"Manfaatkan kesempatan yang gue kasih. Jangan langsung lo antar pulang, ya."
Alfa seolah tidak akan membiarkan Alvo melewatkan kesempatan yang datang. Alfa terus memantau Alvo lewat banyak pesan. Alvo bingung harus merespons bagaimana, sementara Kerin sedang duduk di sampingnya.
"Ngapain kek, ajak cari sarapan, atau apa yang bisa bikin kalian berduaan lebih lama."
Alvo mendengkus tanpa kentara. Ia menjejalkan benda persegi itu ke dalam saku celana, dan berusaha fokus menyetir saja.
Diam-diam Alvo melirik ke samping, Kerin mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil yang terbuka. Alvo menggerakkan kepala, menghadap lurus ke depan sembari mencari cara seperti kata-kata Alfa barusan.
Apa, ya?
"Ke." Suara Alvo nyaris gemetaran saat memanggil Kerin akibat menahan gugup.
Kerin menoleh ke Alvo. Menatap lelaki itu sepintas sebelum menatap ke luar lagi. "Apa, Vo?" tanyanya.
"Mau cari sarapan sekalian, nggak?" Alvo mati-matian menahan gengsi.
Bertanya seperti barusan bukan kebiasaan Alvo. Tidak dengan Kerin, tidak juga dengan teman-temannya. Coba tanyakan ke Lando, apa lagi sama Natan. Tidak akan pernah Alvo menanyakan mereka sudah makan, mau cari makan, dan segala macam perhatian wajar pada orang-orang terdekatnya. Lebih sering ya pasti teman-temannya yang mengajak. Alvo cuma ikut, bicara seperlunya, sisanya mendengar perdebatan di antara Lando dan Natan.
"Nggak deh, Vo. Lo tahu gue nggak bisa makan pagi, selalu mules," jawab Kerin, secara otomatis memegangi perutnya.
Dalam hati Kerin, ia bergumam, "Iya lah, dia nggak tahu gue nggak bisa makan pagi. Alvo mana pernah perhatian. Lirik gue aja nggak pernah!"
Tapi, ya sudah, itu kan masa lalu. Toh, mereka menikmati kehidupan di jalan masing-masing. Kerin telah menerima takdir yang diberi Tuhan. Tidak bisa memiliki Alvo.
Iya, kan?
Awalnya Kerin merasa tidak adil. Ia telah berusaha mendapatkan hati lelaki di sampingnya, tapi lelaki itu justru mengharapkan masa lalunya yang jelas sudah lama berakhir.
"Oh, ya udah," gumam Alvo kecewa.
Alvo menatap ke jendela mobil sekitar tiga detik, lantas mengumpat dalam hatinya. Ia tidak pernah tahu apa-apa tentang Kerin, karena sebelumnya tidak pernah peduli. Apa yang disukai atau tidak disukai Kerin, Alvo sungguhan tidak tahu.
"Kenapa? Lo mau beli makan? Beli aja, nanti gue bisa tungguin lo. Atau, turunin gue aja, biar gue naik angkutan umum." Kerin merasa tidak enak. Ia kan menumpang mobil Alvo, kesannya Kerin tidak tahu diri. Mungkin Alvo ingin mencari makan, tapi karena harus mengantar Kerin lebih dulu, Alvo harus mengurungkannya.
"Eh, jangan dong." Alvo segera memberi reaksi. "Gue udah janji sama Alfa buat antar lo pulang. Masa iya gue turunin lo di jalan."
Bisa diomeli Alfa habis-habisan nanti. Baru juga diantar pulang, masih di jalan, Alfa terus menerornya dengan banyak pesan.
Sebenarnya, Alfa ini statusnya apa sih sama Kerin? Sungguhan teman, sedang pendekatan, atau Ibu Kerin yang semangat mencarikan pacar untuk anak perempuannya?
Alvo menggaruk kulit kepalanya. Barusan, apa Alvo salah bicara ya? Alvo takut Kerin malah menangkap aja kan makannya berbeda dari yang ia maksud.
"Gue beneran nggak apa-apa kalau turun di sini, Vo," ujar Kerin menurunkan tangan, lalu meletakkannya ke atas paha. "Lagian lo takut banget sama Alfa. Emang pernah diapain sama dia? Nggak usah dianggap serius, deh. Dia suka ngerjain lo kayaknya."
Di akhir kalimatnya, Kerin tertawa, menggeleng, seolah sangat hafal tingkah laku lelaki itu.
Bukan cuma Alvo saja yang sering dikerjai Alfa, tapi beberapa orang terdekat Kerin juga sudah pernah. Contohnya Natan, baru beberapa hari yang lalu dikerjai Alfa. Padahal jelas sekali, Ola tidak mungkin pergi berdua saja dengan Alfa. Tapi anehnya Natan malah percaya.
"Bukan gitu," elak Alvo. "Karena gue udah janji ke Alfa, nggak mungkin gue ingkari."
Kerin manggut-manggut, ia mengiyakan saja.
"Lagi pula lo tuh cewek. Gue bisa dianggap bukan cowok kalau turunin lo gitu aja di pinggir jalan."
Kerin menatap Alvo sepenuhnya. Sampai Alvo gugup ditatap seperti itu. "Kan, emang permintaan gue. Bukan lo yang maksa gue turun ke jalan," gumamnya. "Sebenarnya, nggak harus lo iyain permintaan Alfa tadi. Gue beneran bisa pulang naik taksi atau angkutan umum aja."
"Gue kenal lo, tahu di mana tempat tinggal lo. Di saat lo ada situasi kayak tadi, kenapa gue nggak antar lo aja?" Alvo mengatakannya tanpa berani menatap Kerin.
"Kenapa, nggak?" balas Kerin. Ia tersenyum tipis. "Dulu lo pernah ninggalin gue di pinggir jalan padahal," celetuknya, lalu tertawa kecil.
Alvo terkejut, ia sontak menatap Kerin tidak percaya. "Hah? Kapan, Ke?"
Kerin bersedekap. "Nah, lo aja lupa, Vo."
Perempuan itu menimpali Alvo sangat santai. Sama sekali tidak menyimpan dendam atau kekesalan seperti dulu. Bagi Kerin sekarang, itu cuma masa lalu, sudah terjadi dan tidak perlu diingat-ingat lagi.
"Kok, lo ketawa sih, Ke? Gue malah nggak inget pernah gitu ke lo."
Kerin mengibaskan tangannya ke udara. "Halah, udah lama, Vo. Kalau dibilang kesal waktu itu, iya emang. Tapi kan udah lewat."
"Gue minta maaf ya, Ke?" Alvo memasang tampang menyesal.
Ia sungguh tidak ingat apa-apa. Yang Alvo ingat selama menjadi tunangan Kerin, ia bersikap egois, ingin menang sendiri, dan cuek. Makanya Alvo tidak ingat kalau ia pernah meninggalkan Kerin di pinggir jalan.
"Keterlaluan banget dulu gue ya," gumam Alvo sambil menatap ke jalanan.
"Banget," timpal Kerin kelewat santai, seakan tidak memiliki beban. "Gue tahu kita dulu nggak beneran ada hubungan. Tapi pesan gue ya, Vo, kalau lo dapat pacar baru, jangan kayak gitu. Mungkin ke gue nggak apa-apa, gue kesalnya sesaat, besok juga udah lupa. Tapi buat perempuan lain, belum tentu dianggap biasa."
Ternyata Kerin bisa mendengar gumaman Alvo. Padahal Alvo sudah berbicara paling pelan.
"Kayaknya bakal susah cari perempuan yang bisa nerima sifat gue yang banyak kurangnya," kata Alvo, basa-basi.
Kerin mendecakkan lidah. "Ada apa sama Bapak Rialvo Tjandra? Biasanya tingkat kepercayaan dirinya tinggi banget. Kenapa tahu-tahu nggak yakin ada perempuan yang mau sama lo?" tanya Kerin. Perempuan itu menggerakkan badannya, duduk agak miring menghadap ke Alvo. "Nih ya, lo pernah ngasih tahu gue kayak gini. 'Kalau gue mau, gue bisa nunjuk perempuan mana aja yang mau gue jadiin tunangan gue. Siapa yang nggak mau sama gue? Tampan iya, kaya, tentu aja. Pinter, jelas. Cuma, gue takut salah pilih. Kalau gue dimanfaatin, gimana? Mending sama lo yang jelas tahu dan kenal', gitu, Vo."
Alvo terlihat takjub. Kalau bisa ia bertepuk tangan, ia akan melakukannya sekarang. "Lo masih inget kata-kata gue? Sepanjang itu?" tanyanya, tidak percaya.
"Gue ambil intinya aja, sih," jawab Kerin menahan tawa. "Sisanya improvisasi doang!"
Keduanya tertawa bersamaan. Kerin terlihat santai dan lepas daripada biasanya. Sungguhan tidak ada beban, ia berbicara banyak, bercanda dengan Alvo, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama menjadi tunangan Alvo dulu.
"Lo nggak perlu ubah diri lo buat jadi orang lain, kok," tambah Kerin, menepuk lengan Alvo. "Kalau perempuan itu beneran sayang sama lo, apa pun sifat lo, pasti bakal diterima juga."
"Tapi gue maunya lo, Ke." Alvo bergumam dalam hati, memandangi wajah Kerin begitu dalam.