Kerin berdiri di depan rumah Alfa. Di tangannya ada berbagai makanan, sebagian atas insitifnya, dan sisanya, titipan dari teman-teman Kerin.
Harusnya Alfa masih istirahat, kondisinya belum pulih betul. Kerin telah mewanti-wanti Alfa agar tidak melakukan pekerjaan berat sebelum lelaki itu benar-benar sembuh.
Arloji di pergelangan tangan Kerin menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Masih ada waktu sekitar dua jam, dia sengaja datang ke rumah pagi-pagi sekali sebelum Kerin memulai aktivitasnya.
Kerin mengulurkan tangan hendak mengetuk pintu sekali lagi, namun si pemilik rumah keburu muncul, membuka pintu lalu menyapanya dengan wajah mirip orang bingung.
"Ke." Alfa celingukkan ke luar. Kerin berdiri tepat di hadapannya sambil menenteng dua kantong berukuran lumayan besar.
"Lo nggak tahu ini berat banget, Fa? Minimal bantuin bawa, kek. Jangan malah bengong." Kerin memasang tampang bersungut. Tangannya menjinjing kantong plastiknya lebih tinggi.
Seolah sadar dirinya lamban member reaksi, Alfa buru-buru mengambil alih bawaan Kerin. Diajaknya perempuan itu masuk ke dalam.
Kerin mendecakkan lidah, ruang tamu Alfa sangat berantakkan. Padahal baru kemarin ia melihat ruang tamu itu telah dirapikannya. Kenapa sekarang berantakkan lagi, kotor lagi, memangnya selama sakit, Alfa melakukan apa saja, sih?
"Kenapa, Ke?" tegur Alfa sembari mengeluarkan isi dari kantong plastiknya.
Ada berbagai macam makanan, vitamin, sampai camilan. Salah satunya keripik, dan jumlahnya lumayan banyak. Apa Alfa bisa menghabiskan? Sedangkan ia tinggal sendirian di rumah.
Kerin melirik Alfa kurang dari tiga detik. Dirinya yang sudah rapi, rela turun tangan untuk membersihkan rumah Alfa. Kerin melepas blazer miliknya, lantas menyampirkannya ke atas sandaran kursi.
Sambil menggulung lengan kemejanya, Kerin pun turun tangan membersihkan ruang tamu—adalah tempat yang ia kerjakan lebih dulu sebelum ruangan lainnya.
"Kemaren lo ngapain aja sampai berantakkan begini?" omel Kerin. Dia menarik cangkir kotor bekas kopi dari atas meja. "Padahal lagi sakit, bisa banget lo bikin berantakkan begini!"
Alfa menghampiri Kerin, mengintip dari belakang. "Gue nggak bisa tidur. Ya udah, gue main game sampai pagi, nggak kerasa aja."
Kerin menolehkan kepalanya sepintas. "Ada dua cangkir di sini. Lo semua yang minum?"
Kedua mata Alfa melirik cangkir yang ditunjuk Kerin. "Hm, iya. Gue kuat ngopi. Dua cangkir itu bukan apa-apa."
"Sinting ya, lo," maki Kerin, lalu berdiri menghadap ke Alfa. "Udah tahu lagi sakit, malah begadang, minum kopi! Lo bilang nggak bisa tidur, kenapa malah minum kopi?"
Alfa cengengesan. Sambil menggaruk belakang kepalanya, lelaki itu menjawab, "Gue bingung mau ngapain, Ke. Daripada nggak bisa tidur, terus gue ganggu lo malem-malem?"
Tatapan Kerin berubah setelah mendengar jawaban Alfa. Selama ini Kerin telah banyak merepotkan lelaki di depannya ini. Alfa tidak pernah mengeluh. Semakin Kerin meminta Alfa menjauh, Alfa kian mendekat.
"Lo boleh telepon gue kapan pun lo mau." Kerin memalingkan wajah. Sesungguhnya dia malu mengatakannya. Alfa itu jahil. Jika Kerin memperlakukan Alfa baik, pasti Kerin akan diolok habis-habisan.
Alfa memiringkan kepala. Raut wajahnya berubah menjadi jahil, seperti dugaan Kerin. "Barusan, yang ngomong lo, Ke?" Alfa menahan senyum geli.
Kerin menoleh. Punggungnya bergerak tegak. Tatapannya berubah lebih berani daripada beberapa menit lalu. "Apa salahnya gue bersikap baik ke orang yang baik sama gue, Fa?" tanya Kerin menghela napas. "Lo selalu ada buat gue. Sekarang giliran gue yang bakal nemenin lo saat butuh temen."
Alfa mendongak, dihelanya napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Lo jadi baik karena gue sakit. Kalau gue milih tiap hari sakit, lo bakal baik terus kan, Ke?"
Kerin pura-pura akan meninju wajah Alfa. "Sekali lagi lo bilang begitu, gue hajar lo, ya! Ucapan itu doa. Kenapa nggak bilang tentang yang baik-baik aja?!"
Alfa terbahak. "Makanya lo harus baik ke gue setiap hari. Mau gue sakit, sehat, pokoknya jangan judes lagi."
Kerin mencebikkan bibir. Bicara dengan Alfa, hanya akan membuang-buang tenaganya saja.
Perempuan itu melirik arlojinya, waktunya nyaris habis karena terlalu lama meladeni Alfa.
***
"Gue lihat lo dateng ke rumah sakit waktu itu."
"Kapan?"
"Waktu pertama gue dirawat. Gue nggak sengaja lihat lo lagi ngintip dari luar. Kenapa? Lo pasti khawatir sama Kerin, kan?"
Alvo mengatupkan bibir. Alfa seolah memiliki seribu cara untuk membungkam mulutnya hanya lewat kata-kata.
Alvo telah memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang mengetahui kehadirannya di rumah sakit saat itu. Cuma ada Kerin dan dua orang teman Kerin yang ikut berjaga. Alvo bahkan mengintip sebentar, kemudian memutar badan meninggalkan ruang inap Alfa.
Lalu, Alfa tahu dari mana?
Semalam, Alvo mendapat telepon dari Alfa. Lelaki itu terang-terangan mengundang dirinya untuk minum kopi. Alvo mengiyakan ajakan Alfa, lagi pula ia penasaran kronologi yang sebenarnya. Bagaimana bisa Alfa datang ke sana, sementara yang tahu Kerin pergi bersama teman-temannya, itu cuma Manda.
Pukul sebelas malam, Alvo sampai ke rumah Alfa. Ia disambut dengan baik oleh lelaki itu. Dari pertama mereka bertemu lalu terjadinya banyak interaksi, belum pernah sekali pun Alvo memperlakukan Alfa dengan baik. Alvo merasa jahat, dan Alfa tidak pernah berniat membalasnya.
"Gue nggak mungkin masukin racun ke minuman lo." Seperti tahu isi kepala Alvo, Alfa menegaskan, diletakkannya kopi itu ke atas meja.
Tidak salah kalau Alvo berpikiran Alfa ingin meracuninya, kan? Di sini hanya ada mereka berdua. Mana tahu Alfa merencanakan hal jahat untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya, Kerin?
"Lo beneran lihat gue di rumah sakit?" tanya Alvo.
Alfa duduk di samping Alvo, menyambar salah satu cangkir kopi. "Gue nggak harus ngulang dua kali kan, Vo?" sindir Alfa.
"Gimana bisa?" gumam Alvo tidak percaya.
Alfa terkekeh. "Gue punya mata. Ya jelas bisa."
Alvo merasakan bahwa dirinya kelihatan sangat bodoh sekarang. Di mata orang, Alvo adalah keturuna Tjandra, anak lelaki satu-satunya yang pintar, berwibawah, dipuja-puja banyak orang. Namun di depan Alfa, Alvo kelihatan d***u. Dan Alvo kesal!
"Dan gue tahu lo ketemu sama Kerin waktu itu. Terus pura-pura jenguk temen, kan?"
Alvo melotot. "Kerin cerita sama lo?"
Alfa menggeleng. "Kalau gue mau, gue bisa bilang ini ke Kerin. Dia nggak tahu apa-apa." Alfa bergumam, kemudian menambahkan, "Ayo, dong, Vo. Mau sampai kapan lo gengsi? Gue udah berbaik hati mau bantuin lo."
"Gue nggak suka sama Kerin kayak yang lo pikirin."
"Masa?" timpal Alfa meledek. "Terus, yang kemaren apa?"
Alvo menelan ludah susah payah. Lidahnya keluh untuk ia gerakkan. Sekadar membalas kata-kata Alfa saja, Alvo tidak sanggup.
"Sebelum terlambat, lo masih bisa memperjuangkannya mulai dari sekarang." Alfa menyesap kopinya dengan nikmat. "Jangan sampai lo sadar, tapi saat itu hati Kerin udah buat orang lain."