Langen pernah mendengar, jika salah satu teman kalian putus cinta, maka akan menular ke yang lainnya.
Kalian percaya, tidak?
Tapi memang terjadi, sih. Pertama, Kerin dan Alvi putus. Lalu disusul oleh Langen dan Lando. Lantas, sekarang siapa?
Hubungan antara Ola dan Natan seperti sudah di ujung tanduk. Ola tidak mau bertemu Natan. Nomor lelaki itu telah diblokirnya. Saat Natan datang bersama Elise ke rumah mamanya, Ola cuma bilang tidak penting menyimpan nomor Natan. Toh, sebentar lagi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Bukan cuma Langen saja yang sebal dengan Natan. Tapi juga Kerin. Karena ulah Natan, sifat lelaki itu yang tidak tegas sama sekali, ia jadi terkena getahnya.
Ola tipikal orang yang mudah berubah suasana hatinya. Apa lagi setelah Elise mengekor ke mana saja Natan pergi, Ola jadi sering ngambek, apa-apa selalu ditanggapi dengan amarah.
Tidak percaya? Coba tanya Langen, salah satu korban yang menjadi pelampiasan Ola ketika marah.
"Yuk?" Ola beranjak dari tempat duduknya.
Hari minggu biasanya Ola habiskan dengan tidur satu hari penuh. Perempuan itu hanya akan keluar saat perutnya lapar, atau kehausan. Setelah itu akan tidur lagi. Namun kali ini sedikit berbeda. Dari hari sabtu sore, Ola telah mewanti-wanti Langen dan Kerin agar menemaninya lari pagi.
Sontak saja, Langen dan Kerin saling melempar pandang. Tatapan mereka seolah bicara, "Siapa yang mau lari pagi, hah?"
"Gue pengin hidup sehat," ujar Ola mencari-cari alasan.
"Ucap seorang perempuan yang tengah patah hati, sedang mencari pelarian, serta mengurangi stres!" sahut Langen iseng sembari menghitung jari-jarinya.
"Gue disuruh nginep, supaya bisa diajak lari pagi ya," gumam Kerin menggelengkan kepala.
"Kayaknya kita kurang olahraga, Kak! Lo sering merasa capek nggak, sih?" Ola menatap Langen lalu Kerin bergantian.
"Nggak, ya, La?" Kerin sengaja menjahili Ola.
Langen manggut-manggut. "Iya, mana pernah gue sama Kerin merasa capek. Kita kerjanya aja sering kejar-kejaran!"
Kerin dan Langen bekerja sebagai seorang reporter TV. Dari berbagai cuaca, sampai kondisi paling tidak memungkinkan, genting sekali pun, telah mereka lalui.
Lagi pula, lelahnya orang bekerja, sama capeknya makan hati karena ulah pasangan itu jelas beda. Ola memang tidak bilang ia cemburu, tapi sebagai yang lebih tua dan pengalaman, Langen hanya bisa memaklumi, lalu menjadikan kegalauan Ola sebagai bahan ghibah antara dirinya dan Kerin saat berdua.
"Intinya, kalian mau nemenin gue nggak, sih?" Ola mulai kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a.
Kerin lantas berdiri, merangkul bahu Ola. "Gue udah di depan lo. Masih pakai tanya?" Kerin memiringkan kepala. "Lagian, Alfa udah nunggu di sana, sedang nunggu kita."
Ola menurunkan tangan Kerin dari bahunya. "Harus banget lo ajak Bang Alfa? Gue nggak mau jadi obat nyamuk kalian berdua!"
"Ada gue, La," seru Langen. "Alfa itu orangnya asyik, kok! Gue ketawa mulu kalau ngobrol sama dia."
Langen memuji Alfa dari dalam hatinya dengan tulus. Karena sesungguhnya, Alfa memang orang yang asyik. Pandai mencairkan suasana, itu yang Langen rasakan setiap kali ngobrol dengan Alfa.
***
"Kita nunggu di sana yuk, Ke. Lama-lama nggak kuat kalau ngikutin Ola lari kayak orang gila," keluh Alfa.
Kerin mengangguk setuju kala Alfa menunjuk salah satu bangku. Beberapa bangku yang mereka temukan sebelumnya telah penuh diisi beberapa orang.
"Kasihan Langen, ya," gumam Alfa sambil menggeleng. Kerin mendengar lelaki itu mengeluarkan suara tawa kecil.
"Kenapa?" tanya Kerin tidak mengerti.
"Ya, lo lihat aja, tuh," tunjuk Alfa ke Langen yang mengekor di belakang Ola sembari meneriakki nama adik sepupunya. "Langen ngikutin semua kemauan Ola. Yang gue lihat, Langen tuh perhatian sama sepupunya. Cuma nggak ditunjukkin aja."
Kerin menyandarkan punggung. "Mereka tuh definisi deketan berantem mulu, kalau jauh dicari!"
"Kayak lo ke gue ya, Ke?" celetuk Alfa menahan tawa.
Sontak, Kerin menolehkan kepalanya. Alfa malah tertawa, seolah tidak memiliki beban. Apa Alfa tidak tahu jantung Kerin berdebaran sekarang, ya?
Karena, itu faktanya.
Waktu Alfa mendadak tidak ada kabar, Kerin mencari Alfa ke mana-mana. Setelah ketemu, Kerin seringkali adu mulut dengan Alfa hanya karena hal-hal sepele.
"Gue cari lo karena khawatir kenapa-kenapa." Kerin tidak berusaha mengelak.
Alfa mengerucutkan bibir sambil manggut-manggut. "Udah mulai sayang sama gue, ya?"
"Iya. Sebagai teman," jawab Kerin.
Entah, Kerin merasa jawabannya kurang sedikit tepat. Ada yang Kerin sembunyikan mengenai perasaannya kepada Alfa.
Rasanya baru kemarin Kerin dibuat patah hati akibat putus cinta dari Alvo. Kerin menghabiskan hari-harinya dengan perasaan nelangsa karena tidak berhasil membuat Alvo balas menyukainya.
Tapi, sekarang, hanya dalam sekejap, ia justru nyaman berada di dekat Alfa. Semenjak ada Alfa, Kerin tidak pernah lagi mencari, atau bahkan memikirkan Alvo sedang apa, Alvo begini dan begitu. Tidak. Kerin dengan mudah melupakan Alvo dalam waktu singkat.
"Bagus, deh, kalau cuma dianggap teman doang."
"Apa?" tanya Kerin, setengah sadar dan tidak Alfa mengatakannya barusan.
"Lo tanya apa, Ke?" balas Alfa santai.
"Barusan lo bilang apa?"
Alfa menggeleng. Ia merentangkan kedua tangannya. Pandangannya terarah ke beberapa sudut, seolah sedang mencari seseorang.
Ke mana lelaki itu?
Alfa telah membuka peluang untuk Alvo agar mendekati Kerin. Sebelum datang kemari, Alfa mengirim pesan ke Alvo. Kalau ia, Kerin, Langen dan Ola akan pergi olahraga di hari minggu. Alfa sudah berjanji akan membantu Alvo. Tapi, manusia satu itu suka sekali mengingkari janji.
"Bukan apa-apa, kok." Alfa menggeleng. "Eh, lo haus nggak, Ke? Mau minum? Gue pergi beli minuman dulu, ya."
Kerin mengangkat wajahnya, dan menatap Alfa. "Sendiri aja? Sama gue deh," ujar Kerin hendak beranjak dari bangku.
"Nggak usah, Ke. Lo di sini aja. Kalau lo ikut, ntar Langen cari lo, malah nggak ketemu." Alfa mencari alasan. "Lo tunggu di sini, biar gue yang beli. Kayaknya Ola udah mulai capek, Langen berasa mau pingsan!"
"Ah, ya. Lo benar." Kerin menganggukkan kepala. "Ya udah, gue nunggu di sini aja."
"Lo mau minum apa?" tanya Alfa sebelum pergi.
"Air mineral dingin aja," jawab Kerin.
"Ola sama Langen?"
"Samain aja, deh."
"Oke." Alfa menunjukkan satu Ibu jarinya.
Lelaki itu pergi, meninggalkan dirinya di bangku sendirian sambil memandangi Langen yang duduk berjongkok. Kerin menahan tawa, jarang sekali melihat Langen mau mengalah pada Ola. Sampai diikutinya Ola ke mana-mana karena takut terjadi sesuatu.
Langen pergi ke arahnya. Berjalan sempoyongan sesekali mengusap keringat di sekitar lehernya.
"Duduk sini, La." Kerin menepuk sisi kosong di sampingnya. "Haus, kan? Bentar, Alfa lagi beli minum buat kita semua."
Langen mendudukkan bokongnya ke atas bangku. Napasnya ngos-ngosan. Ia menyandarkan kepalanya, menatap ke atas langit, lalu menarik dirinya kembali, duduk dengan tegap.
"Natan, sialan," umpat Langen kesal. "Dia yang bikin Ola gila, gue ikutan gila juga bentar lagi!"
Kerin menepuk-nepuk bahu Langen.
"Perasaan ya, waktu gue putus sama Lando, lo putus sama Alvo, nggak begini banget! Padahal Natan sama Ola belum resmi putus, lho!"
"Ola sama Natan perlu ngomong berdua aja nggak, sih?" gumam Kerin. "Daripada Ola menghindar, nggak ngasih tahu alasannya apa. Cowok kayak Natan, kalau nggak ditegur dulu, dia bakal kayak gitu mulu."
"Bukan cuma Natan aja yang perlu dikasih tahu! Tapi juga Elise," decak Langen menahan geram. "Apa perlu kita kasih tahu ke orang tuanya nggak, sih? Siapa tahu orang tuanya jadi mengurungkan niatnya buat biarin Elise di sini lama-lama."
"Boleh juga ide lo, sih," angguk Kerin.
"Tapi harus Ola yang bilang. Jangan gue," ujar Langen, kemudian menggelengkan kepala. "Tunangan Natan, kan, Ola. Masa iya gue yang ngadu?"
"Lebih aneh lagi kalau itu gue, La," balas Kerin.
Langen mendengkus. "Harus Ola sendiri, sih. Tapi mana mau dia ngadu ke Mama sama papanya Natan. Dia aja gengsi setengah mati!"