"Natan! Akhirnya kamu pulang!" seru Elise senang.
Sudah sekitar satu minggu Natan tidak pulang ke rumah orang tua mereka. Nomor ponsel Natan tidak bisa dihubungi, pesan yang kirim tidak pernah dibalas, dan setiap kali Elise pergi menemui Natan ke kantornya, Natan selalu tidak ada di tempat.
Elise tidak tahu di mana alamat apartemen Natan. Setiap ia memintanya pada Ola, perempuan itu dengan jujur mengatakan, "Gue nggak mau ngasih tahu. Tanya sama orangnya sendiri, gih!"
Justru karena Natan mengabaikan Elise, makanya ia bertanya ke Ola. Kalau Natan bisa ditanyai, Elise tidak mungkin menghubungi Ola lebih dulu.
Natan berjalan mundur, menghindari Elise yang hendak mengapit lengannya. "Aku ke sini bukan buat pulang. Ada hal yang ingin aku bicarain sama kamu."
Elise tampak kecewa. "Sekarang? Ini waktunya makan malam. Kita makan dulu, ya?"
Natan menggeleng. "Aku udah makan sama Ola barusan."
Ia menelan ludah kecewa. Orang yang ia tunggu sejak beberapa hari yang lalu telah melupakan dirinya. Jika dulu ia selalu dinomor satukan oleh Natan, kini tidak lagi, karena ada sosok Ola.
Apa Natan sungguhan menyukai Ola? Atau sekadar berperan sebagai calon suami perempuan itu? Elise lebih dulu bertemu Natan, menjadi pacar lelaki itu, menghabiskan waktu lebih banyak daripada Ola.
Elise menunduk, tersenyum masam, dalam hati ia mengutuk nama Ola. Sejak ia pulang ke Indonesia dan bertemu dengan Natan, lelaki itu telah banyak berubah. Yang dibicarakan selalu Ola. Setiap kali Natan memiliki waktu luang, misal, saat jam makan siang tiba, Natan akan memeriksa ponsel, lalu tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
Elise pernah melihat Natan yang begitu. Ketika mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih.
Benar, Ola telah merebut Natan.
"Aku minta maaf sebelumnya." Natan menarik tangannya dari saku celana. Berdiri canggung di depan Elise.
"Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu lagi sibuk," jawab Elise.
"Sibuk cuma aku jadiin alasan aja, Lis," ujar Natan. Ia menghela napas. "Aku sengaja menghindar dari kamu."
Jantung Elise seperti berhenti bekerja. Untuk beberapa saat ia seolah kehilangan udara di sekitar. Ia terkejut mendengar kata-kata Natan barusan.
Untuk apa Natan menghindari Elise?
"Ola yang nyuruh?" tebak Elise.
"Bukan." Natan menggeleng. "Atas kemauan aku sendiri."
Ola hanya meminta Natan menyelesaikan masalahnya dengan Elise. Bukan menghindari perempuan itu. Natan saja yang memang pengecut. Tidak berani mengambil tindakan lebih tegas.
Elise merasakan tangannya dingin dan gemetaran menahan amarah. Beberapa tahun yang lalu ia harus merasakan sakit karena mamanya tiba-tiba mengumumkan akan menikah lagi. Elise tidak masalah jika calon Ayah tirinya adalah lelaki yang baik, menyayangi mamanya, menjaga, dan membuat mamanya selalu bahagia. Akan tetapi, kenapa lelaki itu malah papanya Natan? Pacar Elise sendiri!
Mamanya sangat egois. Tidak mau mengalah untuk kebahagiaan Elise. Sudah tahu Elise dan Natan saling mencintai, kenapa pernikahan tetap saja dilanjutkan?
Jika saja kalian berada di posisi Elise, kalian akan merasakan sakit yang sama.
Dan sekarang, Elise merasakan sakit yang sama, dengan orang berbeda. Ia mendengarnya langsung dari mulut Natan.
"Jujur, aku sayang banget sama kamu, Lis. Tapi perasaan sayang aku ke kamu sebagai Kakak, dan nggak lebih dari itu." Natan menjelaskan dengan hati-hati. "Aku senang kamu pulang ke Indonesia. Aku lega lihat kamu baik-baik aja setelah lama kita nggak ketemu."
"Kata siapa aku baik-baik aja?" tanya Elise. Sepasang matanya berubah merah.
Dalam sekali kedip, air mata itu turun ke pipinya, lalu disusul lebih banyak air mata yang berjatuhan sehingga tatapan Elise menjadi buram.
"Selama di sana, aku berjuang buat lupain kamu, Nat! Kamu ngerasain hal sama kayak aku, nggak?" Sebelah tangan Elise terangkat, menyeka air matanya. "Aku udah berusaha lupain kamu, tapi yang ada perasaan aku semakin dalam sama kamu! Dan aku kecewa, aku menyesal pulang ke Indonesia cuma buat dengar kamu lebih milih Ola daripada aku!"
"Ola calon istri aku, Lis," desah Natan mulai frustrasi menghadapi Elise.
"Terus kenapa?" sahut Elise. Ia mengangkat kepala, dan menantang Natan. "Banyak kok lelaki di luar sana berhubungan sama perempuan selain pacarnya, istrinya, atau bahkan tunangannya sekali pun."
"Dan kamu minta aku buat melakukan hal sama kayak lelaki di luar, gitu?" balas Natan. Ia kemudian mendecakkan lidah. "Bahkan saat pertama aku tunangan sama Ola, sebelum aku mulai menyayangi Ola, aku udah berjanji sama diri aku sendiri buat nggak berkhianat. Aku nggak bisa kayak gitu."
Perdebatan di antara Natan dan Elise lantas tidak berhenti di situ. Elise tetap kekeuh akan mempertahankan perasaannya untuk Natan, apa pun status Natan kelak, Elise tidak akan membunuh perasaannya begitu saja. Sementara Natan, ia meminta Elise agar melupakan dirinya, dan bersikap sebagaimana wajarnya kepada seorang saudara lelakinya.
"Aku sayang sama Ola, Lis. Dan sebentar lagi aku dan dia mau nikah," gumam Natan memperingati. "Aku nggak mau nyakitin kamu. Jadi tolong, lupain aku. Kita tetap bisa jadi saudara, tapi nggak bisa ke cerita masa lalu. Kita udah lama selesai."
***
Malam minggu, Kerin pergi keluar bersama Langen. Ya, tidak jauh-jauh perginya, sih. Kerin dan Langen memilih nongkrong di sebuah kafe, cuma berdua saja, karena sewaktu Langen akan pergi, ia tidak menemukan Ola di kamarnya.
Kata mamanya, sih, Ola sedang bersama Natan sejak sore, dan belum kembali.
"Ini tempat kerja Alfa?" tanya Langen melihat ke sekitaran kafe.
"Iya, dia ngasih alamat kafe ini, kok." Kerin ikut-ikutan mengedarkan pandangan.
"Terus, dia ke mana?" tanya Langen lagi.
"Cari tempat duduk dulu yuk, La," ajak Kerin sambil menunjuk ke salah satu kursi.
Kafe tempat kerja Alfa cukup ramai, tapi tidak terlalu berisik. Padahal meja-meja di sini hampir penuh, dan tinggal satu meja lagi yang kosong. Bahkan Kerin hampir rebutan dengan dua orang remaja, tapi akhirnya Kerin yang berhasil mendudukinya.
"Nggak pesan dulu aja, Ke?" Langen melihat Kerin mengutak-atik benda persegi itu.
Kerin mengangkat ponsel, lalu menunjukkan isi pesan yang dikirim Alfa. "Gue pesan langsung ke Alfa. Kata dia, lagi siapin banyak makanan buat kita."
"Gratis?" celetuk Langen.
Perempuan itu langsung mendapat tatapan sinis dari Kerin. Langen meringis sambil mengusap belakang lehernya salah tingkah. Alfa kan dekat sama Kerin, disuruh kemari pun, oleh Alfa sendiri. Siapa tahu Alfa tidak memperbolehkan Kerin membayar, siapa tahu ya, kan lumayan makan enak, tapi gratis. Siapa yang tidak mau?
"Hei," sapa Alfa.
Entah muncul dari mana, tahu-tahu lelaki itu ada di belakang Langen dan mengejutkannya.
"Udah dari tadi? Apa barusan datang?" tanya Alfa, menarik kursi kosong di samping Kerin.
"Baru banget, kok," jawab Kerin.
Langen menjawil lengan Alfa. "Fa, kata Kerin, lo lagi siapin makanan enak. Mana? Gue laper, Fa. Sengaja datang ke sini nggak makan dulu."
Alfa terkekeh. "Udah, kok, La. Tenang aja," ujarnya. "Tapi sebelum gue keluarin makanannya, gue masih nunggu satu teman lagi. Nggak apa-apa, kan?"
Kerin kelihatan bingung. "Lo ngundang orang lain juga? Ada acara apa, sih?"
"Iya, mungkin sebentar lagi orangnya nyampek," gumam Alfa sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
Tidak heran kalau Alfa memiliki banyak teman. Dilihat cara Alfa bergaul, pasti teman-teman Alfa lebih banyak dari teman Kerin yang cuma itu-itu saja. Tapi, belum sekali pun Alfa mengenalkannya ke Kerin.
"Nah! Itu mereka udah datang," seru Alfa, beranjak dari kursi lalu menunjuk dua orang lelaki.
"Alvo sama Lando?" gumam Kerin bingung. "Itu teman yang lo tunggu, Fa?"
Alfa mengangguk. "Iya, mereka teman baru gue."
Langen menunduk, dalam hati Langen mengumpat, "Sialan!"