5. Kenyataan yang pahit

2260 Kata
Aku dan Usman semakin hari menjadi semakin dekat. Kami melewati Ramadhan kami dengan tak biasa. Kami sahur di waktu yang hampir bersamaan namun aku berbuka puasa lebih dahulu dibandingkan dengannya. Hal itu terjadi karena perbedaan waktu yang ada antara Indonesia dan Pakistan, dan juga dikarenakan musim panas yang sedang berlangsung di sana membuat waktu di siang hari menjadi lebih lama. Setiap harinya Usman selalu meneleponku untuk membangunkanku di waktu sahur. Secara kebetulan dia mendapat shift kerja di malam jadi untuk membangunkanku sahur setiap harinya tidak akan merepotkan dirinya. Dia selalu membangunkanku setiap jam 3 waktu sahur, itu berarti di Pakistan masih jam 1 malam karena perbedaan waktu di Indonesia lebih cepat 2 jam dibandingkan Pakistan. Begitu juga dengan waktu berbuka puasa. Aku berbuka puasa lebih dahulu, mungkin di Pakistan masih sekitar jam 4 sore. Dan Usman berbuka puasa saat di Indonesia sudah sekitar jam 9 malam. Namun kami sangat menikmati perbedaan waktu yang ada di antara kami. Kami tidak menjadikan perbedaan waktu tersebut masalah yang berarti bagi kami. Setelah Ramadhan berlalu pun kedekatan kami tidak berkurang sedikitpun walau Usman tidak membangunkanku sahur lagi. Aku akan tidur lebih larut hanya untuk mengucapkan selamat malam sebelum dia tidur. Begitu juga dengannya, dia akan bangun lebih awal untuk mengucapkan selamat pagi saat aku bangun di pagi hari. Rutinitas seperti ini membuatku bisa melupakan Sandi dengan perlahan. Dan juga kali ini percakapan antara diriku dan Usman tidak terbatas di pesan w******p saja, kami lebih intens mengobrol melalui panggilan telepon ataupun video. “Aisyah, I wanna say something” ucap Usman saat sedang meneleponku. “Hmm apa? Ada apa?” "I love you” Usman mengucapkan sesuatu yang membuat hatiku berdegub kencang. Aku tersenyum malu. Untung saja ini hanya melalu panggilan telepon, kalau ini video call maka Usman bisa melihat wajahku yang sedang malu dan memerah. Aku tak ingin menganggapnya serius, aku tak ingin salah paham. Mungkin memang lelaki dari Negara seberang sana bisa dengan mudah mengucapkan apa yang diucapkan Usman barusan. “Kidding anymore? Kamu hobi banget bercanda ihh” aku menjawabnya dengan santai dan menahan perasaanku untuk tidak mensalah artikan ucapannya. “No, I’m serious. Aku tahu kita belum lama kenal tapi aku benar jatuh cinta padamu” walaupun Usman berkata seperti itu tapi aku tetap tidak menanggapinya serius. “Usman, cewek-cewek di Pakistan sana jauh lebih cantik dari aku. Apa yang kamu lihat dari aku yang biasa banget begini? Hidung sudah pasti lebih mancung cewek sana, mata juga mataku kan gak kayak cewek Pakistan yang matanya bagus, bulat besar, terus …” belum selesai aku berbicara, Usman menyalipnya. “You’re beautiful dear. Aku jatuh cinta pada senyummu, dan aku juga pada matamu yang menyipit saat tersenyum. Tapi aku lebih jatuh cinta pada kepribadianmu” Ucapan Usman kali ini benar-benar membuatku tersipu. Tanpa Usman tahu aku sudah tidak bisa lagi menutupi senyum di wajahku ini. Aku tak bisa membalas perkataannya lagi. Lalu Usman melanjutkan ucapannya. “Aisyah, kita jalani saja dulu, and I will show you that I really love you” ajakan Usman kali ini tak bisa aku tolak. Mungkin benar, kita jalani saja terlebih dahulu. Untuk bagaimana selanjutnya biarlah itu urusan nanti. “Hmm okay!” jawabku benar singkat karena menahan ledakan kegembiraan dari dalam hatiku. Aku sangat bahagia mendapat pernyataan cinta dari Usman. Usman sangat mengerti diriku. Dia selalu menjadi teman yang baik untukku. Selalu mendengarkanku dan juga selalu memberikan waktunya untukku. Akan tetapi jarak diantara kami menjadi kendala. Jarak yang sangatlah jauh. Tidak hanya sepuluh atau dua puluh kilometer, tidak juga jarak antar kota atau daerah yang bisa dengan mudah di tempuh dengan motor atau mobil. Tapi ini adalah jarak antar Negara. Apa aku akan sanggup menjalani hubungan jarak jauh ini? Lalu apa benar dia yakin menjalin hubungan denganku? Aku yg tidak terlalu alim jika dibandingkan dengan gadis Pakistan yang rata-rata akan menutupi rambutnya dengan kerudung. Tapi kembali aku berpikir mungkin benar kata Usman kita jalani saja dulu. Jika memang berjodoh maka Tuhan akan mempermudah jalan untuk kita bisa bersama.   ***   Seperti hari-hari biasanya aku menjalani aktifitasku bekerja di kantor. Namun hari ini lebih sibuk. Aku harus membuat proposal penawaran untuk vendor dan memfollow up dengan segera agar mereka dengan cepat dapat menyetujui proposal dari perusahaanku. Hari ini benar-benar di kejar deadline. Waktu untuk pengajuan proyek sudah hanya tinggal beberapa jam saja. Semua dokumen penawaran harus di upload malam ini atau semua kerja kerasku dan juga yang lainnya akan sia-sia. Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, kembali aku merasakan sakit di kepalaku. Sepertinya aku sangat kelelahan. Kemudian hidungku meneteskan darah dan diikuti pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. Aku tak bisa melihat apapun dan ‘braakk’ tiba-tiba saja aku terjatuh ke lantai. Aku mendengar suara seorang wanita yang berteriak setelah aku terjatuh. Aku mengenali suara wanita tersebut. Itu adalah suara Arista. Saat tersadar aku sedang berbaring di klinik kantor. Arista duduk menemani di sebelahku. “Syah, kamu udah sadar? Kamu sakit Syah?” tanya Arista sesaat setelah aku membuka mata. “Kok aku ada di sini Ris?” tanyaku balik pada Arista karena sedikit bingung mengapa aku bisa berbaring di klinik kantor. Rasanya aku tadi masih berada di meja kerjaku. “Kamu pingsan Syah, mana hidungnya mimisan. Aku takut banget tau gak sih. Kamu kalau sakit kenapa gak ijin istirahat di rumah aja sih Syah” Arista memberiku penjelasan. Ah iya, aku mengingatnya, kepalaku tadi terasa sakit dan juga darah menetes dari hdungku. Lalu aku terjatuh tidak sadarkan diri. “Aku kecapekan kali ya Ris? Mungkin benar kata kamu aku harusnya istirahat di rumah saja” “Besok kamu periksa ke dokter deh Syah! Aku jadi takut kamu kenapa-kenapa” “Aku cuma butuh istirahat aja kayaknya. Belakangan ini kan kita sibuk banget. Kecapekan saja sih kayaknya Ris” “Enggak enggak enggak! Periksa ke dokter Syah! Aku yang anterin kalau perlu” Arista terus memaksaku untuk memeriksakan diriku ke dokter. Baiklah kali ini aku akan mengikuti saran dari Arista untuk memeriksakan diriku ke dokter. “Yauda besok aku ke dokter Ris, kalau sekarang aku mau istirahat aja. Besok juga aku pergi sama mamaku aja” jawabanku dijawab dengan anggukkan oleh Arista. Aku pulang ke rumah diantar oleh Boy dan Arista dengan menggunakan mobil milik Boy. Aku sudah berusaha menolaknya dan meminta diantar pulang oleh supir kantor saja. Tapi kedua sahabatku tersebut sangat mengkhawatirkanku. Mereka mencari-cari alasan untuk keluar dari kesibukkan di kantor untuk mengantarkanku pulang. Alasan mereka kali ini ingin sekalian pergi ke kantor vendor yang searah dengan arah ke rumahku. Alasan mereka tersebut sukses disetujui oleh pak manager. Sebenarnya manager kami juga orang yang baik, dia juga sudah bisa menebak maksud dan tujuan sebenarnya dari Boy dan juga Arista. Pak manager tetap memberikan izin karena beliau juga takut terjadi apa-apa denganku saat di perjalanan pulang. Pak manager percaya jika Boy dan Arista akan bisa menjagaku dan memastikan aku sampai di rumah dengan aman dan selamat. Keesokan harinya aku langsung pergi untuk memeriksakan kesehatanku ke dokter bersama mamaku. Dokter menyarankan aku untuk melakukan cek darah dan juga pemeriksaan lainnya untuk mengetahui hasil yang lebih akurat. Kami pun menyetujuinya, kami ingin mengetahui apa yang membuatku sampai pingsan kemarin. Jika diingat-ingat memang belakangan ini aku selalu merasa kelelahan dan sakit kepala, aku pikir itu hanya karena kelelahan saja. Aku dan mamaku menuju ke ruang laboratorium untuk melakukan pengambilan sampel darah. Seorang wanita menusukkan jarum suntik ke lenganku dan menarik darah untuk sampel. Wajahku menjadi pucat saat melihat darah yang keluar. Ini adalah pengalaman pertamaku mengambil sampel darah seperti ini, dan tentu saja membuatku sangat tegang sehingga wajahku berubah pucat. Setelah itu seorang perawat datang menghampiriku dan menemaniku untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Mama juga dengan setia mendampingiku. Terbesit pemikiran di kepalaku, seharusnya aku tidak melakukan semua pemeriksaan ini. Mama terlalu khawatir, aku masih merasa baik-baik saja. Sepertinya memang hanya kurang istirahat saja. Aku dan mamaku menunggu agak lama untuk mendapatkan hasil dari pemeriksaan tersebut. Kami ingin segera mengetahui hasilnya, dan aku berharap semua hasil pemeriksaan itu tidak menunjukkan ada kelainan. Tidak lama setelah aku berpikir seperti itu, hasil pemeriksaan yang kami tunggu pun datang. Setelah menerima amplop yang berisi hasil yang kami tunggu, kami pun berkonsultasi kembali dengan dokter yang mengirimku untuk pemeriksaan lengkap. Mama memberikan amplop berisi hasil pemeriksaan itu pada dokter, kemudian sang dokter membukanya dan membaca hasilnya terlebih dahulu sebelum memberitahukan pada kami. Tak perlu menunggu lama kini dikter membacakan dan memberitahukan hasil dari semua pemeriksaanku. Sebagian besar hasilnya normal-normal saja, tidak ada kelainan. Tapi ada satu hasil pemeriksaan yang mempunyai kelainan. Hasil itu adalah hasil pemeriksaan darahku. Dokter memberitahukannya padaku dengan sangat hati-hati, tidak ingin aku menjadi emos setelah mengetahuinya. “Mba Aisyah, disini kamu bisa lihat ada beberapa hasil dari pemeriksaan darah kamu yang dibintangi. Itu artinya hasilnya masih tidak sesuai dengan standar normal di sebelah sini” Dokter menjelaskan semua itu sambil memperlihatkan lemaran kertas hasil pemeriksaan darah. Ya, aku melihat ada beberapa yang diberi bintang. Dokter bilang itu menunjukkan ketidak normalan dari hasil yang seharusnya. “Nah kamu bisa lihat yang ini, hasil ini terlalu rendah. Sangat rendah. Ini yang dikhawatirkan” dokter melanjutkan penjelasannya. Aku dan mama mendengarkan penjelasan dokter dengan serius. Raut wajahku berubah semakin tegang. Tidak kusangka hasil pemeriksaan tersebut membuat hatiku hancur. Itu adalah sebuah kejutan yang sangat menyakitkan. Aku tak bisa menerima hasil pemeriksaan itu. Hatiku lebih hancur kali ini. Pasti ada kesalahan. Untukku itu adalah kenyataan yang tak mungkin bisa aku terima. Bagaimana mungkin aku mengidap penyakit Leuchemia?   ***   Aku masih tak mau mempercayai hasil pemeriksaan kesehatanku. Aku hanya terdiam merenung dan menahan tangisku di dalam kamar. Juga meninggalkan makan malamku. Aku berharap ini semua hanyalah suatu kebohongan belaka. Saat aku masih dengan ketidakpercayaanku, ponselku berdering. Usman meneleponku. Aku tak sanggup menerima panggilan itu. Usman pasti langsung menyadari ada hal yang berbeda dari suaraku. Namun Usman tak berhenti meneleponku. Aku menguatkan hatiku untuk menerima panggilan dari Usman. “Halo Assalamualaikum” aku mengucapkan salam. “Waalaikumsalam. How are you?” “I’m fine” aku menjawabnya singkat, sebisa mungkin aku menahan tangisku. Tidak ingin aku menumpahkan segala kesedihanku pada Usman. “Kamu lagi apa?” tanya Usman padaku. Setiap hari, Usman memang sering meneleponku untuk menanyakan kegiatanku, juga untuk sharing tentang kegiatannya. Itu semua dilakukan karena kami sedang menjalani long distance relationship. Namun kali ini sepertinya waktunya kurang pas bagiku untuk mengobrol di telepon dengannya. “Aku, aku enggak lagi ngapa-ngapain kok.” aku menjawabnya dengan sedikit terbata. Aku menghela nafas sejenak dan sepertinya Usman mendengar helaan nafasku itu. "Aisyah, kamu yakin enggak apa-apa? Are you really fine? Kok kamu terdengar lesu?”  “Hmm? Aku benar enggak apa-apa kok” aku berusaha sebisa mungkin menjawab Usman dengan tenang, agar Usman tidak mengetahui jika kini bulir air mata mulai membasahi pipiku. Usman merasakan keanehan dari suaraku dan juga caraku menjawab pertanyaannya. Perasaannya benar-benar peka. Langsung Usman mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video. Ya Tuhan, aku benar-benar tak sanggup bila harus bicara melalui panggilan video. Aku tak sanggup menunjukkan wajahku padanya. Usman terus bertanya ada apa denganku dan terus saja memaksaku menerima permintaan panggilan video darinya. Insting Usman benar-benar kuat. Akhirnya aku pun menolak panggilan videonya tersebut. Lebih baik bicara melalui panggilan suara kataku. Aku menarik nafas panjang sebelum memberitahu Usman tentang apa yang terjadi padaku saat ini. Tangisku pecah seketika saat mengatakan semuanya pada Usman. Dia pun sama sepertiku, tak mempercayai hasil pemeriksaan tersebut. Tapi dia berusaha menguatkanku. “Aisyah, percayalah padaku. You will be fine” perkataannya itu malah membuat tangisku semakin menjadi. Aku tidak tahu mengapa, padahal Usman sedang mencoba membuatku tenang. Air mata ini sudah tak bisa kubendung lagi. Usman, mungkin bila kamu ada di sini aku akan memelukmu dan membanjiri tubuhmu dengan air mataku. Entah kenapa disaat seperti ini aku juga meratapi jarak diantra diriku dan Usman. Kenapa kita harus terpaut jarak yang sangat jauh seperti ini? Sekarang aku membutuhkan kamu untuk menjadi penyemangatku disini, selain keluargaku. Aku butuh kamu untuk menemaniku. Kini aku memandang hariku berbeda dari biasanya. Semangat yang aku punya seolah pupus dengan kenyataan yang aku terima. Aku tidak bisa menghentikan kesedihanku. Fahri yang khawatir dengan keadaanku terus mengetuk pintu kamarku agar aku keluar untuk makan malam. Namun aku sama sekali tak terasa lapar. Aku mengabaikan panggilan Fahri dan memilih untuk tetap terpuruk. Kali ini papa yang mengetuk pintuku. “Cha, ayo makan dulu. Kalau kamu begitu terus yang ada kamu malah makin sakit” Aku tetap tidak menghiraukannya. Aku tidak ingin bertemu dengan papa. Wajahku sudah sembab karena menangis semalam. Papa terus mengetuk pintu sambil berbicara padaku. “Cha, kalau tetap gak mau makan yasudah gak apa-apa. Tapi kamu keluar dari kamar kamu dulu temani papa makan. Papa juga gak bakal mau makan kalau kamu gak keluar kamar” Aku masih mengabaikan ucapan papa sampai akhirnya mama yang mengambil alih mengetuk pintuku. “Cha, buka dulu pintunya. Ini makan malamnya mama bawain ke kamar aja. Ayo dibuka pintunya” pinta mama dengan lembut. Kali ini aku mendengarkan kata-kata mama untuk membukakan pintu. Mama masuk ke kamar dan menutup kembali pintu kamarku. Sepertinya mama mengerti jika aku tidak ingin keluar dan menunjukkan wajahku. Mama membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, dan juga segelas air putih untukku. Aku masih belum merasa lapar. Kemudian mama duduk lebih mendekat padaku. “Cha, kenapa kamu jadi sedih gini? Gak baik Cha kayak gini terus” kata mama sambil mengelus-elus punggungku. Kemudian mama melanjutkan ucapannya. “Cha, kan kita masih bisa ikhtiar buat kesembuhan kamu. Kita coba ikutin saran dokter buat pengobatan dulu ya Cha” Aku pun mengangguk pelan. Aku hanya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Yang aku tahu, Leuchemia atau Leukemia dalam bahasa Indonesianya adalah suatu kanker darah yang diakibatkan karena tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih abnormal. Kuingat kembali apa yang dikatakan dokter jika gejala awalnya yaitu Anemia atau kekurangan sel darah merah, sering mengalami pendarahan seperti mimisan, mudah sakit karena daya tahan atau imun tubuh yang menurun. Sedikitnya itulah beberapa gejala yang memang aku rasakan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Aku ingin seperti biasa, hidup normal tanpa harus ada suatu penyakit hinggap di tubuhku. Aku juga ingin bisa menghampiri kekasih jarak jauhku, Usman, yang berada di Pakistan sana. Walau sebenarnya aku masih bisa menjalani pengobatan, tapi tetap saja kenapa harus aku yang mengalaminya? Bukan aku mendoakan orang lain yang seharusnya mengalami ini, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku hanya tidak mau menerima kenyataan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN