Masih Bisa Bersaing?

1298 Kata
"Biar Ola pulang sama gue aja." Kerin menahan langkah Natan. "Lo tahu gimana Ola kalau lagi ngambek, kan?" Sorot mata Kerin sepenuhnya tertuju ke Elise. Sedari tadi, perempuan itu cuma menjadi penonton atas perselisihan yang terjadi di antara Natan dan Ola. Entah tidak sadar bahwa dirinya menjadi alasan pertengkaran Kakak tirinya dan calon istrinya, Elise seolah tidak mau peduli, dan terus mengekor ke mana Natan pergi. "Selesain dulu urusan lo sama Elise sebelum ketemu Ola. Itu saran dari gue," bisik Kerin. "Jangan sampai sifat lo yang plin-plan malah bikin Ola tambah sakit." Natan mengerutkan dahi. "Sakit kenapa? Emang gue apain Ola?" Kerin mendesah kecil. "Mau gue katain b**o, tapi lo nih pinter." Perempuan itu mendecakkan lidah. "Mending sekarang lo pulang sama Elise, dan pikirin kata-kata gue barusan." Cukup kisah percintaan Kerin saja yang menyedihkan. Dulu, Kerin memilih mundur karena Alvo masih mengharapkan masa lalunya. Bisa saja Ola akan mengikuti jejak Kerin, jika Natan tidak mengambil tindakan tegas pada Elise. Kerin baru tahu kalau Natan dan Elise tinggal bersama di saat orang tua mereka masih berada di luar negeri. Apa Natan tidak berpikir lebih jernih? Tinggal bersama mantan dalam satu atap? Walau status mereka telah berubah menjadi saudara, tapi mana tahu ada setan lewat, Natan dan Elise dibisiki, lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? "Ke, gue titip Ola, ya." Natan memasang tampang khawatir. "Hubungi gue kalau ada apa-apa." "Telepon dia sendiri kalau lo khawatir," balas Kerin. Dia menyampirkan tali tasnya ke sebelah bahu. "Yuk, Fa. Kita susul Ola." Kerin menjawil lengan Alfa. Alfa sungguhan menepati janji agar tidak banyak bicara hari ini. Pertama, karena Ola sedang berada dalam suasana hati kurang baik. Lalu, kemunculan Natan bersama saudara tirinya. "Jadi, sebenarnya, cewek yang sama Natan, itu mantan pacar yang berubah jadi adik tiri?" tanya Alfa, mereka berjalan beriringan menginjak eskalator. "Kayak gitu lah," jawab Kerin. Dia jadi ikut sebal karena ulah Natan. "Salahnya di mana? Mereka sekarang adik sama Kakak, lho," timpal Alfa. "Lo lihat gelagat Elise, nggak?" Kerin terlihat kesal. "Jelas banget dari gerak-geriknya, Elise masih suka sama Natan. Ya nggak apa-apa sesekali mereka jalan berdua, toh, kayak kata lo tadi. Mereka sekarang adik dan Kakak. Tapi, nggak tiap hari ngikutin Natan ke mana-mana, kan?" "Kok, lo jadi yang emosi, Ke?" pancing Alfa. Kerin bergumam, "Karena gue nggak suka ada cowok plin-plan. Dia punya tunangan, tapi masih mengharapkan mantan." "Lo lagi curhat?" sahut Alfa. Kerin melepas tasnya, kemudian memukulkannya ke lengan Alfa. "Ini pandangan gue sesama cewek!" Alfa menyemburkan tawa. "Makanya lo jangan bikin gue salah paham. Gue kira, lo lagi curhat barusan." "Nggak, lah!" sembur Kerin. "Udah, yuk. Kita susul Ola. Dia ke mana ya?" Kerin pura-pura celingukkan. Padahal dalam hati, Kerin terus mengumpat karena dia ketahuan bercerita sesuai pengalamannya. *** Hal bodoh yang dilakukan Alvo adalah, memerhatikan Kerin dari kejauhan, namun tidak bertindak apa-apa. Alvo sudah bercerita ke Deon secara keseluruhan, bahkan meminta saran, tindakan seperti apa yang harus Alvo ambil. Bila Alvo diminta mengejar Kerin dengan tingkat percaya diri seperti dulu, Alvo tidak yakin setelah Yasmin menolaknya beberapa waktu yang lalu. Hubungan Alvo dan Kerin kian dingin. Setiap kali mereka bertemu, sengaja atau tidak, Kerin hanya akan diam, mereka saling menatap sepintas, kemudian jalan ke arah masing-masing. Ditambah lagi, Kerin dan Alfa tambah dekat. Alvo mengusap wajah, menunduk sambil memandangi arloji di tangan kirinya. Sudah lebih dari tiga jam Alvo di dalam mobil, memandangi pintu rumah kos Kerin. Alvo mendesah panjang, dia menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Kerin belum keluar sama sekali. Tapi Alvo masih menunggu, berharap perempuan itu menunjukkan diri, walau cuma sebatas membuang sampah ke luar. Lamunan Alvo buyar, kala sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumah kos Kerin. Tadinya Alvo pikir itu salah satu teman Kerin yang baru pulang. Namun, saat seorang lelaki turun dari mobil, lalu disusul Kerin ikut keluar, mendadak saja hati Alvo menjadi nyerah. Lihat, mereka berdua baru saja datang berdua. Bagaimana bisa Alvo percaya, kalau tidak ada hubungan spesial antara Kerin dan Alfa? Atau, Alfa sengaja ingin mempermainkan Alvo? "Jangan keluyuran ke mana-mana lo, Fa. Langsung pulang, terus istirahat. Oh ya, obat lo jangan lupa diminum!" peringat Kerin sembari menunjuk ke Alfa. "Ke, gue suka lo jadi sering ngajak gue ngomong. Tapi nggak harus lo bilang itu mulu." Alfa mengeluh. "Lagian, gue udah sehat. Nggak perlu minum obat lagi." "Nggak," ujar Kerin menggeleng. "Lo harus minum obat lo sampai habis!" Alvo melihat keseluruhan interaksi antara Kerin dan Alfa dari dalam mobilnya. Walau Alvo tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari gerak-gerik keduanya, telah menunjukkan betapa dekatnya mereka sekarang. Alvo seperti dibawa ke masa lalu. Tepatnya saat Kerin masih menjadi tunangannya. Kerin memang cerewet, seringkali Alvo mengeluh, merasa Kerin terlalu ikut campur. Alvo menjadi malas, mana pernah Alvo balas perhatian kepada Kerin selama ini? Tidak. Alvo menganggap kepedulian Kerin hanya angin lalu saja. Sekarang, di depan matanya, Alvo melihat Kerin sangat nyaman berada di dekat Alfa. Mereka bicara banyak, saling memberikan perhatian, dan Kerin, lebih banyak tertawa saat bersama lelaki itu. Apa Alvo sudah kalah, ya? Tapi, dia, kan, belum memulai sama sekali. Memangnya, Alvo masih bisa bersaing dengan Alfa? *** Ola mengutak-atik ponsel di tangannya. Dia memandangi nomor kontak Natan, sebelum meyakinkan dirinya akan memblokir nomor lelaki itu. Kesal sekali rasanya melihat Natan pergi berdua dengan Elise di mal. Padahal Tante Sandra meminta Natan agar datang ke rumah untuk menjaganya yang sedang sakit. Namun ternyata, Natan malah bersama Elise, bak pasangan kekasih yang sedang berkencan. Kalau Natan masih mencintai Elise, kenapa masih mempertahankan Ola sampai sekarang? Ola tidak akan sudi menjadi tempat pelarian Natan. "Laaa!" Ola membuang ponsel, lalu pintu kamarnya dibuka dari luar. Sosok Kakak sepupunya berdiri di sana, masih mengenakan pakaian kerjanya. "Kata Mama, lo lagi sakit." Langen belum mau beranjak dari sana. "Bisa sakit ya, lo?" tanyanya, lalu tertawa. "Ya lo pikir aja sendiri. Lo kira gue robot yang nggak bisa sakit?!" balas Ola. "Tapi, lo bisa jalan sama Kerin dan Alfa, tuh. Sakit beneran nggak, lo?" sindir Langen. Langen membuka pintu kamar Ola lebih lebar, lantas melangkah masuk ke dalam tanpa meminta izin dari pemilik kamar. Ola menahan geram. Kerin malah membocorkannya ke Langen. Akh, Ola baru sadar kalau Langen dan Kerin sangat dekat. Tidak bisa dibilang cuma teman, tapi sudah seperti saudara sendiri. Kerin selalu cerita apa saja ke Langen. Begitu juga Langen, apa-apa pasti cerita ke Kerin. Oh, jangan-jangan, Kerin juga cerita soal keributan di mal tadi? "Iya, Kerin cerita ke gue. Semuanya," ujarnya, merentangkan kedua tangannya. Seolah tahu isi kepala Ola, Langen segera memberi jawaban. Ola meringis. Memang tidak ada yang bisa dipercaya di antara Kerin atau pun Langen. "Kenapa nggak lo hajar Natan aja, sih?" celetuk Langen. "Lo, kan, bisa beladiri. Lo gebuk aja mereka berdua kalau emang salah!" "Gue nggak seanarkis itu!" seru Ola. "Buat apa gue mukul mereka, hah? Mereka sama-sama suka, kok. Gue tinggal nunggu Natan batalin pernikahan aja." Langen mencebikkan bibir. "Yakin lo mau udahan sama Natan?" "Iya, lah! Dari awal, gue emang nggak suka sama Natan. Kenapa harus dipertahan, kan?" "Kenapa bukan lo aja yang putusin duluan?" timpal Langen. Ola menghela napas. "Lo pikir, gue bisa?" "Iya juga, sih," gumam Langen setuju. "Gue kalau jadi lo, juga bakalan risi lihat calon suami diikutin ke mana-mana sama mantan pacarnya. Mana si Natan nggak tegas banget pula!" Perempuan mana pun, jika dihadapkan masalah yang sama seperti Ola, tidak akan tahan juga lama-lama. Ola tidak menyukai Natan, tapi Ola juga risi. Bayangkan saja kalau Ola menyukai Natan. Mungkin reaksi Ola akan lebih dari ini. "Daripada lo mikirin Natan, mending lo ikut gue cari makan, deh." Langen beranjak, melambaikan sebelah tangan mengisyaratkan agar Ola menyusulnya. "Males!" "Gue traktir lo," bujuk Langen. "Bener?" Ola mendongak. Dia akan memastikan lebih dulu sebelum ikut. "Gue hitung sampai tiga lo nggak bangun juga, gue nggak jadi traktir lo!" "Eh, iya! Gue ikut!" seru Ola, menyusul Langen dengan langkah lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN