Kedekatan Deon dan Alfa

1051 Kata
"Sabtu besok lo ada waktu?" Secara tidak sengaja Kerin bertemu dengan Alvo saat memesan minuman di sebuah kafe. Kerin datang sendiri karena sehabis bekerja, dan kafe yang ia datangi adalah tempat ia biasa membeli kopi. Alvo berada di antrean paling depan. Kerin belum menyadari sampai akhirnya lelaki itu balik badan sembari memegangi kopinya. Baju Kerin ditepuk, Kerin tadinya bermain ponsel sambil menunggu beberapa orang maju sebelum gilirannya memesan. Di sinilah mereka duduk saling menghadap satu sama lain. Alvo mengajaknya untuk minum kopi berdua sambil menunggu hujan reda. Tidak heran, sih. Sekarang memang musim hujan. Kadangkala Kerin harus terjun ke tempat ia melakukan wawancara. Ia seorang reporter TV. Hujan, panas, semua diterobos oleh Kerin. Kalau pun ia mengenakan jadi hujan, rasa-rasanya tetap kecipratan air hujan, kok. "Mama sama Papa gue bentar lagi mau ulang tahun pernikahan. Gue bingung harus ngasih mereka hadiah apa. Mau ajak Lando sama Natan, mereka lagi sibuk banget." "Deon, gimana?" timpal Kerin. Alvo menggaruk pelipisnya. "Dia lagi nggak bisa dihubungi. Kayaknya sibuk juga." Sejujurnya Alvo was-was menunggu jawaban Kerin. Perempuan itu mau tidak ya, atau justru Kerin tidak langsung memberi Alvo jawaban karena sibuk mencari alasan untuk menolak ajakannya. Tidak apa-apa. Kalau memang Kerin tidak menerima ajakannya pergi, Alvo bisa mencobanya lagi di lain waktu. "Gue bisanya malam, sih," ujar Kerin. "Tapi lo bisa, kan?" Alvo bertanya lagi agar lebih yakin. Kerin menyesap kopinya. "Iya, bisa, kok. Tapi ya itu, kalau siang atau sore nggak bisa." "Nggak apa-apa, Ke. Lo tinggal bilang jam berapa, biar gue jemput lo di kosan." Kerin meletakkan gelasnya ke meja. Sebelah tangannya bergerak, memberi isyarat. "Nggak usah. Kita ketemuan aja di sana." "Masa lo berangkat sendiri, Ke? Gue yang ajak lo." Kerin tersenyum tipis. "Gue udah biasa pergi sendiri ke mana-mana, kok. Lo tenang aja. Ntar lo kirim pesan mau cari hadiah orang tua lo ke mana." "Menurut lo, hadiah yang cocok buat mereka apa ya, Ke?" tanya Alvo basa-basi. Kali ini Alvo tidak sedang berpura-pura. Orang tuanya sungguhan akan merayakan ulang tahun pernikahan. Menurut Alvo, ia perlu menjadikan ini kesempatan pergi berdua bersama Kerin. Anggap saja sekaligus pendekatan. Toh, Kerin juga mau. "Kayaknya gue perlu kasih hadiah juga buat Om sama Tante, deh." Kerin tersenyum hingga matanya menyipit lucu. "Tapi gue ikutan bingung mau kasih hadiah apa." Alvo menjentikkan jarinya. "Makanya gue cari teman yang bisa ngasih gue saran." Kerin mengangguk setuju. "Kita pikirin besok aja, deh. Sekalian keliling dulu. Kalau dipikirin sekarang, nggak bakal ketemu kayaknya." "Benar, sih. Malah bikin bingung," sambung Kerin. Tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan keluarga Alvo, kan? Kedua orang tua Alvo sudah baik kepada Kerin. Di saat muncul rumor kurang enak mengenai dirinya. Kerin dituduh selingkuh dari Alvo ke Alfa, Mama Alvo malah meminta maaf padanya. Mama Alvo pikir, Kerin bisa selingkuh karena ulah anak lelakinya sendiri. Padahal, faktanya tidak seperti itu. "Dari sini, lo mau ke mana, Ke? Biar gue antar, ya? Di luar masih gerimis." Alvo menunjuk ke jendela kaca. "Tolong jangan nolak, Ke." Kerin manggut-manggut. "Oke." *** Kerin dan teman-teman kosnya memasak banyak makanan. Nomor Alfa tidak bisa dihubungi sejak tadi siang. Manda menyarankan Kerin agar mengirim makanannya ke rumah Alfa secara langsung. Kerin melihat jam di dinding. Masih pukul enam sore, kok. Lagi pula masih di sekitar sini. Tidak terlalu jauh. Maka dari itu, ia mengiyakan saran dari Manda. Taksi yang Kerin tumpangi berhenti di depan pagar rumah Alfa. Setelah membayar ongkos taksi, ia keluar sambil menenteng bawaannya. Di dalam sana ada beberapa menu makanan yang ia dan Manda buat sendiri. "Makasih, Pak," ujar Kerin menutup pintu taksi. Sebelum masuk ke dalam rumah Alfa, Kerin melihat ada mobil di depan pagar. Siapa yang parkir mobil sembarangan di sini? Alfa cuma punya satu motor. Mungkin mobil yang Kerin lihat, itu milik tetangga atau bisa jadi tamu tetangganya Alfa. Kerin membuka pagar, ia berjalan memasuki halaman rumah lelaki itu. Alfa tinggal sendirian, tidak heran kalau rumahnya sangat sepi. Ia sampai di depan pintu. Kerin mengetuk pintu rumah Alfa beberapa kali. Namun tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Kerin pergi menuju ke jendela, ia mengintip dari sana berharap bisa melihat si pemilik rumah. Tapi jendelanya dikunci. Kerin merogoh isi tas. Ia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi ke nomor Alfa. Sekarang nomornya malah tidak aktif. Atau, Alfa sedang tidak ada di rumah? Pulang ke rumah orang tuanya? Tatapan Kerin tertuju ke pintu. Ia melihat gagang pintunya bergerak seperti ada yang memegangnya dari dalam. Kerin setengah berlari ke pintu, berharap Alfa yang akan membukanya. "Deon?" Langkah Kerin berhenti mendadak. Tanpa pernah ia sangka, Deon keluar dari rumah Alfa. Tunggu. Sebentar, kalau Alfa mengenal Alvo, Lando dan Natan, Kerin masih maklum karena keempat lelaki itu beberapa kali bertemu. Dari cerita Alfa, ia sering nongkrong bersama Lando dan Alvo. Tapi, ini? Kenapa ada Deon? Sejak kapan mereka berteman? Terakhir kali Alfa dan Deon bertemu di warung nasi bebek. Apa dari sana mereka jadi berteman? "Ke? Lo di sini? Sejak kapan?" Alfa tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Kerin tahu-tahu muncul di depan rumahnya. "Iya, gue mau antar makanan buat lo. Lagian, lo di telepon susah banget kayaknya!" omel Kerin. Alfa menunjuk ke dalam. "HP gue lagi dicas. Gue nggak dengar kalau lo telepon." "Oh, pantas." Kerin bergumam. "Gue mau tanya, deh. Kenapa Deon bisa ada di sini? Sejak kapan kalian saling kenal?" Air muka Deon langsung berubah. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan Kerin. "Gue balik dulu. Masih ada urusan dari sini." Alfa menepuk bahu Deon. "Iya, Yon. Hati-hati di jalan, ya." Deon cuma mengangguk. Saat tatapannya tidak sengaja berpapasan dengan Kerin, Deon hanya menatap Kerin sekitar dua detik, kemudian melangkah melewati Kerin begitu saja. Kerin pindah di sebelah Alfa. Ia ikut menatap kepergian Deon. "Kayaknya lo akrab sama dia," gumam Kerin. "Sebelumnya kalian udah saling kenal?" "Hm?" Alfa pura-pura tidak dengar. "Ayo masuk, Ke! Lo bawa makanan apa aja? Siapa yang masak?" Kerin jadi terpancing. Ia lupa rasa penasarannya soal kedekatan Deon dan Alfa. "Ada banyak. Jelas gue sama Manda, lah. Emang siapa lagi?" Alfa membantu Kerin membawa barang bawaannya. "Kebetulan gue lagi laper. Mau bikin mi, tapi rasanya malas banget." "Gue datang di waktu yang tepat, ya?" Kerin tertawa bangga. "Eh! Lo jangan makan mi mulu kenapa, sih? Mending lo beli makanan di luar kan pilihannya banyak! Ada nasi goreng, masih padang, atau apa gitu. Gue ngeri dengar lo makan mi instan terus!" "Lebih praktis sama murah sih," kekeh Alfa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN