"Fa?"
Alfa tersadar. Seseorang menepuk sebelah bahunya. "Eh, lo, Ke."
Kerin menjejalkan sebelah tangannya ke dalam saku jaket. Ia duduk di samping Alfa sambil memandang ke arah jalanan di sore hari. "Lo ngapain, Fa? Gue lihat dari tadi kayak lagi ada yang dipikirin. Kenapa? Lo ada masalah?" tanyanya.
Selama ia mengenal Alfa, lelaki itu hampir tidak pernah kelihatan murung seperti barusan. Alfa selalu banyak bicara, pandai dalam mencairkan suasana, dan yang pasti, Alfa selalu terlihat menyenangkan saat diajak ngobrol.
"Ah, masa, sih? Gue nggak ngelamun, kok. Mana pernah gue ngelamun." Alfa membalas sambil tertawa. "Tadi gue lagi nggak teman. Lo lagi di dalam buat ambil minum. Jadi, ya... kelihatan kayak orang ngelamun. Lagian ya, gue mau ngajak ngobrol siapa kalau nggak ada teman?"
"Iya juga, sih," gumam Kerin, mengusap belakang telinganya salah tingkah.
Keduanya tertawa. Kerin yang malu, dan Alfa, ia menatap kosong ke jalanan yang sepi, dan agak basah karena baru selesai hujan. Makanya Alfa tidak diperbolehkan Kerin langsung pulang karena tadi sedang hujan deras. Sementara Alfa tidak membawa jas hujan.
Kerin memiringkan kepala. Ia menatap wajah Alfa dari samping cukup lama. Kerin diam-diam tersenyum cuma karena melihat Alfa di sebelahnya.
Rasa-rasanya baru kemarin ia bertemu dengan lelaki ini. Awalnya Kerin merasa risi. Alfa selalu mengikutinya ke mana-mana, selalu hadir di saat yang tepat. Salah satunya, ketika ia dan Alvi putus.
Kalau Kerin pikir sekarang, Alfa seperti sengaja dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan dirinya. Karena adanya Alfa, Kerin bisa keluar dari hubungan tidak jelasnya dengan Alvo. Andai saja Alfa tidak muncul waktu itu, mungkin Kerin masih bersama Alvo? Pura-pura menjadi pasangan Alvo dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Ke." Alfa memanggil namanya. Namun lelaki itu masih menatap lurus ke jalan raya.
"Hm?" Kerin bertopang dagu.
"Menurut lo, Alvo sekarang gimana?"
Kerin menurunkan tangan. Ia bingung dengan pertanyaan Alfa barusan. Kenapa tiba-tiba membahas Alvo di saat lagi berdua? Kenapa tidak membahas yang lain?
"Alvo? Dia kenapa emang? Gue lihat ya biasa-biasa aja." Kerin menimpali dengan raut wajah yang bingung.
"Dia udah banyak berubah, kan?" tanya Alfa, kali ini lelaki itu menolehkan kepalanya dan menatap Kerin beberapa saat.
Kerin mengangguk, agak ragu. "Jauh lebih baik daripada dulu. Gimana ya, Alvo jadi lebih normal aja, gitu." Tidak tahu kenapa, Kerin tertawa mendengar kata-katanya sendiri. Yang dimaksud Kerin terlihat lebih normal adalah, Alvo tidak semenyebalkan dulu. Makin ke sini, Alvo jauh lebih menghargai orang lain daripada saat mereka masih bersama.
Kerin heran, lho, melihat Alvo mau makan di warung pinggir jalan. Karena, selama ini Alvo tidak pernah mau. Alasannya tidak higienis. Padahal tidak semua makanan di pinggir jalan itu kotor. Ada banyak yang bersih, kok. Tapi Alvo, memang tidak pernah mau. Lebih baik Alvo menahan lapar, daripada makan makanan yang di warung kaki lima.
"Lo masih suka sama Alvo, nggak?"
Satu pertanyaan baru dari Alfa, kembali membuat Kerin terkejut. Ia mengertukan dahinya, menyipitkan mata, namun yang ditatap kelihatan biasa saja. Seolah pertanyaannya bukan sesuatu yang aneh.
Memang tidak aneh. Tapi, kenapa harus membahas Alvo? Kerin bahkan sudah tidak pernah membahas lelaki itu. Kerin seakan lupa kalau dulu, ia pernah menaruh hati ke lelaki bernama Rialvo Tjandra.
"Tunggu dulu, deh." Kerin memenangi lengan Alfa. "Ada apa, nih? Kok tumben banget lo bahas Alvo sama gue. Sementara gue nih, gue udah nggak pernah mikirin dia."
"Hah? Kok, bisa?" sahut Alfa tidak percaya.
Jangan sampai usahanya untuk mendekatkan Kerin dan Alvo menjadi sia-sia. Kerin tidak mungkin dengan cepat melupakan Alvo, kan?
Bahkan semua orang tahu seberapa banyak Kerin menyukai Alvo selama ini. Bagaimana keadaan Kerin setelah perempuan itu mengakhiri hubungan pura-pura mereka. Masa iya, Kerin sudah lupa? Alfa saja masih ingat, kok, Kerin selalu menunjukkan raut wajah sedih setiap kali bertemu Alvo.
Lelaki mana yang berhasil membuat Kerin melupakan lelaki yang amat sangat dicintainya itu?
Apa Alfa harus memberi tepukan tangan?
"Nggak tahu kenapa, gue merasa biasa aja kalau ketemu Alvo. Udah nggak kayak dulu." Kerin mendongak, mengingat pengalamannya saat mencintai sendirian. Ia berjuang sendiri, tapi orang yang ia perjuangkan tidak pernah menghargai usahanya sama sekali.
"Biasa gimana? Lo udah nggak suka sama Alvo? Seriusan, Ke?" tanya Alfa.
Kerin mengangkat kedua bahunya. "Gue nggak bilang gue udah nggak suka. Tapi itu yang gue rasain akhir-akhir ini."
"Lo lagi suka sama cowok lain?" Alfa menebak-nebak.
"Mungkin," gumam Kerin, lantas menyunggingkan senyum.
"Siapa, Ke?!" Alfa hampir berdiri dari tempat duduknya. "Kayaknya lo sering pergi sama gue, sama Manda, atau Langen. Tapi, gue nggak pernah lihat lo pendekatan sama cowok baru. Apa dia teman satu profesi lo? Kayaknya, iya, sih. Itu kemungkinan paling besar."
Kerin mendorong lengan Alfa, kemudian tertawa kecil. "Apa sih, lo?" Alfa mendelik melihat reaksi Kerin yang malu-malu. "Bukan. Dia nggak dari profesi yang sama kayak gue."
"Terus?" Alfa sangat penasaran.
Apa yang harus Alfa sampaikan ke Alvo nantinya? Ia sudah mendorong lelaki itu agar mengejar Kerin lebih semangat. Tapi, ternyata Kerin sedang menyukai lelaki lain. Apa, Alfa harus memberitahu Alvo saja? Tidak masalah jika Alvo tetap berharap ke Kerin. Toh, Kerin masih dalam tahap pendekatan sepertinya.
Sebelum janur kuning melengkung, Alvo masih boleh mengejar Kerin biar sampai ke ujung dunia sekali pun.
"Kok lo kayak kaget gitu sih, Fa?" tegur Kerin.
"Gue bingung." Alfa menggaruk pipinya. "Kapan lo pendekatannya, kalau lo aja sering sama teman-teman lo."
Alfa agak memutar badan, lalu menatap ke pintu rumah kosnya. Kerin mengikuti ke mana Alfa menatap, lantas mengerutkan dahinya.
"Chintya sama Debora nggak ada bahas apa-apa. Nggak ngajak gue gosip, nih," celetuk Alfa polos.
Kerin malah tertawa mendengarnya.
Jika kalian ingin mengatahui gosip terbaru tentang penghuni kos, cukup cari Chintya atau Debora. Kalau perlu mereka berdua sekaligus. Kedua perempuan itu selalu memiliki informasi tentang teman-temannya. Si ini dekat dengan itu, si A sedang pendekatan dengan B. Dan berbagai macam gosip lainnya, kedua perempuan itu pasti tahu duluan.
Makanya Alfa heran, kenapa ia tidak tahu kalau Kerin ada yang mendekati selain Alvo.
"Orang yang lo suka, dia kayak gimana, Ke?" Alfa menekuk kedua lutut, lalu memeluknya.
Kedua pipi Kerin langsung merah. "Penasaran banget lo kayaknya, Fa."
"Iya, lah. Gue perlu tahu. Gue mau ospek cowok yang dekat sama lo."
"Dih, ngapain?" Kerin memekik. "Pokoknya ada, lah. Dia baik, kok."
"Baik doang? Bisa jagain lo, nggak?"
"Bisa." Jawaban Kerin sangat yakin. "Dia, tuh, gambaran cowok paling sempurna yang pernah gue kenal. Dia bukan cuma baik, tapi udah kayak malaikat di mata gue."