Butuh Waktu Berbicara

1069 Kata
"Duduk, Ras." Yaras sudah lama tidak mendengar suara Alfa secara langsung. Selama ini mereka berkomunikasi hanya lewat telepon. Itu pun tidak setiap hari karena baik Yaras atau Alfa, sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. Ketika mereka bertemu kembali, hubungan mereka terasa canggung. Alfa hanya menatap selama dua detik, lantas menunjuk ke salah satu kursi di depan Yaras. "Aku buatin minum dulu. Kamu mau apa?" tanya Alfa, masih berdiri di samping kursi Yaras. Yaras mengulurkan tangan sebagai isyarat agar Alfa tidak ke mana-mana. "Aku cuma mau ngomong sama kamu. Nggak akan lama." Alasan Yaras kemari bukan untuk minum kopi. Walau ia mendatangi Alfa ke tempat kerja barunya, Yaras hanya ingin berbicara dengan Alfa, mencari kebenaran yang tidak ia ketahui sebelumnya. Tidak biasanya Alfa menyembunyikan sesuatu dari Yaras. Biarpun Yaras itu agak kaku, kurang menyenangkan memberi reaksi karena setiap kali diajak bercerita cuma mendengar lalu mengangguk, Alfa tidak pernah absen. Apa pun itu, Alfa pasti memberitahunya. Tapi, untuk permasalahan kali ini tidak. Yaras merasa kecewa. Atau mungkin, Alfa memang sudah berubah? "Nggak, Ras," gumam Alfa. Dengan cepat ia menegaskan. "Kalau gitu, kenapa aku jadi orang terakhir yang tahu soal masalah kamu?" balas Yaras. Di bawah meja, Yaras meremas ujung bajunya. "Aku bahkan harus dengar ini dari orang lain. Apa salah kalau aku mikir kamu udah berubah?" Alfa menggeleng. Ia meletakkan kedua tangan ke ujung meja, lantas menghela napas panjang. "Aku nggak cerita ke kamu, karena aku punya alasan." Yaras tidak membalasnya kali ini. Satu per satu orang masuk ke dalam kafe, dan suasana yang tadinya sepi, kini berubah ramai, dan agak berisik. Perempuan itu menoleh ke sekitar, ia mengembuskan napas. Setelahnya, Alfa berpamitan pergi untuk membuat pesanan lebih dulu. Yaras mengalah, ia hanya bisa menganggukkan kepala, menatap kepergian Alfa. Begini kehidupan Alfa yang baru? Kenapa harus repot menjadi orang lain? Di tempat Alfa yang lama, Alfa bisa melakukan apa pun, tidak perlu bekerja di kafe kecil, padahal Alfa bisa mendirikan kafe sendiri lebih besar dan bagus. Yaras menunduk sebentar, berusaha menenangkan hatinya yang kini terasa campur aduk. Di satu sisi ia kecewa, namun di sisi lain, ia perlu mendengarkan penjelasan Alfa lebih dulu sebelum mengambil keputusan. "Kak Yaras?" Nama Yaras di panggil oleh seseorang dari belakang. Secara otomatis Yaras menengok, kedua mata perempuan itu mengerjap sebelum menyadari bahwa orang yang menyapanya adalah Kerin. "Kita ketemu lagi, Kak," sapa Kerin ramah. "Oh," gumam Yaras bingung. "Aku boleh duduk di sini, Kak? Semua meja lagi penuh. Nggak ada tempat duduk lagi," kata Kerin sembari menunjuk ke sekitar. "Silakan." Yaras memberi izin. Kerin menarik kursi di seberang, lantas ia duduk sembari menunggu Langen yang tengah memarkirkan motornya di depan. "Kakak sendirian di sini?" tanya Kerin. Di atas meja, tidak ada hidangan apa pun. Minimal secangkir kopi saja tidak ada. Kerin pikir, Yaras baru saja sampai. Bisa jadi pesanannya sedang dibuat. "Iya," jawab Yaras pendek. "Kak Yaras udah pesan?" Pandangan mata Kerin menyapu atas meja Yaras. "Belum." Yaras menggeleng. Bagaimana ia bisa makan dan minum, sementara pikirannya sedang kacau. Ia belum selesai bicara dengan Alfa, tapi Kerin tahu-tahu muncul, lalu duduk di meja yang sama dengannya. "Ke," panggil Langen. Ia baru tiba setelah mendapatkan tempat parkir. "Kak, maaf ya, teman aku boleh duduk juga?" Kerin tidak enak kepada Yaras. Maka dari itu ia bertanya lebih dulu. "Boleh." Terpaksa Yaras mengiyakan. Dalam hati Yaras, semakin kecil kesempatan Yaras bisa bicara dengan Alfa. Lelaki itu tidak kunjung kembali. Yaras menatap ke sekitar, kafe memang semakin ramai, tentu saja Alfa akan sangat sibuk di dalam sana, menyiapkan pesanan orang-orang. Yaras mengambil tas cokelat di samping kursinya. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, dan bersiap pergi dari sana. Kerin mengamati setiap pergerakkan Yaras. Perempuan itu kelihatannya akan pergi. "Kak Yaras mau ke mana? Bukan pulang, kan?" tanya Kerin hati-hati. Yaras menyampirkan tas ke sebelah bahu. "Aku lupa ada janji setengah jam lagi. Lihat kafe tambah ramai dan antre, kayaknya aku nggak bisa nunggu terlalu lama." Yaras menyunggingkan senyum sepintas. Bahu Kerin ditepuk sebelum perempuan itu pergi meninggalkan meja mereka. Kerin dan Langen dengan kompak memutar kepalanya mengikuti langkah Yaras hingga menghilang di balik pintu kafe. "Gue jadi nggak enak," gumam Kerin. "Kenapa?" sahut Langen tidak paham. "Karena gue ajak lo duduk di sini juga kali, ya? Makanya Kak Yaras jadi pergi." "Masa, sih?" Langen bergumam pelan. "Tapi lo udah izin tadi. Di sini udah nggak ada meja kosong. Masa gue duduk di lantai, Ke!" Entah, perasaan Kerin mengatakan bahwa Yaras tidak nyaman. Dilihat tingkah Yaras yang canggung daripada beberapa hari lalu saat mengantar ia pulang belanja, Yaras menunjukkan sikap berbeda. Masih ramah memang. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati Kerin. *** Langen dan Kerin cukup lama berada di kafe tempat Alfa bekerja. Mereka ke sana memang untuk makan, dan ngobrol tentang banyak hal. Kerin merasa bosan. Kebetulan Langen mengajaknya pergi. Jadi tidak ada salahnya Kerin pergi keluar untuk mencari udara segar, sekalian lirik sana sini. Siapa tahu ada yang menggetarkan hatinya. Ah, tidak. Kerin hanya bercanda saja. Lagi pula ia bukan tipikal perempuan yang mudah jatuh cinta. Mustahil adanya cinta pertama. Kerin tidak percaya itu. "Gue nggak Tterima gratisan," peringat Kerin sebelum Alfa mengatakan bahwa makanan yang ia pesan tidak perlu membayar. Di sini, Alfa itu bekerja, bukan kafe miliknya. Walau Kerin sangat menyukai sesuatu yang gratis, tapi ia tidak mungkin membiarkan Alfa membayar semua makanannya setiap kali ia kemari. Ia dan Langen memesan banyak makanan. Hampir satu meja, atau malah tidak cukup. Sepanjang mereka ngobrol ke sana kemari, mulut mereka tidak berhenti mengunyah. "Ola nggak kalian ajak sekalian?" tanya Alfa basa-basi. "Dia lagi sibuk sama tunangannya. Setelah baikan, Ola sama Natan tambah lengket aja!" keluh Langen. Setiap hari ia mendengar Ola bicara di telepon bersama Natan. Ola tertawa, Ola merajuk, sesuatu yang hampir tidak pernah perempuan itu lakukan selama ini. Langen sendiri heran kenapa Ola tiba-tiba berubah. Alfa tertawa. Ia mengambil duduk di sebelah Kerin. "Bagus dong. Nanti kalau Ola uring-uringan kayak waktu itu. Lo juga yang repot, La." Langen mengembungkan kedua pipi. "Lo benar sih, Fa. Tapi gue sebal aja. Ola kalau baikan sama Natan, jadinya malah sombong!" Benar, tadi Langen bercerita kepada Kerin soal ini. Semenjak Ola dan Natan akur lagi, Ola jadi sering meledek Langen karena masih sendirian setelah putus dari Lando. Sementara Lando, muncul gosip kalau mantan tunangan Langen sedang didekati perempuan lain. Kesal? Jelas saja! Bagaimana bisa Lando membiarkan perempuan selain Langen mendekatinya? Langen merasa tidak rela saja. Tapi, Langen sadar, ia sudah tidak memiliki hak, melarang perempuan mana saja yang ingin mendekati Lando.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN