Kerin sempat kemari beberapa kali untuk membantu mengurus Alfa yang sakit saat itu. Jadi tidak heran kalau Kerin mulai hafal di mana dapur berada, di mana kamar mandi, dan lainnya.
Alfa ada di kamar, sedang mengangkat telepon dari seseorang. Kerin tidak terlalu penasaran siapa yang menelpon Alfa. Palingan, teman-teman Alfa.
Kerin mengambil piring, sendok, dan peralatan makan lainnya. Ia akan membantu Alfa menyiapkan makanan lebih dulu sebelum ia kembali ke tempat kosnya.
Ia keluar dapur, bersamaan dengan Alfa yang muncul dari arah berlawanan. Lelaki itu dengan cepat mengambil alih barang yang ada di tangan Kerin, lantas meletakkannya ke atas meja.
"Baunya enak, Ke." Alfa agak membungkuk, menghirup aroma makanan yang dibawa Kerin untuknya.
"Oh, ya?" Kerin menata rantang yang ia bawa, kemudian memindahkannya ke dalam piring. "Akhir-akhir ini Manda sama yang lain lagi suka masak sendiri. Kalau dipikir ya, ternyata lebih hemat karena orangnya ada banyak di kosan."
Alfa disuruh duduk oleh Kerin. Alfa menurut saja apa yang dikatakan perempuan itu. Sembari mendengarkan Kerin bercerita tentang teman-temannya, Alfa mencicipi makanan di atas meja. Ia mendongakkan kepala, memerhatikan Kerin yang tengah bercerita banyak hal.
"Nih, udah gue pindahin ke piring lo." Kerin menunjuk tiga macam lauk di depannya. "Gue numpang nyuci rantang, ya. Lo buruan makan, deh."
"Makasih, Ke," ujar Alfa.
Kerin membereskan rantang yang ia bawa untuk ia cuci di dapur rumah Alfa. Kerin meletakkan rantangnya lebih dulu. Ia menggulung lengan baju, kemudian mendecakkan lidah, melihat tumpukkan piring kotor di dapur.
"Berapa lama lo nggak cuci piring, Fa!" seru Kerin. Lantas, detik berikutnya perempuan itu mengomeli Alfa. "Jorok banget lo jadi anak bujang!"
Biarpun mengomel, Kerin justru mencuci semua peralatan makan yang telah menumpuk itu. Sementara di meja makan, Alfa cuma tertawa sembari mengunyah makanannya.
"Gimana ada yang mau sama lo, kalau jorok kayak gini, Fa," keluh Kerin.
"Kalau nggak ada yang mau sama gue, sama lo aja gimana, Ke?" balas Alfa.
Kerin buru-buru keluar hanya untuk membalas kata-kata Alfa. "Gue malas sama orang yang suka numpuk cucian piring kotor!"
Alfa terbahak mendengarnya. "Kata lo, gue ganteng, Ke. Perihal cucian piring, nggak bakal jadi masalah, dong?"
"Diam, Fa! Lama-lama mulut lo yang gue cuci sampai bersih!" sembur Kerin berapi-api.
***
Biasanya, Kerin dan teman-temannya akan belanja bulanan masing-masing. Namun, kali ini Kerin dan lainnya memutuskan akan masak setiap hari, daripada harus membeli. Ia dan Manda ditugaskan belanja bulanan berdua, sementara yang lainnya, Kerin tidak tahu sih keahlian yang dimiliki Debora, Chintya, dan Debi. Karena selain cuma makan, mereka selalu rebahan setelahnya.
Karena Kerin pelupa, dan Manda lumayan boros setiap belanja, mereka membuat catatan lumayan panjang dalam secarik kertas. Pertama, mereka akan mengambil perlatan mandi, baru setelah itu, kedua perempuan itu pergi ke bahan-bahan makanan.
Kerin baru tahu kalau Manda itu orang yang pemilih. Hanya untuk memastikan mana merek minyak goreng yang bagus, tepung terigu, sampai ke garam, memilihnya lama sekali hingga kaki Kerin pegal menunggu.
"Gue ke rak sana deh, ya. Mau cari penyedap." Kerin menjejalkan kedua tangan ke dalam saku jaket yang dipakainya.
Manda masih asyik memilih. Kepala perempuan itu bergerak, menuju ke arah Kerin berjalan. "Oh, ya, Ke."
Kerin berjalan santai menuju ke rak di mana penyedap, beberapa merek saus dan minyak wijen berada. Dalam hati, Kerin menggerutu karena Manda tidak kunjung selesai memilih beberapa bahan. Jika terus menunggu Manda, kemungkinan mereka bisa pulang besok pagi.
Tujuan utamanya adalah penyedap. Ini salah satu kunci masakan anak kost seperti dirinya. Rasanya, jika tidak memasukkannya ke dalam masakannya, seperti ada yang kurang.
Kerin memilih dua sekaligus. Varian ayam dan sapi, supaya tidak ada yang protes. Padahal bagi Kerin ya sama saja rasanya, tidak ada bedanya. Tetap enak digunakan di berbagai macam menu makanan.
"Apa lagi, ya?" Sepasang mata Kerin berpindah ke ujung. Ia teringat pesanan Debi yang ada di catatan, namun dipegang oleh Manda.
"Eh?" Sebuah tangan lain juga ikut memegangi botol kecap yang dipegang oleh Kerin.
Kerin menggerakkan kepala, kemudian mendongak secara otomatis. Ia mengenali orang di sampingnya. Seorang lelaki tampan, berkemeja merah, tengah menatap dirinya juga.
Sontak, si lelaki menarik tangannya. Begitu pula Kerin. "Deon, kan?" tanya Kerin, seperti kurang yakin. Tapi ia masih ingat kalau lelaki ini memang Deon, orang yang ia temui beberapa hari yang lalu di rumah Alfa.
Deon yang disapa, langsung menganggukkan kepala. Deon mendadak canggung, dan Kerin tampak biasa saja.
"Halo," sapa Kerin ramah.
Seharusnya Deon tidak perlu heran kenapa Kerin sangat baik. Ia mendengar pujian untuk Kerin dari dua orang lelaki sekaligus. Deon tidak mengenal Kerin secara pribadi. Sempat bertemu sih, tapi belum pernah ngobrol. Deon hanya menyapa dengan anggukkan, sementara Kerin balas tersenyum.
"Hai," balas Deon, kikuk.
"Sendirian, atau sama Alvo?" Kerin celingukkan ke belakang punggung Deon, seolah sedang mencari seseorang.
"Nggak." Deon mengambil merek kecap yang sama. "Sama Kakak gue. Ke mana-mana nggak harus sama Alvo, kan?"
Kerin menahan tawanya. Deon kelihatan sebal karena Kerin justru terdengar seperti meledeknya. Memangnya Deon itu mamanya Alvo? Ke mana-mana harus berdua. Deon juga mempunyai keluarga. Kakak perempuan, dan seorang Nenek yang cerewet di rumah. Tidak berhenti memaksa Deon agar segera menikah.
"Maaf." Kerin mengangkat sebelah tangannya. "Tiap nggak sengaja ketemu Alvo, pasti ada lo juga. Gue malah heran, sekarang Alvo jarang kelihatan sama Lando dan Natan."
"Kita masih sering bareng, kok. Tapi lo aja nggak tahu," sahut Deon sambil mendoronh troli.
Tanpa sadar Kerin dan Deon saling jalan beriringan. Kerin menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Manda. Ternyata temannya sudah tidak lagi ada di rak tepung.
"Gue duluan ya, Yon," ujar Kerin, menepuk sebelah bahu Deon.
Ia menemukan Manda di lorong kumpulan mi instan. Temannya itu berdir bersebelahan dengan troli yang hampir penuh. Manda mengambil beberapa varian, soal ini, Manda tidak akan bingung karena tahu mana yang disukai penghuni kost.
"Kak Yaras," panggil Deon.
Bersamaan saat perempuan bernama Yaras itu menoleh ketika dipanggil Deon, Kerin melakukan hal yang sama. Ia melihat Deon menghampiri perempuan di sebelah Manda.
"Kakak lo, Yon?" Kerin mengangkat kepalanya, lantas menurunkan kepala setelahnya.
"Iya," jawab Deon.
Yaras kelihatan bingung. Namun menyunggingkan senyum saat menatap Kerin. "Kalian saling kenal?"
Deon menunjuk Kerin. "Dia mantan tunangan Alvo, Kak," katanya, kelewat santai.
Kenapa teman-teman Alvo hampir mirip semua tabiatnya, ya? Apa Deon tidak bisa memperkenalkan Kerin lebih ramah kepada kakaknya?
"Ternyata kamu yang namanya Kerin." Yaras mengulurkan tangan di depannya.
Kerin bingung apa maksud Yaras. Perempuan itu mengatakan seolah sering mendengar cerita tentang Kerin.
"Kerin." Ia membalas jabatan tangan Yaras.