Mati Kutu

1111 Kata
Soal urusan membuat orang mati gaya, Alfa memang jagonya. Sudah ada banyak orang yang menjadi korban Alfa. Kemarin Alvo, hari ini jatahnya Langen. Langen mana tahu kalau Lando ikut serta Alvo datang kemari. Alfa juga tidak menyebutkan siapa-siapa saja yang akan datang selain ia dan Kerin. Mereka semua duduk mengelilingi meja bundar. Mereka makan sambil ngobrol santai, tapi beda dengan Langen dan Lando. Sedari tadi sepasang mantan tunangan itu saling melempar pandangan satu sama lain, lalu berakhir dengan Langen membuang pandangannya ke arah lain. Langen merasakan badannya meriang secara mendadak. Dari Lando muncul di depan pintu kafe, tangan Langen langsung dingin, gemetaran, ingin sekali beranjak dari kursi lalu berlari keluar. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, Langen tidak bisa ke mana-mana selain duduk di samping Kerin, dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia senang bisa melihat Lando setelah sekian lama. Namun di sisi lain, Langen menjadi gugup. Bahkan ia tidak berniat menyapa Lando. Melempar senyum saja tidak. Cuma tiga orang yang asyik mengobrol. Dari kafe masih banyak pengunjung, hingga mereka pergi satu per satu. Menyisakan mereka berlima di meja paling ujung. Langen melirik arloji di tangan. Mau sampai kapan ia ada di sini? Langen bukan cuma mati kutu, tapi sungguhan tidak bisa bergerak kecuali sepasang matanya yang melirik ke sana kemari. Alfa menyambar gelas minumannya. Ia bisa bergabung bersama teman-teman barunya karena kafe memang sudah waktunya tutup. Tadinya Alfa duduk di sebelah Langen, namun entah kenapa, Alfa meminta Lando pindah ke tempat duduknya. Jadi posisi Langen ada di tengah-tengah Kerin dan Lando. Ia menundukkan kepala, memandangi kedua kakinya dibungkus sepatu berwarna putih. Saking gugupnya Langen, ia sampai pergi beberapa kali ke toilet untuk buang air kecil. Sungguh, baru kali ini Langen sangat gugup. Apa lagi di depan Lando. Orang yang dulunya sering ia maki-maki. "Tumben banget lo nggak bawel, La," ujar Alfa, sengaja ia menunjuk Langen. "Apa karena ada Lando? Eh, iya, kan? Lando sama Langen dulu pernah hampir nikah, tapi nggak jadi?" celetuk Alfa. Kurang ajar! Padahal Langen sudah berusaha agar tidak terlalu kentara. Alfa malah membahas hubungan mereka di masa lalu. Eh, apa masih bisa dibilang masa lalu, kalau mereka putus masih baru-baru ini? "Ngobrol, dong!" seru Alfa. "Kalian nggak musuhan setelah putus, kan?" Kerin melirik Alfa. Perempuan itu memberi isyarat ke Alfa. Agaknya Alfa kurang mengontrol mulutnya malam ini. Pipi Langen sudah semerah tomat. Tatapannya jadi ke mana-mana akibat grogi duduk di sebelah Lando. "Kita nggak musuhan, kok. Iya kan, La?" Baru Lando mau mengajak Langen bicara. "Baru beberapa hari yang lalu, gue bantu dia beli bensin." "Hah?" Kerin kelihatan bingung. "Aduh!" Langen berbisik pada dirinya sendiri. Tadi Alfa, sekarang Lando, pas sekali, ya. Bisa-bisanya Lando malah buka kartu di depan Kerin dan lainnya. Padahal Langen tidak berniat menceritakannya ke siapa-siapa, termasuk ke Kerin. Tapi justru Lando sendiri yang membocorkannya. "Iya, jadi-" Langen mengangkat setengah badannya, lalu membungkam mulut Lando dengan tangan kanannya. "Bukan apa-apa, kali. Dia cuma bantu gue doang waktu itu. Udah, kenapa malah bahas gue sama Lando? Kenapa nggak bahas Kerin dan Alvo aja?" Gantian Kerin dan Alvo saling pandang. "Emang gue sama dia, kenapa?" tanya Kerin sambil menunjuk Alvo. "Tahu, nih," bela Alfa. "Mereka sih baik-baik aja. Malah sekarang tambah baik, akur aja," tambahnya. Langen merasa disudutkan. Kerin sih, enak, ada yang membela. Nah, Langen apa kabar? Ia digoda habis-habisan oleh Alfa, dan tidak ada membelanya. Lando justru menyengir di sampingnya. *** "Sumringah banget muka teman gue satu ini. Gimana? Lancar pendekatannya?" ledek Deon. Alvo melirik Deon sebelum menjawab. "Bisa dibilang begitu. Hubungan gue sama Kerin lumayan membaik." "Nggak saling sindir kayak waktu itu, kan?" Deon masih mengejek Alvo. "Semalam gue makan sama dia," beritahu Alvo. "Berdua?" tanya Deon. "Rame-rame, sih. Lando juga ikut," jawab Alvo. Deon pura-pura mendesah kecewa. "Kirain cuma berdua doang. Tadinya gue mau ngasih lo selamat!" Alvo melempar gulungan kertas ke Deon, kemudian kedua lelaki itu saling tertawa. Jika ada Lando dan Natan, mungkin dua orang itu heran melihat kedua temannya tertawa seolah sedang sangat bahagia. "Rencana apa lagi yang mau disusun sama Alfa buat lo berdua?" Deon memutar kursi di seberang lalu duduk. Harus Deon akui kalau Alfa sangat berjasa dalam mendekatkan Alvo dan Kerin kembali. Deon kira awalnya Alfa itu menyukai Kerin. Tapi ternyata tidak. Lagi pula, kalau Alfa suka Kerin, untuk apa membantu Alvo sebegitunya, iya, kan? Belum ada, lho, lelaki seperti Alfa. Jika Alfa ada tokoh di sebuah film, pasti Alfa tidak akan mau membantu Alvo mendekati Kerin lagi. "Eh, tunggu. Gue baru sadar," ujar Deon mengangkat sebelah tangannya. "Kenapa?" tanya Alvo. "Lo tadi bilang ada Lando? Ngapain dia ikut lo makan sama Kerin?" Alvo menjawab, "Jadi, Kerin bawa Langen. Gue tahunya dari Alfa. Ya udah, gue ajak Lando aja." "Dan dia mau?" Deon tampak tidak yakin. Lelaki itu mengangguk. "Jelas. Di situ ada Langen. Lo tahu sendiri Lando masih sayang sama Langen." "Halah," kata Deon sambil mengibaskan tangan. "Sayang kok ngajak putus!" "Lando pasti punya alasan kenapa dia ngajak Langen putus." Alvo bergumam. "Kita kan nggak tahu hati orang." "Selain nggak tahu, gue juga nggak paham. Di mana-mana kalau sayang ya bertahan. Ini, nggak! Malah putus! Setelah itu menyesal," gerutu Deon. *** Ola marah-marah, ia membanting gulingnya ke lantai. Seseorang mengganggu tidurnya di hari minggu. Pasti itu Langen. Seseorang yang ia kira Langen itu menggoyangkan bahunya, mengelus pipi Ola sampai perempuan itu kian marah karena merasa tidurnya diusik. "Kak Langen, gue hajar lo, ya!" ancam Ola menaikkan sebelah tangannya. Ola mendengar suara tawa renyah di belakangnya. Walau posisi kedua mata Ola memejam, tapi telinganya bisa menangkap apa saja. "Bangun, hei," panggilnya. Bahu Ola ditepuk sekali. Kedua mata Ola sontak terbuka lebar. Itu bukan suara Langen. Bukan juga perempuan, melainkan suara lelaki. Ola terkesiap. Begitu kedua matanya terbuka lebar, ia duduk lalu menghadap ke belakang. "Pagi," sapanya sambil melambaikan tangan. Lelaki itu tersenyum ceria. Beda dari beberapa hari terakhir. Natan kelihatan lelah, dan lesu. Apa yang mereka bahas selalu ke hal yang sama, dan berakhir membuat Ola marah, menghindari telepon dari Natan. Natan mengambil duduk di tepi. Ia menjadi hidung Ola. "Malah bengong," ujar Natan santai. "Bangun, terus siap-siapa sekarang." Ola mengerutkan dahi. "Siapa yang bolehin lo masuk kamar gue?" "Langen," jawab Natan. Ola mengepalkan tangannya. "Ish, Kak Langen!" Tatapannya berpindah ke Natan. "Lo juga ngapain ke sini, sih? Gue bilang apa kemarin? Jangan temui gue dulu kalau lo belum—" "Udah," sela Natan. "Urusan aku sama Elise udah selesai." Ola kelihatan kurang percaya. "Bohong. Pasti lo alasan doang, kan?" "Nggak," gumam Natan menggeleng. "Gimana bisa?" Reaksi Ola tampak heran. "Bisa. Nanti aku kasih tahu," ujar Natan. "Tapi sebelumnya, aku boleh peluk, nggak?" "Hah?" Belum sempat Ola memberi izin, Natan keburu memeluk perempuan itu. Erat. Ia menciumi puncak kepala Ola. Sekarang, Natan jauh lebih tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN