Natan rasa, ia dan Ola harus menyelesaikan masalah mereka, walau pun Natan tidak paham, di mana letak kesalahannya.
Sebelum Ola menghindari, memblokir nomornya, Natan masih ingat hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan, Natan mencium kening Ola saat akan pulang.
Apa benar kata orang-orang di luar sana, perempuan memang membingungkan? Sedangkan Natan tidak akan tahu jika Ola tidak menjelaskan di mana salahnya, apa salahnya, tahu-tahu Ola marah, dan bertindak seolah mereka tidak saling mengenal di depan orang.
Di kursi depan, Ola tidak berhenti memandangi pantulan wajah Elise dari spion di atas yang menggantung. Raut wajah Elise menunjukkan bahwa perempuan itu marah karena Natan mengantarnya pulang. Entah merasa kesal karena Natan tidak mengajaknya juga, atau akibat sentakkan Langen tadi.
Ola membuang pandangannya ke jalan, pura-pura tidak peduli, padahal ia tahu Natan beberapa kali menatap ke arahnya lalu menghela napas.
Mobil Natan berhenti di depan pagar rumahnya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Elise sekitar dua detik sambil memberitahu bahwa mereka telah sampai di rumah.
"Aku beneran nggak bisa ikut kalian aja?" tanya Elise, memancing kekesalan Langen yang duduk di sampingnya.
Langen sontak menoleh. "Lo maksa ikut mereka terus buat apaan, sih? Nggak ada kerjaan di rumah? Oh ya, kerjaan lo kan ngintilin saudara tiri terus!"
Seketika wajah Elise berubah kaku. Mulut pedas Langen memang patut diberi acungan jempol. Langen tanpa basa-basi memarahi Elise. Padahal yang patut marah di sini ya Ola. Tapi Langen yang malah bertindak sejak tadi.
Ola menghela napas, enggan menanggapi permintaan Elise. Percuma Ola ikut bicara, kalau Natan selalu mengiyakan permintaan saudara tirinya itu. Kalau Ola ikut marah, Natan pasti akan mengatainya kekanakan.
Bukan Ola yang kekanakan, tapi Elise saja keterlaluan!
"Cepat turun!" seru Langen membuka pintu mobil Natan secara paksa.
Elise menatap ke Natan sepintas, kemudian berpindah pada Langen. Kakak sepupu Ola pindah duduk ke tempat Elise tadi. Ia menurunkan kaca mobil, lalu memberi pesan ke Elise sebelum mobil Natan melaju pergi.
"Gue kasih saran sama lo ya. Tolong bertindak sesuai posisi lo. Jangan sampai lo dihujat orang lain karena kelakuan lo sendiri," katanya, sengaja melirik ke Natan.
Elise balas menatap Langen. Jujur saja Langen sangat menyebalkan dari Ola. Karena Ola marah tidak jelas, Natan uring-uringan di rumah. Selalu saja memandangi layar ponsel seolah tidak bosan.
Justru Elise yang bosan. Padahal ada ia di samping Ola, kenapa harus mencari perempuan lain? Apa, posisi Elise sudah digantikan oleh Ola?
"Jalan, Nat!" seru Langen meluruskan pandangan ke depan.
Sebelum mobilnya pergi, Natan sempat meminta maaf ke Elise. "Maaf ya, Lis."
"Hm." Elise menganggukkan kepala.
"Masih aja lo pelihara mantan," sindir Langen.
Natan menarik napas. Ia mendengar semua omelan Langen. "Elise itu adek gue, La," belanya.
"Adek?!" Langen mendelik tidak terima. "Lo umur berapa sih? Nggak bisa bedain gelagat adek sama orang yang masih mengharap sama lo?"
"La, lo udah keterlaluan kayaknya. Lo nggak lihat Elise jadi sedih tadi?"
"Sedih? Jelas dia lagi nahan kesal, dibilang sedih!" Langen bersedekap. "Pantas aja Ola muak banget sama lo akhir-akhir ini."
Natan melirik Ola. "Benar?"
"Apa?" balas Ola.
Natan mengibaskan tangannya. "Udah, lah. Kita bahas berdua nanti. Sekarang aku antar Langen pulang dulu."
"Terserah lo." Ola melengos. "Bisa agak cepat nggak, sih? Gue malas lama-lama sama lo."
Natan terkejut mendengar kata-kata Ola barusan.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Ola bilang begitu. Kemarin-kemarin juga. Tapi Natan tidak pernah ambil pusing. Cuma, yang barusan Natan anggap tidak wajar. Karena Ola terlihat berbeda dari biasanya.
"Oke." Natan bergumam, memutar kunci dan membawa mobilnya melaju.
***
Ola menghindari duduk di samping Natan. Ia pindah ke sofa di seberang. Natan menghela napas panjang tanpa kentara. Ola sungguhan marah ternyata.
Ah, Natan. Kenapa bodoh sekali, sih? Kalau Ola sampai memblokir nomornya, itu pertanda Ola memang marah. Sangat marah.
Dari dulu Ola memang tidak menyukai Natan karena mereka dijodohkan. Tapi, baru sekarang Ola benar-benar memusuhinya.
"Gue udah bilang, gue nggak mau lama-lama sama lo. Kenapa lo malah ajak gue ke sini?" tanya Ola kesal.
Kalian tahu tidak, ke mana Natan membawa Ola?
Di sebuah tempat makan? Tidak.
Kafe? Apa lagi. Bukan.
Natan membawa Ola ke apartemannya. Menggandeng Ola paksa keluar dari mobil, lalu menyeretnya kemari.
"Lo tahu nggak, sih, gue capek habis olahraga! Mau tidur!" pekik Ola.
"Di sini ada dua kamar kosong. Kamu bisa tidur di sana," timpal Natan.
"Dih! Tidur di sini?" Ola nyaris berteriak. "Nggak, ah! Ntar lo apa-apain gue! Pokoknya gue mau pulang!"
Natan beranjak dari tempat duduknya, lalu berpindah di samping Ola. Perempuan itu terkesiap, hendak berdiri namun lengannya ditahan oleh Natan.
"Bisa nggak, kalau ada masalah jangan menghindar?" tanya Natan. Seketika raut wajahnya berubah dalam hitungan detik. "Iya, aku tahu kamu marah. Tapi aku nggak tahu alasannya apa. Bisa dijelasin salah aku di mana, nggak?"
Ola menarik tangannya paksa. "Masih belum paham? Lo pikir gue orang nggak waras yang marah tanpa alasan?" Ola menyibak rambutnya. "Gini deh, gue nggak mau jadi korban keegoisan lo. Kalau lo masih berharap sama Elise, ya batalin pernikahan kita. Gue nggak masalah, nggak apa-apa daripada harus makan hati lihat lo tiap hari diikutin Elise ke mana-mana! Enak, kan, punya tunangan kayak gue?"
Natan menyandarkan punggungnya dengan santai. Kepalanya manggut-manggut. Ia mulai paham sekarang.
"Intinya, kamu cemburu sama Elise? Iya?" tanyanya, tenang.
"Nggak sudi!" Ola mengelak.
"Tapi barusan kamu bilang gitu," tambah Natan.
"Gue bilang, gue nggak cemburu!"
"Kenapa nggak bilang aja, sih?" Natan menggeser tempat duduknya lebih dekat ke Ola.
"Jauh-jauh, nggak!" teriak Ola mendorong d**a Natan.
"Nggak bisa," ejek Natan. Ia lebih senang melihat Ola marah-marah padanya. "Kalau aku bilang kangen ke kamu, percaya, nggak?"
Ola tersenyum sinis. "Kangen? Sama gue?"
Natan mengangguk kecil.
"Lo pikir gue percaya?" timpal Ola sambil menggeleng.
"Aku sama Elise nggak ada hubungan apa-apa selain jadi saudara. Iya, dia memang mantan aku sebelumnya. Tapi beneran, hubungan kita cuma sebatas itu."
"Gue nggak peduli."
"Bohong," sahut Natan. "Kamu peduli, tapi gengsi mengakui aja."
"Apa, sih!"
"Aku harus ngapain supaya kamu percaya?"
"Yakin mau ngabulin? Gue nggak yakin, sih."
"Coba bilang apa," gumam Natan.
Untuk pertama kalinya Ola merasakan tatapan Natan begitu dalam padanya. Ola sampai salah tingkah sendiri. Padahal Natan cuma menatap, dan bicara lebih lembut.
"Ini apartemen lo sendiri, kan?" tanya Ola, menahan gugup setengah mati.
"Iya," angguk Natan.
"Gue minta lo sama Elise tinggal terpisah. Biarin Elise tinggal di rumah orang tua kalian sendiri. Di sana masih ada pembantu, tukang kebun, dan satpam! Dia nggak bakal kesepian."
"Itu permintaan kamu?" tanya Natan.
"Iya! Nggak bisa lo kabulin, kan? Hah, udah gue tebak, sih!"
"Oke."
Ola menelan ludah susah payah.
"Aku pindah ke sini mulai hari ini. Tapi, pertama-tama, kamu harus buka blokir nomor aku. Gimana? Setuju?"