Ceramah Alfa

1041 Kata
Kerin baru saja keluar kamar, dan disambut oleh teman-temannya di meja makan. Kerin balas menyapa, menarik salah satu kursi lalu duduk di samping Manda yang sedang mengoles selai kacang ke rotinya. "Mau gue olesin sekalian, nggak?" Manda menawari Kerin. "Boleh, deh. Makasih, Manda." Kerin menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Ada banyak berbagai makanan di atas meja. Manda sarapan dengan roti dan selai, lalu ada nasi bungkus, gorengan satu kantong kresek kecil, dan masih ada beberapa makanan yang membuat Kerin bingung sendiri. Mereka mau sarapan, atau mau pesta, sih? Padahal semalam, mereka sudah pesta pecel lele. "Oh ya, Ke," ujar Debi teringat sesuatu. Kerin mengarahkan pandangan ke Debi. "Apa, Deb?" tanya Kerin sembari menggigit roti selai buatan Manda. "Gue baru inget kalau semalam Alvo ninggalin barang di ruang tamu," kata Debi. "Kayaknya nggak sengaja ditinggal." "Barang apa emang?" tanya Kerin lagi. Debi mengangkat kedua bahunya. "Mana gue tahu. Gue cuma lihat ada barang yang nggak dikenal. Gue tanya sama yang lain, katanya bukan mereka. Alfa? Gue lihat, dia kemari semalam cuma bawa kantong makanan." "Lo taruh mana sekarang? Biar gue cek," ujar Kerin, beranjak dari kursi hendak ke ruang tamu. Di atas sofa, Kerin menemukan sesuatu. Sesuai dengan deskripsi yang Debi jelaskan di meja makan, Kerin membukanya, dan melihat isinya. Kerin diam selama tiga detik penuh, lantas menganggukkan kepalanya. Kerin kembali ke meja makan. Ia menarik kursi yang didudukinya tadi. Setelah meletakkan barang milik Alvo ke samping kursi, Kerin duduk manis, menghabiskan sisa rotinya. "Beneran ada, kan?" Debi bertanya untuk memastikan. Kerin menganggukkan kepala. "Iya, ada." Manda menunduk ke bawah, melihat barang di dekat kakinya. "Yakin beneran punya Alvo? Jangan-jangan punya orang lain," celetuknya. "Bukan punya gue," sahut Chintya. "Gue juga," tambah Debora. Kedua perempuan itu menyahut kompak. Sedari tadi, mereka lebih banyak diam daripada bicara. Chintya dan Debora lebih fokus mengunyah, sambil memerhatikan teman-temannya. "Daripada lo nebak-nebak, mending lo telepon Alfa sama Alvo, deh. Buat memastikan aja. Kalau emang bukan punya mereka, ya udah, simpan aja dulu. Siapa tahu yang punya barang ini datang ke sini buat nanyain," usul Manda. Kerin menggaruk di atas alisnya. "Oke. Selesai sarapan, gue telepon mereka." Ia mendongak, kepalanya bergerak ke sana ke sini mencari jam di dinding. "Eh, agak siangan, deh. Takut ganggu banget telepon pagi-pagi gini." *** Ternyata barang itu memang milik Alvo. Kerin mengikuti saran dari Manda, untuk menelpon kedua lelaki itu bergantian. Saat Kerin bertanya ke Alfa, lelaki itu bilang tidak merasa meninggalkan barang apa pun. Kerin menghubungi Alvo. Sebelum Kerin mengatakan maksudnya, Alvo sudah lebih dulu menyinggung soal barangnya yang ketinggalan di rumah kos Kerin. "Beneran punya lo ternyata," gumam Kerin sambil melirik ke ranjang. "Iya, Ke," balas Alvo. "Bisa lo simpan dulu, nggak? Gue ada pertemuan sama klien penting nanti siang sampai sore, atau bisa jadi agak malam gue selesai." "Gue antar ke kantor lo aja, gimana? Sekalian gue berangkat kerja," kata Kerin. Ia pergi ke lemari, dan mengeluarkan pakaian. "Nanti gue titipin ke seketaris lo, ya." "Jangan, Ke. Gue takut ngerepotin lo." "Nggak apa-apa. Nggak ngerepotin, kok." Kerin mengapit ponsel di bahu. "Siapa tahu barang ini penting. Daripada lo harus bolak-balik ke kantor terus ke tempat kos gue, mending gue antar ke lo." "Ya udah. Makasih ya, Ke." Alvo bergumam. "Kalau lo udah sampai kantor gue, telepon aja, biar gue sendiri yang ambil. Lo berangkat jam sembilan, kan? Paling sampai sini... jam setengah sepuluh? Masih ada waktu sebelum ketemu klien." Kerin tersenyum tipis. "Oke." Sambungan telepon berakhir. Di dalam ruangannya, Alvo berteriak girang karena rencana yang diusulkan Alfa berhasil. Alvo memegangi kursi lalu memutarnya. Ia duduk, dan menghela napas panjang. Alfa ternyata sangat berguna untuknya. Semua ini atas ide dari Alfa sendiri. Alvo hanya mengikuti arahan lelaki itu. Alvo mencari nomor kontak Alfa. Diam-diam di belakang Kerin, mereka berdua saling menghubungi satu sama lain. Ya, membahas soal Kerin juga, sih. Alfa memberikan arahan, apa yang harus Alvo lakukan, dan bagaimana caranya agar Alvo lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kerin. Tidak perlu menunggu lama, sambung telepon tersambung. Alfa seolah menunggu Alvo menelpon, dan memberi kabar bahwa idenya berjalan dengan baik. "Kerin mau antar barang itu ke sini." Wajah Alvo kelihatan sumringah sekali. Lelaki itu jarang tersenyum, baru kali ini Alvo bisa tersenyum selebar itu. Apa lagi ini karena Kerin. Lucu sekali. Pikir Alfa. Harus ia yakinkan berapa kali Alvo supaya sadar siapa yang lelaki itu sukai. Beruntung, Alvo belum terlambat. Alfa yakin, ia hanya perlu berusaha sedikit lebih keras agar Alvo dan Kerin kembali bersama. Dengan status yang lebih jelas, dan tidak ada perjanjian seperti sebelumnya. "Wah! Ide gue berhasil," seru Alfa terdengar senang. "Tapi, Fa," ujar Alvo. "Masa iya dia ke sini cuma nganter barang itu aja, sih?" "Makanya lo inisiatif," timpal Alfa. "Lo ajak cari sarapan atau apa, kek." "Kerin bilang, dia nggak biasa sarapan." "Ngopi, deh. Atau apa gitu." Alfa menyahut dengan geram. "Lo kalau suka sama cewek, harus lebih nge-gas. Jangan diam aja kalau ada kesempatan datang!" "Gue bingung, Fa," gumamnya. "Kalau Kerin nolak ajakan gue, gimana?" "Cowok bukan lo?" tanya Alfa sebal. "Baru gitu doang lo udah lemah! Usaha lagi, cari cara lagi, supaya Kerin mau. Tapi jangan pernah maksa. Kalau saat lo nawarin sesuatu, atau ngajak dia ke mana, dan dia nggak mau, nggak usah maksa. Lo bisa coba besoknya." "Kalau tetap nggak mau?" Alfa menahan geram. "Dicoba lagi, lah!" Benar kata orang. Sepintar dan sejenius apa pun seseorang, kalau sudah dihadapkan dengan masalah perempuan, maka bisa jadi bodoh. Contohnya saja Alvo. Alfa sering mendengar bahwa Alvo sangat pintar, dan pandai dalam berbisnis, memimpin perusahaan, tapi soal cinta, Alvo harus banyak belajar dari Alfa. Alfa yang merencanakan semua, Alvo tinggal improvisasi. Apa susahnya? Toh, yang Alfa lihat, hubungan Alvo dan Kerin mulai membaik, kok. Walau masih canggung, setidaknya Kerin menerima Alvo datang ke kosannya seperti semalam. Mereka ngobrol, sesekali melempar senyum. Dan Alfa menyaksikannya sendiri. "Lo harus ingat, Vo," ujar Alfa memberitahu. "Cewek lebih suka sama cowok yang memperjuangkan dia. Nggak peduli lo ganteng, mapan, badan lo bagus, tapi kalau nggak didukung sama usaha, nggak ada perjuangan sama sekali, cewek juga malas!" Alvo mendengarkan ceramah Alfa di telepon. Benar yang dikatakan Alfa, Alvo yang pintar, berubah menjadi orang linglung saat dihadapkan dengan permasalahan cinta, dan perempuan. Alfa boleh merasa bangga, tidak? Alfa sering diolok kurang pintar di sekolah, tapi soal begini, Alfa lebih jago.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN