Cara Alfa yang Salah

1269 Kata
Yaras harus menunggu berapa lama lagi agar bisa bicara dengan Alfa? Tadi, Yaras terpaksa menyimpan lagi kata-kata yang akan ia sampaikan kepada lelaki itu. Namun, perempuan yang menjadi topik utama obrolan antara ia dan Alfa, tiba-tiba datang, dan Yaras sudah tidak berniat menunggu Alfa lebih lama lagi. Untuk apa? Alfa pasti akan mengirim isyarat dengan berbagai cara kepada Yaras, supaya Yaras tidak membahas masalah mereka selama Kerin ada di sana. Yaras baru sampai rumah. Ia menarik kaca mata bening miliknya, lantas memasukkannya ke dalam tas sembari melangkah memasuki rumah sang Nenek. Rumah terasa sepi. Mungkin Nenek sudah tidur, dan Deon masih ada di luar. Adik lelakinya itu memang jarang di rumah. Itu keluhan pertama yang Yaras dengar dari neneknya saat pertama kali sampai di sini. Yaras adalah anak sekaligus cucu tertua di rumah ini. Kedua orang tuanya telah lama meninggal. Ia dan Deon diasuh Nenek sedari kecil. Saat Yaras memasuki dunia perkuliahan, Yaras memilih melanjutkan pendidikan di luar kota, hingga akhirnya berhasil menjadi seorang Dokter. Bertahun-tahun ia bekerja di kota tersebut, pada akhirnya Yaras mendapat tugas di kota kelahirannya. Yaras merasa senang. Walau ia akan beradaptasi dengan lingkungan baru, tapi Yaras bisa menjadikan momen ini untuk bertemu orang-orang yang ia sayangi. Deon, Nenek, dan juga Alfa. "Kak, baru pulang? Habis dari mana?" tanya Deon. Lelaki itu menuruni anak tangga, dan menemukan kakaknya meletakkan tas ke atas meja sebelum mendudukkan dirinya ke salah satu kursi kosong. "Nggak dari mana-mana. Cuma dari udara di luar. Aku bosan di rumah terus." Yaras menjawab, ia melipat kedua tangan ke atas meja. Deon melihat kakaknya banyak melamun, padahal ia dan Nenek senang karena akhirnya mereka bisa berkumpul kembali. Akan tetapi, Yaras justru banyak melamun. Deon dan Yaras tidak seperti kebanyakan orang di luar. Sedari mereka kecil, remaja, hingga dewasa, mereka menjadi pribadi yang tertutup. Bahkan dengan keluarga, baik Yaras mau pun Deon lebih suka memendam apa yang mereka rasakan. Cara menghibur satu sama lain dengan duduk berdua, berbicara sesekali tanpa menyinggung masalah yang sedang mereka hadapi. Apa yang mau mereka bicarakan memangnya? Masa kecil mereka tidak ada yang indah. Kalau saja Deon bisa menghapus ingatan masa kecilnya dulu, sudah Deon lakukan sejak dulu. Mengingat kejadian dulu sama saja membuka luka lama. Deon benci hal seperti itu. "Perginya sendirian, Kak?" Deon basa-basi. Yaras tersenyum tipis. "Iya. Di sini aku nggak punya teman. Mau ajak siapa memangnya?" Deon masuk ke dalam dapur lebih dulu mengambil air minum. Setelah menuang air ke dalam gelasnya, Deon keluar dan bergabung bersama kakaknya. "Sama aku kan bisa. Kenapa harus ajak teman?" sahut Deon menarik kursi kosong di samping. "Daripada Kakak pergi sendirian. Apa enaknya?" Yaras terbiasa sendiri. Bahkan ia tidak memiliki banyak teman seperti Deon. Yaras sudah nyaman melakukan apa-apa sendiri. Ia hanya takut merepotkan orang lain. "Kamu masih mau nemenin Kakak pergi ke mana-mana? Ingat nggak, dulu waktu kamu SMA, kamu paling takut ketahuan jalan bareng Kakak, sama teman-teman kamu?" celetuk Yaras. "Walau kamu nggak bilang secara langsung, Kakak tahu kamu malu. Takut teman-teman kamu ngira, Kakak itu pacar kamu. Iya, kan?" Sekian lama tidak bercanda, baru sekarang mereka banyak bicara. Yaras juga melemparkan candaan, hingga Deon menarik punggung dari sandaran kursi, lalu menatap Yaras dengan sorotan mata kesal karena tidak terima. "Kakak jangan sok tahu," sembur Deon dengan sepasang mata membeliak. "Apa jadinya kalau teman-teman aku tahu kalau Kak Yaras itu Kakak aku? Mereka pasti sibuk minta izin buat deketin Kakak lewat aku." Yaras tiba-tiba terdiam. Benarkah itu alasan Deon? Ia ingat saat sekolah dulu, Deon tidak pernah mengaku bahwa mereka adalah saudara. Yaras masuk ke dalam jajaran siswi cantik di sekolah. Surat dan cokelat tidak pernah absen berada di kolong mejanya hampir setiap hari. Mulanya Yaras pikir Deon malu jika ketahuan mereka bersaudara. Tapi ternyata, karena Deon ingin melindunginya? "Kak Yaras kenapa malah ketawa?" Deon mengubah posisi duduknya menjadi miring. "Kakak baru sadar, ternyata kamu lucu," goda Yaras. Yaras tidak berani berlebihan menggoda adiknya. Jika ia terang-terangan berterima kasih kepada Deon, Yaras yakin Deon pasti sangat malu. Deon bukan tipikal orang yang suka dipuji secara langsung. Deon termasuk orang yang sangat gengsi menunjukkan rasa sayangnya. Termasuk kepada Yaras. "Kak Yaras tadi nemuin Alfa, kan?" tanya Deon hati-hati. Tawa kecil Yaras sontak menghilang. Raut wajahnya kembali serius seiring pertanyaan yang dilontarkan Deon barusan. "Hm," angguk Yaras. "Hubungan kalian baik-baik aja?" tambah Deon khawatir. "Aku harap Kakak nggak mengambil keputusan karena emosi. Awalnya aku pikir kayak gitu. Tapi setelah tahu alasan yang sebenarnya, Alfa nggak sepenuhnya salah. Aku justru kasihan sama Alfa." "Kamu nggak kasihan sama Kerin?" sahut Yaras, membuat Deon mengerutkan dahi dengan bingung. Perempuan itu memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. Yang Yaras pikirkan selain hubungannya dan Alfa, juga Kerin yang bisa saja menyalah artikan. Kita tidak tahu hati dan perasaan seseorang bagaimana. Yaras sangat mengenali Alfa. Atau Yaras bisa dengan percaya diri menyebut bahwa ia adalah orang yang paling mengenali Alfa. Jika Alfa terus melanjutkan misinya tanpa memikirkan dampak yang akan datang, Yaras khawatir keadaan semakin kacau. "Mulanya Kakak marah," gumam Yaras menghela napas panjang. "Semalaman Kakak mikirin masalah ini. Mungkin, Kakak merasa kecewa karena Alfa nggak jujur sama Kakak. Tapi, setelah Kakak merenungi, yang paling kecewa nantinya adalah Kerin." Gantian Deon yang diam sekarang. Ia baru menyadari itu. Kemarin ia sempat dikuasai emosi dan hendak menghajar Alfa. Deon memikirkan perasaan kakaknya. Tapi, ia tidak memikirkan bagaimana reaksi Kerin setelah tahu fakta sebenarnya. "Ada baiknya sandiwara Alfa diakhiri secepat mungkin. Bukan karena Kakak cemburu. Nggak sama sekali setelah kamu cerita semuanya." Yaras menegaskan apa yang menjadi kekhawatirannya. "Kakak cuma nggak pengin masalah ini makin berlarut, dan menyeret banyak orang semakin tersakiti. Kamu ngerti maksud Kakak kan, Yon?" Bukan cuma Alfa, dan Yaras. Tapi juga Kerin, atau bahkan mungkin Alvo. Seharusnya Alfa tidak perlu melibatkan banyak orang dalam permasalahannya. Kalau saja Yaras tahu sejak awal, ia mungkin akan mencegah Alfa memilih cara ini. Akan ada banyak cara untuk mendekati Kerin, tanpa harus bersandiwara sebagai masa depan perempuan itu. *** Motor Alfa telah sampai di depan pagar rumah kost Kerin. Perempuan itu turun lebih dulu sembari melepas helm yang sebelumnya terpasang di kepalanya. Kerin memberikan benda itu kepada si pemilik. "Makasih ya, Fa," ujar Kerin sambil tersenyum. "Seharusnya gue pulang sama Langen. Tapi lo malah maksa nganterin gue." Alfa menerima helm dari tangan Kerin. "Rumah kalian berdua itu beda arah. Gue kasihan sama Langen kalau harus bolak-balik. Mana udah malam banget." "Iya, sih," gumam Kerin sambil mengangguk kecil. "Kalau rumah kita kan arahnya sama. Mending gue yang angkut lo," tambah Alfa. Kerin memukul sebelah lengan Alfa secara otomatis. "Lo pikir gue karung beras?!" protesnya tidak terima. Alfa menanggapinya dengan tawa. Kerin bersiap akan masuk ke dalam. Untuk kali ini ia tidak berniat mengajak lelaki itu mampir, karena sudah sangat larut. Kerin tidak ingin besok muncul gosip yang tidak baik tentang dirinya dan Alfa. "Lo hati-hati di jalan, ya." Kerin hendak mendorong pagar. "Ke," panggil Alfa. Kerin urung masuk ke halaman. Ia berdiri di depan pagar, dan menatap Alfa dengan kerutan di dahi. "Kenapa, Fa?" tanyanya. "Lo tadi beneran ketemu sama Yaras?" "Iya." Kerin mengangguk. "Gue tadi sempat bilang sama lo, kan. Gue sempat heran ternyata lo juga kenal sama kakaknya Deon." Alfa tidak segera menjawab, lelaki itu malah diam selama tiga detik, sebelum akhirnya melemparkan pertanyaan kepada Kerin. "Yaras nggak bilang apa-apa sama lo?" Alfa kelihatan cemas. "Atau kalian ngobrol sesuatu waktu nunggu gue?" Kerin mengerucutkan bibir. "Malahan, gue belum sempat ngobrol apa pun selain minta izin duduk di kursinya. Emang kenapa sih, Fa?" "Hah? Nggak, kok. Gue cuma tanya aja. Karena Yaras tiba-tiba pergi. Padahal gue lagi bikinin pesanannya." "Oh, gitu." Kerin manggut-manggut. "Ya udah, gue balik sekarang ya, Ke," ujar Alfa, menggantungkan helm yang dipakai Kerin tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN