Ajakan Elise

1065 Kata
Nama Elise muncul di layar ponselnya. Ola menatap ke layar sebentar sebelum mengangkat panggilan perempuan itu. Ada apa? Itu adalah pertanyaan pertama yang mampir di kepala Ola. Masalahnya, Elise tidak pernah menelpon Ola. Lagi pula, untuk apa? Ia dan Elise hanya saling kenal, tidak pernah saling menyapa walau Ola tahu, kalau Elise itu adik tiri Natan. Ola menarik napas lebih dulu, ia harus menyiapkan hati kalau Elise akan mencari masalah dengannya. Pasti yang akan dibahas perempuan itu tidak jauh-jauh soal Natan dan masa lalunya. Sebenarnya Ola tidak peduli. Selama Natan telah memilihnya, itu artinya, Elise harus memiliki kesadaran sendiri. Lagian, apa enaknya mengejar orang yang sudah melupakannya? Punya pasangan pula. Kalau orang lain tahu, apa Elise tidak malu? Bagaimana dengan kedua orang tuanya? "Halo," sapa Ola malas-malasan. "Ini gue, La." "Iya, Elise, kan?" timpalnya. Ola menghidari basa-basi. "Gue pengin ngajak lo ngobrol berdua, bisa? Tapi tolong jangan bilang sama Natan." "Kenapa?" gumam Ola. "Apa yang mau lo bahas lagi? Kenapa Natan nggak boleh tahu?" "Gue kirim alamatnya ke nomor lo sekarang. Gue tunggu nanti jam lima sore." Sambungan telepon diakhiri begitu saja. Kenapa tidak dijelaskan di telepon saja, sih? Ola malas bertemu dengan orang yang tidak ia sukai. Hubungan Natan dan Elise sudah tidak bisa diperbaiki selain sebagai seorang Kakak dan adik. Kalau Elise pikir dengan mengajaknya bicara bisa membuat Ola melepaskan Natan untuknya. Maaf, itu tidak akan pernah terjadi. Kalau Elise masih kekeuh bersama Natan, Elise bisa bicara langsung ke Natan. Kira-kira Natan mau tidak balikan dengan Elise? Tentu, jawabannya tidak. Natan menepati janjinya. Selama ini Natan tinggal di apartemennya sendiri. Sudah lama Natan keluar dari rumah papanya karena di sana ada Elise. Beberapa kali Elise masih meneror Natan. Awalnya Natan tidak mau bercerita ke Ola. Sampai akhirnya tahu dari pesan yang dikirim perempuan itu ke nomor Natan. Elise bahkan sampai tanya ke sana sini agar bisa mendapatkan alamat Natan yang baru. Senegitunya Elise mengganggu Natan, ya? Mukanya Ola kasihan. Tapi melihat Elise yang sangat gigih ingin merebut Natan dari Ola, ia berpikir ribuan kali untuk mengasihani perempuan seperti Elise. Elise sama seperti merendahkan dirinya hanya untuk lelaki yang telah memiliki pasangan, dan sebentar lagi akan menikah. Jika ia ada di posisi Elise, Ola pasti sangat malu. Seperti tidak laku. Padahal Elise cantik. Tinggal tunjuk saja, sepertinya Elise tidak akan kesusahan mencari pacar baru. Asal itu bukan Natan saja. Hubungan Ola dan Natan jauh lebih baik sekarang. Ya, walau ia dan calon suaminya masih sering berdebat, tapi itu bukan masalah besar. Bukankah, mereka terbiasa meributkan hal tidak penting? Justru Ola akan merasa risi kalau Natan terlalu lembut padanya. Itu aneh. Ola bisa merinding. Sebuah pesan dikirim Elise baru saja masuk ke nomor ponselnya. Ola membuka pesan tersebut, lantas membacanya tanpa suara. Bagaimana, ya? Temui atau tidak? Di saat yang bersamaan, ponsel Ola kembali berdering. Kali ini bukan dari Elise. Melainkan, Natan. Ola menggeser layar ponsel, kemudian menempelkan ke sebelah telinganya. "Halo, apa?" Ola menyapa Natan. "Nanti sore ada acara, nggak? Aku mau ajak kamu pergi." Ola memijat kepalanya. "Gue nggak bisa kalau nanti sore." "Kenapa? Kamu ada janji sama teman?" tanya Natan. Ola mengangguk, padahal Natan tidak bisa melihatnya. "Iya, sama... Anne." "Mau aku antar, nggak?" "Nggak usah. Gue dijemput Anne nanti." "Naik apa?" "Motor." Ola memejamkan mata. Ia bergumam maaf kepada Anne karena telah menjadikan perempuan itu sebagai alasan. Elise sudah berpesan agar tidak memberitahu Natan. Kalau Natan tahu, pasti Ola tidak akan diizinkan bertemu dengan Elise. Toh, cuma sekali. Ola ingin berhadapan langsung dengan Elise hari ini. Kita lihat, Elise akan bicara apa saja. "Pulangnya mau dijemput?" Ola mendecakkan lidah. Natan memang cerewet sekarang. Daripada Ola, Natan lebih banyak bicara. Apa lagi kalau sudah berhubungan dengannya. Natan akan berubah drastis. Contohnya saja, kenapa Ola tidak sarapan sebelum berangkat ke kampus. Ola tidak sengaja kehujanan. Dan masih banyak yang lainnya. Ola heran kenapa Natan bisa berubah banyak. Dari yang awalnya canggung, irit bicara, dan hobi sekali mengganggunya, sekarang berubah menjadi calon suami yang penuh perhatian, tapi masih saja menyebalkan. "Anne nganter gue pulang sekalian, kok." Ola cengengesan. "Lo nggak boleh ikut pokoknya!" "Ya udah, iya. Kalian hati-hati nanti, ya." Ola manggut-manggut. "Hm." *** Ola menepati janjinya ke Elise. Pukul lima sore tepat, Ola sampai di tempat tujuan. Ia melihat Elise di salah satu kursi, duduk sendirian sembari ditemani secangkir kopi. Ola menyisir rambutnya menggunakan jari-jarinya. Di luar sedang hujan. Ola yang datang kemari menggunakan motor, dan lupa membawa jas hujan, alhasil basah. Tapi tidak parah, sih. Masih bisa dimaklumi. Elise mengangkat dagu, ia menemukan Ola sedang berdiri di pintu kafe. Elise melambaikan tangan. Ia pikir perempuan itu sedang mencari keberadaannya. Ola pergi ke meja di mana Elise duduk. Ia meletakkan tasnya ke atas meja. Elise melihat baju dan rambut Ola basah, Elise memberi Ola beberapa lembar tisu. "Lo nggak bawa jas hujan? Naik motor, kan?" tanya Elise. Ola mengelap wajahnya yang basah. "Iya. Mana tahu kalau hari ini bakal hujan." "Duduk, La," tunjuk Elise ke kursi di belakang Ola. "Gue pesanin minuman dulu, ya. Lo bisa minum kopi, kan?" Ola mengangguk saja. Elise beranjak dari tempat duduknya, kemudian pergi ke meja pemesanan. Ola memerhatikan perempuan itu bicara dengan seorang kasir. Ola kembali sibuk membersihkan dirinya. Lumayan basah, ya. Ola baru merasakan dingin sampai ke tulang-tulang sekarang. Tadi biasa saja, sih. Elise kembali duduk di kursinya. "Natan nggak tahu kalau lo sama gue ketemuan berdua, kan?" "Tenang aja, gue orang yang bisa dipercaya, kok. Walau gue heran kenapa ngajak gue ketemuan, padahal kita nggak pernah dekat sebelumnya," jawab Ola. "Gue rasa, kita perlu ngomong berdua emang. Tanpa Natan." Elise bergumam. "Gue kira bakal susah ngajak lo ketemu. Ternyata nggak juga." Ola melirik Elise, sinis. "Karena lo tiba-tiba matiin telepon. Gue mau nolak, juga nggak sempat." Elise tertawa kecil. "Maaf, ya." Ola menanggapi kata-kata Elise dengan anggukkan kepala. Kemudian, suasana menjadi hening. Baik Elise mau pun Ola sama-sama diam. Mungkin mereka canggung. Tentu saja. Keduanya belum pernah duduk berdua saling menghadap satu sama lain. Ola menunggu Elise bicara. Sementara itu, Elise bingung harus mulai dari mana. "Lo ngajak gue ketemuan di sini. Bukan buat ngopi doang, kan?" tanya Ola. Ia mengumpulkan tisu yang ia pakai ke atas meja. Ia memfokuskan dirinya. Menyiapkan kedua telinga, dan meluruskan pandangan. Elise menunjukkan senyum tulus. "Gue mau minta maaf sama lo." "Gimana?" timpal Ola, ragu. "Maaf atas kelakuan gue selama ini." Elise menunduk sebentar. "Gue mengaku kalah. Atau, gue udah kalah dari dulu. Cuma, gue berusaha mengelak selama ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN