Cerita Alvo

1039 Kata
"Vo." Deon menarik punggung dari sandaran kursi. Lebih dari dua kali dia memanggil Alvo, tapi Alvo justru terlihat tidak fokus sama sekali. Deon berakhir menjawil lengan temannya. Alvo segera sadar, kepalanya celingukkan, menoleh ke sana kemari seolah mencari seseorang. "Gue panggil lo bolak-balik. Lagi mikirin apa sih, lo?" tanya Deon. Lelaki itu kembali menyandarkan punggung. Menunggu Alvo mau menjawab pertanyaannya. Siang ini, Alvo dan Deon sedang makan siang. Hanya berdua saja, entah ke mana dua orang temannya lagi. Entah hanya perasaan Deon saja, atau memang teman-temannya sedang ada masalah. Kemarin, Lando lalu Natan. Hari ini Alvo. Atau, mereka tidak berniat berbagi cerita dengan Deon? Tumben sekali. Deon menyambar cangkir kopinya, menyesap sisa kopi yang mulai dingin. "Gue nggak tahu kalian ada masalah apa. Kenapa bisa barengan, sih?" keluh Deon. Deon meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. Alvo mengerutkan dahi, siapa-siapa saja yang Deon maksud? "Diawali sama Lando, terus Natan, sekarang lo juga bertingkah aneh. Kalau Lando, gue tahu masalahnya apa. Natan, gue nggak paham karena dia nggak cerita. Yang gue tahu, dia pusing karena Elise pulang ke Indonesia di saat dia mulai sayang sama Ola. Nah, lo?" Sepasang alis tebal Deon saling beradu. Si kulkas berjalan sedang dalam suasana hati yang bagus sepertinya. Dilihat cara bicara, seberapa banyak lelaki itu mengeluarkan kata-kata. "Apa permasalahan kalian temanya sama? Karena perempuan?" tebak Deon santai. Alvo menelan ludah susah payah. Deon menebak dengan benar. Tapi untuk bercerita lebih banyak, Alvo ragu, belum tentu Deon akan memberi saran yang bagus, mengingat Deon juga tidak memiliki pengalaman apa-apa tentang perempuan. Deon lebih suka menyibukkan dirinya dengan bekerja, berkutat di depan layar komputer sampai matanya perih. Alvo juga pekerja keras, tapi tidak segala Deon. Coba tanya, kapan terakhir kali Deon menyukai perempuan? Maka jawabannya, adalah, "Udah lama. Gue aja lupa." Sama sekali tidak memuaskan. "Pasti Kerin, sih." "Hah? Lo ngomong apa barusan?" tegur Alvo. Deon menatap Alvo lurus. "Gue bilang Kerin. Iya, kan? Pasti masih berhubungan sama dia, makanya lo jadi linglung begini." "Jangan sok tahu," dengkus Alvo. "Gue cuma nebak," sahut Deon. "Beda lagi sama sok tahu." Alvo melengos. Menghindari tatapan Deon yang lebih cocok dibilang seperti orang menginterogasi. Alvo merasa Deon terus memerhatikannya, seakan menunggu Alvo menyerahkan diri agar bercerita tanpa perlu dipaksa-paksa. Karena Deon tahu, dia paham, dipaksa menceritakan sesuatu kepada orang lain, jelas tidak nyaman. "Gue yakin lo nggak pernah ngalamin ini sih." Alvo bergumam, dia menarik bokongnya lebih maju ke ujung kursi. "Tapi nggak ada salahnya gue nanya ke lo." "Jangan panjang-panjang. Intinya aja, apa?" sela Deon. Alvo mendecakkan lidah. Harusnya ia bisa menebak reaksi Deon. "Menurut lo, cowok yang udah nyakitin ceweknya, berhak mendapat kesempatan kedua, nggak?" tanya Alvo. Deon mengangkat wajahnya. "Tergantung. Udah berada di mana level si cowok nyakitin ceweknya. Ngelewatin batas, nggak?" Alvo diam, ia sedang berpikir. "Hm, kayak, nggak pernah menghargai si cewek. Egois, bertindak seolah si cewek nggak pernah ada." "Ada indikasi selingkuh, nggak?" Sontak, Alvo membatu. "Berharap sama mantan, itu termasuk selingkuh?" "Ya nggak, sih. Toh, cuma berharap. Beda lagi kalau terealisasikan." Deon menimpali. "Lagian, aneh banget cowoknya. Udah ada cewek, masih mengharapkan mantan pacar. Kenapa nggak diputusin aja dulu, baru berharap bisa balikan sama mantannya yang lain?" Deon menunjuk kepala dengan satu jarinya. "Gue sebagai cowok, sama sekali nggak mendukung adanya perselingkuhan." Detik berikutnya Alvo memilih diam dan berpikir. Ia mencoba menelaah kata-kata Deon barusan. Alvo hampir merealisasikan keinginannya dengan mengungkapkan perasaannya kepasa Yasmin waktu itu. Namun ekspetasi Alvo terlalu tinggi. Ia mengira Yasmin pulang ke Indonesia karena ingin kembali padanya. Tapi kenyataannya, perempuan itu telah memiliki kekasih baru. Oh, ralat. Calon suami lebih tepatnya. Tapi, Alvo boleh membela diri, kan? Alvo mengatakannya saat ia dan Kerin sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Masih bisa dibilang mengkhianati ya? Sedangkan waktu itu status Alvo sedang sendiri. "Terus, si cowok sekarang menyesal? Kabarnya gimana?" pancing Deon, namun Alvo tidak menyadarinya. "Dia lagi dekat sama cowok lain," jawab Alvo. Seketika ia membayangkan kedekatan Kerin dan Alfa. Walau Alfa meyakinkan Alvo bahwa dirinya tidak memiliki hubungan selain teman, Alvo merasa ragu. Entah, Alvo memiliki keyakinan kalau antara Kerin dan Alfa lebih dari sekadar teman. Bisa saja hari ini Alfa mengaku cuma teman, tapi besoknya lebih, kan? "Hm, jadi, lo cemburu?" "Gue nggak cemburu! Gue heran aja kenapa dia dapat cowok lebih cepat dari perkiraan gue! Gue sempat mikir, dia bakal balik gue pada akhirnya, Yon—" Alvo mendelik. Sontak, lelaki itu membungkam bibirnya sendiri lalu menatap Deon. Deon tersenyum tipis. "Udah gue duga. Yang barusan, cerita lo, kan?" tunjuknya ke Alvo. "Kenapa harus muter-muter, sih? Tinggal bilang kalau itu cerita lo." Alvo mati gaya. Sementara Deon terlihat puas menertawakan Alvo. "Sialan," umpat Alvo sambil menggosok belakang lehernya. *** "Lho, Ke?" Kerin berjalan mundur. Seseorang memanggil sembari menunjuk dirinya. "Oh, lo, Nat." "Iya, Ke," angguk Natan. "Ke sini mau makan lo, Ke?" "Bantuin tukang cuci piring di belakang, sih." Kerin menimpali dengan sinis. Natan tertawa canggung. "Gue lagi basa-basi." "Salah orang kalau lo mau basa-basi." Kerin membalas. "Lo ke sini sama siapa, Nat? Habis jemput Ola pasti." "Eh? Nggak, kok." Natan menggeleng. "Ola lagi jalan sama Anne. Gue ke sini sama Elise. Tuh, dia di sana. Apa lo mau gabung aja?" Kerin mengikuti ke mana ujung jari Natan menunjuk ke sebuah meja di dekat jendela kaca. Kerin menyipitkan mata, menatap sosok Elise yang tengah sibuk bermain ponsel. Perempuan itu tidak sadar jika sedang diperhatikan Kerin. "Berdua doang?" tanya Kerin. "Iya." Natan menjawab, lalu menambahkan, "Kebetulan Elise lagi main ke kantor. Karena udah jam pulang, sekalian gue mampir makan." "Ah," timpal Kerin. "Gue baru tahu kantor bisa jadi tempat main, ya, Nat?" Natan tidak sadar Kerin mengubah ekspresi wajahnya. Semua orang terdekat Natan, itu tahu siapa Elise. Punya hubungan apa mereka di masa lalu. Kerin, sih, tidak tahu apa reaksi Ola kalau tahu mantan pacar tunangannya main ke kantor, lalu makan bersama sebelum pulang ke rumah. Bukannya mau berprangka buruk, tapi kedekatan Elise dan Natan bisa saja menimbulkan pertanyaan dari orang-orang. Dulunya pernah pacaran, lantas berubah status menjadi Kakak dan adik. Apa lagi sempat beredar rumor, kalau Natan bersedia dijodohkan dengan Ola karena Elise. Natan ingin melupakan Elise, makanya mau dijodohkan. Terlepas siapa pun perempuannya. "Nggak usah, deh. Lagian gue ada janji sama teman," ujar Kerin. "Lo makan berdua aja sama Elise. Gue nggak enak, ntar jadinya ganggu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN