"Ke! Apa kata dokter?"
Kerin dikerubungi teman-teman kosannya. Ia menggigit bawah bibirnya. "Masih ditangani sama dokter."
Kerin dan ketiga teman kosannya mencari tempat duduk sembari menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Alfa di dalam sana.
"Tapi Alfa nggak apa-apa kan, ya?" tanya Debi khawatir. "Gue berhutang budi banget sama kalian. Terutama sama Alfa karena nolongin kita tadi."
"Kita berdoa aja semoga Alfa nggak apa-apa." Malika menenangkan teman-temannya. "Alfa kelihatan orang yang kuat kok."
Tidak disangka, Alfa tiba-tiba datang dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk Kerin.
Kalian masih ingat dengan masalah yang dialami Debi, kan?
Hari ini Kerin pergi bersama Debi, Malika dan Debora. Kerin membuat rencana untuk mengetahui apa teman dari—pacarnya Debi—sungguhan tidak tahu ke mana lelaki itu tinggal, atau justru sekongkol menyembunyikannya. Dan Kerin berhasil menciduk keduanya.
Terjadi keributan antara Debi dan pacarnya. Awalnya cuma adu mulut. Tapi lama-lama lelaki itu mulai kasar, dan teman pacar Debi mulai ikut campur. Walau jumlah perempuan lebih banyak dibanding lelaki, jelas saja mereka kalah. Malika dan Debora sempat didorong dan jatuh. Debi yang kena tampar, dan Kerin, nyaris saja dipukul kepalanya menggunakan benda tumpul. Beruntung, seseorang datang dan melindunginya. Akan tetapi, orang itu malah terluka. Kepalanya mengeluarkan darah segar.
Seketika Kerin dan teman-temannya menjerit. Alfa, lelaki yang telah melindungi Kerin—adalah orangnya. Kerin tidak tahu Alfa datang dari mana. Semuanya seperti tiba-tiba. Kerin terkejut. Ia bahkan tidak tahu dari mana Alfa masuk lalu menghalangi benda itu mengenai kepalanya.
Teman dan pacar Debi telah diciduk. Motor milik Debi juga dikembalikan. Tidak hentinya Debi mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan Alfa yang masih ditangani oleh dokter.
Beberapa hari menghilang tanpa kabar. Menelpon tidak. Mengirim pesan bahkan sama sekali. Kerin menghubungi lebih dulu, tetapi tidak satu pun panggilan serta pesannya mendapatkan respons lelaki itu. Kerin pikir ia terkena korban ghosting, tapi nyatanya tidak. Melihat Alfa tahu-tahu muncul, itu membuktikan Alfa tidak sungguhan pergi dari hidupnya.
"Kalian balik aja duluan nggak apa-apa." Kerin menatap temannya satu per satu. "Gue bisa di sini sambil nunggu dokter selesai periksa Alfa. Nanti pasti gue kabarin apa pun tentang Alfa."
Malika mewakili teman-temannya. "Ya udah, kita balik duluan aja, Ke. Kalau butuh apa-apa telepon salah satu dari kita ya. Oh ya, jangan lupa kabarin kondisi Alfa ke kita."
Debi merapatkan bibirnya beberapa detik. Ia melangkah ke dekat Kerin, menggenggam tangan perempuan itu dengan wajah yang penuh harap. "Jangan sampai lupa kasih tahu kita tangan kondisi dia. Apa pun," tambah Debi.
"Iya." Kerin menepuk lengan Debi menenangkan. "Tenang aja. Gue pasti hubungin kalian semua. Kalian hati-hati ya."
"Iya, Ke. Kita balik duluan ya." Malika melambaikan tangan, kemudian, berjalan menyusul Debi dan Debora yang saling bergandengan.
***
"Lho! Kalian kok cuma bertiga? Kerin mana?"
Suara Manda yang sarat akan keheranan menarik perhatian Alvo yang nyaris ketiduran di kursi teras. Berjam-jam ia menunggu Kerin pulang, tetapi yang ditunggu malah tidak muncul.
Yang ditanya bukannya menjawab, Debi justru menangis karena merasa bersalah.
Manda jadi kaget. Iya sih, Manda tahu Debi itu cengeng setengah mati. Tapi kok ya tiba-tiba sekali menangis? Apalagi tanpa kemunculan Kerin, Manda mendadak khawatir. Takut terjadi sesuatu di antara mereka.
"Duduk dulu, Deb." Manda membantu Debi duduk di kursi samping kursi Alvo duduki. "Gue ambil air minum dulu ya."
Setelah Manda pamitan, Alvo bergerak, berinistif bertanya ke perempuan bernama Debi itu. Dua teman Kerin lainnya ikut masuk ke dalam kosan menyusul Manda mengambil air minum.
"Kerin pergi sama kalian tadi?" tanya Alvo tanpa basa-basi.
Debi menyeka air matanya. Saking hebohnya ia menangis sampai tidak sadar ada lelaki tampan duduk di samping kursinya. Tapi, kok, tanya tentang Kerin? Atau temannya kali, ya?
"Iya." Debi malas menjawab panjang.
Alvo celingukkan sekali lagi. "Terus, Kerin-nya mana? Kenapa kalian pulang tanpa dia?"
Debi diingatkan lagi, ya auto mewek lagi.
Dan benar saja. Suara dan air matanya saling berlomba, membuat Alvo menutup kedua telinganya.
Debi ini siapa sih? Kalau Manda dan dua perempuan yang pulang bersama dengan Debi, Alvo tahu. Walau tidak kenal secara pribadi, Alvo tahu siapa-siapa saja namanya karena sering beberapa kali bertemu setiap ia datang kemari menjemput Kerin.
"Boleh nangisnya ntar aja?" tanya Alvo tanpa ngotot, tapi nyelekit juga.
Dalam hati Debi misuh-misuh. Lelaki tidak berperasaan! Harusnya, kan, Debi ditenangkan. Ini malah disuruh berhenti menangis. Mana ada menangis dikredit, ditunda-tunda. Keburu Debi tidak mood lagi.
"Lo siapanya Kerin, sih? Nyebelin banget!" balas Debi kesal.
"Kerin ke mana? Lo tinggal jawab doang." Alvo tidak mau mengalah.
"Kerin lagi di rumah sakit. Tadi dia hampir kena pukul, tapi beruntung ada—"
Alvo sontak beranjak dari kursi. "Kerin di rumah sakit? Dia kenapa?"
Debi menggaruk kulit kepalanya. Bukan karena gatal. Tapi ia bingung. Alvo yang mendadak bangun dan meneriakinya malah membuat Debi tersentak sampai berhenti menangis.
"Kerin nolongin gue. Jadi, cowok gue tiba-tiba aja menghilang. Gue nggak masalah diputusin. Toh, gue bisa cari pacar baru. Yang bikin gue sakit hati itu—"
"Intinya aja," potong Alvo lagi.
Debi mengernyitkan dahinya. "Motor gue dibawa pergi sama cowok gue. Terus, Kerin bantuin gue cari dia dan ketemu dong!"
"Terus?"
"Ya kita tawuran sama mereka. Biar kita jumlahnya lebih banyak, tapi, kan..., mereka cowok. Ya kena gampar kita."
"Kerin juga?"
Debi menggeleng. "Kerin lebih berani dari kita. Makanya cowok gue geram dan pengin mukul Kerin pake tongkal bisbol."
Seketika Alvo panik bukan main. Membayangkan kepala Kerin dihantam menggunakan tongkat bisbol, pasti sangat sakit. Bisa juga lukanya parah.
"Rumah sakit mana?"
Sesaat, Debi bengong. "Mau ngapain?"
Alvo hampir gila berbicara dengan perempuan di depannya. Menyebalkan sekali!
"Jawab aja rumah sakit mana," ulang Alvo.
"Oh."
"Iya. Apa? Nama rumah sakitnya?" Suara Alvo tanpa sadar meninggi.
Debi agaknya masih lingkung. Ia masih shock sama kejadian tadi. Tapi saat pulang, ia malah diberondong dengan pertanyaan oleh lelaki ini.
Ia menyebutkan nama rumah sakitnya kepada Alvo. Seketika Alvo menyambar kunci mobil di atas meja lantas berlarian ke arah mobil yang di parkir.
Manda baru saja keluar membawa segelas air putih. Ia melihat Alvo berlarian dengan cepat. Manda memberikan air putihnya ke Debi. "Minum dulu, Deb."
Manda dan Debi mengarahkan pandangannya ke Alvo. Mobil hitam lelaki itu keluar dari halaman kosan mereka.
"Alvo ke mana? Katanya mau nunggu Kerin," gumam Manda.
"Oh, namanya Alvo." Debi manggut-manggut. "Dia siapa sih, Nda? Tiba-tiba nanya Kerin di mana. Nggak tahu kali ya gue hampir jantungan karena shock!"
Manda mengambil duduk di kursi bekas Alvo duduki tadi. "Mantan tunangannya Kerin."
"Terus, Alfa?" tanya Debi penasaran.
"Gue juga kurang tahu. Tapi Kerin bilang dia sama Alfa cuma temenan doang."
"Ngapain ya Alvo nanya Kerin di mana?" gumam Debi. "Dia langsung lari waktu gue kasih tahu Kerin ada di rumah sakit."
Manda melirik Debi. "Lo nggak bilang kalau yang kenapa-kenapa itu Alfa?"
"Udah, Nda..." Debi sampai geram sendiri. "Tapi kata-kata gue dipotong mulu! Kan, sebel!"
Manda diberitahu Malika saat perempuan itu menyusulnya ke dapur. Malika dengan tenang menjelaskan kronolonginya. Bagaimana Alfa sampai kena pukul lalu dibawa ke rumah sakit.
"Kayaknya Alvo ngira yang kenapa-kenapa itu Kerin, deh." Manda bergumam, lantas menambahkan, "Gue perlu ngasih tahu Kerin nggak, sih?"
Debi mengangkat kedua bahunya. "Jangan tanya gue. Sumpah ya, Nda, kepala gue rasanya mau pecah!" jerit Debi sambil memegangi kepalanya.
***
Kurang jelas apa lagi, sih?
Di depan matanya, Alvo melihat Kerin menjaga Alfa. Lelaki yang ia anggap urakan itu sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi kepala yang dililit perban.
Sesaat, Alvo terdiam, menimbang apakah ia masuk ke sana atau tetap berada di tempatnya berdiri. Kalau ia nekat masuk ke dalam dan menyapa Kerin, Alvo harus menjawab apa?
Ia merasa lega karena bukan Kerin yang sakit. Melainkan Alfa. Akan tetapi, Alvo merasa tidak rela Kerin dekat-dekat dengan lelaki lain. Apa lagi lelaki itu hanya menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman saja.
Apa hanya Alvo yang merasa Kerin sangat perhatian kepada Alfa? Terakhir kali mereka bertemu di restoran kemarin, Langen mengatakan bahwa kedatangan Kerin ke sana untuk mencari Alfa. Alvo diam-diam mencari tahu daftar pelayan di kafe. Dan Alvo sama sekali tidak menemukan nama Alfa dalam daftar.
Kalau Kerin mencari Alfa di sana, padahal Alfa tidak bekerja di kafe itu, berarti artinya apa? Langen sengaja membohonginya atau ada hal yang sedang disembunyikan kedua perempuan itu darinya.
Alvo memutuskan untuk berdiri di balik pintu ruang perawatan Alfa. Salahnya sendiri tidak mau mendengar cerita Debi sampai selesai. Tadinya ia mengira Kerin yang dipukul oleh pacar Debi. Tapi sepertinya, Alvo salah. Jika ia tebak, pasti Alfa bertindak bak pahlawan lagi.
Entah yang dilakukan Alfa tulus atau tidak, tapi Alvo pikir lagi, Alfa tidak mungkin tidak tulus jika sampai mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Kerin. Bisa dilihat kepalanya Alfa diperban, tubuhnya yang kurus berbaring di rumah sakit. Masa iya cuma karena ada maunya saja?
Alvo memang tidak menyukai Alfa. Tapi ia bisa menilai seseorang dengan objektif. Termasuk tentan Alfa.
Ia sudah kalah telak. Alfa bergerak lebih cepat daripada Alvo yang hanya diam berdiri memandangi Kerin dari kejauhan.
Di sisi lain, masih di tempat yang sama, Kerin menerima telepon dari Manda. Kerin mengangkat telepon teman satu kosannya. Ia nemelankan suaranya sebisa mungkin karena takut mengganggu pasien lain.
"Ke, lo ketemu Alvo nggak?"
"Hah? Alvo?" gumam Kerin. "Nggak, Nda. Kenapa tiba-tiba bahas Alvo, sih?"
Kerin duduk di sini sejak tadi. Beberapa kali ia dipanggil oleh suster untuk mengantar sampel ke ruang laboratorium lalu kembali ke ruangan di mana Alfa dirawat. Kalau Alvo ada di sini, bisa saja mereka berpapasan. Tapi ini tidak. Atau Kerin tidak tahu? Atau malah Alvo tidak pernah datang kemari? Lagi pula untuk apa. Tahu dari mana Kerin ada di sini memangnya?
"Debi yang ngasih tahu," jawab Manda di telepon.
"Kok, bisa?" tanya Kerin bingung.
Lalu Manda menjelaskan sesuai apa yang ia lihat dan diceritakan oleh Debi. Kerin sempat tidak percaya Alvo datang lagi ke kosannya lagi. Terakhir Alvo datang saat menjemputnya makan malam waktu itu.
Kerin heran, setiap kali Kerin berusaha menarik dirinya, tidak menaruh harapan kepada Alvo seperti dulu-dulu. Alvo seperti datang sendiri kepadanya. Memperlakukan Kerin jauh lebih baik, tapi setelah itu kembali ke sifat buruknya.
Kerin tidak ingin berhubungan lagi dengan Alvo.
"Kayaknya dia nyusul lo, Ke. Dia nunggu lama banget di kosan," ujar Manda. "Coba lo telepon dia, deh."
"Telepon apaan? Nomor gue aja dia blokir, kok!" sungut Kerin. "Tapi udahlah, biarin aja. Kalau emang ada yang mau dibicarain penting, pasti dia bakal dateng lagi."
"Oh iya. Gue lupa nomor lo diblokir sama Alvo." Manda berdecak. "Bodohnya ya, Ke, gue nyuruh dia supaya telepon lo."
"Haha, anjir," tawa Kerin hampir membludak. Ia buru-buru meredakan tawanya. "Terus dia bilang apa, Nda?"
"Dia cuma diem aja sih. Lebih tepatnya kayak orang bengong." Manda menambahkan, "Pokoknya dia nunggu lo sampai berjam-jam, Ke. Eh, giliran yang lain pulang, lo malah nggak ada."
Kerin masih tertawa walau tipis-tipis. "Eh, Nda, kayaknya gue nggak pulang ke kosan malam ini, deh. Gue harus jagain Alfa. Gue bingung mau ngasih kabar ke siapa kalau gue aja nggak tahu nomor orang tuanya Alfa."
"Lo udah cek HP dia, Ke?"
"Nggak ada." Kerin menggeleng. "Tadi udah gue cek. Kayaknya Alfa emang nggak bawa HP."
"Oh, ya udah, Ke," ujar Manda di seberang telepon. "Besok pagi gue sama yang lain dateng ke sana deh. Ini si Debi dari tadi nanyain Alfa mulu. Katanya dia kepikiran takut Alfa kenapa-kenapa."
"Alfa nggak apa-apa kok. Kata dokter, kalau Alfa udah siuman, besok udah boleh pulang."
Manda mengucap syukur mendengar kondisi Alfa yang baik-baik saja. Manda akan mengakhiri panggilan telepon lalu memberitahu teman-temannya yang dari tadi menunggu kabar terbaru Alfa.
***
Tidak biasanya Natan kepikiran sama Ola. Baru tidak dihiraukan Ola sekali, Natan kepikiran setengah mati. Terus bertanya dalam hati, Ola kenapa, Ola sakit atau sedang ada masalah?
Ola biasanya cerewet dan tukang protes. Tapi hari ini Ola kelewat berbeda. Natan sudah tanya apa Ola sakit? Justru pertanyaannya malah dijawab ketus. Ola bahkan mengatainya sok perhatian.
Apa salahnya kalau Natan bertanya sih? Kan, tidak bayar. Apalagi yang ditanyakan, calon istrinya. Kalau Ola kenapa-kenapa bagaimana? Apa ia perlu mencari tahu lewat Tante Sandra atau Langen? Siapa tahu pasangan Ibu dan anak itu tahu kenapa Ola tiba-tiba saja berubah.
Ah, tapi Langen menyebalkan. Yakin bukannya dijawab, Langen akan mengejeknya habis-habisan.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar. Natan menyudahi lamunannya, lantas mempersilakan orang itu masuk ke dalam ruangannya.
Begitu pintu dibuka, Natan mencium bau parfum yang sangat tidak asing. Ia mengenali bau siapa ini.
Perlahan Natan menggerakkan kepalanya, menatap seorang perempuan cantik berambut panjang berwarna cokelat terang.
"Suprise!" seru perempuan itu sambil merentangkan kedua tangannya.
Natan dibuat melongo. Bagaimana bisa Elise tiba-tiba ada di ruangannya? Sejak kapan mantan pacar—yang kini banting setir menjadi adik tirinya—pulang ke Indonesia?
***
"La."
"Apa?"
"Judes amat lo, anjir." Langen menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar Ola yang setengah dibuka.
"Makanya buruan lo mau bilang apa! Lagian tumben banget lo sok akrab sama gue, sih?"
Langen sepenuhnya masuk ke dalam kamarnya Ola. "Gue ke sini cuma mau menyampaikan pesan dari Mama. Lo disuruh turun sekarang."
"Gue mau disuruh apa sama Tante Sandra emang?"
"Ya makan. Apa lagi? Mama mana mungkin nyuruh lo nyapu atau ngepel!" balas Langen.
Ola berbalik. Ia memangku gitar kesayangannya. Tapi lagu yang dimainkan malah tidak jelas lagu yang mana. Pokoknya asal petik saja.
"Gue lagi nggak mood makan," ujar Ola menatap Langen sedetik, kemudian melengos, membuat pandangannya ke arah jendela.
"Kalau sampai lo nggak mood makan, pasti lo lagi mikirin sesuatu." Langen memberanikan diri mendekati Ola.
"Sok tahu!" seru Ola sebal. "Lo aja jarang ngobrol sama gue, kok!"
"Yang ngasih tahu Mama, dih!" Langen tidak mau kalah.
"Oh, pantes." Ola menanggapi dengan ketus.
Langen mundur beberapa langkah. "Jadi lo beneran nggak mau makan?"
"Nggak!"
"Biasa aja kali! Gue bukan Natan," ejek Langen.
Mendengar nama Natan disebut, Ola jadi tambah geram. Tidak mood. Benar-benar dalam suasana hati yang tidak baik hanya karena mendengar nama lelaki itu.
"Jujur aja deh, lo lagi berantem sama Natan, kan?"
"Apa sih, lo, Kak?" protes Ola uring-uringan. "Sana pergi ke kamar lo sendiri deh! Nyebelin banget lo sekarang! Nggak ada Bang Lando, lo ngajak gue berantem mulu! Kenapa? Nggak ada temen berantem setelah putus sama Bang Lando?"
Langen jadi senewen. "Kenapa bawa-bawa Lando, sih, lo?" tanyanya. "Lo yang ada masalah sama Natan, kenapa jadi bahas gue!"
"Karena lo emang nyebelin! Sana keluar!" usir Ola menunjuk ke pintu yang dibuka lebar oleh Kakak sepupunya.
Langen sudah bilang kalau ia tidak pernah dan tidak akan pernah cocok bersama Ola terlalu lama. Kemarin boleh akur, tapi besoknya gelud lagi, dan fasenya selalu di situ terus. Kadang Ola yang jahil, kadang juga Langen yang memancing Ola agar misuh-misuh.
"Awas aja tengah malem lo laper, ya!" ancam Langen sebelum dirinya benar-benar meninggalkan kamar adik sepupunya.
"Buruan sana pergi!" usir Ola lagi.
***
Walau perempuan yang pernah menjadi pujaan hatinya berada di depan matanya sekarang, tapi hati dan pikirannya sedang berkelana memikirkan apa yang sedang Ola lakukan sekarang. Entah sudah makan atau belum. Atau justru mood-nya tidak kunjung membaik.
Natan terus memandangi layar ponselnya yang adem ayem saja. Berharap satu pesannya dibalas Ola. Biar cuma dibalas, 'Y' doang juga tidak masalah asal dibalas.
Elise masih sama cantiknya seperti dulu. Bahkan lebih cantik yang sekarang. Senyumnya juga masih menawan seperti saat mereka masih duduk di bangku kuliah dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Astaga, Natan!
Biarpun Natan dan Ola itu dijodohkan, akan tetapi Natan sudah berjanji kepada mendian papanya Ola untuk selalu menjaga anak perempuan satu-satunya. Belajar menyayangi dan menerima Ola.
Walau Ola lebih banyak menyebalkannya daripada tidak, Natan tidak mungkin menaruh harapan kepada perempuan lain—sekali pun Natan masih menyukainya. Bahkan Natan membenci orang-orang yang berselingkuh—apa pun alasannya!
Elise menyebutkan beberapa menu dan pelayan mencatatnya. Elise bertanya makanan apa yang akan dipesan Natan? Sebelum Natan menjawabnya, Elise tiba-tiba menyembutnya salah satu makanan dari buku menu yang disediakan. Makanan favorit Natan.
Hubungan Elise dan Natan terjalin cukup lama. Mereka mengenal satu sama lain. Bukan cuma makanan dan minuman favorit Natan saja yang dihafal Elise. Tapi juga baik dan buruknya Natan, Elise sudah tahu.
Kalau saja cinta mereka tidak terhalang oleh pernikahan Ayah Natan dan ibunya Elise, mungkin.... ia yang menjadi tunangan Natan. Bukan perempuan lain.
"Kamu lihatin HP terus? Nunggu kabar dari siapa?" tanya Elise begitu pelayan pergi.
Natan tersadar dari lamunannya. "Bukan dari siapa-siapa kok."
Elise tersenyum lembut. "Aku kira kamu nunggu kabar dari tunangan kamu. Siapa namanya? Aku lupa."
"Ola."
"Ah, iya. Ola." Elise manggut-manggut.
Detik berikutnya Elise dan Natan saling diam. Elise yang menunggu Natan mengajaknya bicara lebih banyak, dan Natan, tidak tenang karena Ola sungguhan mengabaikannya seharian ini.
Ola kenapa sih?
Satu pertanyaan itu seolah terus diulang di kepalanya. Baru kali ini Natan sangat penasaran tentang Ola. Apa yang dilakukan Ola dan apa yang sedang dirasakan Ola.
"Tan," panggil Elise.
Ada gurat kecewa di wajah Elise. Ia merasa Natan yang sekarang sangat berbeda dengan Natan-nya yang dulu. Natan tampak canggung dan dingin. Beda saat mereka masih berpacaran saat zaman kuliah.
Apa Natan mulai menerima Ola? Apa kedatangannya sama sekali tidak membuat Natan bahagia? Atau cuma Elise saja yang bahagia setelah beberapa tahun tidak bertemu.
"Kamu mau tanya apa, Lise?" Natan menanyai adik tirinya.
Elise menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa. Aku cuma mau bilang kamu tambah ganteng setelah lama kita nggak ketemu. Kamu juga agak...," Elise menyipitkan matanya. "Berbeda. Dan aku ngerasain itu."
Di detik yang sama, dering ponsel Natan berbunyi, menggangu suasana senduh di antara Natan dan Elise.
"Aku angkat telepon dulu ya, Lise?" pamit Natan. Segera ia menyambar ponsel dari atas meja setelah nomor Sandra muncul di layar ponselnya.
***
Demi Ola, Natan sampai meninggalkan Elise sendirian di restoran tadi. Tante Sandra menelpon Natan untuk bertanya apa benar ia dan Ola bertengkar? Natan bilang tidak. Ia tidak merasa bertengkar dengan Ola hari ini. Ola saja enggan menjawab pertanyaannya, kok. Menatap wajahnya saja Ola seperti tidak sudi.
"Ola aneh banget sejak semalem," adu Sandra. "Tante kira kalian berantem. Biasanya kan suka gitu. Tapi baru kali ini Tante lihat dia sampai nggak mood begitu!"
Natan juga bingung. Bertengkar adalah hal biasanya yang dilakukan Natan dan Ola. Tapi tidak pernah ada kejadian Ola jadi tidak mood. Tante Sandra bilang, Ola menolak untuk makan. Alasannya ya tidak mood. Tapi tidak mood-nya, tuh, tidak jelas kenapa. Entah sebal pada Natan, kek, bertengkar dengan teman di kampus atau mungkin kena usir dosen? Kan, Sandra tidak tahu. Ia cuma menebak-nebak saja.
"Ola-nya sekarang ke mana, Tante?" tanya Natan.
"Ada di kamar." Sandra menjawab sambil menunjuk ke lantai atas. "Tadi, Tante nyuruh Langen buat panggil Ola. Udah waktunya makan, Ola malah bilang nggak mau. Giliran ditanya kenapa, Langen malah diusir dari kamar."
Sandra suka sedih kalau Langen atau Ola tidak mau berbagi cerita dengannya. Sandra bukan orang tua yang kolot, kok! Langen dan Ola bisa cerita apa pun tentang masalah mereka. Tentang keseharian Langen di tempat kerja, atau ada kejadian apa di kampusnya Ola. Kalau mereka berdua kompak diam, tidak mau bercerita, Sandra mana bisa tahu.
"Aku boleh masuk nggak, Tan?" tanya Natan meminta izin.
"Justru Tante mau minta tolong kamu buat temuin Ola. Siapa tahu Ola mau cerita sama kamu," kata Sandra.
Sandra menaiki anak tangga lebih dulu kemudian disusul Natan dari belakang. Sesampainya di depan pintu kamar tunangannya, Natan ditinggal Sandra, wanita beranak satu itu memberinya ruang untuk berbicara dengan Ola dari hati ke hati.
Natan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Ola.
Tidak ada jawaban.
Natan mengetuknya lagi. Masih tidak dijawab juga.
Natan menarik gagang pintu dan masuk ke dalam sana. Seluruh penerangan di kamar Ola dimatikan. Natan sampai meraba dinding untuk masuk ke dalam karena kamar Ola sangat gelap.
Langkah Natan berhenti. Kakinya bahkan belum sampai menyentuh kaki ranjang Ola. Samar, ia mendengar suara seseorang sedang menangis.
Mirip suara Ola. Tapi masa iya Ola menangis, sih? Memangnya kenapa?
Natan menemukan tombol lampu dan menghidupkannya. Seketika kamar Ola yang gelap gukit kini jadi sangat terang.
Natan mengedarkan pandangan. Dan pandangan Natan tertuju pada Ola yang duduk di bawah—pojok samping ranjang tidurnya. Natan menemukan Ola sedang menangis sampai pipi dan ujung hidungnya berubah merah.
"Ngapain lo ke sini?! Siapa yang nyuruh lo masuk ke kamar gue?!" bentak Ola. Perempuan itu berdiri dan menghampirinya. "Pasti Tante Sandra yang nyuruh lo, kan?! Mending lo pulang, sumpah! Gue males lihat muka lo sekarang."
"Kasih tahu dulu. Apa alasan kamu males lihat aku?" Natan menunjuk dadaanya. "Sebenernya yang bikin kamu kesel itu siapa? Aku atau orang lain?"
Ola bungkam. Ia sendiri bingung kenapa jadi uring-uringan.
"Nggak bisa jawab, kan?" tunjuk Natan ke hidung Ola.
Ola menepis tangan Natan. "Jangan ganggu gue kenapa sih! Lo nggak bikin gue sebel sehari aja kayaknya nggak bisa ya?"
Natan mengangguk, "Iya. Nggak bisa. Kenapa? Marah? Nggak terima?"
Ola menginjak kaki Natan lumayan kencang. "Jahat banget sih, lo!" teriaknya kencang. "Atau lo sengaja bikin gue sebel? Bilang aja pengin perjodohan kita batal! Gue bakal dengan senang hati kalau emang iya!"
Natan mengernyitkan dahi. "Kenapa jadi bahas perjodohan? Siapa yang minta dibatalin? Bukannya itu keinginan kamu?" balasnya. "Kamu mau bikin mendiang Papa kamu sedih? Asal kamu tahu ya, La, biar kita itu dijodohin, tapi sekali pun aku nggak pernah berharap perjodohan kita batal. Aku mau belajar terima kamu walau nggak mudah. Aku udah janji sama mendiang Papa kamu. Aku janji untuk jaga kamu, bimbing kamu, terima kamu apa adanya. Dan aku berharap kamu juga sebaliknya gitu ke aku."
Ola menatap wajah Natan dengan berani.
Air mata Ola berjatuhan di pipi. Matanya berubah merah karena tidak berhenti menangis sejak tadi. Natan maju selangkah, mengulurkan kedua tangannya ke pipi Ola kemudian menangkupnya.
Ola bisa merasakan kedua Ibu jari Natan menyeka air matanya. "Kalau ada masalah itu bilang. Jangan dipendam sendiri. Kamu nggak tahu kalau aku sama semua orang di rumah ini jadi kepikiran sejak tadi? Sumpah ya, La, aku lebih suka kamu cerewet kayak biasanya. Kamu protes, kamu ngomel saat aku melarang kamu melakukan sesuatu yang menurut aku nggak berguna."
Natan menghapus air mata Ola dengan telaten. Ola mendongakkan kepalanya, menatap tepat ke manik mata Natan yang terlihat lembut sekarang.
"Aku kangen Papa...," gumam Ola sesenggukkan. "Aku pengin ketemu Papa."
Natan menarik lengan Ola perlahan. Membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Menepuk punggung Ola kemudian mengelus rambut sepunggung Ola yang tergerai setengah berantakan.
***
Sekarang Sandra tahu apa alasan papanya Ola menjodohkan putrinya dengan lelaki bernama Natan di depannya ini. Natan bukan cuma sabar menghadapi Ola, tetapi juga berhasil membuat Ola mati kutu.
Sandra meninggalkan Natan dan Ola di meja makan hanya berdua. Sandra sempat mengintip interaksi keduanya.
Ola menuruni anak tangga sambil dirangkul bahunya oleh Natan. Wajahnya pucat, dan matanya bengkak—hampir tidak bisa melek. Sandra menyambut Ola dengan hangat saat kepokanannya berhasil dibujuk Natan untuk makan.
"Mama ngapain?" Langen datang dan mengejutkan mamanya.
Sandra menengok dan mengelus dadaanya. Langen jahil sekali! Tidak bisa melihat ibunya sedang asyik mengintip Ola dan Natan di meja makan.
"Oh, lihatin mereka...." Langen manggut-manggut. "Eh! Sejak kapan ada Natan di rumah, Ma?" tanya Langen. Ia malah ikut-ikutan mamanya mengintip.
"Mama yang telepon Natan tadi. Mama suruh Natan bujukin Ola. Sekalian nanya Ola kenapa tiba-tiba berubah murung," jawab Sandra.
"Terus, berhasil?"
Sandra menahan geram. Satu jarinya menunjuk ke Natan dan Ola. "Kamu nggak lihat Natan sampai suapin Ola kayak tadi?"
"Mana aku lihat. Aku, kan, baru gabung, Ma..."
Sandra ikut senang melihat Natan dan Ola akur seperti itu. Ia berharap hubungan keduanya terus membaik sampai menuju ke pernikahan nantinya. Eh, tidak sampai hari pernikahan saja. Tapi bertahan selamanya. Sampai maut yang bisa memisahkan.
Natan dan Ola tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengintip mereka. Ola lebih banyak diam walau akhirnya berhasil dibujuk makan oleh Natan. Ia sempat mengangkat ssndoknya malas-malasan sampai Natan menarik piringnya lantas menyuapinya.
Iya. Menyuapi Ola. Sangat mengejutkan, bukan?
"Udah habis, kan?" Ola menunjukkan piringnya yang bersih tanpa sisa makanan.
"Bagus." Natan tersenyum tipis. "Lain kali jangan sampai lupa makan apalagi males kayak tadi. Sama badan sendiri kenapa nggak bisa sayang," omel Natan.
"Daripada sayang sama lo. Adanya malah bikin makan hati," dumel Ola dengan suara lirih.
"Apa?" tegur Natan. "Tadi kamu bilang apa?"
"Bilang apaan?" Ola pura-pura linglung. "Gue nggak bilang apa-apa kok. Lo salah denger kali."
Jangan sampai Natan mendengarnya. Karena kalau Natan tahu, Ola akan mengubur dirinya hidup-hidup menggunakan kedua tangannya sendiri! Astaga.