Benar kata Manda, Alfa akan datang kapan saja. Tidak peduli jam berapa, sibuk atau tidak, sakit atau sehat, Alfa pasti memenuhi keinginan Kerin.
Baru di telepon setengah jam yang lalu, Alfa tahu-tahu muncul di depan pintu kosan Kerin sambil menenteng kantong kresek berisi minuman soda dingin.
Teman-teman Kerin jelas senang sekali. Mereka tahu Alfa seperti apa. Teringat kejadian Debi beberapa waktu yang lalu, mereka semakin yakin kalau Alfa adalah lelaki paling baik di dunia ini, yang cocok untuk Kerin daripada mantan tunangannya itu.
Kerin memang tidak pernah bercerita aneh-aneh tentang Alvo. Tapi dilihat dari auranya saat bersama Alvo, lalu ke Alfa, jelas beda sekali. Saat bersama Alfa, Kerin jadi lebih sumringah, banyak tertawa, tidak seperti dulu. Ketika masih menjadi tunangan Alvo, Kerin kelihatan sering kecewa. Dan sikap Alvo, berbanding balik dari Alfa yang humoris, ramah, dan mudah berbaur bersama siapa saja.
Kalau ditanya siapa yang mereka dukung bersama Kerin, maka jawaban mereka adalah Alfa.
"Nggak salah gue minta Kerin telepon lo buat nyuruh ke sini," ujar Manda, meninggalkan dapur sebentar untuk melihat keributan apa di ruang tamu.
Ternyata karena Alfa. Lelaki itu tidak pernah kemari dengan tangan kosong. Pasti ada saja yang dibawanya. Kalau bukan makanan, ya pasti camilan. Sekarang malah lengkap. Camilan, dan minuman dengan berbagai varian.
Katanya, biar bisa dinikmati bersama-sama. Supaya Kerin tidak memakan dan meminumnya sendirian.
"Jadi pacar gue yuk, Fa?" celetuk Debora. Perempuan itu menarik turunkan alisnya jahil.
"Alfa nggak mau sama lo. Maunya sama Kerin," sahut Manda sambil berkacak pinggang.
"Apa sih, orang dapur, mending lo balik goreng ikan!" seru Debora sembari mengibaskan tangannya ke udara.
"Gue teman paling baik, tahu! Gue lagi menyadarkan lo. Lain kali sebelum tidur, gue mau pastiin lo tidurnya terlalu miring apa nggak," ejek Manda.
Kerin memerhatikan raut wajah Alfa. Entah cuma perasaannya saja atau bagaimana. Ketika Manda mengatakan Alfa cuma ingin dirinya, Alfa merubah ekspresinya menjadi terkejut, kemudian melamun sekitar lima detik, walau akhirnya kembali cengengesan seperti semula.
Kerin merasa ada mengganjal. Ia menjadi tidak nyaman, ingin sekali bertanya kenapa, namun, itu tidak mungkin ia lakukan.
Ia pura-pura ikut tertawa seperti yang lain, hanya saja tidak berniat menimpali sama sekali.
"Ada acara apaan sih, sampai masak sebanyak ini?" Alfa masuk dapur, mengintip ikan yang telah digoreng.
"Nggak ada acara apa-apa, sih." Manda yang menjawab. "Lagi tanggal tua, daripada beli, mending masak sendiri biar makannya lebih puas."
Alfa manggut-manggut. "Cuma kalian doang yang masak? Yang lain?"
Manda memutar badan, menatap Alfa lalu bersedekap. "Selain mereka malas, nggak akan gue biarin mereka ngerusak dapur di kosan!"
Alfa tertawa, lantas menyahut, "Pernah ada kejadian apa di dapur? Kayaknya lo dendam kesumat banget!"
"Dapur hampir kebakaran," sahut Kerin sambil menghaluskan sambel di cobek.
"Oh ya?" Alfa nyaris memekik. "Baru hampir, kan? Belum kebakaran?"
"Jangan sampai ini cobek melayang ke kepala lo ya," ancam Kerin.
Padahal Manda telah ancang-ancang akan melempar alat penggoreng di tangannya, tapi keduluan Kerin. Manda menyimpannya lagi, dan berakhir mendengar perdebatan di antara dua orang itu.
"Gue ke sini cuma disuruh makan aja, atau bantuin lo berdua masak?" tanya Alfa, pindah berdiri di belakang Kerin.
Sontak, Kerin menjadi gugup. Alfa begitu dekat dengannya. Kalau saja Kerin menoleh, mungkin wajah mereka akan berdekatan.
Kerin menunduk, pura-pura sibuk sendiri padahal suara degub jantungnya mirip lampu disko. Alfa terus bertanya, dan Kerin cuma menjawab sekadarnya.
"Tolong ambilin garam, dong," pinta Kerin sengaja. Supaya Alfa berdiri agak jauh.
"Nih, di sebelah lo." Alfa mengangkat wadah garam.
"Eh! Gula, deh!" seru Kerin.
Alfa menoleh. "Di samping lo juga, nih. Kayaknya semua bahan-bahan udah lo siapin."
Kerin mengeluh dalam hati. Ia berakhir mempermalukan dirinya sendiri di depan Alfa.
Sejujurnya ia trauma. Bagaimana kalau cuma Kerin yang terlalu percaya diri, sementara Alfa hanya menganggap dirinya sebagai teman?
Alfa memang baik. Kelewat baik malah. Bisa saja Kerin salah menanggapi kebaikan Alfa padanya. Karena kalau sampai itu terjadi, Kerin bingung harus berbuat apa. Kerin akan jauh lebih patah hati dari sebelumnya.
"Aduh!" pekik Kerin.
Ia tidak sadar mengusap matanya dengan tangan yang belum dicuci. Alhasil matanya perih dan panas. Alfa tanya kenapa, setelah Kerin menjawab, Alfa membantu Kerin mencuci mukanya ke westafel.
"Lo nggak hati-hati, sih," ujar Manda dari belakang, cuma bisa memerhatikan.
"Makanya gue paling males ngulek sambel," keluh Kerin.
Alfa menepuk-nepuk kepala Kerin. "Ngapain juga lo yang ngulek? Kenapa nggak pakai blender aja?"
"Blendernya rusak," jawab Kerin.
"Coba lihat, masih panas nggak? Pasti perih kan mata lo?" Alfa mengulurkan kedua tangannya, menangkup pipi Kerin.
Kerin mematung. Perlakuan Alfa barusan membuat kedua pipi Kerin merona. Ingin sekali ia memalingkan wajahnya. Tapi, mata Kerin seolah terhipnotis karena wajah Alfa juga.
"Ke, lo kedatangan tamu lagi, nih!" seru Debi di ambang pintu dapur.
Kerin dan Manda kompak menoleh ke asal suara. Keduanya terlihat sama-sama kaget saat menyadari bahwa Debi tidak sendirian. Di sampingnya ada Alvo, meluruskan pandangan ke Alfa yang memegangi pipi Kerin.
"Vo? Kok lo di sini?" tanya Kerin bingung.
"Gue yang undang," sahut Alfa.
"Hah?" Kerin mendongak. Sepasang matanya membulat sempurna.
***
"Lo mandi udah kayak anak perawan, ya." Ola menyindir Natan.
Masa iya, lelaki seperti Natan menghabiskan lebih dari satu jam di kamar mandi. Memangnya kegiatan mandi Natan beda dari orang lain, ya? Bukan sekadar gosok gigi, sampoan, dan memakai sabun? Apa ada yang lain yang tidak Ola ketahui? Atau cuma Natan saja yang begitu?
Natan baru keluar kamar. Lelaki itu telah rapi. Setelan olahraga tadi pagi berubah menjadi setelan celana dan kemeja berwarna hitam.
Ola menatap Natan sinis. "Nunggu lo mandi doang bisa menghabiskan banyak waktu," dumel Ola. "Tahu gitu gue pulang sendiri."
"Mampir buat cari makan dulu sebelum pulang, ya?" Alih-alih membalas omelan calon istrinya, Natan malah bertanya hal lain.
"Nggak usah!" seru Ola. "Tante Sandra udah pesan ke gue, nggak usah makan di luar. Kita disuruh makan malam di rumah aja."
"Oh, ya udah." Natan mengambil duduk di samping Ola.
"Apa?" tanya Ola ketus.
"Masih aja judes," gumam Natan.
"Lo banyak mau," sahutnya. "Gue udah buka blokir nomor lo, tidur siang di sini, tapi lo ganggu gue mulu! Giliran gue minta diantar pulang, lo banyak alasan!"
"Ini namanya usaha. Kalau kamu nggak dipaksa ngobrol berdua, masalah kita nggak bakal selesai. Kamu bakal terus menghindar. Iya, kan?"
"Tapi nggak perlu sampai dibawa ke sini," ujar Ola.
"Terus, di mana? Di kafe? Tempat umum? Sedangkan aku butuh ngobrol berdua aja sama kamu. Aku jaga-jaga kalau kamu marah kayak orang kesurupan."
Ola mendengkus. "Gue masih waras! Nggak ada dalam kamus gue marah-marah cuma karena cowok gue selingkuh!"
"Aku nggak selingkuh, lho," timpal Natan santai. "Kamu cuma salah paham. Dan aku berusaha meluruskan."
"Udah, lah. Lo kebanyakan ngomong. Kapan pulangnya?" Ola siap-siap beranjak dari tempat duduknya.
Natan mengelus rambut Ola. "Iya, ini aku antar pulang."
"Dih, sok manis," cibir Ola. "Nanti kalau ketemu Elise di rumah, besok juga berubah lagi!"