"Aku pulang ya."
Ola melirik Natan setengah gengsi. "Ya. Hati-hati di jalan."
Natan belum mau bergerak dari tempatnya berdiri. Masih berada di samping mobil sesekali mengamati gerak-gerik Ola—yang menurutnya menggemaskan sekarang.
Oh! Apa yang ia katakan barusan?
Natan tersentak sendiri. Baru kali ini ia berpikir Ola cukup menggemaskan. Ke mana saja ia selama ini ya? Kalau diperhatikan lagi, Ola cantik juga. Hanya saja kelakuannya bar-bar. Tukang protes. Dan masih banyak lagi hal menjengkelkan yang dilakukan Ola selama ini. Selama mereka menjadi sepasang tunangan.
Kedua kakinya melangkah mendekati Ola yang juga masih di sana. Tidak kunjung masuk ke dalam meninggalkannya seperti biasa. Natan mengulas senyum, begitu ia sampai di depan Ola, berjarak dua langkah saja, Natan tahu-tahu menyentuh belakang kepala Ola, kemudian mencium kening perempuan itu.
Sepasang mata Ola mengerjap-ngerjap. Untuk beberapa detik Ola mematung. Jari-jari tangannya seolah berubah kaku dengan kedua kaki yang lemas mirip seperti agar-agar.
Tidak bisa!
APA YANG NATAN LAKUKAN BARUSAN PADANYA?!
Natan menarik diri, mengusap sebelah pipi Ola lalu menyunggingkan senyum.
Pipi Ola berubah marah dan hangat. Ia sontak memeganginya, kembali mengerjap, Ola bahkan tidak sanggup walau sekadar menarik napas karena perbuatan Natan baru saja.
"Heh!"
Lamunan Ola buyar. Suara Langen dari belakang lengkap dengan tepukan di sebelah bahunya berhasil menyadarkan Ola. Kepalanya celingukkan ke kanan ke kiri. Bahkan ia tidak menyadari kalau mobil Natan sudah pergi.
"Natan udah pulang?" tanya Langen berdiri di samping Ola.
"Kak..."
Semula fokus Langen berada ke jalanan kompleks rumahnya. Ketika ia keluar, Natan beserta mobilnya sudah tidak ada. Berarti sudah pulang ya. Padahal Langen berniat mau menjahili Natan dan Ola setelah suap-suapan di meja makan.
"Apa?" Langen bersedekap. Ia lupa mengenakan jaket saat akan keluar.
Bak gerakkan robot, Ola menggerakkan kepalanya sedikit demi sedikit agar bisa menatap Kakak sepupunya. Lantas, Ola melemparkan pertanyaan ambigu.
"Lo pernah dicium sama Bang Lando nggak, Kak?"
Langen mendelik secara otomatis. "Apaan sih lo?" balasnya. Sontak, Langen membuang pandangan. Menyembunyikan semburat merah pada kedua pipinya.
"Ih! Gue serius nanya." Ola berbalik, menyusul Langen yang akan masuk.
Ya... tidak mungkin juga Langen menjawab pertanyaan Ola. Masa iya Langen harus mengakui kalau ia dan Lando pernah—berciuman! Apa kata Ola nanti? Bisa-bisa ia akan diledek habis-habisan oleh bocah itu. Atau kemungkinan akan mengejeknya seperti, "Ye! Katanya nggak suka, kenapa mau disosor?!"
Kan, malu!
"Kak!" seru Ola setengah berlari.
Langen enggan menjawab. Ia menutup wajahnya lantas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan pertanyaan Ola. Astaga. Random sekali pertanyaannya, sih!
***
Jam di ponselnya telah menunjukkan tiga pagi. Ola bergerak ke sana ke sini. Miring menghadap pintu lalu berputar menghadap ke arah jendela. Ia tidak bisa tidur. Sibuk menenangkan jantungnya. Ola kuwalahan. Dan Ola benci harus mengakui bahwa Natan berhasil membuat perasaannya berdebaran.
Ola mengapit selimut tebalnya di antara lengan kanan dan kirinya. Secara otomatis Ola bangun. Mengubah posisinya yang semula tidur terlentang kini menjadi duduk membungkuk. Ola memegangi kening lantas menggelengkannya beberapa kali. Ada yang salah sepertinya. Atau Ola hanya terlalu kekenyangan sampai ia tidak bisa tidur ya?
Ola menyambar ponsel dari atas nakas. Menarik seluruh rambutnya kemudian ia sampirkan ke sebelah bahu. Ola menarik napas, memandangi layar ponsel sampai rasanya jenuh sendiri. Ia hendak menelpon seseorang. Ingin menanyakan kejadian tadi. Apa maksudnya? Tiba-tiba sekali mencium Ola. Padahal selama ini dekat-dekat saja rasanya ogah sekali!
Oh! Mungkin saja Natan ketempelan hantu di jalan! Atau..., Natan sengaja menjahilinya—dengan mencium keningnya seperti tadi! Akh, sial. Kalau sampai tindakan Natan tadi cuma iseng atau jahil, Ola akan mematahkan leher lelaki itu!
Ia meletakkan ponselnya ke tempatnya semula. Perlahan-lahan menyeret tubuhnya agar berbaring lagi lalu menarik selimut hingga ke atas kepalanya. Ola ingin menjerit. Tapi tidak mungkin juga.
Astaga! Ola harus melakukan apa?! Jujur saja ia tidak bisa melupakan kejadian tadi!
Natan sedang apa sekarang? Lelaki itu tidak bisa tidur juga tidak ya? Atau jangan-jangan Natan malah tidur nyenyak sekarang? Setelah menjahilinya?
Ola uring-uringan sendiri. Ia duduk, kemudian rebahan, lalu duduk lagi sambil memangku guling di atas kedua pahanya. Kalau sampai Natan sungguhan hanya ingin mengerjainya, Ola akan membuat perhitungan kepada lelaki itu! Apa Natan tidak tahu efek kejadian tadi hah? Ola jadi tidak bisa tidur sekarang!
***
Melihat Alfa telah siuman, Kerin baru bisa menarik napas lega. Mengingat kejadian kemarin, Alfa yang tahu-tahu muncul lantas melindunginya saat ia akan dipukul oleh teman pacarnya Debi, Kerin masih ngeri saja. Apalagi badan Alfa langsung ambruk begitu kepalanya dipukul.
Kerin dan teman-temannya histeris. Pacar Debi dan temannya—yang entah siapa namanya, sempat kabur setelah membuat Alfa terluka dan tidak sadarkan diri. Beruntung mereka berhasil ditemukan lalu diciduk oleh polisi.
Alfa tahu tidak, sih... Kerin rasanya mau pingsan melihat ada darah yang keluar dari kepalanya Alfa? Kerin sampai gemetaran. Kedua kakinya tidak sanggup menahan beban tubuhnya karena terlalu shock.
Sepertinya, Kerin tidak akan melupakan kejadian itu seumur hidupnya.
"Jangan jadi sok pahlawan deh, lo!"
Tiba-tiba saja Kerin mengatakannya—di saat mereka, termasuk Kerin sendiri sedang mengunyah makanan yang dibawa Manda ke rumah sakit.
Lihat Alfa yang baru sadar sudah bisa mengunyah ayam goreng sambil tertawa-tawa bersama teman Kerin! Masih bisa Alfa cekikikan setelah membuatnya nyaris terkena serangan jantung?
"Eh, Ke, lo bikin gue kaget aja." Malika berusaha mencairkan suasana.
"Gue hampir keselek, lho, Ke...." Debi menambahkan walau ikut merasakan tegang juga.
Kerin meletakkan kotak makan di tangannya ke atas pangkuannya. Alfa mengunyah ayam gorengnya agak lamban. Antara bingung dan heran saja. Kenapa Kerin kelihatan marah?
Sebenarnya bukan cuma sekarang sih. Sewaktu Alfa pertama kali siuman, Kerin tidak mengajaknya berbicara terlalu banyak. Kerin hanya akan menjawab pertanyaannya dengan pendek, atau mengangguk dan menggelengkan kepalanya. Alfa pikir itu bukan sebuah masalah. Ia kira, mungkin Kerin mendiamkannya karena ingin Alfa fokus beristirahat saja. Tapi sepertinya tidak, sih. Bisa saja Alfa yang tidak peka.
"Sori." Kerin segera sadar bahwa tindakannya berlebihan. "Gue cuma bercanda doang. Biar kalian kaget," tambahnya, tentu saja bukan dari dalam hatinya.
Bukan itu maksud Kerin
Kerin hanya marah pada Alfa. Kerin cuma ingin mengatakan agar Alfa tidak sembarangan menjadikan badannya untuk melindungi seseorang. Sekarang saja Alfa selamat, kalau suatu hari Alfa melakukan hal sama seperti kemarin, apa Alfa masih bisa beruntung? Bagaimana kalau nyawanya justru tidak bisa diselamatkan?
"Air minumnya habis." Kerin turun dari pinggiran ranjang Alfa, meletakkan kotak makannya ke atas meja. "Gue mau beli minum ke bawah. Kalian ada yang mau titip, nggak?" tanyanya, menatap temannya satu per satu.
"Gue mau deh, Ke." Manda mengambil uang dari sakunya.
"Nggak usah, Man," tolak Kerin. "Gue bawa lebih. Loau titip apa?"
"Air mineral dingin aja, deh."
"Oke." Kerin menganggukkan kepalanya. "Kalian, mau titip apa?"
"Nggak, deh. Minuman gue masih ada, Ke!" seru Debi mengangkat botol air minumnya yang tersisa setengah.
Kerin manggut-manggut. Ia keluar dari ruang inap Alfa. Tapi anehnya, Kerin tidak berusaha menanyai Alfa. Siapa tahu Alfa butuh sesuatu kan. Snack atau camilan apa, kek. Kerin tahu-tahu pergi begitu saja tanpa memandang Alfa.
"Kayaknya Kerin marah sama lo, Fa." Manda mengatakannya sambil melirik ke pintu.
"Ke gue? Kenapa?" tanya Alfa menunjuk dirinya sendiri.
Debi dan Malika hanya menyimak.
Manda mengangkat kedua bahunya. "Gue nggak tahu jelasnya kenapa, sih..." Manda fokus ke makanannya lagi. "Tapi yang tadi, kayaknya dia beneran mau marah. Cuma, nggak tahu aja kenapa kayak ditahan gitu."
Debi nyeletuk, "Takut Alfa baper kali!"
"Heh!" tegur Malika menjejalkan kerupuk ke mulut Debi.
Debi mengunyah kerupuknya. Dengan mulut yang hampir penuh, Debi menjawab, "Gue cuma nebak doang! Kalau beneran ya mana gue tahu!"
***
"Eh, maaf."
Kerin agak membungkuk lalu meminta maaf. Orang yang tidak sengaja ia tabrak barusan mengatakan tidak apa-apa kemudian berjalan meninggalkan Kerin dengan langkah terburu-buru.
Apa yang Kerin lakukan tadi, sih? Tiba-tiba saja ia marah kepada Alfa. Ah, tidak, bukan marah. Tapi, apa ya?
Rasanya seluruh isi kepala Kerin kini telah diisi penuh tentang Alfa. Semuanya soal lelaki itu. Lagi pula sejak kapan Kerin jadi cemburu saat Alfa dikerubungi banyak perempuan seperti tadi? Astaga! Perempuan yang ia sebut mengelilingi Alfa adalah teman-temannya. Teman Kerin sendiri! Toh, mereka cuma bercanda sesekali melemparkan kata-kata menggoda, yang ia ketahui memang sekadar guyonan saja. Kenapa Kerin malah senewen?!
Kerin memegangi kepalanya, berjalan sempoyongan mirip orang mabuk. Tidak heran beberapa kali ia menabrak bahu seseorang. Kerin menarik tangannya, mendongakkan wajah menatap ke langit-langit rumah sakit yang dirasanya sangat terang sampai matanya silau.
Jeduk!
"Aduh!" pekik Kerin secara otomatis menurunkan dagunya. Ia memeganginya, bertanya sendiri dalam hati, kira-kira apa yang ditabrak Kerin sampai dagunya jadi sakit.
Kepalanya ia turunkan ke bawah. Sambil meringis, Kerin mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit sampai menemukan wajah seseorang yang tidak sengaja ia tabrak barusan.
"Alvo?" gumam Kerin sambil menunjuk ke Alvo.
Alvo menunjukkan reaksi dingin di depan perempuan itu. "Hm."
"Sori. Tadi gue nggak sengaja nabrak lo, seriusan!" Kerin menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.
"Lo lagi mikirin apa sampai orang-orang lo tabrak kayak tadi?" tanya Alvo.
Kerin sontak menoleh ke belakang. "Lo perhatiin gue dari tadi?"
Alvo berdeham, mengurangi rasa gugupnya. Ia hampir ketahuan jika sedari tadi memerhatikan Kerin. "Kok, lo di sini? Ngapain di rumah sakit?"
Tanpa disadari Kerin, Alvo sengaja mengubah topik dengan menanyakannya pertanyaan yang lain. Kerin memegangi dagunya, kemudian menjawab, "Gue lagi jaga Alfa di sini. Eh, lo ngapain di sini, Vo? Mama lo sakit? Atau Papa lo?"
"Bukan." Alvo menggeleng santai. "Mama sama Papa gue baik-baik aja kok. Gue...," gumam Alvo sibuk mencari alasan. "Ah ya. Ada kenalan gue lagi sakit. Jadi gue ke sini buat jenguk dia."
"Oh..." Kerin manggut-manggut.
Dasar Kerin bodoh. Padahal ia tahu Alvo bisa saja datang kemari karena ingin menyusulnya. Ia tidak ingat Manda telah mengabarinya kemarin. Menjenguk teman hanya alasan Alvo saja. Ia ada di sini karena memang ingin bertemu Kerin. Ingin melihat sejauh mana hubungan Kerin dan Alfa.
Jangan-jangan sudah lebih dari teman?
"Sekarang lo mau ke mana, Ke? Ruang inap Alfa di mana?" tanya Alvo.
"Di lantai atas," Kerin menunjuk satu jarinya ke atas. "Terus, lo sendiri mau ke mana pulang? Gue mau mampir ke minimarket seberang buat beli minum temen-temen gue."
Alvo menjejalkan sebelah tangannya ke saku celananya. "Ya udah, bareng aja, Ke. Kebetulan gue beli minum juga."
Kerin agak ragu. Tapi pada akhirnya mengangguk juga. "Yuk, lah. Oh ya, temen lo yang mana yang sakit, Vo? Gue kenal, nggak? Siapa tahu kenal, sekalian gue mau jenguk juga."
Alvo menggeleng cepat. "Nggak, kok. Lo nggak kenal, kok!"
***
Seperti yang diharapkan, Natan datang menjemput Ola untuk mengantarnya ke kampus. Ola bahkan sudah siap sejak satu jam yang lalu. Ketika ia bertatap muka dengan Natan, Ola akan bertanya tentang kejelasan sikap Natan semalam.
"Ayo, sarapan aja dulu sama-sama." Ola mendengar suara Sandra dari atas tangga.
Ola menundukkan kepala, mengintip orang-orang dari atas. Ia melihat satu orang asing sedang duduk di salah satu kursi makan. Seorang perempuan berambut pirang sedang menerima nasi yang dituang ke dalam piringnya.
Siapa ya? Temannya Langen?
"Nah, itu Ola." Sandra mendongak lantas menunjuk ke arahnya.
Baru saat itu Ola mengetahui siapa perempuan itu. Elise. Iya, Elise.... saudara tiri Natan sekaligus mantan pacarnya. Sementara Natan tidak menatap ke arah Ola, seakan menyibukkan dirinya dengan makanan di atas meja. Cih! Berani sekali Natan membawa mantan pacarnya kemari! Terlebih setelah Natan menciumnya tanpa izin seperti semalam! Sumpah ya, Ola bakal senewem seharian ini.
"Hai, La!" sapa Elise ceria. Perempuan itu melambaikan tangan ke arahnya.
"Hm, ya," balas Ola malas-malasan.
Ia melihat tempat duduk yang biasa duduki di samping kursi Natan telah diisi Elise. Tidak jarang Natan kemari dan ikut makan bersama-sama sebelum mengantarnya pergi ke kampus. Perasaan Ola jadi semakin kesal saja. Setelah membuat Ola tidak bisa tidur hampir pagi, Natan malah bersikap dingin padanya. Apa maksudnya kemarin kalau begitu?
"Ngapain sih lo duduk di sebelah gue." Langen menyikut lengan Ola.
Ini lagi! Kakak sepupunya tidak peka sekali, sih! Apa ekspresi yang ditunjukkan Ola kurang jelas kalau ia tidak suka ada Elise di sini? Langen bahkan sudah tahu kalau Elise itu mantan pacarnya Natan! Orang yang menjadi alasan Ola seharian uring-uringan kemarin!
"Tuh, di sebelahnya Natan ada kursi kosong lagi," tunjuk Langen ke kursi kanan.
Kursi kirinya sudah diisi Elise memang. Masih ada satu tempat duduk kosong di kursi kiri yang bisa ia duduki. "Ogah! Gue pengin duduk di sebelah lo. Kenapa sih? Baru kemaren kita akur, lo jangan ngajak gue gelud dong, Kak!"
Langen berdecak. "Gue cuma nawarin kursi lain. Kenapa lo malah marah-marah?" tanya Langen bingung.
Baru semalam suasana hati Ola agak mendingan—walau berakhir tidak bisa tidur nyaris pagi. Setidaknya Ola tidak uring-uringan lagi. Tapi karena ada mahluk yang tak diundang ada di depannya. Ditambah sikap Natan—dianggap menyebalkan, Ola rasanya mau membanting meja saja!
"Kamu kapan pulang ke Indonesia, Lise?" tanya Sandra membuka obrolan.
"Kemaren, Tante. Aku terlalu seneng bisa kembali ke sini sampai nyamperin Natan dulu sebelum pulang ke rumah," jawab Elise.
"Lho, Mama sama Papa kalian nggak ikut pulang emang?"
Elise menggeleng. Perempuan itu mengulas senyum. "Mama sama Papa masih di sana. Cuma aku aja yang pulang ke Indonesia buat nemenin Natan supaya nggak sendirian di rumah."
Ola mencengkram alat makannya. Menggenggam sendok di tangan dengan kekuatan penuh. Elise pulang sendiri tanpa orang tuanya?
"Jadi...," gumam Ola pura-pura biasa. "Kalian tinggal bareng berduaan doang di rumah?"
"Iya," jawab Elise melirik Natan.
Ola menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Walau hatinya sekarang panas, Ola tidak mau berbuat gegabah. Seperti tiba-tiba naik ke atas meja makan lalu menarik rambut panjang Elise sampai botak!
"Bagus dong!" seru Ola, menunjukkan senyum terpaksa ke semua orang. "Kak Natan jadi nggak kesepian lagi sekarang! Udah ada yang nemenin, ada yang diajak nostalagia ya?"
Natan tiba-tiba cegukan. Elise menyambar gelas di sampingnya lantas menyodorkannya kepada Natan. "Minum dulu, Tan." Elise mengatakannya sambil mengusap naik turun punggung lelaki itu.
Tidak bisa! Elise tidak boleh dibiarkan dekat-dekat Natan!"
Di depannya saja berani main elus-elusan. Apa lagi kalau Natan dan Elise dibiarkan hanya tinggal berdua saja di dalam rumah?!
***
Tidak mau ada kejadian seperti kemarin saat Alfa tiba-tiba menghilang. Kerin bersikeras mengantar lelaki itu pulang dari rumah sakit sampai ke alamat Alfa tinggal selama ini. Bukan cuma itu saja, Kerin juga meminta alamat kafe—tempat Alfa bekerja.
"Lo cari gue?" tanya Alfa tidak percaya. "Sampai datengin kafe satu per satu?" Kerin mengangguk. Bibirnya mengerucut lucu. "Woah! Gila lo, Ke. Gue nggak kasian sama lo, sih. Tapi kasian sama Langen! Beruntung banget lo punya temen yang sabar kayak dia!"
Iya. Benar yang dikatakan Alfa memang. Langen terlalu sabar menjadi teman Kerin. Diajak ke sana kemari, sampai mendatangi satu per satu kafe di Jakarta, masih mau saja. Awalnya saja menolak sampai mengancam mundur menjadi temannya. Tapi ujung-ujungnya diantar juga. Eh, ditemani sekalian sih.
"Gue takut lo kenapa-kenapa." Kerin menggaruk belakang lehernya. "Ngeri aja gitu. Gue nggak mau ya disalahin kalau lo tiba-tiba aja meninggal karena demam! Terus nggak ada yang nemuin lo!"
Alfa terbahak. "Heh! Mulut lo jangan sembarangan! Bukannya berdoa supaya gue sehat terus, lo malah kepikiran gue mati!"
"Ya lo sih..." Kerin melirik Alfa sinis. "Tiba-tiba aja menghilang. Gue telepon, gue chat, tapi nggak ada respons. Gimana gue nggak khawatir?"
Sumpah ya. Saat itu Kerin kepikiran yang aneh-aneh tentang Alfa. Bagaimana tidak, sebelum Alfa menghilang dan tidak bisa dihubungi, Alfa mengantar Kerin ke tempat yang lumayan jauh perjalanannya. Sudah begitu, Alfa merelakan jas hujannya untuk Kerin, sementara Alfa malah hujan-hujanan sampai tiba di rumah kosannya Kerin. Coba bayangkan saja sendiri. Memang sekuat apa tubuh Alfa? Kerin yang mengenakan jas hujan saja bisa bersin-bersin besok paginya.
"Merasa kehilangan lo ya?" tunjuk Alfa ke hidung Kerin. "Lo pasti kangen sama gue. Ya, kan? Alesan aja lo bilang khawatir. Padahal ya kangen!"
Kerin menarik tangan Alfa, hendak menggigit salah satu jari lelaki itu. "Jangan percaya diri banget kenapa sih! Ngapain juga gue kangen sama lo? Tiap hari lo ngikutin gue ke mana-mana, nih... kadang bikin risi! Belum lagi telepon gue pagi, siang, sore bahkan malem! Posesif banget lo?"
"Gue sengaja tiap hari telepon lo bahkan pagi, siang, sore sama malem karena tahu lo jomlo sekarang! Jadi biar nggak dikira lo kesepian sama orang-orang!" balas Alfa sambil mencubiti pipi Kerin.
Kerin berusaha mendorong tangan Alfa agar menjauhi pipinya. Tapi yang terjadi, Kerin justru tidak sengaja ditarik oleh Alfa sehingga tubuhnya jatuh menimpa lelaki itu.
Ada yang aneh. Ia bisa mendengar suara deguban jantungnya sendiri. Sepasang matanya mengerjap, balas menatap Alfa, kemudian menarik dirinya sejauh mungkin dari lelaki itu.
Tiba-tiba Alfa tertawa. Bisa jadi ingin mencairkan suasana yang sempat tegang. Kerin diam mematung dan terua bertanya kepada dirinya. Ada apa dengan jantungnya? Kenapa perasaan ini muncul lagi setelah sekian lama?
Jantungnya bereaksi sama saat Kerin sedang berada di dekat Alvo dulu. Kerin merasa bingung. Apa yang terjadi? Sebenarnya... siapa yang ada di hati Kerin sekarang? Karena, Kerin sudah tidak merasakan apa pun saat bertemu Alvo.
"Oh!" seru Kerin menepuk keningnya pelan.
Tawa Alfa reda. Ia melihat Kerin yang terkejut. "Kenapa, Ke?"
"Gue lagi masak di dapur lo!" pekik Kerin. "Tunggu. Gue harus ke dapur dulu buat cek masakan gue selesai atau belum. Sekalian gue siapin obat lo, ya."
***
"Ah, s**t!" umpat Langen mengobrak-abrik isi tasnya.
Mulai dari ponsel, pouch make up, charger, tissue, dan hampir semua yang ada di dalam isi tasnya telah ia keluarkan. Tapi tidak dengan dompet dan ponselnya!
Ke mana ya? Atau ketinggalan di rumah?
Seharian ini Langen menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia tidak sempat bermain ponsel atau mengeluarkan dompet. Makanya ia panik setelah menyadari di dalam tasnya tidak ada ada ponsel mau pun dompetnya.
Orang-orang di belakang Langen menggerutu akibat terlalu lama mengantre, sementara Langen, malah sibuk mengobrak-abrik isi tasnya.
"Mbak, cepetan dong!"
"Punya uang buat beli bensin nggak, sih!"
Jelas saja Langen panik! Melihat ponsel dan dompetnya tidak ada di tas saja ia sudah cukup panik. Apalagi mendengar omelan orang-orang di belakangnya!
Langen harus bagaimana? Kalau saja cuma dompetnya yang tertinggal, ia bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi orang di rumah. Tapi masalahnya ponselnya juga tidak ada! Bagaimana ia bisa menelpon Mama atau Ola?
Langen memasukkan barang-barangnya ke dalam tas lebih dahulu. Ia berniat mendorong motornya agak maju sambil berpikir mencari ide. Kalau dalam kondisi panik seperti sekarang, Langen yakin tidak akan menemukan ide. Bisa-bisa ia akan tetap di tempat pom bensin sampai besok pagi.
"Duh! Ke mana sih, anjir!" Langen misuh-misuh. "Kebiasaan banget emang gue ini! Nggak pernah cek dulu barang di tas sebelum pergi ke mana-mana!"
Rasanya Langen mau menangis saja. Selain panik, ia juga kesal karena dimaki orang-orang yang mengantre tadi. Tidak bisa menunggu sedikit lagi ya? Main maki-maki saja!
Langen terpaksa memarkirkan motornya ke dekat jalur keluar pom bensin. Ia duduk di samping motornya. Ayo, dong! Langen memaksa kepalanya untuk mencari ide. Apa ia meminjam ponsel seseorang saja ya? Ia bisa menghubungi Mama atau Ola agar bisa menjemputnya dulu. Tapi... melihat orang-orang tadi menatapnya sinis, Langen jadi ragu.
Di sisi lain, seseorang menurunkan kaca mobilnya. Ia meragukan pandangannya sendiri. Ternyata benar, perempuan yang sedari tadi ia kira Langen, nyatanya memang perempuan itu. Mantan tunangannya dulu.
Lando selesai mengisi bensin mobilnya dan membayar. Ia melajukan mobilnya pelan-pelan sampai berada di samping motor perempuan itu. Di saat yang sama, Langen mendongak, kedua matanya menatap tepat ke mata Lando yang juga sedang memandangnya.
Sontak, Langen berdiri buru-buru sampai kepalanya tidak sengaja menabrak kaca spion-nya lumayan keras. Langen mengaduh. Suaranya lumayan kencang sampai beberapa orang yang mendengar menoleh ke arahnya.
"Hati-hati makanya, La." Lando keluar dari mobil lantas menghampiri Langen.
Lando secara otomatis memegangi kepalanya Langen sesekali mengelusnya. Suatu kebiasaan Lando setiap kali Langen bertindak ceroboh. Lando bertanya apakah ada yang sakit? Langen malah melamun, sibuk memandangi wajah Lando yang..., kok, tambah ganteng?
"Sakit nggak, La? Kenapa helm-nya nggak dipake aja?" tanya Lando sambil menunjuk helm milik Langen yang tergeletak di bawah.
"Ndo, lo bawa cash, nggak?" Langen malah balas bertanya.
"Bawa, kok. Kenapa?"
"Dompet sama HP gue kayakanya ketinggalan di rumah. Gue tadinya mau isi bensin motor. Tapi dompet gue malah nggak ada," jawab Langen.
Lando mengeluarkan dompet kemudian memberikan selembar uang kepada Langen. Namun bukannya diterima, Langen justru menggelengkan kepalanya.
"Katanya mau isi bensin?" tanya Lando bingung.
"Gue tadi kena maki orang-orang yang antre." Langen menunjuk ke tempat pengantrean. "Lo aja yang beliin ya? Bawa aja motor gue ke sana."
Lando menggelengkan kepalanya pelan. Padahal membeli bensin sudah menggunakan uangnya. Tapi masih Lando juga yang pergi membeli. Astaga. Biar Lando heran, Lando juga merasa senang. Ia sudah lama tidak melihat ekspresi Langen yang begini.
"Kamu tunggu sini. Aku beliin bensin motor kamu dulu."
Langen mengangguk cepat. Lando mendorong motornya kembali ke tempat antrean.
***
"Kenapa lo, Ke?"
Kerin mengangkat kepala dan mendapati Manda sedang duduk sendirian di sofa ruang tamu. Kerin celingukkan mencari yang lain. Ke mana semua teman-teman kosannya?
"Malika, Debora sama Debi lagi nonton. Chintya nggak tahu ke mana. Tadi kelihatan buru-buru sambil nenteng helm." Seperti tahu isi kepala Kerin, Manda menjelaskan ke mana semua teman-temannya pergi.
"Oh." Kerin manggut-manggut.
Kerin melepas tas selempangnya, melempar ke arah sofa lebih dulu, kemudian giliran bokongnya yang ia empaskan di atas sofa. Kerin menyandarkan kepalanya ke punggung sofa. Kedua matanya sempat memejam beberapa detik lalu ia buka kembali.
"Lo habis ngurusin Alfa, kan?" tanya Manda menolehkan kepalanya sekilas.
"Hm." Kerin mengerjapkan matanya lagi.
"Gimana kondisinya, Ke?" Kini, Manda sepenuhnya menatap ke arah Kerin. Ia memiringkan badan sambil memeluk bantalan sofa di atas pangkuannya.
"Udah baikan, sih..." Kerin masih bersandar.
"Bagus, deh." Manda mengangguk kecil. "Gue ngeri denger cerita kalian kemaren. Gila, sih! Alfa cowok banget. Dia gentle. Sayang aja gue udah punya pacar!"
"Dih! Ketularan Chintya, lo?"
Manda balas mencibir. "Dih! Cemburu lo? Status lo apa?"
Walau Kerin tahu Manda hanya bercanda, tapi Kerin merasa ditampar oleh pertanyaan perempuan itu. Memangnya Kerin cemburu? Perasaan tidak, deh. Mana pernah ia cemburu, kan? Apa lagi ini menyangkut Alfa, lho. Sungguh. Kerin sama Alfa hanya berteman.
"Tapi ya, Ke...." Manda meletakkan bantal sofa ke belakang punggungnya. Memutar badan sehingga posisi duduk mereka saling berhadapan satu sama lain. "Kata cowok gue, yang namanya cowok sama cewek beneran temenan tuh nggak ada."
Kerin menaikkan sebelah alisnya. "Hah? Maksud lo gimana, Nda?"
Manda diam beberapa detik, kemudian ia menambahkan, "Pertemanan antara cowok sama cewek tuh nggak ada, Ke. Entah ada salah satu yang ngarep, yang satu baper, kita mana tahu, kan?"
Iya juga, sih. Sama halnya yang dirasakan Kerin saat bersama Alvo dulu. Walau hubungan mereka tidak bisa disebut teman juga, tapi Kerin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama lelaki itu. Diam-diam Kerin menyimpan perasaan kepada Alvo. Berharap suatu hari nanti Alvo menyadari bahwa Kerin memiliki perasaan lebih dari sekadar seorang patner.
"Saran gue, sih...," Manda memelankan suaranya. "Kalau Alfa udah terlalu perhatian sama lo nanti, lo wajib tanya maksud dia apaan. Jangan ntar lo udah baper, ternyata dia cuma anggap lo temen doang!"
Kerin mengibaskan tangan berusaha menyangkal. "Gue sama Alfa cuma temenan doang, Nda."
Manda menepuk paha Kerin. "Gue cuma ingetin doang sih, Ke. Mana tahu suatu hari lo baper sama temen sendiri, kan?"
Di akhir kalimatnya, Manda tertawa geli. Manda belum tahu saja perasaan yang Kerin rasakan beberapa hari terakhir. Setiap berada di dekat Alfa, Kerin merasa suara jantungnya berbunyi agak ekstreem daripada biasanya. Kerin bahkan memiliki ketakutan, bagaimana kalau Alfa bisa mendengar suara jantungnya?
Suka?
Tidak. Jelas tidak mungkin. Ia menyimpan perasaannya untuk Alvo selama dua tahun terakhir ini. Mereka baru satu bulan berpisah, bertemu Alvo saja, Kerin tidak sanggup biarpun sekadar menyapa atau mengatakan, "Hai." Akan tetapi, Kerin menyadari sesuatu. Saat ia dan Alvo bertemu di rumah sakit dua hari yang lalu, ia tidak merasakan apa pun ketika berada di samping Alvo. Kerin bahkan tidak merasa sakit hati saat tahu nomornya diblokir lelaki itu.
"Gue jamin sih, cewek yang deket sama Alfa nggak bakal kesulitan buat suka sama dia." Manda mengoceh. Tatapannya lurus ke arah TV yang menyala. "Dan nggak menutup kemungkinan lo bakal suka juga sama dia," tambah Manda.
***
Sandra dibuat bingung lagi oleh kedua mahluk di rumahnya. Kemarin ada yang menangis karena perjodohannya dibatalkan. Sekarang malah tambah parah. Yang kemarin menangis, sekarang cengar-cengir. Tidak berhenti tersenyum mirip orang kurang waras. Astaga. Dan satunya lagi....
"La!" seru Sandra memanggil Ola.
Tapi karena Langen dan Ola memiliki panggilan yang sama, keduanya jadi menoleh. Ola tersentak kaget. Langen segera sadar kemudian bertanya, "Apa, Ma?"
"Bukan kamu." Sandra menggelengkan kepalanya. "Ola maksud Mama."
"Oh," gumam Langen panjang. Kemudian lanjut tersenyum lagi.
"Kenapa, Tan?" tanya Ola lesu.
"Coba lihat yang ada di sendok kamu isinya apa," tunjuk Sandra. "Itu kan sambel, La. Mana full lagi."
Ola menunduk, ia meringis, merutuki kebodohannya sendiri.
Seharian ini ia uring-uringan sendiri. Oh, lebih tepatnya kemarin—saat Natan membawa mantan pacarnya kemari. Sudah begitu, Ola harus mengalah ketika tempat duduknya di mobil diserobot oleh Elise! Bilang permisi kek, apa gitu, kenapa main serobot saja?
Ola jadi tidak selera makan. Ia meletakkan sendok kemudian mendorong piringnya ke tengah-tengah meja. Ola memilih menghabiskan susunya susunya sebelum pergi ke sekolah.
"Tumben Natan belum jemput," gumam Sandra melirik jam di dinding.
"Nggak jemput kali, Tan," sahut Ola sebal. "Kan, Elise ada di Indonesia. Mau nemenin adik kesayangannya mungkin!"
"Emang Elise berapa lama tinggal di Indonesia, La?" tanya Sandra.
Ola menaikkan kedua bahunya. "Nggak tahu. Bisa jadi selamanya."
Kalau itu sungguhan terjadi, Ola akan berusaha untuk membatalkan perjodohan mereka! Untuk apa mempertahankan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya? Daripada Ola terus makan hati, lebih baik ia mundur jalur mandiri sebelum dipaksa mundur.
"Nah, itu Natan!" seru Sandra sambil menunjuk ke arah Natan yang baru masuk.
Lagi-lagi di belakangnya ada Elise....
Ola segera menyambar tas sekolahnya. Ia mencium punggung tangan Sandra dan berpamitan pergi ke sekolah.
"Lho, La, langsung berangkat aja? Nggak nunggu Natan selesai sarapan?" tanya Sandra heran.
Ola melirik Natan sinis. "Aku nggak perlu nunggu dia selesai sarapan kok. Silakan aja sarapan sampai puas. Sampai besok pagi lagi juga nggak apa-apa!"