Kerin dan Alvo barusan keluar dari teater bioskop. Keduanya jalan beriringan menuju ke luar. Alvo merangkul bahu Kerin, lalu menariknya hingga ke depannya saat segerombolan anak remaja berjalan cepat, sesekali saling mendorong temannya.
Kerin terkesiap. Ia ikut menatap para remaja yang kini berlarian sembari tertawa-tawa. Padahal tidak ada yang lucu. Tidak jarang orang-orang di belakang mengomel atas sikap para remaja tadi.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Alvo, meletakkan kedua tangannya ke bahu Kerin.
"Nggak apa-apa, Vo. Keburu lo tarik tadi. Kalau tadi lo nggak sigap, mungkin gue udah jatuh kena dorong," jawab Kerin.
Alvo menyadari lebih dulu. Sebelum Kerin sadar, dan menganggap sikapnya kurang ajar, lelaki itu segera menarik kedua tangannya.
Kerin berada di tempat semula setelah dipastikan tidak akan ada yang saling dorong lagi.
Perempuan itu mengeluarkan ponsel, memeriksa notifikasi yang masuk. Tidak ada dari Alfa. Kerin menghela napas, lalu menurunkan kedua bahunya kecewa.
Sekarang Alfa sedang apa, ya? Mungkin lelaki itu sedang sibuk menjaga temannya yang baru mengalami kecelakaan. Andai saja Kerin diperbolehkan ke sana, ia ingin menjenguk teman Alfa, sekalian membawakan makanan untuk lelaki itu.
Menjaga orang sakit, itu lelah, belum lagi sibuk mengurus ini dan itu. Diminta mengantar sampel ke ruang lab, bisa jadi menunggu, bisa juga diminta meninggalkannya, dan akan diantar oleh perawat nantinya.
Di balik bahu Kerin, Alvo melihat Kerin terus menatap ke layar ponsel. Alvo hendak mengintip, kira-kira Kerin sedang bertukar pesan dengan siapa. Namun saat akan melihat lebih jelas, Kerin lebih dulu menolehkan kepalanya.
"Vo," panggil Kerin. Ia memasukkan ponsel ke dalam tasnya kembali. "Setelah dari sini, lo buru-buru balik, nggak? Gue mau traktir lo makan sebelum pulang."
"Gue lagi nggak sibuk apa-apa, kok. Mau makan di mana?" tanya Alvo.
Mana mungkin Alvo tidak mengambil kesempatan yang datang. Biasanya, ia yang selalu berusaha mengajak Kerin untuk makan, atau sekadar minum kopi di sebuah kedai.
"Di mal ini aja, gimana? Biar nggak jauh-jauh." Satu jari Kerin menunjuk ke eskalator.
"Boleh, Ke. Lo atau gue yang pilih tempatnya?"
Kerin menunduk sebentar, ia menginjak eskalator menuju ke lantai bawah. "Gue ngikut lo, deh."
Alvo mengangguk. "Oke."
***
Ola duduk di atas pasir pantai. Di sampingnya ada Natan, lelaki itu baru saja menceritakan semuanya. Tentang ia dan mantan pacarnya itu.
"Terus, lo masih tinggal di apartemen? Elise?" gumam Ola, ragu.
"Dia masih di rumah Papa. Aku, ya, di apartemen." Natan memberitahu. "Semalam aku mampir ke rumah Papa cuma mau ngomong sama Elise. Setelah itu aku kembali ke apartemen."
Ola menurunkan pandangan. Ia memandangi jari-jari kakinya yang bermain pasir. Setelah ia mendengar cerita Natan hingga keseluruhan, Ola merasa lebih lega, sekaligus merasa tidak enak hati ke Elise.
Saudara tiri Natan memang menyebalkan. Akan tetapi, jika Ola ada di posisi Elise, mungkin Ola juga sulit melupakan perasaannya ke Natan. Dulu, mereka pacaran tidak sebentar, lho. Hampir menuju ke jenjang serius, tapi mimpi Elise untuk bisa menikah dengan Natan, justru harus dikubur dalam setelah tahu kalau mamanya, akan menikah dengan papanya Natan.
"La? Kenapa, sih? Kok diam aja?" Natan menyadari Ola berubah diam. "Masalah aku sama Elise udah selesai. Kenapa masih murung?"
Ola menekuk kedua kakinya. "Elise baik-baik aja, kan?"
Natan kelihatan tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. Ola tampak mengkhawatirkan Elise. Padahal selama ini Ola tidak menyukai saudara tirinya. Justru, Elise dianggap sebagai sumber masalah atas hubungan Natan dan Ola.
"Kayaknya, lo perlu hubungin Mama sama Papa kalian." Ola menyibak rambutnya yang terkena angin. "Minta mereka jemput Elise, atau kirim siapa buat nemenin Elise di rumah orang tua kalian yang di sini. Kalau dia sendirian, gue takut terjadi apa-apa sama dia."
Ola memang tidak menyukai Elise. Tapi ia masih mempunyai perasaan. Menjadi Elise, itu tidak enak. Ia harus menerima fakta bahwa mantan pacarnya telah berubah status sebagai saudara tiri. Mamanya lebih memilih tinggal bersama suami barunya. Ola saja, yang punya Tante Sandra dan Langen yang cerewet, terkadang masih suka merasa kesepian. Apa lagi Elise yang tidak memiliki siapa-siapa.
"Hm, aku mikirnya juga gitu. Tapi aku belum sempat telepon Papa," kata Natan. "Nggak usah khawatir. Elise bakal baik-baik aja. Makasih, udah mau khawatirin dia, ya?"
Sebelah tangan Natan melingkari bahu Ola, kemudian membawa kepala perempuan itu bersandar ke bahunya. Mereka duduk berdua sambil menikmati angin pantai.
Baru kali ini Ola merasa lebih tenang. Ia menikmati kebersamaannya dengan Natan. Walau ia sibuk memikirkan Elise, setidaknya Natan berada di sampingnya. Ia bukan merasa menang karena Natan berakhir memilihnya. Ia hanya tenang, Natan menepati janjinya. Kekhawatiran Ola tentang perasaan Natan dulunya, kini telah terjawab.
***
"Nah, ini. Contoh orang yang baru pulang kencan!" seru Debora heboh sendiri.
Kerin barusan sampai ke rumah kosnya. Baru melepas sepatu, dan meletakkannya ke atas rak. Teman-temannya sedang berkumpul di ruang tamu sambil menonton TV bersama-sama.
Kerin meletakkan tasnya ke atas sofa, lalu mengambil duduk di samping Manda. Perempuan itu menawari keripik kentang ke arahnya. Kerin dengan lesu mengangguk, ia menjejalkan tangan kanannya ke dalam bungkus, kemudian mengambil beberapa keping untuk dimakannya.
"Pulang kencan, kenapa lemas, sih? Nggak dijajanin sama Alfa emang?" celetuk Debi, duduk di bawah lantai sambil meluruskan kedua kaki.
"Gue nggak jadi pergi sama Alfa," jawab Kerin, lalu menyuapkan satu keping keripik kentang ke dalam mulutnya. Tatapannya tertuju ke TV, tapi kelihatan tidak fokus.
Manda menatap jam di dinding. "Terus, lon habis dari mana pulang jam segini kalau bukan pergi sama Alfa?" Pertanyaan Manda menjadi perwakilan dari yang lainnya.
"Nonton juga, tapi sama Alvo."
Manda dan ketiga teman Kerin saling menatap satu sama lain. Lho, hei, tunggu dulu. Bisa-bisanya Kerin malah pergi dengan mantan tunangan, padahal tadi pamitnya pergi sama Alfa? Kok, bisa, sih?!
Debora adalah orang paling penasaran di antara yang lain. Ia sampai pindah duduk ke lengan kursi agar tidak ketinggalan cerita.
"Gue boleh minta minum dulu nggak, sih?" pinta Kerin, lesu.
"Minum? Oh, oke! Chin, tolong, ambilin minum buat Kerin! Buruan!" seru Debora, ia malah menyuruh Chintya.
"Apa sih, lo? Lo yang nawarin, kenapa gue yang disuruh ambil!" pekik Chintya.
Debi mendecakkan lidah. "Biar gue yang ambilin. Gitu doang ribut kalian!"
Debora menatap Chintya, sinis. "Tuh, kayak Debi. Setia kawan!"
"Dih," dengkus Chintya.
Kerin menjadi lebih Manda di sebelahnya. Ia menggerakkan dagu menunjuk ke Chintya. Manda mengangkat kedua bahu tanda tidak tahu. Suasana hati Chintya memang kurang bagus sejak pulang tadi. Tapi Manda tidak tahu apa alasannya.
"Nih, minum lo." Debi kembali dari dapur membawa segelas air dingin.
Kerin menerimanya. "Makasih, Debi."