Ola tidak benar-benar pergi bersama Anne seperti kata Natan. Sepulang sekolah, Ola langsung pulang ke rumah. Ia ingin istirahat, menenangkan pikiran dan hatinya karena manusia bernama Natan itu, telah membuat suasana hatinya kacau.
Pesan dan panggilan telepon Natan, Ola abaikan, sengaja. Ola sedang malas meladeni lelaki itu. Setiap kali Ola melihat nama kontak Natan di layar ponsel, Ola akan teringat sosok adik tiri Natan yang terus menempel seperti lintah.
Iya, siapa lagi kalau bukan Elise?
Bilangnya adik tiri, tapi ke mana-mana selalu berdua!
Ola meletakkan tas kuliahnya ke atas meja, sebelum merebahkan dirinya ke kasur. Ola menyambar guling, lalu memeluknya agar erat. Dihelanya napas panjang, tatapannya terarah ke layar ponsel miliknya yang tenang.
Tidak ada pesan, apa lagi panggilan dari Natan lagi.
Ah, pasti Natan sedang bersama Elise!
Ola benci dengan lelaki plin-plan seperti Natan. Kalau memang Natan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa ke Elise, kenapa mau-maunya diikuti Elise ke mana-mana? Elise, datang jauh-jauh dari luar negeri ke Indonesia, cuma untuk jadi pengangguran, ya? Tidak punya pekerjaan sampai harus mengikuti ke mana saja Natan pergi? Sampai Natan datang kemari pun, Elise selalu ikut. Nimbrung bicara setiap kali Tante Sandra mengajak Ola atau Natan bicara.
"Ola."
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia mendengar suara Tante Sandra memanggil namanya.
"Iya, Tante," balas Ola. Ia turun dari ranjang dan membuka pintu.
"La, Tante mau pergi ada urusan. Langen, Tante suruh pulang cepat, tapi nggak bisa karena ada kerjaan di lapangan. Kamu sendirian di rumah nggak apa-apa, kan?" tanya Tante Sandra khawatir. Wanita itu maju dua langkah, kemudian meletakkan punggung tangannya ke kening Ola. "Kamu masih nggak enak badan, kan? Di rumah aja, ya. Tante udah telepon Natan, sepulang dari kantor biar datang ke sini."
Secara otomatis, Ola mendorong kepalanya mundur. "Ngapain nyuruh Natan ke sini, Tante?"
"Buat jagain kamu, dong, La." Tante Sandra menggeleng heran. "Kamu ini lagi sakit, sendirian pula, Tante mana mungkin tega biarin kamu di rumah? Kalau ada apa-apa, misal pingsan, atau gimana, siapa yang bakal nolongin?"
Lalu, kenapa harus Natan?
Kedua bahu Ola turun dengan lesu tanpa kentara. Tante Sandra menepuk pipi keponakannya lembut sebelum ia memutar badan lalu meninggalkan kamar Ola.
Di antara banyak kenalan Ola, kenapa Natan pilihan tantenya? Bisa saja Tante Sandra menelpon Anne, atau Kerin untuk dimintai tolong.
Tante Sandra tidak tahu saja, Ola sedang menghindari Natan. Makanya Ola enggan dijemput Natan di sekolah. Karena Natan pasti akan membawa Elise, lalu suasana hati Ola akan semakin kacau.
Ola tidak sungguhan sakit, apa lagi demam, Ola baik-baik saja. Yang bermasalah sekarang bukan badannya. Tapi hati Ola.
"Gue pergi jalan-jalan aja kali, ya? Tapi, ajak siapa?" gumam Ola, membatu di ambang pintu.
***
Sudah Kerin bilang, Alfa tidak perlu ikut dirinya dan Ola pergi jalan-jalan. Alfa masih dalam masa penyembuhan. Tidak boleh banyak gerak, apa lagi mengikuti keinginan Ola berkeliling ke mal, seperti orang gila.
Maksud Kerin, Ola keliling tanpa tujuan mau ke mana. Entah makan, nonton, atau belanja pakaian. Kerin dengan sabar mengikuti kemauan Ola, tapi Kerin juga kasihan kalau Alfa jadi ikut-ikutan lelah.
Kalau Alfa jatuh pingsan di sini, siapa yang mau menggotongnya?
"La, berhenti bentar, deh." Kedua kaki Kerin rasanya hampir putus karena tidak kuat berkeliling lagi.
Perempuan itu berdiri memunggungi Alfa, membungkuk sebentar sembari memegangi kedua lututnya yang terasa nyeri bukan main.
Ola memutar badan, menatap Kerin selama tiga detik dengan kerutan di dahi. "Kenapa, Kak?"
"Gue capek," jawab Kerin jujur. "Kita cari tempat duduk atau makan dulu, yuk? Kalau lo maksa keliling terus, yang pingsan bukan Alfa, tapi gue, La!"
Ola melirik Alfa di belakang Kerin. "Ya udah, boleh kalau gitu. Tapi lo yang traktir, ya?"
Kerin mendelikkan matanya. Sementara Alfa, ia tertawa melihat reaksi Kerin.
Ola ini anaknya siapa, sih? Sudah kurang ajar mengajak Kerin dan Alfa keliling sampai pegal, makan pun, minta ditraktir pula!
Kerin melambaikan tangan, ia pasrah saja. "Oke. Gue yang traktir. Lo mau makan apa?"
"Di atas aja, yuk? Yang lebih murah. Gue pengin makan nasi goreng," kata Ola sambil menunjuk tempat makan di lantai atas.
Kerin menoleh ke Alfa, meminta saran lelaki itu. "Gimana, Fa? Ola mau makan di pujasera."
Alfa mengangguk. "Gue ikut aja."
Melihat Alfa setuju, Ola menyambar tangan Kerin, dan menariknya menuju eskalator. "Lo baik banget deh, Kak! Ntar gue minta Kak Kangen traktir lo, ya."
"Kenapa jadi Langen yang traktir gue? Lo dong harusnya!" balas Kerin.
"Gue masih kuliah. Belum kerja, belum ada penghasilan," ujar Ola, membuat Kerin mendengkus.
Di belakang, Alfa hanya bisa menggelengkan kepala mendengar celotehan Ola yang layak disebut mirip anak kecil tengah merajuk.
Untuk hari ini, Alfa memilih tidak banyak bicara. Walau Ola tidak memberitahu kenapa bertingkah aneh, Alfa bisa menebak dengan benar, kalau Ola, sedang ada masalah percintaan.
***
"Gue ke toilet bentar ya. Kalian tunggu di sini," pesan Kerin.
Ia meninggalkan tas beserta ponsel ke atas meja, lalu beranjak dari kursi menuju toilet. Tiba-tiba saja perutnya sangat mulas, tidak bisa ditahan lagi sebelum ia membuang banyak angin, dan mempermalukan dirinya, akibat bau kentutnya yang tidak manusiawi.
Ola telah menghabiskan sepiring nasi goreng miliknya. Perempuan itu menyambar gelas minumannya, menghabiskan sisa-sisa jus alpukatnya.
Semua pergerakkan Ola, tidak lepas dari kedua mata Alfa.
Ola dengan santai mengunyah es batu di dalam mulutnya. Sadar akan diperhatikan, Ola menegur Alfa. "Lo nggak pernah lihat cewek cantik ngunyah es batu, Bang?"
Alfa tersadar. Namun lelaki itu kelihatan santai. "Udah bosen gue lihatnya. Kerin sering begitu tiap diajak makan berdua di luar."
"Oh, iya," gumam Ola.
Kebiasaan mengunyah es batu juga dilakukan Kerin. Tapi, kenapa Alfa terus memerhatikan Ola dari tadi?
"Maaf nih ya, Bang," gumam Ola. "Gue udah punya tunangan. Terus, gue nggak doyan ngerebut pacar temen sendiri."
"Lo lagi ngomongin siapa?" timpal Alfa, menahan tawa geli. "Maksud lo, gue suka sama lo?"
Dengan polos, Ola menganggukkan kepala.
Alfa terbahak. "Pertama, gue bukan pacarnya Kerin. Kedua," gumam lelaki itu, menunjukkan dua jarinya. "Lo bukan tipe gue. Justru gue perhatiin lo dari tadi, karena kelihatan lagi nahan marah. Jujur aja, lo lagi marahan sama tunangan lo, kan?"
"Dih, sok tahu!" seru Ola.
"Kalau nggak marahan, kenapa nggak ajak tunangan lo keliling? Kenapa Kerin?" balas Alfa.
"Karena tunangan gue sibuk, makanya gue ajak Kak Kerin." Ola menghela napas, bibirnya mengerucut lucu.
"Masa?" sahut Alfa. "Terus, cowok di ujung sana siapa? Dari tadi perhatiin lo. Tapi lo nggak sadar."
Ola mengikuti ke mana ujung jari Alfa menunjuk. Seorang lelaki mengenakan setelan jas biru tua, memerhatikan ke arahnya dengan tatapan tajam, seolah tidak suka Ola duduk bersama Alfa.
Lelaki itu beranjak dari kursinya, menunjukkan tanda-tanda akan menghampirinya. Ola menelan ludah susah payah. Ia merasa seperti ketahuan selingkuh.
"Oh, jadi begini tingkah orang yang lagi sakit, ya?" sindirinya. Berdiri di samping meja Ola sambil melipat tangan di depan d**a.
Ola mendongak, balas menatap Natan, tunangannya. "Maaf, lo siapa ya? Apa kita kenal?"
Sialan, Alfa tidak bisa menahan tawanya lebih lama karena tingkah Ola. Di luar dugaan, Ola justru pura-pura tidak mengenali Natan.
Alfa tahu kalau itu Natan, kok. Beberapa kali mereka sempat bertemu walau tidak mengobrol.
"Ayo, pulang!" Natan menyambar tangan Ola. "Aku mau jemput kamu ke kampus, kamu bilangnya mau pergi sama Anne. Tadi sore, Tante Sandra telepon dan minta aku jagain kamu di rumah. Terus, ini apa? Kenapa duduk berduaan sama cowok lain?"
Mendengar ocehan Natan, Ola semakin meradang. Ia mengempaska tangan Natan. "Harusnya lo berterima kasih sama gue. Karena apa? Gue kasih lo waktu berduaan sama adik tiri lo itu. Gue baik, kan? Di mana lagi lo nemuin calon istri pengertian kayak gue. Nggak bakal nemu di mana-mana."
"La, jangan kayak anak kecil. Aku antar kamu pulang, kita bicara di rumah aja," ujar Natan, ia sadar menjadi tontonan banyak orang.
"Emang gue anak kecil di mata lo, kan?" tunjuk Ola. "Gue bukan lo yang pergi berduaan sama perempuan lain. Gue ke sini bareng Kak Kerin juga. Tuh, orangnya!" seru Ola, menunjuk perempuan di belakang Natan.
"Ada apaan, nih?" tanya Kerin bingung.
Dari arah berlawanan, Elise tiba-tiba muncul.
Ola menyambar tas dan ponsel Kerin dari atas meja, kemudian menyodorkannya ke Kerin. "Yuk, Kak, kita pergi!"