Kerin Mulai Curiga

1203 Kata
"Ke!" Seseorang memanggil namanya, lantas ia menoleh dan menemukan Alfa tengah berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan. Kerin secara otomatis ikut tersenyum kala lelaki itu tersenyum kepadanya walau jarak di antara mereka masih jauh. Kerin balas melambai, berjalan beberapa langkah ketika Alfa hampir mendekatinya. "Duh!" Alfa memekik, ia hampir saja jatuh akibat tersandung batu kecil. Kerin memegangi lengan Alfa. Ia melirik ke bawah, lalu mengatakan, "Makanya kalau jalan harus hati-hati. Beruntung ada gue yang pegangin tangan lo!" Alfa ikut menatap ke bawah. "Iya, lain kali gue lebih hati-hati. Makasih ya, Ke." Kerin mengangguk. "Sama-sama." Mereka berdua jalan beriringan. Beberapa hari ini, Alfa dan Kerin jadi jarang bertemu. Alfa harus menjaga temannya di rumah sakit, makanya Alfa susah ditemui. Kerin ingin menjenguk teman Alfa, tapi Alfa tidak memperbolehkan dengan alasan yang sama. Padahal Kerin sudah tanya jam besuk. Namun Alfa tidak mau memberitahunya. Agak aneh, sih. Atau cuma Kerin saja yang berpikir begitu? Ada beberapa hal kebetulan, yang dirasa Kerin semakin sering terjadi. Seperti, tidak sengaja bertemu Alvo di suatu tempat. Awalnya Kerin kira hanya kebetulan. Tapi, kenapa hampir setiap kali Kerin pergi sendiri, Kerin pasti bertemu Alvo. "Mau makan apa, Ke? Nasi bebek goreng, mau?" tanya Alfa ketika mereka akan menyebrangi jalan. Kerin mengangkat kepala, menatap ke lampu lalu-lintas sebelum menyebrang. "Boleh, deh. Gue juga lagi pengin makan bebek goreng. Tapi, daerah sini, mana ada orang jualan itu?" Alfa menatap ke sekeliling. "Ada. Gue tahu tempatnya." Sambil mengatakannya, Alfa mengetik sesuatu ke ponsel, lantas mengirimkannya ke nomor Alvo. "Ya udah, yuk. Kita nyebrang dulu," ajak Alfa. Kerin mengikuti langkah Alfa dan beberapa orang yang juga menyebrang di depan mereka. Kerin menengok ke sana kemari, lantas berjalan lebih cepat, sengaja meninggalkan Alfa, kemudian tertawa kecil. "Ke, tungguin!" seru Alfa. Ia setengah berlari mengejar Kerin. *** "Alvo?" Kerin membulatkan bibir. Ia tanpa sengaja menunjuk lelaki itu. Secara mengejutkan, Alvo berada di sebuah warung makan nasi bebek. Duduk di bangku paling pojok bersama seorang teman—yang agaknya Kerin kenal, namun tidak seakrab dengan Natan dan Lando. Oh, kalau tidak salah, itu teman Alvo yang namanya, Deon? Alfa sedang memesan nasi bebek, sementara Kerin mencari tempat duduk. Saat jam makan siang, memang akan ramai hampir di mana-mana. Apa lagi warung makan begini. Hanya tersisa satu bangku panjang yang telah diisi Alvo dan Deon. Kerin mengambil duduk di sebelah Alvo, meletakkan tas ke atas meja di samping toples kerupuk ukuran besar. "Lo sendiri?" tanya Alvo basa-basi. Padahal ia sudah tahu Kerin datang bersama siapa. Kerin menunjuk ke gerobak di depan warung. "Itu, sama Alfa." Kerin diam setelahnya. Ia melihat gerak-geri Alvo. Berbeda dari Deon yang tampak menikmati makanannya, Alvo justru seperti tidak berminat. Nasi beserta bebek goreng di atas piringnya hampir utuh. Ia berpikir kembali. Bagaimana bisa ada kejadian seperti ini? Bertemu Alvo hampir di mana saja. Kerin menengok ke sekitar. Ia teringat sesuatu. "Kalian makan siang jauh banget," celetuk Kerin. "Dari kantor lo ke sini, itu lumayan jauh perjalanannya." Alvo terbatuk. Kerin dan Deon sama-sama mengangkat gelas teh, kemudian mmenyodorkannya ke Alvo. Namun Alvo lebih memilih yang disodorkan oleh Kerin. "Makasih, Ke," ujar Alvo. Deon meletakkan gelas teh ke atas meja lagi. Ia menggeleng heran melihat tingkah konyol Alvo. Hanya karena seorang perempuan, Alvo harus berpura-pura tidak sengaja bertemu. Kalau Deon itu Kerin, Deon pasti lama-lama akan curiga juga. Masa iya, bertemu tidak sengaja hampir setiap saat? Kan, tidak masuk akal! "Kalian habis ketemu klien, ya?" tanya Kerin lagi. "Oh, ngg—" "Iya. Kita barusan ketemu klien di sekitar sini. Sekalian aja mampir makan kemari," jawab Deon. Dua lelaki itu saling menatap satu sama lain. Tatapan Deon seolah mengatakan bahwa dirinya telah menyelamatkan Alvo. Kalau saja Alvo bilang tidak, bisa saja Kerin malah curiga. "Oh, pantes." Kerin manggut-manggut. "Tapi tumben cuma berdua? Lando sama Natan mana?" "Di kantor, Ke. Kita emang cuma berdua aja." Deon lagi yang mewakili Alvo. Alfa selesai memesan makanan dan minuman untuk ia dan Kerin. Saat masuk ke dalam tenda, Alfa bersikap seolah tidak tahu di sana ada Alvo dan temannya. Padahal ia yang telah mengatur pertemuan mereka semua. "Vo, makan di sini juga?" Alfa menepuk bahu Alvo sebelum duduk. Alvo hampir tersedak karena Alfa tiba-tiba saja muncul. "Iya, Fa." Alfa duduk di sebelah Kerin. Mereka berempat duduk di bangku panjang yang sama, dengan meja yang saling menghubung juga. "Lo udah pesan? Udah bilang kalau punya gue tambah sambal, kan?" tanya Kerin. Ia membuka tutup toples, lalu mengeluarkan beberapa biji kerupuk untuknya. "Lo mau juga nggak, Fa?" Kerin menawari Alfa sebelum menutup toplesnya. Alfa mengangguk. "Mau dua deh, Ke. Kayaknya makan tanpa kerupuk emang kurang enak." "Oke." Kerin menambah dua biji kerupuk lagi. Kerin duduk kembali. Alfa diam-diam memerhatikan Alvo, menunggu lelaki itu mencari topik obrolan. Kalau ditinggal berdua saja, pasti Alvo banyak diamnya. Harus dipancing dulu. Pesanan Kerin dan Alfa datang. Diletakkannya dua porsi nasi bebek goreng ke atas meja. Kerin mencuci tangannya ke dalam mangkuk kecil yang telah disediakan. Alfa menyenggol lengan Kerin. Sebelum ia menyentuh makanannya, Alfa menarik tangan kanan Kerin, lalu membantu perempuan itu menggulung lengan bajunya agak tinggi. Gantian Deon yang menyenggol Alvo. Lelaki itu lantas berbisik, "Tuh, lihat si Alfa. Dia peka banget orangnya. Lo kalau mau ambil hati Kerin lagi, harus banyak belajar dari dia." Tatapan Alvo tertuju ke Kerin dan Alfa. Perempuan itu terlihat memerhatikan Alfa yang telaten, kemudian tersenyum tipis. "Makasih, Fa." Kerin menarik tangannya pelan. "Iya, sama-sama." Alfa balas tersenyum. *** Kebetulan macam apa ini! Karena Ola waktu itu, Langen harus menahan malu setiap kali ia tidak sengaja bertemu Lando. Ya, tidak setiap hari, sih. Jarak dari rumahnya ke rumah Lando kan memang dekat. Tidak sejauh rumah Natan setiap mau datang kemari. Jadi kalau Langen mau ke mana, entah ke minimarket atau isi bensin seperti beberapa hari yang lalu, jelas bisa saja bertemu tidak sengaja. Langen pergi ke minimarket sendirian. Stok pembalut miliknya tinggal dua. Karena sudah malam, Langen pergi membelinya di dekat rumah saja. Kalau harus pergi ke supermarket, rasanya malas sekali. Toh, ia tidak membutuhkan keperluan apa-apa selain itu saja. Pada saat ia mendorong pintu masuk, ia belum menyadari kalau di sana ada Lando. Langen tampak santai, berjalan ke arah rak sembari menjejalkan sebelah tangannya ke dalam saku jaketnya. Ia pergi ke rak pembalut. Mencari merek, dan tipe yang biasa ia pakai. Pilihannya ada di atas. Langen agak kesusahan mengambilnya. Namun, seseorang membantunya mengambil benda itu, lalu menyodorkan ke arahnya sambil tersenyum ramah. "Sendirian?" tanyanya. Langen menelan ludah susah payah. "Eh? Iya. Kok, lo di sini? Ngapain?" Baiklah, pertanyaan Langen terdengar bodoh sekali. Jelas saja Lando ingin belanja. "Mama nyuruh aku buat beli beberapa bahan yang kurang di rumah," jawab Lando. "Kamu cuma butuh ini? Mungkin ada yang bisa aku bantu? Siapa tahu barang yang kamu cari ada di rak paling atas kayak barusan." "Hah? Oh, nggak, kok. Gue cuma butuh ini aja." Langen mendadak gugup. Ia menyembunyikan sekotak pembalut ke belakang punggungnya. "Ke sini naik apa? Jalan kaki kayak biasa?" "Iya, lah. Dekat banget dari rumah ke sini. Masa iya gue bawa mobil! Yang benar aja," celetuk Langen. "Aku udah selesai belanja dan tinggal bayar ke kasir. Punya kamu sini, jadiin satu sama belanjaan aku." Langen menuruti kata-kata Lando. Entah sadar atau tidak. "Sekalian aku antar kamu pulang dari sini. Yuk," ujar Lando, dan mendapat anggukkan dari Langen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN