Yang aku tahu, Leuchemia atau Leukemia dalam bahasa Indonesianya adalah suatu kanker darah yang diakibatkan karena tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih abnormal. Kuingat kembali apa yang dikatakan dokter jika gejala awalnya yaitu Anemia atau kekurangan sel darah merah, sering mengalami pendarahan seperti mimisan, mudah sakit karena daya tahan atau imun tubuh yang menurun. Sedikitnya itulah beberapa gejala yang memang aku rasakan.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Aku ingin seperti biasa, hidup normal tanpa harus ada suatu penyakit hinggap di tubuhku. Aku juga ingin bisa menghampiri kekasih jarak jauhku, Usman, yang berada di Pakistan sana. Walau sebenarnya aku masih bisa menjalani pengobatan, tapi tetap saja kenapa harus aku yang mengalaminya? Bukan aku mendoakan orang lain yang seharusnya mengalami ini, tapi aku tidak bisa menerimanya. Hanya tidak mau menerima kenyataan ini.
***
Hari ini aku masih pergi ke kantor, aku mengambil cuti beberapa hari untuk beristirahat dan juga untuk bertemu kembali dengan dokter yang menanganiku. Aku tidak memberitahu pada orang kantor tentang penyakitku. Aku berfikir mungkin sebaiknya mereka tidak perlu tahu, aku tidak ingin ada mata yang akan menatapku kasihan. Aku juga tidak ingin akan banyak mulut yang akan menggosipkanku. Memikirkan hal tersebut sudah membuatku enggan untuk kembali bekerja. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku, juga waktu untuk menerima kenyataan hidupku.
Aku dan mama kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter yang memeriksaku sebelumnya. Mama sudah membuatkan janji untuk bertemu. Kebetulan hari ini dia tidak terlalu sibuk sehingga kami mempunyai waktu yang cukup luang untuk berkonsultasi. Mama meminta saran dari dokter tersebut tentang apa yang harus kami lakukan selanjutnya, tentang pengobatanku tentunya. Dokter kembali membuka hasil pemeriksaan darahku. Dia membacanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
Melihat kondisiku sekarang, aku masih dalam tahap awal Leukemia. Jadi dokter memberikan saran untuk melakukan treatment rutin di rumah sakit. Treatment yang akan aku jalani adalah Radiotherapy. Terapi ini menggunakan radiasi untuk membunuh sel kanker yang ada di dalam tubuhku. Untuk saat ini dokter belum menyarankanku untuk melakukan operasi, cukup radioterapi itu saja. Tidak, bukan belum, tapi aku berharap semoga aku tidak akan melakukan operasi tersebut, operasi pencangkokan sumsum tulang. Kali ini aku manruh harapan penuh untuk kesembuhanku pada treatment yang dokter sarankan ini.
Usman yang jauh di negaranya selalu menyemangatiku. Dia selalu berdoa untukku. Memang saat ini dia belum bisa ada menemani di sampingku, tapi semua yang dia lakukan seperti terus mengirimi pesan dan meneleponku sudah terasa cukup bagiku. Itu sudah cukup menandakan jika dia memang selalu ada untukku. Aku harus yakin bila aku akan sembuh. Karena ada orang yang jauh disana juga berdoa untuk kesembuhanku.
Aku menjalani treatment di temani oleh mamaku. Treatment ini menghabiskan waktu 1 sampai 2 jam, padahal seharusnya hanya butuh waktu 10 – 30 menit saja. Hal yang membuatnya lama adalah aku harus menunggu sang dokter datang setelah sebelumnya seorang perawat memanggilnya. Setelah selesai, aku dan mamaku langsung pulang ke rumah. Hari ini sudah cukup melelahkan untukku.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku dan mama mampir sebentar ke toko roti untuk membeli beberapa roti mungil dan juga seloyang brownis untuk kudapan di rumah nanti. Mama juga mampir ke toko buah dan membeli banyak buah-buahan untuk dirumah. Sesampainya di rumah, kulihat papa sedang berbicara dengan seorang pria di teras. Aku dan mama tak mengenali orang tersebut. Mungkin klien papa yang datang, karena papa mempunyai usaha advertising dan memang sudah lumayan sering papa menundang klien-nya untuk datang ke rumah.
“Assalamualaikum” aku dan mama mengucapkan salam saat memasuki teras rumah.
“Waalaikumsalam, nah itu Aisyah sudah pulang” papa menjawab salamku.
Kemudian papa memintaku duduk di sebelahnya bersama dengan lelaki tersebut. Raut wajah lelaki yang sedang bersama papa sangat serius.
“Icha, ada yang mau papa tanyakan” ucap papa dengan nada sedikit tegang. Pandangan matanya juga menatapku tajam.
“Mau nanya apa Pa?”
“Cha, Bapak ini datang mau ketemu kamu. Dia bilang kamu berhutang di kantornya. Itu benar Cha?”
“Hutang apa Pak?” tanyaku kaget pada lelaki yang duduk di hadapanku.
“Begini mba Aisyah, saya datang ke sini hanya menjalankan tugas saya untuk menagih hutang ke mba Aisyah. Karena semenjak pencairan dana sampai sekarang belum ada pembayaran sama sekali.” lelaki itu memberi penjelasan.
“Tapi hutang apa ya pak? Saya gak merasa pernah mengajukan pinjaman dimanapun. Bapak mau menipu saya ya?”
“Saya gak mau nipu mba, saya punya berkas-berkas pengajuan mba kok” lelaki itu pun segera mengeluarkan sejumlah berkas dari dalam tasnya.
Aku dan papa langsung memeriksa bekas-berkas yang dikeluarkan. Tertulis namaku di berkas pengajuan tersebut beserta data-data pribadiku. Bahkan ada salinan kartu identiasku. Bagaimana mungkin orang ini mempunyai data-data pribadiku. Aku terus memeriksa berkas tersebut sampai akhirnya aku melihat pada halaman perjanjian pinjaman tertulis nama Sandi sebagai pihak tak serumah yang dapat dihubungi. Loh kok Sandi? Otakku mulai berpikir.
Belum selesai aku memeriksa semua berkas pengajuan tersebut, sang debt collector menyela fokusku.
“Gimana mba? Masih mau bilang saya nipu?” kali ini nada bicaranya seolah sedang mengintimidasiku. Aku mengerutkan dahiku dan menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan nama Sandi di dalamnya.
“Sebentar Pak, ini ada nama Sandi disini tapi dia gak ada hubungan saudara sama saya loh Pak” celetukku sedikit keras seolah mengintimidasi balik si penagih hutang tersebut.
“Sandi mana Cha?” tanya papa sambil menatapku saat mendengar nama Sandi kusebut.
“Sandi mantan pacar Icha Pa”
“Mantan pacar kamu? Loh kok bisa ada nama dia?”
“Icha juga gak tau Pa, makanya Icha tanyain sama itu bapak penagih hutang”
“Mba, disini jelas ada nama dan identitas mba Aisyah. Kalau mba pikir saya berbohong dan mau menipu silahkan mba langsung telepon ke kantor atau langsung datang juga boleh mba. Saya kesini hanya mau menagih hutang mba Aisyah yang 45 juta itu mba.” Si debt collector mengintrupsi percakapanku dengan papa.
“Sekarang gini Pak, saya gak merasa mengajukan pinjaman apalagi nerima itu uang. Kenapa jadi saya yang harus membayar?”
“Begini saja Pak, bapak datang lagi nanti karena saya mau bicara dengan anak saya dulu. Bapak tinggalkan nomor yang bisa dihubungi nanti saya yang hubungi bapak. Atau saya langsung datang ke kantor bapak” papa menengahi pembicaraan kami.
Lelaki itu pun pergi setelah menyetujui perkataan papa. Setelah debt collector sudah tak terlihat dari rumahku, papa langsung memintaku menghubungi Sandi untuk menanyakan kenapa namanya bisa ada dalam pengajuan pinjaman tersebut.
Tanpa harus diminta pun aku pasti langsung menghubungi Sandi. Sudah beberapa kali aku meneleponnya tapi masih tidak ada respon. Aku akan mencobanya sekali lagi, jika memang tidak ada respon juga maka aku akan mengiriminya pesan melalui w******p. Kali ini Sandi menerima panggilan teleponku.
“Halo Syah, maaf tadi aku lagi di jalan jadi gak bisa nerima telepon kamu. Ada apa Syah?” Sandi berusaha memberi penjelasan karena baru menerima panggilan teleponku.
“Aku mau ketemu, besok!” sesingkat mungkin aku berbicara pada Sandi. Dia pun dengan cepat mengiyakan ajakanku tersebut. Kemudian aku mengirimkan alamat untuk bertemu dengannya besok.
Keesokan harinya aku dan Sandi bertemu di sebuah kafe setelah Sandi setuju untuk bertemu dengannya. Dia memesankan ice coffee untukku. Sandi masih mengingat jika aku adalah pecinta kafein. Tapi tidak lagi setelah kini aku mengidap Leukemia. Kafein malah akan memperburuk keadaanku.
“Syah, kok enggak diminum? Nanti keburu es-nya mencair jadi gak enak lagi.” tanya Sandi yang melihat gelasku masih terisi penuh.
“Sorry aku udah enggak ngopi lagi”
“Loh kenapa Syah?”
“Gak usah bahas itu ya! Sandi aku mau ngomong sama kamu. Ada hal yang mau aku tanyain ke kamu” ucapku berusaha to the point.
“Kenapa Syah? Kayaknya penting banget.”
“Sandi, kemarin ada orang datang ke rumahku mau nagih hutang. Di berkas pengajuannya ada nama kamu. Kok bisa ya? Dan lagipula aku gak pernah ngajuin pinjaman apapun” Tampang Sandi berubah seketika. Terlihat dari gelagatnya jika dia sebenarnya tahu akan hal itu. Dia masih berpura-pura tidak mengetahui apapun. Aku mengancamkan akan melaporkannya ke kantor polisi jika dia masih berpura-pura. Dia pun langsung berkata jujur padaku.
“Syah, itu aku yang ajuin. Itu kantor finance tempat aku kerja sebelumnya jadi aku yang berani ajuin dan persetujuannya juga dari aku” Jawaban Sandi benar-benar membuat darahku naik sampai ke ujung kepala. Aku benar-benar marah padanya. Kenapa dia bisa seenaknya saja mengajukan pinjaman menggunakan nama dan identitasku, tanpa persetujuanku.
“Sandi!! lancang banget kamu pakai identitasku sembarangan!!” emosiku pun meluap dan tanpa Sadar suaraku pun ikut meninggi.
“Maaf Syah maafin aku, aku benar-benar kepepet waktu itu” jawabnya sambil meraih tanganku dan meminta maaf.
“Enak saja kamu! Sekarang kamu harus tanggung jawab atas kelakuan kamu itu!” tegasku sambil menarik tanganku yang sedang digenggamnya.
“Syah tolong Syah, aku minta maaf. Tapi benar aku minta tolong sama kamu kali ini” ucapan Sandi membuat mataku menyipit dan dahiku berkerut.
“Maksudnya?? Minta tolong??”
“Aku pakai uang itu untuk ngirim ke kampung, buat adikku kuliah Syah karena Ibu udah minta terus sama aku”
“Lalu??”
“Aku minta tolong sama kamu Syah, aku pinjam uang kamu dulu nanti aku pasti aku ganti Syah. Aku tahu kok keluarga kamu pasti punya uang segitu” Sandi bisa dengan seenaknya mengukur kantong seseorang. Kelakuannya itu sudah diluar batas. Hal tersebut benar-benar membuatku semakin marah.
“Ya itu bukan urusan aku. Kamu yang harus ganti!”
“Tapi aku udah gak kerja lagi Syah. Aku dipecat”
“Terus kamu mau jerumusin aku gara-gara hutang yang kamu buat?”
“Please Syah, aku pasti ganti tapi aku mohon bantu aku Syah. Ibu di kampung cuma tinggal sama adikku aja, bapak udah gak ada. Jadi aku tulang punggung mereka. Gak mungkin aku gak kirim uang kalau Ibu minta Syah” Kembali Sandi meraih kedua tanganku dan memohon. Tapi aku benar-benar marah dan sama sekali tidak ingin menolongnya.
Yaa Tuhan, kemarin Kau kirimkan sakit untukku dan sekarang Kau antar masalah lainnya untukku. Apa aku sanggup? Sepintas hatiku menjerit seperti itu.
Aku masih dalam perdebatan dengan Sandi. Andai saja dia mengatakannya sedari awal, sebelum dia mengajukan pinjaman tersebut mungkin aku akan berbaik hati membantunya. Namun jika sudah seperti ini aku pun enggan untuk memberikan bantuan terhadapnya. Sandi terus-terusan memintaku menolongnya. Aku mulai geram dan aku hanya pergi begitu saja meninggalkan Sandi.
***
Ponselku berdering dengan kencang.
“Halo assalamualaikum” aku mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam. Janu how are you?” Usman memanggilku dengan panggilan Janu. Katanya Janu berarti sayang dalam bahasa Urdu. Dan itu adalah panggilan sayang kami sekarang.
“Fine. Kamu sendiri gimana kabarnya?”
“If you are fine so I also fine” sesaat setelah Usman mengucapkan kalimat tadi, suasana berubah menjadi hening. Tak lama kemudian aku pun mulai bergumam.
“Janu, kok kamu jauh banget sih? Kenapa kamu gak di Indonesia aja?” gumamku pada Usman mengharapkan dia selalu ada di dekatku. Apalagi dengan banyaknya cobaan yang hadir belakangan ini. Aku benar-benar membutuhkannya saat ini. Membutuhkan Usman yang asli, bukan hanya di telepon atau video call.
“Don’t be sad Janu, aku memang jauh sekarang tapi aku akan selalu ada buat kamu.”
“Kamu enggak mau ke Indonesia?”
“Aku mau tapi belum bisa. Kamu tau pekerjaanku kan? Air Force. Gak mungkin aku bisa keluar negeri.” mendadak lesu diriku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Usman memang pernah cerita jika menjadi seorang angkatan udara di negaranya membuat dia tak bisa bepergian ke luar dari negaranya. Bahkan dia belum tentu bisa pulang kerumahnya seminggu sekali, sebulan sekali saja sudah sangat susah mendapatkan ijin dari komandannya.
“Terus hubungan kita ini mau dibawa kemana?” mendadak pula aku menanyakan tentang hubungan yang masih belum jelas ujungnya ini. Jika Usman tidak bisa ke Indonesia, maka bagaimana aku bisa menatap serius masa depanku dengannya.
“Janu, aku berjanji jika saatnya tiba aku akan datang ke negaramu dan akan selalu bersama denganmu. I promise. Trust me.” Usman berusaha meyakinkanku tentang hubungan yang sedang kami jalani. Dia berjanji akan datang ke Indonesia. Aku menghela nafasku kemudian berangan-angan, jika saja kesehatanku membaik sepertinya aku tidak perlu menunggunya datang, justru aku yang akan mendatanginya.
“Janu, hug me please..” pintaku pada Usman di telepon. Aku ingin pelukan virtual darinya sekarang untuk bisa mengurangi beban yang ada di pikiranku.
“Tutup matamu, dan rasakan aku memelukmu. Aku sayang kamu. Jangan khawatir aku akan selalu ada untukmu” Ya, aku merasakannya. Suaranya, pelukan virtual ini telah memelukku dengan sangat erat. Aku akan mempercayainya. Dia akan selalu ada untukku. Selalu.
“Janu..” aku memanggilnya dengan lembut.
“Yes Janu?”
“Kamu kenapa gak cari cewek lain aja?” pertanyaan yang kuajukan membuat Usman sedikit terkejut.
“Aku enggak ngerti maksud kamu”
“Kita kan jauh, dan aku juga gak tau bisa sembuh apa enggak. Kayaknya lebih baik kamu cari cewek lain aja deh” Aku tak serius berkata seperti itu namun melihat Usman yang sangat baik membuat diriku merasa tak pantas untuk bisa bersamanya. Ditambah lagi aku tak mau menyusahkannya hanya untuk bersamaku. Aku akan merasa sangat bersalah.
“Sekali lagi kamu ngomong seperti itu aku akan marah sama kamu. I’ll never leave you” jawaban Usman menyentuh hatiku sangat dalam. Aku tak tahu dia benar serius atau tidak tapi saat ini aku memang hanya bisa mempercayainya. Rasa cintaku padanya semakin membesar. Ingin rasanya aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
***
Hampir setiap hari debt collector mendatangi rumahku. Aku benar-benar stress dibuatnya. Aku pun terus menghubungi Sandi menanyakan bagaimana penyelesaiannya namun Sandi hanya bisa mengangkat tangannya. Papa mulai benar-benar marah. Papa menanyakan alamat tempat tinggal Sandi padaku namun aku masih tidak memberikannya. Aku tidak ingin masalah ini semakin mengakar. Aku tidak ingin muncul masalah yang lainnya lagi.
Aku mengintip saldo tabunganku di rekening namun totalnya tidak sebanyak itu. Aku juga tidak mau meminta bantuan dari orang tuaku. Mereka sudah keluar biaya banyak untuk membantu biaya pengobatanku, belum lagi ditambah papa yang sangat emosi dengan kelakuan Sandi sudah pasti menolak untuk membantu.
Aku menghubungi Arista untuk meminjam uang. Arista mau memberikan pinjaman namun tidak terlalu banyak karena dia sendiri punya kebutuhan lain. Aku pun menghubungi Boy untuk hal yang sama. Sayangnya keluarga Boy baru saja terkena musibah dan tidak dapat membantuku. Aku ingin meminta tolong pada Fahri namun aku takut Fahri akan sangat marah kepadaku. Aku benar-benar sudah mentok.
Debt collector memberiku waktu sampai minggu depan untuk menyelesaikan perihal hutang piutang ini. Aku hanya mengiyakan saja agar si debt collector tersebut tidak mengganggu dan tidak datang ke rumah untuk sementara waktu. Setidaknya aku mempunyai waktu untuk memikirkan solusinya.