Deg. Sesaat d**a ini terasa sesak dan pikiran ini dipenuhi rasa curiga. Apa jangan-jangan… Ria?
Siapa sebenarnya Ria?
Apa ada sesuatu yang Sandi sembunyikan dariku?
Apa hubungan sebenarnya antara Sandi dan Ria?
Otakku dipenuhi berbagai pertanyaan dan kecurigaan. Kenapa aku jadi curigaan seperti ini, padahal aku selalu mempercayainya. Namun sikap aneh Sandi saat mengetahui aku membuat akun f*******: seolah menambah kecurigaanku. Jangan-jangan Sandi memang tak ingin aku mengetahui tentang hal yang tertulis disana. Mungkin Sandi tidak mau aku mengetahui tentang Ria.
***
Sandi :
Sayang, maaf tadi aku lagi sibuk telepon klien.
Kamu udah dirumah? Udah minum obat?
Kamu marah sama aku? Yauda gak apa-apa yang penting sekarang kamu istirahat.
Besok aku jemput sepulang kerja ya..
Sayang kamu..
Sandi mengirimkan banyak pesan dan juga panggilan telepon padaku. Aku membuka semua pesan Sandi setelah mama membangunkanku untuk berbuka puasa. Aku pun belum membalas semua pesan tersebut. Pikiranku masih dipenuhi kecurigaan. Aku tak ingin menjadi emosi dan pada akhirnya akan salah bicara. Setelah menyelesaikan santapan berbuka dan melaksanakan solat, aku pun membalas pesan dari Sandi.
Me :
Besok jemput aku di rumah aja, aku ijin gak masuk kantor
Begitulah pesan yang kubalaskan pada Sandi. Cukup singkat jika dibandingkan dengan banyaknya pesan yang dia kirimkan.
Esok harinya Sandi datang menjemputku sepulangnya dari dia bekerja. Dia menunggu di depan gerbang rumahku. Sandi selalu menolak jika aku memintanya untuk masuk ke dalam rumah. Masih sungkan katanya. Setelah meminta ijin pada kedua orang tuaku, aku menghampirinya. Kulihatnya dia sedang duduk sambil melakukan sesuatu dengan ponselnya. Sepertinya dia sedang berkirim pesan dengan seseorang. Aku menyapanya dan dengan cepat dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Kemudian Sandi menyuruhku untuk menaiki motornya dan mengajakku ke kosannya.
Sesampainya kami di tempat kos, Sandi langsung menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Aku menolaknya halus dan memilih untuk duduk di kursi yang berada di depan kamarnya. Sandi tidak mempermasalahkannya dan ikut serta duduk di depan kamarnya bersamaku.
“Sayang, kamu puasa gak? Aku pesenin makan ya!” tanya Sandi padaku.
“Gak usah, aku tetap puasa kok” jawabku. Aku tetap memilih untuk berpuasa walau sedang kurang sehat, karena aku lebih malas untuk mengganti puasaku di kemudian hari.
“Kan kamu lagi sakit Yang, emang kamu kuat puasa? Aku gak mau kamu kenapa-kenapa ah” Sandi terlihat mengkhawatirkanku. Wajahnya terlihat tulus saat berucap seperti tadi, tidak ada yang terlihat dibuat-buat. Tapi hal tersebut tidak membuatku mengurungkan niatku yang sebenarnya bertemu dengan Sandi.
“Iya gak apa-apa aku masih kuat puasa kok”
“Yaudah kalau begitu aku pesan makan buat buka puasa nanti aja ya” Pertanyaan Sandi tersebut hanya kujawab dengan mengganggukan kepalaku. Kini diotakku sudah menumpuk banyak sekali pertanyaan yang mengantri untuk ditanyakan pada Sandi.
“Yang, aku mau nanya boleh?” aku memberanikan diri untuk memulai pertanyaanku.
“Ehmm tentang?”
“Tentang Ria. Ria itu siapa?” tanyaku tanpa basa-basi dan langsung pada intinya. Sandi hanya terdiam dan membuatku menjadi tak sabar menunggu jawaban darinya. Aku berharap dia berkata bahwa Ria hanyalah temannya saja. Aku berharap dia berkata bahwa aku telah salah paham padanya. Aku benar-benar mengharapkan itu. Tak lama Sandi terdiam, kemudian Sandi mulai membuka suaranya.
“Kalau aku bilang Ria itu teman aku, kamu percaya?” jawab Sandi gamblang.
“ Kok kamu jawabnya gak serius begitu?”
“Yaa kalau aku bilang dia teman aku kamu mau percaya atau enggak?” Kini aku yang terdiam. Aku memang berharap Sandi mengatakan bahwa Ria hanya temannya saja. Harusnya itu yang aku mau. Namun hati ini tak bisa dibohongi, aku tidak akan percaya begitu saja bahwa mereka hanya berteman. Jika memang hanya teman, kenapa status hubungan Sandi adalah berpacaran dengan Ria.
“Oke sekarang aku jawab serius” Sandi menatapku tajam lalu melanjutkan ucapannya “Ria pacarku di kampung”
Sontak hatiku langsung bergemuruh setelah mendengar jawaban dari Sandi. Hati ini bagai tersambar petir di siang bolong. Aku tak bisa berkata apa-apa untuk saat ini. Padahal aku sudah menyusun banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Hanya kurasakan perih kini di sudut-sudut hatiku.
Melihatku yang terdiam tanpa suara, kemudian Sandi melanjutkan perkataannya, “Aku pacaran sama Ria sejak SMA. Saat lulus aku langsung merantau ke Jakarta, Ria tetap di kampung. Hubungan kita sempat jauh karena Ria gak punya handphone. Tapi setelah Ria punya handphone dia ngehubungin aku lagi. Dan saat itu aku udah pacaran sama kamu. Aku belum bisa bilang ke Ria kalau aku udah punya pacar lagi di sini, dan aku gak bisa bilang ke kamu tentang dia”
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Kuteguhkan hatiku untuk menanggapi pernyataannya barusan.
“Kok kamu gak jujur sama aku dari awal kalau udah punya pacar?”
“Aku gak bisa, karena kalau aku cerita dan jujur sama kamu udah pasti kamu ninggalin aku. Sedangkan aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku gak mau itu”
“Tapi kamu gak boleh egois gini dong! Aku dan Ria kan perempuan, kamu harus tegas sama perasaan kamu sendiri. Kalau emang sebelumnya kamu udah pacaran sama Ria seharusnya kamu gak boleh pacaran lagi sama aku” emosiku mulai mengalir keluar. Mataku juga sudah mulai berkaca-kaca.
“Maafin aku karena udah gak jujur sama kamu, tapi aku juga gak mau kehilangan kamu. Aku cuma belum bisa ngomong ke dia” lanjut Sandi berharap aku memaklumi dan memaafkannya.
“Berarti kamu bisa putusin Ria?” kali ini pintaku sedikit egois. Jika memang Sandi menginginkanku, maka dia harus meninggalkan Ria. Tapi jika dia lebih memilih Ria, dia harus meninggalkanku. Hanya itu pilihan yang tersedia saat ini.
“….......” Sandi terdiam kembali tak bisa menjawab permintaanku.
“Kok kamu diam?”
“Belum bisa Yang. Aku belum bisa putusin Ria sekarang. Ibu di kampung udah kenal Ria karena kita tetanggaan, Ibu juga udah suka banget sama Ria. Kalau sekarang aku gak bisa putusin Ria. Aku minta waktu sama kamu. Aku harus ngomong baik-baik sama Ria dan ibu”
Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Ibunya sudah mengenal Ria, jika ibunya yang harus memilih maka sudah pasti aku yang akan tersingkir. Apa mungkin aku harus bersabar menunggu Sandi untuk berbicara pada ibunya? Tapi aku tidak suka berada di cinta segitiga seperti ini.
Dada ini terasa semakin sesak. Tak bisa lagi kutahan air mataku. Sandi mendekatkan kedua tangannya untuk memelukku namun dengan cepat kutepis kedua tangan tersebut. Aku tak mau melanjutkan hubungan ini, karena akan sangat menyakitkan bila Ibunya akan menolakku karena rasa suka Ibunya pada Ria.
“Kita udah sampai disini aja ya”
***
Setelah hubunganku dan Sandi berakhir, kami sudah tak saling menghubungi. Awalnya Sandi menolak untuk berpisah, namun dia juga tak bisa melepaskan Ria. Aku tidak akan bisa jika ada orang ketiga diantara hubungan kami. Aku akan memilih mundur jika aku berada di situasi seperti itu. Karena aku bukanlah orang yang bisa untuk berbagi hati.
Aku melihat-lihat fotoku dengan Sandi saat masih bersama. Aku mengenang masa-masa itu. Masa-masa saat kami masih bersama. Hati ini benar sakit. Aku masih bertanya-tanya kenapa hubungan kami berakhir seperti ini. Saat aku sedang di tengah kekecewaanku tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari Usman.
Usman :
Salam,
Apa kabar? Lagi apa?
Aku memandangi layar ponselku cukup lama. Aku sedang memastikan sesuatu, apakah aku tidak salah menyimpan nama kontak? Tapi saat kulihat nomornya itu benar nomor dengan kode nomor Pakistan, nomornya Usman. Loh? Usman bisa bahasa Indonesia? Atau dia hanya mentranslate saja?
Me :
Kabar baik, kamu bisa bahasa Indonesia?
Usman :
Yes I can
Dia membalas pesanku disertai emoticon tertawa.
Me :
Are you kidding me?
Usman :
No, pamanku orang Indonesia. Jadi aku bisa bahasa Indonesia hehe.
Me :
Kenapa gak dari kemarin aja kita ngobrol pakai bahasa Indonesia? Kan jadi nyusahin aku.
Usman :
I’m sorry hehehe, tapi kamu jadi terhibur kan?
Me :
Hmm Okay, That means you’re kidding me.
Usman :
I’m sorry dear..
Berbalas pesan dengan Usman membuatku sedikit melupakan tentang kesedihanku tadi. Caranya diluar dugaan. Semua pesan yang dia kirimkan dengan mudahnya bisa membuatku tersenyum. Entah kenapa dia selalu hadir disaat yang tepat. Disaat hati ini butuh penyemangat.
Sekarang aku pun bisa tersenyum berkat dirinya. Usman sering menanyakan tentang hubunganku dengan kekasihku, jadi sedikit banyak dia tahu tentang Sandi. Aku kini menceritakan tentang hubunganku yang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Kemudian Usman mengirimkan kata-kata yang selalu membuatku tenang.
Usman :
Don’t worry, I’m with you
Kata-kata tersebut sangat ajaib. Benar-benar bisa mengobati hati yang sedang sakit ini. Kini wajahku tidak lagi muram, hatiku sudah merasa lebih baik.
Hari sudah semakin larut. Aku harus segera tidur karena besok aku akan kembali bekerja. Banyak tugas yang sudah aku tinggalkan karena aku tidak masuk hari ini. Sudah pasti tugas yang menumpuk itu menungguku untuk diselesaikan. Sebelum tidur aku menghapus semua pesan dari Sandi di ponselku. Banyak kata cinta disana, namun semua itu sudah tidak ada artinya lagi.