Makan malam berakhir hening. Jika Kerin bertanya-tanya kenapa Alvo bisa ada di sini, lain dengan teman-teman Kerin. Mereka merasa canggung atas kehadiran mantan tunangan Kerin itu. Untuk apa lelaki itu kemari? Dulu jarang sekali ke sini kecuali ingin mengajak Kerin pergi. Dan hari-hari berikutnya, Kerin lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman kosannya, atau Langen.
Gerak-gerik Alvo dan Kerin tidak lepas dari pengawasan Alfa. Sedari tadi ia berusaha mencairkan suasana dengan mengajaknya mereka semua bicara, bercanda, tapi reaksi mereka, termasuk Kerin dan Alvo, cuma menatapnya sekitar tiga detik penuh, dengan raut wajah berbeda-beda.
Dari tempat duduknya, Kerin seolah menekan Alfa, kenapa bisa Alvo ada di sini? Tadi Alfa bilang, Alfa sengaja mengajak Alvo karena tidak sengaja bertemu di minimarket. Ya sudah, Alfa ajak saja sekalian.
Astaga! Kerin ingin mengutuk Alfa saat itu juga! Buat apa mengajak Alvo kemari? Bukan maksud Kerin memusuhi Alvo. Namun karena ia telah mengenal lelaki itu lebih lama, ia jadi tahu bagaimana Alvo, sifat, serta kebiasaan Alvo, yang belum tentu Alfa ketahui.
Dan, lihat! Karena Alvo, teman-temannya jadi tidak nyaman makan sekarang.
"Vo, lo cobain ikannya. Enak banget, lho! Kerin yang masak," seru Alfa tidak tahu diri. Ia malah menawari Alvo di depan Kerin. "Orang kaya biasanya jarang makan beginian. Benar, nggak?"
Alvo diam saja saat Alfa meletakkan ikan lele goreng ke atas piringnya. Nasi milik Alvo di piring bahkan belum sempat disentuhnya. Alvo bingung, ia harus bagaimana saat dihadapkan dengan suasana seperti ini. Alvo mungkin pandai dalam berbisnis, jago dalam menghadapi rekan bisnis sesulit apa pun. Tapi untuk berbaur seperti ini, Alvo ingin menyerah, lalu pergi sejauh-jauhnya.
Dan masalahnya, mereka melemparkan tatapan berbeda. Saat menatap Alfa, teman-teman Kerin kelihatan asyik, sementara saat menatapnya, mereka memandang Alvo sebagai orang asing.
"Jangan dimakan kalau emang lo nggak suka, Vo." Kerin menyahut, mengusap ujung hidung dengan lengan kirinya. "Gue tahu lo kurang suka sama ikan. Nggak apa-apa, lo bisa taruh ikannya."
Alvo menatap Kerin sekitar dua detik. "Gue makan, kok," ujarnya. Sepasang mata Alvo tertuju ke piringnya sendiri.
"Yakin?" tanya Kerin tidak yakin.
Alvo mengangguk sekali. "Iya," gumamnya. "Kelihatannya enak, kok. Gue makan, ya?"
Kerin mengangguk ragu. Sedangkan teman-teman Kerin pemasaran menunggu reaksi Alvo. Dan Alfa, terlihat santai, tidak memikirkan perasaan Alvo yang sudah campur aduk sekarang.
Bukan Alvo sombong. Ia tidak menyukai ikan. Ia bisa makan apa saja, asal itu bukan ikan. Jenis apa pun, dimasak apa pun, Alvo tidak bisa menelannya karena memang tidak suka.
Kerin tahu-tahu menarik piring Alvo, membuat lelaki itu urung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Jangan dimakan, Vo, seriusan." Kerin tidak tahan juga. "Gue bikinin telur mata sapi aja."
"Ke—"
Kerin menyela, "Gue nggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama lo." Perempuan itu berdiri, hendak pergi ke dapur. "Lo bisa makan tahu, tempe, di situ juga ada kerupuk. Makan itu dulu. Gue masakin telur, ya."
Sepasang mata Alvo bahkan tidak berkedip menatap ke punggung Kerin yang dibungkus kaus berlengan pendek, warna merah muda.
Sesaat, Alvo menelan ludah. Agak berlebihan memang, tapi Alvo merasakan hatinya menghangat, karena Kerin masih ingat apa yang tidak ia sukai.
Alfa menyenggol lengan Alvo. Lantas, berbisik, "Cari di mana lagi lo yang kayak Kerin?"
Alvo mendongak. "Iya, lo benar."
***
Ola membuka sabuk pengamannya, bersiap membuka pintu mobil lalu keluar. Ola menarik tangannya kembali, duduk bersandar ke kursi, lantas menatap Natan.
"Sebelum masuk ke rumah, gue pengin memastikan sesuatu dulu." Ola masih menoleh ke tempat Natan.
Natan memegangi sabuk pengaman yang belum dilepasnya. "Ya udah, bahas di sini aja. Kenapa?"
"Lo sama Elise, sebenarnya apa sih?" tanya Ola.
"Hah?" Natan bingung. "Maksudnya gimana, nih?"
Ola mendecakkan lidah. Sebenarnya ia malas mengatakannya. Tapi sebelum ia jatuh terlalu dalam pada pesona Natan, lalu ia dibuat patah hati lebih parah dari kemarin, lebih baik Ola memastikan lebih dulu sebelum melanjutkan hubungan mereka ke depannya.
Ia tidak ingin menghabiskan waktunya secara sia-sia dengan lelaki yang belum melupakan mantan pacarnya.
"Lo masih sayang sama Elise, kan?" tuduh Ola sambil menunjuk Natan.
Natan mengangguk tanpa ragu. "Iya, sayang."
Ola langsung mendelik. Ia hendak membuka mulut dan memaki Natan.
"Sebagai Kakak ke adiknya." Natan menyela, membenarkan kata-katanya sebelum terjadi salah paham. "Bohong kalau aku nggak sayang sama Elise, La. Tapi sayangnya aku ke dia, antara Kakak ke adik aja, nggak lebih dari itu."
"Omongan lo bisa dipercaya?" tanya Ola sinis. "Di depan gue, lo bilang gini. Nanti di depan Elise, beda lagi, siapa yang tahu."
"Mau dipercepat nikahnya, nggak?" celetuk Natan. "Supaya aku lebih sering sama kamu, lebih banyak menghabiskan waktu bersama, biar kamu nggak curiga terus."
"Gue cuma mengantisipasi adanya perceraian!" seru Ola.
Natan mengerutkan dahi. "Kamu nikah sama aku, ada niatan mau cerai juga?"
Susah sekali menjelaskan pada manusia bernama Natan ini. Ola tidak suka adanya perceraian. Walau mereka menikah karena dijodohkan, Ola tidak mau bercerai. Lagi pula, mana ada orang yang mau cerai setelah menikah, sih? Penginnya menikah sekali seumur hidup.
Ola tidak bisa tenang selama Elise masih di sekitaran Natan. Di depan Ola dan orang-orang, Elise saja berani mengambil kesempatan. Bagaimana jika di belakang Ola?
"Biarpun agak mengejutkan. Nggak apa-apa. Cemburu itu wajar," gumam Natan.
"Siapa yang lo bilang cemburu?" Ola tidak terima.
"Kamu." Jawaban Natan terdengar santai. "Jangan mengelak, tolong," tambahnya. "Apa salahnya mengakui kalau kamu lagi cemburu? Aku senang aja, kok. Itu tandanya kamu mulai menerima aku dan perjodohan kita."
"Kenapa jadi bahas ke mana-mana, sih? Gue lagi ngomong soal Elise. Nggak ada hubungannya aku cemburu!" pekik Ola. "Nat, lo pernah ada di posisi kayak gue nggak, sih? Lo lihat pasangan lo diikutin ke mana-mana sama mantan pacar, tapi pasangan lo nggak melakukan apa-apa. Sama sekali nggak tegas!"
Ola memberi jeda, menarik napas lalu mengembuskannya. "Gue nggak sekekanakan itu, kok. Lo boleh berteman baik sama mantan lo. Tapi kelakuan Elise, beneran bikin gue makin ragu sama lo."
"Kenapa masih ragu? Aku sama Elise, udah jadi Kakak dan adik. Nggak mungkin aku bisa bersatu sama dia."
"Nah, itu," pekik Ola. "Jawaban lo aja bikin ragu. Jadi, kalau lo sama Elise bukan jadi saudara tiri, lo masih sama dia, kan? Ada banyak kesempatan bukan pacaran lagi, dong?"
"Ola."
"Berhenti." Ola mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat. "Jujur, gue nggak bisa tenang. Selama Elise masih mengharapkan lo, dan lo nggak bisa tegas, gue nggak mau nikah sama lo."