Kerin keluar lebih dulu dari mobil, lalu disusul oleh Manda. Masing-masing dari mereka menenteng kantong belanjaan, berdiri di samping mobil Deon hendak mengucapkan terima kasih kepada Deon dan Yaras karena memberi mereka tumpangan.
Manda tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus yang datang. Daripada mereka harus membayar ongkos lagi, lebih baik mereka terima saja tawaran dari Deon.
"Makasih Kak Yaras, Deon," ujar Kerin agak membungkuk di samping pintu mobil.
Manda di belakang Kerin ikut menganggukkan kepala, sisanya perempuan itu menyunggingkan senyum tipis. "Hati-hati di jalan ya, Kak." Selanjutnya, Manda melambaikan tangan ketika Deon bersiap membawa mobilnya pergi dari hadapannya dan Kerin.
Kedua perempuan itu mematung, menunggu mobil hitam Deon menghilang dari pandangan. Mandi lebih dulu melangkah menuju ke pagar rumah kost. Kerin berjalan lebih cepat hingga langkahnya sejajar dengan Manda.
"Temen-temen Alvo cakep semua, ya? Menurut lo, dia masih jomlo atau udah punya pacar?" tanya Manda sambil membuka pagar menggunakan satu tangan.
"Gue nggak tahu." Kerin mengangkat kedua bahunya. "Gue kenal Deon baru-baru ini. Gue dengar sih, Deon itu lama di luar negeri. Bisa jadi dia udah punya pacar bule?"
Manda menengok ke belakang dan menatap Kerin yang kini mengerutkan dahi. Manda menjadi lemas, ia tidak memiliki kesempatan bisa mendekati Deon.
Manda heran, kenapa Alvo mempunyai teman-teman yang tampan. Ya, hampir sama seperti Alvo, sih. Hanya saja, teman Alvo yang ia kenal telah memiliki pasangan. Kalau saja Manda memiliki kesempatan dijodohkan dengan salah satu teman Alvo, Manda tidak akan menolak. Sungguh, lelaki bernama Deon tadi nyaris sempurna. Walau sedikit lebih dingin, dan jarang bicara, tapi di mata Manda, itu salah satu kharisma Deon sebagai seorang lelaki.
"Sadar," seru Kerin, kemudian menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Manda. "Cowok lo mau dikemanain? Lo boleh kagum sama Deon, tapi nggak mungkin lo langsung berpaling ke cowok lain, padahal pertama kali ketemu?"
Manda mendecakkan lidah. "Gue nggak beneran juga kali, Ke," elak Manda sambil mengibaskan tangan ke udara. "Bercanda doang gue, seriusan!"
Kerin menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Manda. Agaknya Manda terjangkit virusnya Chintya mau pun Debora. Sekali melihat lelaki tampan, langsung heboh, pengin dekat-dekat.
"Lho, Fa?" Manda dan Kerin secara otomatis berhenti melangkah. Di depan mereka muncul sosok Alfa, duduk di kursi teras sembari bermain ponsel. "Sejak kapan lo ada di sini?" sapa Manda.
Alfa segera mengantongi ponsel ke dalam saku celana. Lelaki itu mengambil alih barang belanjaan di tangan Manda dan Kerin, lantas membawanya masuk ke dalam lebih dulu.
"Di luar nggak ada kendaraan. Lo ke sini naik apa? Motor lo mana?" tanya Kerin celingukkan. "Kok nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini?"
Manda senyum-senyum di sebelah Alfa. "Gue ambilin air minum dulu, ya. Lo berdua lanjut ngobrol, deh."
Alfa menyahut, "Sekalian buat gue ya, Man!"
"Oke." Manda mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat.
Tinggal Alfa dan Kerin di teras. Jarak kursi mereka hanya terhalang dengan meja bundar di tengah. Kerin duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Alfa diam-diam melirik Kerin, setelah itu membuang tatapannya lurus ke depan.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," gumam Kerin, membuka kedua matanya.
"Oh, itu." Alfa mengangguk sekali. "Motor gue ada di bengkel. Tadi gue ke sini nebeng teman, sih."
"Lo nggak kerja?" tanya Kerin.
"Lagi libur," jawab Alfa. "Gue lihat tadi lo sama Manda pulang dianter mobil. Kayak nggak asing gitu."
Kerin meletakkan kedua tangannya ke lengan kursi yang ia duduki. Kepalanya terangguk sebagai jawaban, kemudian ia menambahkan, "Waktu gue sama Manda lagi belanja. Nggak sengaja ketemu sama Deon. Dia lagi bareng kakaknya. Cantik, deh. Selain ramah, kita juga ditawarin pulang."
Alfa mendengar Kerin sangat bersemangat bercerita tentang Kakak perempuan Deon. Alfa diam, tubuhnya tidak bergerak. Tapi kedua telinganya bisa mendengar dengan jelas bahwa Kerin banyak memuji Yaras.
"Beda banget sama Deon yang agak pendiam." Kerin menambahkan sebelum mengakhiri ceritanya. "Tadinya gue sempat nggak mau dianter. Tapi kata Manda, lumayan irit ongkos."
Suara tawa Kerin menyadarkan Alfa yang melamun. Secara tidak sadar lelaki itu mengusap puncak kepala Kerin, sampai Kerin mematung, lantas bertingkah canggung.
"Lo berdua daripada pacaran di sini, ada baiknya keluar ke mana, gitu." Manda tiba-tiba muncul, dan Kerin menghela napas lega. "Jangan di teras kosan terus! Nongkrong di kafe, atau pacaran di tempat yang lebih enak!"
"Kita nggak pacaran!" Kerin segera meralatnya. "Lo kalau ngomong jangan aneh-aneh deh, Man."
Manda tidak peduli walau wajah Kerin telah berubah merah. Manda meletakkan dua gelas air dingin ke atas meja. Ia mengalah, Manda memilih berdiri di sebelah Kerin sambil bersandar ke dinding.
"Berduaan mulu, disebutnya apa kalau bukan pacaran?" Manda mengomeli temannya. "Lo juga, Fa, jangan sampai Kerin lo permainin perasaannya, ya!"
Sebagai seorang teman dekat Kerin, apa lagi mereka tinggal di rumah yang sama, membuat Manda sangat ingin menjaga Kerin. Ia tidak ingin Kerin dipermainkan lagi oleh lelaki. Cukup Alvo saja. Manda ikut sedih kalau Kerin sedih.
Di mata Manda, Alfa adalah lelaki paling tepat untuk Kerin. Apa yang kurang dari lelaki itu? Soal isi dompet, Alfa boleh kalah dari Alvo. Tapi Manda mempunyai keyakinan bahwa hati Alfa lebih luas dari Alvo. Alfa lebih banyak berjuang untuk mendapatkan hati Kerin. Lalu, tunggu apa lagi? Yang Manda lihat, Kerin mulai membuka hati. Tinggal satu langkah lagi, keduanya akan menjadi pasangan paling bahagia.
***
"Jadi, dia orangnya, Yon?"
Deon bisa melihat pantulan wajah sang Kakak di cermin. Yaras menghampiri adiknya. Tatapan mata perempuan itu kelihatan khawatir.
"Iya," jawab Deon tenang.
Tidak salah jika Yaras memiliki kekhawatiran. Setelah Yaras dan pasangannya mengalami salah paham, hingga nyaris berpisah, namun setelah tahu alasan yang sebenarnya, Yaras sedikit lebih lega. Tapi masih saja cemas. Entah, Deon juga kurang paham.
"Kamu tahu sejak kapan?" Yaras berjalan ke dekat Deon.
Deon masih berdiri di depan cermin. Ia tidak berniat menoleh dan balas menatap kakaknya. Deon bingung harus bereaksi seperti apa. Deon pikir, Yaras hanya menunggu waktu sampai Alfa menyelesaikan masalahnya, kemudian semua akan berjalan normal seperti biasanya.
"Dunia sempit banget, ya." Yaras bersedekap, bergumam sendiri. "Gimana bisa Kerin itu mantan tunangannya Alvo. Dan Alfa harus—"
"Kak Yaras." Deon berbalik pada akhirnya. Ia mendekap kedua lengan Yaras. "Kakak nggak perlu khawatir soal Alfa dan masalahnya. Aku yakin, Kak Yaras jauh lebih kenal Alfa daripada aku."
Yaras menurunkan tangan adiknya perlahan. "Kayaknya aku terlalu kelelahan. Aku mulai nggak jelas ngomongnya."
"Kak Yaras baru nyampek kemarin. Kita bisa ngobrol ini lain kali. Sekarang, lebih baik Kak Yaras istirahat aja," bujuk Deon penuh kesabaran.
Yaras menyibak rambut panjangnya ke belakang punggung. "Aku balik ke kamar aja kalau gitu. Kamu jangan lupa istirahat juga."