Natan," beritahu Langen. "Ya beda lagi kalau lo udah mulai suka sama Natan." "Suka? Haha, ya nggak lah!" Ola tertawa hambar. "Gue aja males lihat muka dia lama-lama." "Eh, La..." Langen geli sendiri. Setiap kali ia memanggil Ola, rasanya seperti memanggil namanya sendiri karena mereka memiliki panggilan yang sama. "Kalau Natan beneran selingkuh, lo bilang aja ke Mama. Siapa tahu Mama gue jadi mau bantuin lo putus gitu." Ola menengok, tiba-tiba saja Ola sudah tidak selera mengemil. "Biarin aja deh." Ola pura-pura cuek. "Lagian gue nggak peduli. Gue tunggu aja sampai Natan ngaku sendiri, baru gue ngomong ke Tante Sandra." "Sebelum lo sama Natan nikah, mending bilang dari sekarang," saran Langen. *** Natan heran. Mendadak Ola mirip orang sariawan. Biasanya selalu cerewet. Tapi kali ini tidak. Ola hanya diam, duduk manis di samping kursi kemudi. "Kamu lagi sakit?" tanya Natan basa-basi. Aneh saja jika mereka tidak berdebat walau karena hal sepele. Entah karena Natan tahu-tahu datang ke rumah tantenya terlalu pagi. Mengomeli Ola karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan Natan selama perjalanan menuju ke kampus. Iya. Biar menyebalkan begitu, Natan masih mau mengantar Ola ke kampus atas inisiatifnya sendiri. "Peduli banget lo sama gue." Ola menyindir Natan. "Salah aku tanya?" "Iya. Salah. Mending lo diem aja karena gue males denger suara lo." Ola bersedekap. "Buruan jalan. Kelas gue hampir mulai." Natan menggeleng tanda heran. Eh, tapi kalau tidak bikin heran ya bukan Ola dong. Ada-ada saja tingkah perempuan ini. Jika tidak membuat darah Natan naik, Natan senewen, sepertinya tidak enak saja. Mungkin itu sudah menjadi hobi baru Ola. Natan mendengar suara getaran dari ponselnya. Natan membuka pesan dari Sandra, tantenya Ola. Sandra mengirim pesan pada Natan agar jangan lupa membawa keponakannya makan sebelum pergi ke kampus. Kata Sandra juga, sejak semalam suasana hati Ola kurang bagus. Camilan yang telah disiapkan Sandra justru tidak disentuh sama sekali. Natan meminggirkan mobilnya setelah melewati sebuah warung bubur ayam. Ola menyadari Natan akan turun. Ola akan protes, namun tidak sempat karena Natan tahu-tahu membuka pintu kemudian keluar mobil. "Anjir," umpat Ola mengacak rambutnya sendiri. Ia melihat di depan ada warung bubur ayam. Natan masuk ke sana, ikut mengantre dengan beberapa orang. Ola melirik arloji di tangan, menyibak rambut panjang hingga berpindah ke belakang punggung. Natan mau apa sih? Kalau mau sarapan, kenapa tidak nanti saja setelah mengantarnya ke kampus! Giliran pesanan Natan dibuat, Ola merasa agak lega. Ia ingin cepat-cepat sampai ke kampus. Melihat Natan terlalu lama, apalagi ingat obrolannya semalam bersama Langen, Ola jadi kesal lagi. Ia merasa dibohongi Natan saja. Natan menerima pesanannya. Setelah membayar satu porsi bubur ayam dan sebotol air mineral, Natan kembali ke mobilnya. Ola menatap Natan, menaikkan sebelah alisnya kala Natan menyodorkan bubur ayam beserta sebotol air mineral kepadanya. "Tante Sandra barusan chat aku. Katanya kamu belum sarapan," ujar Natan, bersiap menghidupkan mesin mobilnya. "Sambil aku nyetir, kamu bisa sambil makan. Jangan sampai aku kena omel Tante Sandra karena nggak beliin kamu makanan." Dih! Jadi, ini bukan atas inisiatif Natan sendiri? Tapi karena tantenya yang mengingatkan? "Gue nggak laper." Ola meletakkannya ke atas pahanya. "Terserah kamu mau makan atau nggak. Tapi yang jelas aku udah beliin dan ingetin kamu buat makan." Natan menoleh sepintas. Sebuah flash kamera yang diarahkan ke arahnya, membuat Ola tersentak kaget. Apa-apaan Natan? Untuk apa tiba-tiba mengambil fotonya? "Buat dikasih ke Tante Sandra," kata Natan seolah mengerti isi kepala Ola. Woah! Ola tidak bisa berkata-kata. Natan hanya mementingkan dirinya sendiri. Seharusnya kalau Ola banyak diam, coba ditanya kenapa, agak maksa dikit, kek. Ini tidak sama sekali. Yang ada Ola malah dibuat tambah kesal setengah mati. Apa Ola perlu menggunakan saran dari Langen, ya? Bilang ke tantenya soal Natan yang sering ketahuan menghubungi mantan pacarnya. Kalau memang iya Natan masih menyukai Elise, ya sudah.... batalkan saja perjodohannya dengan Ola. Sebelum Ola merasakan sakit hati. Lebih baik hubungan mereka berakhir sampai sini saja. Apa susahnya bilang, "Aku masih suka sama mantan pacar aku. Kita udahan aja ya?" Dan Ola akan menjawab dengan yakin. "Oke." Tidak usah jawab panjang-panjang asal jelas dan lugas. Kalau begitu kan, Ola tidak perlu berperasangka buruk kepada Natan. *** "Oh, lo, kan...," gumam Manda menunjuk tamunya. Alvo berdiri canggung. Ia berdeham mengurasi rasa gugupnya. "Kerin, ada?" tanyanya. Manda merapatkan bibirnya. "Kerin lagi pergi sama yang lain." "Ke mana?" tanya Alvo. Manda menggaruk belakang lehernya. Ia bingung harus menjawab apa. Masa iya Manda jawab begini, "Kerin lagi bantuin temen kosan kita cari pacarnya yang bawa kabur motornya." Kan, ya tidak mungkin dong! "Kerin pergi ke mana? Udah lama, nggak?" tanya Alvo lagi. "Udah agak lama sih..." Manda menengok mencari jam di dinding. "Coba lo telepon ke nomornya aja." "Telepon ke nomornya ya?" gumam Alvo. Bagaimana bisa ia berani menelpon Kerin setelah beberapa hari yang lalu nomor Kerin, Alvo blokir karena kesal sama Alfa. Agak aneh ya. Kesalnya sama Alfa, yang diblokir malah nomornya Kerin. "Iya, telepon aja." Manda memberi saran. "Harusnya sih..., Kerin udah nyampek." Alvo mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Walau nomor Kerin sudah ia unblokir, tetap saja Alvo ragu menghubungi Kerin. Apalagi jika ditanya alasannya kenapa menelpon ke nomor perempuan itu. "Kalau mau, lo bisa tunggu di depan. Siapa tahu Kerin sama yang lain pulang sebentar lagi." Alvo mengangguk kecil. "Oke. Gue tunggu aja di depan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN