Natan yang Berubah

1201 Kata
"HP lo bunyi terus dari tadi! Angkat, nggak?!" Suara sering ponsel dari atas meja nakas mengganggu istirahat Ola. Tidurnya sudah tidak nyaman sejak tadi karena ulah Natan yang memaksa tidur di sampingnya, memeluk pinggangnya, kemudian tidur sangat pulas. Sementara detak jantung Ola telah bekerja dua kali lebih cepat. Akibatnya, Ola jadi tidak nyaman, ah, lebih tepatnya gugup. Semua orang sudah tahu bagaimana hubungan mereka berdua seperti apa. Tidak pernah akur, dan Natan sering mengoloknya kekanakan, tingkahnya mirip preman, dan masih banyak olokan Natan yang tidak pernah Ola lupakan. Lalu, tahu-tahu hari ini Natan berubah lebih... manis? Natan banyak mengalah, bicaranya lembut dan manis, sampai Ola salah tingkah sendiri. Sungguh, jika Ola diberi pilihan ia suka Natan versi yang mana, Ola lebih suka Natan yang biasanya. Ketus, cuek, namun ada kalanya lelaki itu perhatian padanya. Iya, memakai embel-embel, "Disuruh Tante Sandra." Lama-lama Ola tidak tahan juga. Ia mengulurkan sebelah tangannya, lalu menyambar ponsel Natan yang tidak ada bosannya berbunyi. Siapa yang menelpon, sih? Kalau tahu adab, sudah tahu tidak diangkat, seharusnya tidak perlu menelpon lagi. Nanti, kan, bisa. Ola mendengkus tanpa sadar. Ia melirik Natan yang sangat amat nyaman tidur sambil memeluk pinggangnya! Apa Natan tidak tahu Ola hampir mati karena kehabisan napas? Mereka terlalu dekat sekarang, Ola merasa udara di sekitar sangat tipis. Tidak heran kenapa si penelpon tidak menyerah, dan terus menghubungi nomor Natan padahal tidak direspon. Ternyata orangnya, Elise. Ola boleh tertawa tidak, sih? Bagaimana reaksi Elise kalau tahu Natan akan pindah dari rumah orang tua mereka, dan tinggal di apartemennya sendiri. Ola jadi penasaran. Kira-kira Elise senang, tidak? Atau justru sebaliknya? Awas saja kalau masih kekeuh ingin ikut Natan tinggal di sini! "Buruan bangun! Adik kesayang lo telepon, nih!" Ola menunduk, menggoyangkan lengan Natan. "Natan, bangun! Angkat telepon Elise dulu! Dia berisik telepon lo dari tadi!" Natan membuka mata. Ia sangat mengantuk. Karena Alvo cerewet mengajaknya pergi lari pagi, Natan harus menumbalkan hari minggunya yang berharga. Sekarang, Natan sudah nyenyak, di sampingnya ada Ola, berhari-hari perempuan itu sudah membuat Natan uring-uringan, Natan jadi lebih lega. "Adik siapa?" tanya Natan setengah menguap. "Elise." Ola menjawab malas-malasan. Natan menguap lagi. Ia malah mendorong ponselnya hingga mengenai dagu Ola. Sambil memeluk tunangannya lebih erat, Natan mengatakan, "Kamu aja yang angkat." "Dih, nggak, ah!" "Ya udah, biarin aja bunyi terus." Natan menenggelamkan wajahnya ke bahu Ola. Setelah itu, Natan tidak bicara apa-apa lagi. Ola menepuk lengan Natan beberapa kali. Namun Natan tidak memberi reaksi. Sementara ponsel di tangan tidak mau berhenti sama sekali. Setiap panggilannya berhenti, maka detik berikutnya, Elise mengirim banyak pesan ke nomor Natan, kemudian menelpon kembali. Gigih sekali perempuan ini, ya? Karena Natan telah memberi izin padanya untuk mengangkat telepon dari Elise, ya sudah, Ola akan menjawab panggilan perempuan itu. Oh, Ola harus menyebut Elise sebagai apa? Adik ipar? Atau, mantan pacar tunangannya? Ibu jari Ola menggeser layar sebelum menempelkan benda persegi itu ke telinganya. Belum juga Ola menyapa, Elise di seberang sana, menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Salah satunya, "Nat, ini udah jam berapa? Kamu nggak pulang? Aku takut di rumah sendirian! Urusan kamu sama Ola belum selesai juga? Pulang ya, Nat, aku beneran takut sekarang." "Takut apa? Hantu atau nggak bisa ambil kesempatan berdua sama mantan di rumah?" sahut Ola, menahan rasa geram setengah mati. "Ola?" gumam Elise terkejut. "Kenapa kamu yang angkat teleponnya? Natan mana? Tolong kasih ke Natan, aku mau ngomong sama dia." Ola melirik Natan sepintas. "Dia lagi tidur di sebelah gue, nih. Nggak tega gue banguninnya. Lo bilang aja mau ngomong apa sama dia lewat gue, nanti kalau Natan bangun, pasti gue sampaikan." Tidak ada suara di seberang sana. Seketika menjadi hening. Ola mengerutkan dahi, sepasang mata perempuan itu menyipit, ia menunggu reaksi Elise. "Tidur?" gumam Elise. Suaranya lebih pelan. "Kalian habis ngapain?" Ola mengulum senyum. Ia berniat mengerjai Elise. "Ya, tidur." Ola menahan tawa. "Tadinya gue numpang tidur di apartemen Natan. Tapi dia maksa tidur sama gue, nih, orangnya peluk-peluk gue terus. Nggak mau dilepas." "Kalian nggak boleh terlalu dekat sebelum resmi menikah," cicit Elise. "Lho, kenapa? Gue sebentar lagi sama dia nikah, kok. Nakal dikit, nggak apa-apa kali, ya?" Bisa ia bayangkan bagaimana raut wajah Elise sekarang. Pasti perempuan itu seperti cacing kepanasan mendengar mantan pacar tersayangnya justru tidur di samping perempuan lain. Iya, tidur. Cuma tidur biasa. Bukan tidur yang bagaimana. Ola juga punya otak, dan ia bisa menggunakannya dengan baik. Kalau sekadar tidur sambil memeluknya saja tidak masalah. Tapi kalau sampai Natan berbuat aneh-aneh, Ola akan menendang Natan! "Cepetan lo mau ngomong apa," tegur Ola. "Nggak, gue mau ngomong langsung sama Natan." "Oh, tunggu dia bangun aja kalau gitu. Atau saat dia pulang ke rumah buat ambil barang-barangnya." "Apa?" "Mulai besok, Natan bakal pindah. Nggak tinggal lagi sama lo. Wah! Gue keceplosan! Sori ya, gue mendahului Natan. Tapi nggak apa-apa, intinya bakal sama, kok." Jelas Ola bukan pura-pura. Melainkan sengaja memberitahu Elise lebih dulu. Kalau perlu, Ola akan membantu Natan pindahan kemari supaya Elise itu sadar. Bahwa Ola lebih berhak berada di samping Natan, daripada perempuan itu! *** Makan malam tiba, Kerin bersama teman-temannya sedang memasak bersama. Ia dan Manda di bagian dapur, mengolah bahan masakan yang telah dibeli mereka sore tadi. Sementara Chintya, Debora dan Debi, cuma berlalu-lalang, lalu mencomot tahu dan tempe yang telah digoreng. Manda langsung bersabda, membuat ketiga perempuan itu berlari ke luar dapur sambil cekikikan. "Emang temen nggak ada ahlak mereka," duel Manda sambil berkacak pinggang. Di antara tiga perempuan itu, tidak ada yang mau membantu di dapur dengan alasan takut terkena cipratan minyak saat menggoreng ikan, takut kukunya rusak, gayanya selangit, padahal sehari-hari makannya juga tahu, tempe, paling mewah nasi goreng di seberang kosan mereka. Manda menggeleng, tidak berhenti berdecak melihat tingkah laku temannya yang menyebalkan. Kerin yang sedang menggoreng ikan lele jadi menoleh ke Manda di belakang punggungnya. "Lo simpen aja di sini. Jangan ditaruh di situ, pasti ntar dihabisin sama mereka, Man." Manda mengangguk. Ia memindahkan wadah berisi tahu dan tempe yang telah digoreng ke tempat yang lebih aman. "Masih banyak yang harus digoreng, Ke? Gantian sama gue, sini. Lo ngeracik sambelnya, ya," ujar Manda, berpindah di samping Kerin. "Ya udah, nih," balas Kerin, mengangsurka spatulanya ke Manda. Mereka pindah posisi. Manda yang menggoreng sisa ikan, dan Kerin tengah meracik sambal. Sedang tanggal tua, Kerin beriniatif mengajak teman-temannya masak sendiri saja, ya, patungan, sih. Daripada beli di luar, cuma makan sekali, nanti beli lagi, kan pemborosan namanya. Setelah berdebat lebih dari tiga puluh menit cuma untuk menentukan memasak apa, maka pilihan mereka jatuh ke pecel lele. Lebih hemat, murah, dan bisa dimakan banyak orang. "Kita kebanyakan goreng ikan nggak, sih?" gumam Manda. "Hah?" Kerin menengokkan kepalanya selama dua detik. "Ini, kita gorengnya kebanyakan. Kalau nggak habis gimana?" tanya Manda. "Masa, sih?" Kerin menghampiri Manda, mengintip ikan yang telah ia goreng. "Iya, ya. Kok banyak banget. Kayaknya tadi nggak sebanyak itu, deh." Manda memberi ide. "Lo telepon Alfa aja, Ke. Ajak dia makan di sini. Biar tambah rame," katanya. Kerin berpikir sebentar. "Boleh, sih. Tapi gue telepon dia dulu, ya. Siapa tahu dia nggak bisa datang ke sini." Manda mendecakkan lidah. "Halah, kalau buat lo, biar Alfa lagi sakit pasti langsung datang!" Kerin mendengkus. "Nggak gitu juga, kali. Emang gue siapanya Alfa sampai dia segitunya? Udah, ah. Gue ambil HP dulu di kamar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN