"Hai, Ke."
Alvo menyapa Kerin sambil melambaikan sebelah tangannya. Perempuan itu memutar badan, balas menyapa Alvo dengan sebuah senyum tipis.
Di tangan Kerin terdapat sebuah kantong. Alvo sempat meliriknya sebentar, sembari bertanya, apa itu barang yang dimaksud oleh Alfa di telepon tadi?
Jika ditanya apa isi kantong tersebut, sejujurnya Alvo juga tidak tahu. Alfa hanya menyuruhnya untuk mengakui bahwa barang itu miliknya, agar ia mendapat kesempatan bisa bertemu Kerin.
"Nunggu lama ya, Ke? Sori, tadi gue nggak dengar lo telepon." Alvo menghampiri Kerin, berdiri menjulang di samping perempuan itu.
Kerin langsung menyodorkan kantong tersebut ke Alvo. "Nggak, kok. Nih, punya lo, kan? Beruntung Debi lihat, dia ngasih gue tadi pagi waktu mereka lagi sarapan."
Alvo menerimanya. Membukanya sebentar, berusaha mengintipnya. Siapa tahu isinya aneh-aneh. Melihat tingkah dan sifat Alfa yang misterius, Alvo merasa agak ragu.
Oh, jelas dong.
Siapa yang tidak akan ragu jika berhadapan dengan manusia semacam Alfa?
Alfa terlalu baik. Jangan kan Alvo, Deon saja, juga merasa heran dengan lelaki itu.
Beberapa waktu lalu Alvo bercerita ke Deon. Iya, cuma ke Deon. Karena Deon lebih dulu menebak siapa yang telah membuatnya uring-uringan belakangan ini, Alvo jadi tidak bisa mengelak, juga tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang ia pendam.
Alvo terpaksa bercerita semuanya. Termasuk rencana Alfa yang ingin membantunya mendekati Kerin.
Deon mengerutkan dahinya tajam. Sepasang alis tebal lelaki itu sampai menyatu, kelihatan begitu heran.
"Dia seperhatian itu, tapi malah dorong lo buat deketin Kerin lagi?" tanya Deon kala itu.
"Iya, nggak aneh kalau gue jadi curiga sama dia, kan? Kayak apa sih, dia dekat banget sama Kerin selama ini. Pernah ngaku-ngaku masa depannya Kerin waktu Kerin minta bubaran sama gue. Terus, nggak lama bilang nggak punya hubungan apa-apa sama Kerin. Siapa nggak bingung?"
"Lo udah tahu apa alasan dia mau comblangin lo sama Kerin?"
Alvo menggeleng pelan. "Spesifiknya, gue nggak tahu itu apa. Dia cuma bilang, kalau gue suka sama Kerin, harus diperjuangkan."
"Cuma itu?" Deon menaikkan sebelah alisnya.
Alvo manggut-manggut.
Deon diam sebentar, seolah sedang merencanakan sesuatu di kepalanya. Alvo memerhatikan gerak-gerik temannya, mulai dari tatapan Deon, bagaimana Deon menggerakkan kedua kaki, sampai lelaki itu berakhir meletakkan ponsel miliknya ke atas meja di depan mereka.
"Lo udah pernah pergi ke rumahnya, nggak?" tanya Deon, Alvo sontak mengangguk. "Di sana, lo nemuin hal aneh, nggak?"
"Apa ya?" gumam Alvo berusaha mengingat.
Tunggu, Alvo akan berusaha mengingat apa saja yang ia temukan di rumah itu. Seperti rumah pada umumnya, kok.
Alvo sangat yakin dengan apa yang dilihatnya. Alfa mengaku memiliki saudara perempuan yang usianya tiga tahun lebih muda. Alvo sempat melihat foto keluarga di rumah Alfa. Lelaki itu mengatakan, ia tinggal sendirian di Jakarta. Sementara kedua orang tua, dan adik perempuannya tinggal di kota lain. Dan mereka sudah lama tidak bertemu karena memiliki kesibukan masing-masing.
"Siapa tahu Alfa punya istri," celetuk Deon, membuat Alvo kaget.
"Sembarangan, lo," sembur Alvo, tanpa sadar menepuk lengan Deon.
"Siapa tahu aja," tambah Deon. "Mungkin awalnya dia suka sama Kerin. Tapi Kerin nggak mau, jadi dia pindah haluan bantuin lo supaya bisa sama Kerin."
Alvo mendecakkan lidah. "Sumpah, gue baru tahu kalau lo lebih konyol dari Natan sama Lando!"
"Gue bilang kemungkinan," ujar Deon.
Alvo menggeleng. Bukan membela Alfa, tapi jika memiliki istri, ke mana istrinya? Saat Alvo menemui Alfa di rumahnya, tidak ada jejak-jejak Alfa menyembunyikan istrinya. Tempat tinggal Alfa juga terlalu kecil untuk ukuran orang berumah tangga.
"Kalau gue benar, gimana?" Deon masih tidak mau kalah.
Alvo berseru, "Gue kasih lo mobil!"
Deon meledek Alvo. "Mobil gue udah banyak."
"Sombong lo. Temannya hantu."
"Iya, lo hantunya!" sahut Deon.
Seolah tersadar di mana dirinya berada, Alvo terlalu lama melamun sampai Kerin menjentikkan kedua jari di depan wajahnya.
Alvo gelagapan. Wajah Kerin cukup dekat, lalu perempuan itu menarik dirinya kembali setelah Alvo menyadarinya.
"Barangnya udah gue balikin ke lo, ya," ujar Kerin sambil menunjuknya. "Gue pamit pergi kalau gitu, Vo."
Seketika Alvo teringat kata-kata Alfa. Ia tidak boleh membiarkan kesempatan yang datang, pergi begitu saja karena kebodohannya. Alfa sudah mengatur semua untuk dirinya. Masa iya, Alvo tidak memanfaatkan kesempatan yang datang di depan mata?
"Ke, tunggu dulu, deh." Alvo mensejajarkan langkahnya dengan Kerin.
Kedua kaki Kerin berhenti melangkah. Kepala perempuan itu mendongak, sepasang matanya agak menyipit saat menatap Alvo yang begitu tinggi berdiri di depannya.
"Kenapa, Vo?" tanya Kerin.
"Lo ada waktu sebentar, nggak?"
Sontak, Kerin melirik arloji di tangan kirinya. "Ada, sih... kenapa? Tapi nggak lama."
"Mau nemenin gue ngopi di kafe seberang, nggak?"
Padahal Alvo cuma menawari Kerin minum kopi. Tapi jantungnya berdegub berkali-kali lipat dengan kurang ajar. Alvo sampai panik sendiri, takut Kerin bisa mendengar suara jantungnya.
"Gimana, Ke?"
***
Natan menunggu Ola keluar kampus. Ia sudah berada di dalam mobil lebih dari satu jam, entah Ola selesai kelas jam berapa. Natan setia menunggu perempuan itu.
Ola melarang Natan menemui, apa lagi menghubunginya. Iya, sih, Ola memang sudah tidak memblokir nomornya lagi. Tapi sama saja kalau Natan tidak boleh menemui perempuan itu.
"Selama urusan lo sama Elise belum selesai, dan nggak ada kejelasan dia tinggal sama lo. Jangan temui, apa lagi telepon gue. Kecuali lo berhasil bikin pernikahan kita batal."
Siapa yang tidak jantungan mendengar kata-kata Ola begitu? Natan rasa, semua calon suami yang ada di dunia ini akan merasakan hal yang sama.
Pernikahan mereka direncanakan kurang dari tiga bulan lagi. Dan Ola, kekeuh ingin rencana pernikahan mereka batal.
Bagaimana bisa pernikahan mereka batal, kalau Natan mulai menyayangi perempuan itu? Tentu saja Natan tidak rela. Justru Natan ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ola, lebih sering berbicara, bercanda, apa saja asal Natan bisa berdua dengan calon istrinya.
Lalu, Natan disuruh melepas Ola?
Natan tersenyum kesal. Itu saja membuatnya semakin tidak waras.
Perempuan yang sering ia ejek kekanakan, bocah, ternyata mampu membuat Natan uring-uringan, tidak tidur semalaman, cuma karena memikirkan kenapa Ola menghindarinya.
Hebat sekali, kan?
Sebenarnya, Natan kemari tanpa memberitahu Ola. Natan juga tidak tahu ada berapa kelas yang perempuan itu hadiri.
Tante Sandra hanya mengatakan kalau Ola pergi ke kampus pukul dua siang.
Natan memperkirakan berapa lama Ola selesai kelas. Pukul setengah empat, Natan sengaja pergi, sendiri, tanpa siapa pun, termasuk adik tirinya, Elise.
Ia hanya perlu meyakinkan Ola bahwa dirinya sungguh-sunggu menyukai perempuan itu. Tunggu, lebih dari menyukai. Tapi jika disebut cinta, apa itu tidak terlalu dini?