Menunggu Alfa

1043 Kata
"Mau ke mana, Ke? Rapi banget," tanya Manda. Kerin menutup pintu kamar lalu menolehkan kepala sepintas. Setelah menutup pintu, ia menghampiri Manda yang duduk di sofa sembari menyulam. Manda itu banyak bisanya. Tipikal perempuan yang tidak bisa diam, ada saja yang akan dikerjakannya. Beda lagi dengan tiga teman Kerin yang lain. Jika tidak sedang bekerja, mereka lebih suka pergi atau tidur seharian sampai pernah dikira pingsan. Ya iya, masa iya tidur dari malam, sampai jam tiga sore belum bangun! Siapa yang tidak khawatir? Namanya umur kan, tidak ada yang tahu. Kerin meletakkan tas merahnya ke atas pangkuan, duduk di samping Manda sesekali memerhatikan temannya menyulam. "Pergi nonton," jawab Kerin. Manda mendongak, balas menatap Kerin selama dua detik penuh. "Sama siapa? Alfa atau Langen?" "Alfa." Kerin menjawab tanpa ragu. Manda mengangguk mengerti. Selain dekat dengan teman kos, teman Kerin paling dekat ya Langen. Yang Manda dengar, sih, Kerin dan Langen sudah berteman dari sebelum bekerja. Dari zaman kuliah kalau tidak salah. Lalu bekerja, dan memiliki profesi sama sebagai seorang reporter TV. Jika ditanya apa ia mengenal Langen, Manda kenal, kok. Cuma tidak sedekat Langen ke Kerin. Sekadar menyapa saat perempuan cantik tinggi semampai itu kemari, atau ngobrol sesekali. "Alfa kok belum datang? Tumben," gumam Manda celingukkan. Biasanya, Alfa akan lebih dulu muncul di rumah kos mereka sebelum Kerin selesai berdandan. Tapi ini, Alfa belum menunjukkan batang hidungnya. Makan Manda heran. "Motor dia lagi dibenerin, kemarin waktu pulang kerja, motor dia tiba-tiba mogok." Kerin menjelaskan. "Daripada dia ke sini naik taksi atau ojek online, mending kita ketemuan di sana aja. Biar lebih hemat waktu sama ongkos." "Oh, gitu." Manda manggut-manggut. "Terus, ngapain lo masih di sini? Bukannya berangkat!" Kerin tersadar, ia melirik arloji di tangan. Kalau bukan Manda mengingatkan, Kerin pasti sudah bablas ngobrol, sampai lupa waktu. Ia beranjak dari sofa, menyampirkan tas merahnya ke sebelah bahu. Ia berpamitan ke Manda. "Gue pergi dulu ya, Man," katanya, mendapat anggukkan Manda. Kerin memutar badan, berjalan dengan langkah lebih cepat hingga nyaris tersandung. Manda ikut kaget, lalu meminta Kerin agar lebih hati-hati saat berjalan. *** Dua tiket nonton sudah ia beli. Kerin memilih duduk di salah satu kursi tunggu sesekali melirik ke ponselnya sendiri. Kerin sibuk mengetik pesan lalu mengirim ke nomornya Alfa. Belum ada balasan, dan sepertinya nomor lelaki itu tidak aktif. Bagaimana ini? Sebentar lagi film akan diputar. Tapi Alfa belum muncul sama sekali. Ditelepon tidak bisa, pesan Kerin juga belum dibalas. Apa ada masalah di jalan? Atau Alfa masih menunggu kendaraan yang akan menjemput? Kerin menarik lengan baju hingga menutupi arloji yang melingkar. Kerin memutuskan untuk berdiri, pergi ke arah pintu masuk menunggu Alfa di sana. Ia sudah berada di sini hampir satu jam, lho. Cuma untuk menunggu Alfa. Tidak biasanya Alfa telat begini. Alfa selalu tepat waktu setiap mereka membuat janji. Sebentar, Kerin jadi khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Alfa di jalan. Lalu, bagaimana cara Kerin mengetahui Alfa di mana, kalau nomornya saja tidak bisa Kerin hubungi. Kerin tersentak kaget, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mengangkat tangan, kedua matanya menyipit memandangi layar ponsel yang menyala-nyala, kemudian, menghela napas lega karena orang yang ia tunggu sejak tadi telah menghubunginya. Kerin menggeser layar ponsel, meletakkan benda persegi itu ke telinganya. "Halo! Lo di mana, Fa? Gue udah nunggu lo lebih dari satu jam! Filmnya juga mau dimulai!" "Aduh, Ke, maaf." Muncul kerutan di dahi Kerin. Suara Alfa agak pelan, setengah bisik-bisik. "Lo kenapa, Fa? Ada masalah?" tanya Kerin khawatir. Di seberang sana, Alfa menarik napas panjang. "Kayaknya gue nggak bisa datang, Ke. Gue lagi di rumah sakit sekarang." "Hah? Siapa yang sakit? Lo, Fa?" seru Kerin panik. "Nggak, bukan," jawab Alfa. "Lo jangan panik dulu. Ada teman gue baru kecelakaan di jalan, dan dia anak perantauan kayak gue. Di sini nggak ada keluarga, jadi gue harus bantu dia jaga." Kerin diam sebentar. Ia agak kecewa karena Alfa tidak bisa datang, sementara itu ia sudah membeli dua tiket nonton. Ia kecewa bukan karena sudah membeli tiketnya. Tapi karena Alfa tidak bisa datang kemari. Soal tiket, tidak ada masalah, berapa sih harga tiket? Yang penting itu kehadiran Alfa. "Ya udah, gue ke sana ikut nemenin lo, ya?" Daripada Kerin harus menonton sendiri, lebih baik ia pergi menemani Alfa menjaga temannya saja. "Jangan, Ke," cegah Alfa. "Kenapa?" "Di rumah sakit, dibatasi cuma satu orang yang jaga. Lebih dari dua orang nggak boleh. Kalau lo ke sini juga sia-sia." Alfa menjelaskan ke Kerin. "Lo nonton aja dulu. Udah beli tiket, kan?" "Iya," angguk Kerin sambil memandangi tiketnya. "Tapi ini ada dua. Lagian malas banget gue nonton sendiri. Ketahuan banget jomlonya!" Alfa tertawa, namun tidak lama suasana kembali tenang. Mungkin Alfa baru ingat kalau ia sedang ada di rumah sakit. Makanya buru-buru ia meredahkan tawanya sebelum terkena marah oleh perawat atau keluarga pasien yang lain. "Gue pulang aja, deh, Fa," gumam Kerin. "Di situ aja, Ke," kata Alfa. "Lo nggak bakalan sendiri, kok. Gue barusan telepon Alvo." Kerin menyipitkan kedua matanya. "Ngapain lo telepon Alvo?" "Gue minta dia buat nemenin lo," jawab Alfa. Kerin berseru, "Nggak usah! Lo kenapa malah telepon Alvo? Dia nggak bakalan mau! Lagian, pasti dia lagi banyak kerjaan biar hari minggu. Lo, nih! Telepon dia lagi, deh. Bilang aja gue udah pulang." "Eh, Ke! Gue panggil perawat buat antar sampel ke ruang lab, nih! Lo telepon Alvo sendiri, ya. Tapi, kayaknya dia bentar lagi nyampek sana, sih." Klik. Sambungan telepon berakhir secara sepihak. Kerin menarik ponsel, menatap ke layar lalu menghela napas panjang. Alfa, sialan! Ia malah disuruh menelpon ke nomor Alvo sendiri! Kenapa juga Alfa tidak bertanya dulu ke Kerin, sih? Kerin terpaksa menelepon Alvo. Ia tidak ingin merepotkan orang lain. Apa lagi orangnya itu Alvo. Ia tahu Alvo orang seperti apa. Lelaki itu sangat sibuk walau di akhir pekan sekali pun. Hanya menunggu sekitar tiga detik, telepon Kerin sudah mendapat respon. Alvo menyapa Kerin lebih cepat. "Iya, halo, Ke? Tunggu bentar ya. Gue udah sampai parkiran, kok!" "Bukan, Vo. Gue—" "Nah, gue udah dapat tempat parkir, Ke. Lo udah di tempat bioskopnya, kan?" "Hm? Eh, iya, Vo. Udah." Kerin terpaksa mengiyakan. Alvo sudah terlanjur ada di sini. Dan akan menyusul dirinya ke tempat bioskop. "Ya udah, gue samperin lo sekarang ya." Kerin bisa mendengar suara keraiamaian, yang menandakan Alvo telah masuk ke dalam mal. "Ya udah, gue tunggu ya, Vo," ujar Kerin akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN