Aisyah yang tengah dilanda kebingungan akibat perbuatan Sandi akhirnya menyerah dan meminta bantuan Fahri, adiknya. Aisyah menceritakan semua yang terjadi pada Fahri. Niat Aisyah hanya untuk meminjam uang pada adiknya itu, namun setelah mengetahui untuk apa sang kakak ingin meminjam uang tentu saja Fahri menjadi emosi. Sungguh sangat geram Fahri dengan apa yang telah dilakukan Sandi pada kakaknya. Fahri meminta Aisyah untuk tidak membayar sepeserpun atas hutang yang seharusnya adalah tanggung jawab Sandi.
Setelah berbicara dengan Aisyah, kemudian Fahri melajukan motornya dan menghampiri Sandi di kosannya. Secepat mungkin Fahri melajukan motor sportnya. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Sesampainya di kosan Sandi, Fahri segera menuruni motornya lalu melangkahkan kakinya cepat menuju kamar kos Sandi.
Tok.. tok.. tok.. Fahri mengetuk pintu kamar Sandi.
“Ya sebentar..” terdengar suara Sandi dari dalam kamarnya menjawab ketukan pintu Fahri. Raut wajah Sandi terlihat sangat terkejut saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya itu. Fahri, seorang lelaki yang tingginya melebihi Sandi kini sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang jelas terlihat penuh dengan emosi.
“Eh elo Ri, ada perlu apa?” tanya Sandi pada Fahri.
“San, gue mau ngomong sama lo!” tatapan Fahri sangat tajam seolah menusuk Sandi yang berada di depannya. Sandi mempersilahkannya masuk untuk berbicara.
“Yaudah sini masuk kita ngobrol di dalam aja”
“Gak perlu, disini saja! Gue juga gak mau lama-lama ada disini. Gue cuma mau bilang supaya lo jangan ngelibatin kakak gue di urusan lo lagi. Gue rasa lo sudah tahu apa yang gue maksud” Sandi terdiam tak menjawab Fahri. Dia sangat mengetahui apa yang dimaksud oleh Fahri. Dia juga mengetahui apa yang menjadi kesalahannya. Akan tetapi dia masih butuh pertolongan Aisyah. Dia percaya Aisyah adalah orang yang baik dan pasti mau membantunya.
“LO DENGAR GUE GAK SAN? JANGAN CUMA DIAM SAJA!” bentak Fahri pada Sandi yang sejenak membeku.
“Oke oke Ri, santai dulu jangan marah-marah disini. Gue bisa jelasin, tapi gue mohon ini untuk terakhir kali dan habis itu gue gak bakal ngelibatin kakak lo ataupun keluarga lo lagi” ucapan Sandi yang seperti itu sudah pasti tidak akan meredakan kemarahan Fahri. Sandi sudah dengan seenaknya saja melibatkan kakak dan keluarganya.
“Hah? Terakhir kali kata lo? Enak banget!! Lo urus sendiri dong masalah lo jangan giliran susah lo malah minta tolong kakak gue. Pokoknya gue gak mau ada lagi orang datang nyariin kakak gue atau lo yang gue laporin polisi.” Kata Fahri sambil menempelkan jari telunjuknya ke d**a Sandi.
Setelah merasa cukup melabrak Sandi, Fahri melangkahkan kakinya pergi dari tempat Sandi dengan membawa rasa emosinya. Sandi hanya menggaruk kepalanya kepusingan. Sandi tahu kalau keluarga Aisyah adalah keluarga yang cukup berada, jadi dia berharap Aisyah dapat membantunya. Tetapi Sandi sudah melakukan kesalahan besar dengan menggunakan identitas Aisyah tanpa izin.
Sesaat setelah Fahri pergi ponsel Sandi berdering. Ibu Sandi meneleponnya. Sandi menghela nafas panjang sebelum menerima panggilan telepon dari ibunya itu.
“Halo Bu”
“Nak, kamu lagi sibuk ga? Ibu ganggu gak?” terdengar suara wanita yang sudah sedikit berumur dari seberang sana.
“Enggak bu, ada apa bu?”
“Nak, si Ria tadi datang ke rumah bawain makan untuk Ibu, makan bareng juga sama ibu”
“Syukurlah kalau begitu bu, jadi Ibu ada yang nemenin makan, kan sekarang adik sudah sibuk kuliah”
“Nak, kamu kapan bisa kirim uang lagi? Adikmu butuh uang katanya untuk beli buku” Sandi terdiam sejenak setelah mendengar apa yang ibunya katakana barusan. Dia tidak ingin ibunya tahu kesusahan yang sedang dia alaminya di Jakarta. Dia juga tidak ingin ibu dan adiknya hidup dalam kesusahan.
Setelah tidak lama terdiam, Sandi pun menjawab sang ibu, “Nanti Sandi kirim ya bu tapi gak sekarang. Nanti Sandi kabarin Ibu lagi” lalu Sandi mengakhiri panggilan teleponnya. Sandi tak bisa bilang pada ibunya jika dia sudah tak bekerja lagi. Dia tak akan tega membuat ibunya merasa khawatir jika tahu keadaannya saat ini. Sandi pun semakin membuat dirinya sendiri menjadi kepusingan.
***
Usman :
Janu how do you feel now?
Me:
I feel fine.
Usman :
Lalu treatmentnya gimana?
Me :
Fine juga.
Usman :
Janu, aku gak sedang bercanda. Kamu benar ikut treatment kan?
Me:
Tenang aja Janu, aku tetap menjalani treatment kok. Kamu gak perlu khawatir.
Usman :
Jangan telat makan, obatnya juga diminum ya. Aku dapat shift malam hari ini jadi seharian ini sampai shift ku tiba aku akan selalu menemanimu.
Aku bersyukur bisa memiliki kekasih seperti Usman walaupun dia sangat jauh di negaranya sana. Semua pesan yang dia kirim dan juga telepon setiap harinya benar-benar mengisi kehidupanku dan membuatku bahagia. Aku sama sekali tidak merasa kesepian. Sepertinya aku merasa lebih dekat dengan dia yang berada jauh disana.
Terkadang saat bicara dengannya aku seakan lupa dengan semua masalah yang belakangan ini hadir di hidupku. Aku rasa aku sudah benar-benar mencintainya. Akan tetapi, hati semakin egois dan merasa ingin dilengkapi. Aku ingin dia ada di sini. Aku ingin Usman ada disini, di dekatku.
Saat ini aku berhadapan dengan laptopku sambil memainkan jemariku di atas keyboardnya. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan sebelum pada akhirnya aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku. Mamaku terlalu khawatir padaku. Dia ingin aku fokus dengan pengobatanku hingga benar-benar sembuh. Pekerjaanku yang sekarang tidak memungkinkanku untuk pulang cepat, dan juga akan membuatku tidak cukup beristirahat.
Memang setiap hari Sabtu aku akan pulang siang hari namun aku tetap akan melanjutkan pekerjaanku sesampainya di rumah. Karena pekerjaanku berpacu dengan deadline yang waktunya sangat singkat. Ya, begitulah proyek yang selama ini aku kerjakan.
“Kira-kira gimaya ya reaksi Arista kalau tahu aku mau resign?” gumamku dalam hati.
Aku dan Arista sudah lama saling mengenal. Sudah lebih dari 2 tahun lalu saat aku masih kerja sambil kuliah. Arista memang lebih tua dariku tapi dia tak pernah mau jika aku memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ atau ‘mbak’. Dia selalu bilang kalau kita seumuran, mungkin karena tubuhnya yang mungil dan tidak lebih tinggi dariku membuatnya terlihat lebih muda atau sering terlihat seumuran denganku.
Aku selalu memfavoritkan cara berpakaian Arista yang selalu modis. Ditambah dengan tekstur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan kurus membuatnya terlihat imut dan semakin cantik. Berbeda denganku yang tidak semodis Arista. Tubuhku juga kurus namun aku lebih suka berpakaian yang sederhana dan aku tak suka mengenakan heels sepertinya.
Saat sedang memikirkan Arista, ternyata orang aslinya datang berkunjung ke rumahku.
“Aiisyaaahh..” teriak Arista memanggilku dari depan pintu rumahku. Aku pun meletakkan laptop di atas ranjang lalu bangkit dan meninggalkan pekerjaanku untuk membukakan pintu.
“Ris, ucapin salam kek jangan teriak-teriak begitu!” tegurku pada Arista yang kemudian dibalas dengan cengiran darinya.
“Eh iya maaf Syah. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, nah gitu dong! Yaudah masuk yuk” aku mengajak Arista masuk dan menuju ke kamar. Kami berpapasan dengan Fahri yang ingin berangkat kerja di depan kamarku.
“Ehh ada Fahri! Duuhh Fahri makin ganteng aja sih.” celetuk Arista menggoda Fahri.
“Kak Arista juga makin cantik aja sih, sayang udah ada yang punya” balas Fahri dengan nada lesu seolah merasa kecewa karena Arista sudah ada yang punya. Namun dengan cepat Arista membantah pernyataan dari Fahri barusan.
“Kata siapa? Belum kok belum ada yang punya nih, kalau Fahri nembak aku sekarang pasti langsung aku terima” ditatapnya mata Fahri penuh harap. Fahri kembali menatap Arista.
“Yakin nih belum ada yang punya?”
“Iya beneran Fahri serius deh” wajah Arista semakin penuh harap pada Fahri. Kemudian Fahri tersenyum pada Arista dan berkata,
“Yahh sayang banget ya kak, kalau gitu aku yang udah punya pacar kak hahaha” dengan serempak aku dan Fahri tertawa terbahak-bahak. Arista mencubit lengan Fahri dengan wajah yang kemerahan menahan malu dan juga bibir imutnya yang cemberut. Langsung dia mengusir Fahri untuk segera berangkat kerja. Arista memang sudah cukup dekat dengan keluargaku karena Arista sering datang ke rumahku, bahkan sesekali menginap.
“Syah, kok Fahri rajin banget sih kerja hari Minggu gini” tanya Arista saat sudah mendengar suara motor Fahri pergi menjauh.
“Yaa namanya juga kerja di bidang retail, ditempatinnya di mal jadi yaa gak mungkin bisa libur kalo weekend gini Ris, yang ada malah Mall rame weekend gini”
“Iya juga sih! Untung aku gak kerja di retail ya Syah. Bisa-bisa gak ada waktu hangout bareng kamu kalo weekend”
“Ehh iya Ris, tumben main kesini gak ngasih kabar dulu? Ada apa nih?”
“Syah, aku denger kamu lagi ada masalah ya?”
“Masalah apa nih?” dahiku ikut berkerut menanggapi pertanyaan Arista. Apa jangan-jangan dia sudah tahu tentang penyakit yang aku derita sekarang.
“Itu si mantan yang pake-pake data kamu” jawaban Arista membuatku sedikit merasa lega. Setidaknya dia belum mengetahui jika aku mengidap Leukemia sekarang. Aku masih tidak ingin banyak yang mengetahui tentang hal tersebut.
“Hmm kalau gossip cepet banget ya nyebarnya Ris” setenang mungkin aku menjawab Arista.
“Nah aku kesini mau bantuin kamu Syah. Temenku kan lulusan hukum, emang sih dia gak kerja jadi pengacara atau notaris tapi dia udah familiar banget sama kasus yang kayak gini. Pas denger kamu ada masalah aku langsung coba hubungin dia dan Alhamdulillah dia mau Syah bantuin kamu”
“Seriusan Ris? Yauda coba kapan aku bisa ketemu sama temen kamu itu?” dengan sangat excited aku ingin segera bisa bertemu dengan temannya itu. Aku ingin masalahku yang satu ini segera terselesaikan.
“Ehmm kapan ya? Besok aja Syah aku coba bikin janji pas makan siang sama dia”
“Thank you ya Arista, kamu emang temen aku yang super duper baik” kemudian aku memeluk Arista dari samping.
Keesokan harinya, aku menunggu Arista di kafe dekat kantor. Cuaca hari ini sangat menyengat. Ingin rasanya aku menenggak segelas ice cappuccino untuk menghilangkan rasa gerahku. Tapi sayang, aku sudah tak bisa menikmati minumam kesukaanku itu. Sekarang aku harus berteman dekat dengan air mineral. Ya, hanya air mineral. Itu semua karena kesehatanku yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tidak lama menunggu, Arista pun datang bersama dengan temannya. Seorang lelaki dengan tubuh ideal, berkulit agak sawo matang, memakai kacamata dan juga sedikit brewok menghiasi wajahnya. Lelaki itu mengingatkanku dengan Usman, bedanya Usman bertubuh kurus. Aku jadi merindukan Usman. Pasti jam segini dia sedang tidur karena sebelumnya dia mendapat shift malam. Entah sampai kapan jarak antara aku dan Usman harus terus terbentang seperti ini.
“Syah kenalin nih temen aku, Imran” sapa Arista padaku sembari mengenalkan temannya itu.
“Hai, aku Aisyah” perkenalan singkatku sambil menjabat tangan Imran.
Kami pun langsung membicarakan masalah yang sedang menimpaku. Imran sudah mengerti duduk perkaranya dan berkata padaku agar aku mempercayainya. Aku tak bisa apa-apa, yang ku bisa sekarang memang hanya mempercayainya. Percakapan kami berlanjut hingga jam makan siang kami pun berakhir. Imran kembali terlebih dahulu meninggalkanku dan Arista. Aku hanya berharap masalah ini cepat selesai.
Dua hari setelah pertemuan kami bertiga, Imran meminta bertemu denganku lagi. Kali ini kami bertemu di rumahku. Aku yang memintanya datang jika memang ingin betemu. Aku dan Imran berbincang di ruang tamu. Kuhidangkan teh hangat untuknya ditemani sepiring bolu cokelat.
“Jadi gimana mas Imran? Ada kabar apa untukku?”
“Oke jadi gini, aku sudah mendatangi kantor finance tempat peminjaman itu. Aku sudah coba bicara langsung sama manajernya. Aku bilang kalau kamu gak tau apa-apa dan mereka gak boleh dengan seenaknya mendatangkan debt collector kerumahmu. Awalnya mereka tetap kekeuh bahwa hutang tersebut harus segera dilunasi atau mereka akan melaporkan kamu ke polisi. Nah terus ..”
“Terus aku harus berurusan sama polisi dong mas?” belum sempat Imran menyelesaikan kalimatnya, aku langsung memotong dan dengan sedikit panik bertanya padanya.
“Sabar dulu Syah ini aku masih ngomong, masih ada kelanjutannya.”
“Ehh iya mas maaf” sedikit malu aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
“Nah terus aku bilang, silahkan kalau memang mau melaporkan ke polisi karena dalam kasus ini pihak perusahaan finance tidak terlebih dahulu menelepon ke Aisyah namun bisa mencairkan dana pinjamannya. Lalu Aisyah tidak pernah memberikan data pribadi ataupun identitasnya. Kalau sudah begini kita bisa menuntut balik.”
“Terus terus mas?” tanyaku dengan sangat antusias.
“Akhirnya pihak finance mengakui keteledoran mereka yang tidak memantau dan juga tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu. Terus aku udah bikin surat perjanjian di atas materai kalau pihak dari perusahaan finance itu tidak diperbolehkan lagi melakukan tagihan atau mengirimkan debt collector kerumahmu.” Imran mengeluarkan surat perjanjian yang sudah di tandatangani oleh pihak perusahaan tersebut. Aku langsung tersenyum bahagia. Kujabat tangan Imran dan mengucapkan terimakasih padanya. Aku ingin memberikan sedikit imbalan untuknya namun dia menolak. Alhasil aku hanya berjanji untuk mentraktirnya makan di lain waktu.
Aku ingin memberitahukan kabar ini pada Usman. Satu dari masalahku sudah bisa terselesaikan. Aku yakin Usman juga pasti senang mendengar hal ini. aku mengambil ponselku di kamar dan menelepon Usman.
Tuutt.. Tuutt..
“Assalamualaikum” Usman mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam Jaaannuuu..”
“Hmm Janu? Kedengarannya kamu lagi bahagia. Tell me tell me”
“Yeess!!”
“Okay tell me”
“Because…” aku tidak segera melanjutkan kalimatku. Aku ingin sedikit mengusili dan membuatnya penasaran.
“Come on Janu, because..?” dengan mudah Usman menjadi penasaran. Aku tertawa tanpa suara agar Usman tidak mengetahui jika aku sedang mengusilinya.
“Hmm because.. Because I love you Janu hehehe” pecah tawaku yang sudah tak bisa lagi kutahan. Usman juga menyusulku tertawa, dia sudah sangat serius menungguku berbicara namun yang dia dapat aku sedang mengusilinya.
Sebenarnya aku adalah orang yang sedikit suka bercanda. Aku tidak langsung memberitahukan Usman tentang masalahku yang sudah selesai tapi aku malah menggombalinya.
“Jaannuu?? Kamu bercanda kan? Hahaha my Janu is kidding me” masih tercetak tawa menghiasi kalimat yang Usman katakan.
“Mungkin. But my love is never kidding to you”
“Janu? Kok aku jadi deg-degan gini ya? Sepertinya kamu udah ketularan aku yang suka ngegombalin kamu deh ”
“Hahaha.. Mungkin saja” aku semakin tertawa mendengar pernyataan Usman barusan. Mungkin dia sedikit kaget dan tersipu atas pernyataan cintaku padanya. Karena aku jarang sekali berkata romantis apalagi menggombalinya.
Aku sungguh bahagia hari ini. Satu bebanku sudah hilang dan aku ingin membagi kebahagiaanku dengan orang yang selalu ada untukku. Mungkin seperti inilah caraku bebagi kebahagiaan dengan Usman, dengan membuatnya tersenyum. Karena untuk sekarang hanya itu yang bisa aku lakukan.