Rencana Hampir Gagal

1078 Kata
"Terakhir kalinya gue ngasih lo kesempatan. Kalau lo tetap kekeuh nggak mau mengakui, ya udah, gue anggap lo emang nggak pantas buat Kerin." Cuma karena pesan yang dikirim Alfa, Alvo tidak bisa tenang di hari minggunya. Dari semalam ia membaca pesan itu, dan berakhir menghela napas panjang, seolah dirinya sedang menghadapi masalah besar. Padahal masalahnya cuma ada satu. Gengsinya Alvo masih terlalu tinggi, enggak sekali turun sedikit saja, demi orang yang ia sukai. Kalau Alvo mengakui perasaannya, lantas, apa yang ia lakukan? Tiba-tiba muncul di mana-mana, setiap Kerin berada, ia akan berada di sana, seakan mereka tidak sengaja bertemu. Begitu, ya? Alvo menggosok rambut cokelatnya. Sekali lagi ia menghela napas, tidak hentinya berdebat dengan dirinya sendiri. "Ke mana juga si Natan," decak Alvo, duduk tidak tenang di dalam mobil. Iya, Alvo datang, kok. Tapi tidak berniat menunjukkan dirinya di depan Kerin. Kalau mereka akhirnya bertemu, dan saling menatap, Alvo harus apa? Menyapa Kerin seperti biasa? Terakhir kali mereka bertemu, Kerin memang terlihat biasa-biasa saja, sih. Cuma, Alvo yang mendadak kikuk. Layar ponsel Alvo tiba-tiba menyala, nama kontak Natan muncul, lalu segera diangkatnya panggilan dari temannya itu. "Lo di mana, sih? Nggak lihat matahari udah tinggi banget?" omel Alvo kesal. "Ya sabar dong! Gue lagi nunggu Elise tadi," jawab Natan. Alvo mengerutkan dahi. "Gue bilang apa, Natan," dengkus Alvo. Sebenarnya, Alvo tidak mau ikut campur masalah percintaan teman-temannya. Tapi di antara mereka berempat, Natan yang paling bodoh, dan tidak peka! Alvo kira, Alvo sudah paling bodoh. Ternyata ada yang lebih parah. Temannya sendiri, pula! "Apa, sih?" tanya Natan, tanpa sadar menambah kekesalan Alvo. "Masa iya Elise, gue tinggal, Vo? Kasian, dong. Di rumah nggak ada siapa-siapa." "Lo lagi khawatir sama perempuan yang udah dewasa? Nat, Elise nggak bakal kenapa-kenapa. Dia bukan anak kecil lagi," balas Alvo. "Sebenarnya gue nggak mau ngatain lo. Tapi lo emang beneran bodoh, sih!" "Lo udah ngatain barusan ya, Vo," ujar Natan tidak terima. "Karena emang itu fakta." Alvo mengusap wajahnya lalu mendongak. Baru kemarin Natan mengeluh karena nomor ponselnya diblokir sama Ola. Natan bertanya-tanya apa alasan Ola menghindarinya, tidak mau dihubungi, tidak ingin menemuinya, padahal ingin membahas hubungan mereka yang semakin ke sini, malah makin renggang. Natan punya salah apa? Kalau kalian tanya apa yang ingin Alvo lakukan ke Natan, yaitu mendorong Natan dari atas gedung tinggi! Bukan cuma Langen dan Kerin saja yang risi melihat Elise ikut Natan ke mana-mana. Tapi, Lando dan Alvo juga. Maksudnya, mereka kan tidak ada hubungan apa-apa. Kalau pun Elise pulang ke Indonesia, perempuan itu masih bisa tinggal di apartemennya sendiri, kan? Kenapa harus tinggal di rumah yang sama dengan Natan, sementara di rumah itu cuma ada mereka berdua dan seorang asisten rumah tangga. Dengan membiarkan Elise selalu di dekat Natan, itu sama saja Natan membuat masalah. "Cerewet banget lo, ah!" seru Natan dari dalam telepon. "Gue udah mau nyampek, nih. Gue tutup teleponnya!" Alvo menarik benda persegi itu dari telinga kanannya. Teleponnya diakhiri begitu saja. Alvo mendecakkan lidah, ia melempar ponselnya sembarangan. Ia akan keluar setelah datang. *** Alfa membuat sebuah rencana untuk mendekatkan Alvo dan Kerin. Ia sengaja mengundang lelaki itu, meminta Alvo pura-pura tidak sengaja bertemu dengan Kerin saat olahraga bersama Ola serta Langen. Alfa sengaja mengulur waktu sampai Alvo muncul. Tapi lebih dari dua jam menunggu, sampai matahari sangat terik, Alvo tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ola diajak pulang, juga tidak mau. Katanya masih ingin di sana, duduk di bangku panjang sambil memandangi orang yang berlalu-lalang. Pada akhirnya Alvo muncul. Tapi, sial, kenapa malah mengajak dua orang yang beberapa hari ini memancing emosi Ola? Jelas saja, Ola langsung meradang. Namun ditahannya, ia tidak mau terlihat kasar di depan saingannya. Elise yang lemah lembut, kesayangan Natan, dan Ola, calon istri lelaki itu yang sering disebut seperti preman pasar. "Kebetulan kita ketemu di sini." Tanpa ragu, Natan segera menghampiri Ola yang duduk di antara Langen dan Kerin. Ola menatap Natan sepintas, kemudian menurunkan kepala, namun satu jarinya menunjuk ke Natan. "Ada yang kenal? Siapa, sih? Dua kali gue ketemu dia, lagaknya kayak orang kenal." "La," panggil Natan. "Tuh! Lo semua dengar sendiri, kan?" Ola malas sekali melihat wajah Natan. Apa lagi perempuan di belakangnya. "Pulang, yuk! Gue udah capek lari-lari. Perut gue laper." Natan menyambar tangan Ola. "Kamu pulang sama aku!" "Sama dia juga?" tunjuk Ola ke Elise. "Nggak, lah. Gue takut jadi obat nyamuk lo berdua!" Rencana Alfa jadi berantakan karena Natan dan Elise! Bukannya berhasil membuat Alvo dan Kerin dekat lagi, malah terjadi keributan di sini. "Aku antar Elise sama Langen pulang dulu. Tapi kamu harus ikut aku setelah itu," ujar Natan menahan lengan Ola. "Natan?" Elise hendak menyentuh lengan Natan. "Maaf ya, Lis. Aku harus antar kamu pulang. Ada yang mau aku omongin sama Ola," sela Natan. "Apa aku nggak bisa ikut aja?" tanya Elise. "Ngikut gimana? Mending lo cari pacar, deh! Hobi banget ngintilin calon suami orang!" Langen yang sudah tidak kuat menahan diri memaki Elise, hari itu Langen berhasil mewujudkan keinginannya. Elise merapatkan bibir. Di depan banyak orang, Langen justru memaki dirinya. Elise terpaksa mengangguk, ia mengiyakan kata-kata Natan. "Nggak apa-apa. Gue bisa balik sama Alfa," kata Kerin sambil mengerjapkan mata. "Terus, lo, Vo?" tunjuk Langen tiba-tiba. Ya, Alvo sedari tadi ada di sana, saling melempar pandang ke Alfa yang ada di belakang Kerin. "Gue masih pengin lari, baru juga datang," elak Alvo. "Gue duluan ya, Vo." Natan pamit ke temannya. Tangannya masih menggandeng tangan Ola, melewati tiga orang di sana, sejak tadi menjadi penonton atas perdebatan ia dan calon istrinya. Kini, cuma tinggal Alvo, Kerin, dan Alfa. Kerin tidak menyadari kalau dua lelaki di kanan dan kirinya itu saling melempar isyarat. Kerin kelihatan biasa saja, sih, tidak canggung sama sekali. Ia menatap Alvo, dan tersenyum tipis. "Eh, bentar," seru Alfa mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Gue angkat telepon dulu, ya." Sepeninggal Alfa, Alvo mendadak gugup. Sedari tadi ia mencuri pandang ke arah Kerin, namun Kerin sama sekali tidak menyadarinya. Alvo memutuskan mengajak Kerin mengobrol. "Tumben banget lo olahraga, Ke?" Kerin menoleh, lantas mendongakkan kepalanya. "Diajak Ola," jawabnya. "Dari kemaren, gue diteror terus sama dia. Disuruh nemenin bareng Langen sama Alfa." Alvo manggut-manggut. "Oh." Tidak lama, Alfa kembali, memasang raut wajah panik. "Ke, kayaknya gue harus balik sekarang, deh! Gue dapat telepon dari tempat kerja. Vo, bisa tolong anterin Kerin pulang ke tempat kosnya, nggak?" "Kenapa nggak bareng aja pulangnya?" tanya Kerin. "Gue nggak bisa mampir ke mana-mana dulu. Ini penting." Tanpa menunggu persetujuan Kerin, Alfa menambahkan, "Bisa ya, Vo? Oke. Karena lo diem, gue anggap lo setuju. Dah! Gue duluan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN